TANGISAN

TANGISAN
Lelaki Misterius


__ADS_3

Alina sedikit mendekat untuk bisa mendengar obrolan mbak Tika dan lelaki misterius itu. Dan Gea yang tidak mengerti apa-apa ia terus mengikuti Alina dari belakang.


Keduanya bersembunyi di balik daun bonsai yang cukup lebat hingga bisa menutupi tubuh mereka.


Alina kembali mengeluarkan ponselnya. Ia merasa hal ini akan jadi bukti yang kuat untuk membuat mbak Tika mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada citra.


"Ini uang yang kamu mau!" ujar mbak Tika.


"Nah gitu dong, kalau gini kan kita sama-sama enak" kekeh lelaki di depan mbak Tika.


"Mulai sekarang saya minta kamu pergi jauh dan jangan pernah kembali lagi ke kota ini!"


"Oh tidak bisa, ladang uang saya ada disini! gimana mungkin saya ninggalin kota ini!" bantahnya.


"Kamu jangan main-main sama saya!" sentak mbak Tika.


"Saya gak lagi main-main kok. Saya hanya memanfaatkan kesempatan yang saya punya" balasnya.


Mbak Tika tersenyum licik. Ia menatap sekitarnya yang terlihat sangat sepi.


Ugghhhhh


Mbak Tika menancapkan sebuah pisau pada perut lelaki misterius itu. Alina dan Gea yang melihat kejadian itu langsung syok dengan peristiwa yang terjadi di depan mereka.


"Sayangnya kesempatan kamu udah habis!" balas mbak Tika. Ia mendorong tubuh lelaki itu hingga terjatuh di tanah.


"Say goodbye the world" kekeh mbak Tika sembari melambai-lambai kan tangannya di depan wajah lelaki itu.


Tak lama raut wajah mbak Tika kembali berubah datar. Ia kembali melihat sekeliling yang masih sepi. Dan tak lama mbak Tika pergi dari tempat itu dan membiarkan lelaki itu terkapar tak berdaya.


"Astaga Alina, aku gak salah lihat kan? itu beneran mbak Tika?" tanya Gea yang masih syok.


"Iya kamu gak salah lihat. Aku gak nyangka kalau mbak Tika sekejam itu" balas Alina.


"Trus laki-laki itu gimana?"


"Ayo kita samperin!" ujar Alina, ia langsung keluar dari persembunyian dan menghampiri laki-laki yang terkapar di tanah.


Alina sedikit berjongkok, di lihatnya laki-laki itu. Matanya masih nyalang menatap Alina. Mulutnya seakan bergerak meminta pertolongan.


"Aku akan tolong kamu! tapi kamu harus bantu aku!" ujar Alina. Tanpa pikir panjang laki-laki itu langsung mengangguk.

__ADS_1


Alina ingat jika di dekat sini adalah daerah kos Vino. Ia menghubungi vino dan beruntung Vino langsung mengangkatnya. Alina menceritakan semuanya dan segera meminta Vino untuk datang.


5 menit kemudian Vino datang dengan mobilnya. Alina dan Gea langsung membantu Vino membawa laki-laki itu ke dalam mobil.


Sampai di rumah sakit, ia langsung di masukkan ke dalam UGD.


Alina terus mondar-mandir di depan pintu UGD. Ia berharap jika laki-laki itu bisa selamat agar ia bisa membuat mbak Tika bertanggung jawab atas perbuatannya.


Dan Gea, ia tak berhenti melamun sedari tadi. Kejadian yang telah di terjadi di depan matanya cukup menguras energinya. Ia bahkan tak pernah melihat kejadian seperti itu secara langsung. Jika pun ada itu hanya di film saja.


Sementara Vino, ia hanya bisa menatap kedua gadis itu yang sibuk dengan kecemasan masing-masing. Sejauh ini Vino belum mengerti kenapa Alina dan Gea sangat mencemaskan lelaki yang ada di dalam UGD ini.


Saat menelfon Alina hanya bilang jika ada seseorang yang di tusuk pisau di dekat kosnya. Dan Alina langsung meminta Vino untuk datang. Mendengar suara Alina yang terdengar panik. Vino langsung mengambil kunci mobilnya dan segera kesana.


"Siapa laki-laki itu? kenapa kalian bisa secemas ini?" tanya vino. Ia sudah cukup penasaran dan tidak tahan untuk tetap bungkam dalam ketidaktahuan nya.


Alina yang dari tadi mondar mandir tidak jelas. Ia berhenti dan langsung duduk di samping Vino. Sementara Gea, ia hanya mengamati karna sedari awal ia juga tak mengerti.


"Laki-laki itu bisa jadi bukti untuk mbak Tika mempertanggungjawabkan perbuatannya pada citra!" Balas Alina.


"Jadi laki-laki itu tau semuanya?"


Di tengah obrolan mereka, dokter yang menangani laki-laki itu keluar. Raut wajahnya terlihat lusuh. Alina sungguh tidak siap dengan kabar buruk yang akan ia dapatkan.


"Bagaimana dok?" tanya Alina.


"Begini, pasien kehilangan banyak darah akibat luka tusukan di perutnya. Dan pasien harus segera melakukan donor darah. Tapi persediaan darah di rumah sakit dengan golongan AB sedang kosong!"


"Ambil darah saya aja dok! golongan darah saya AB" ujar Alina cepat.


"Baik, kalau begitu mari ikut saya!"


Melihat darahnya mengalir pada laki-laki yang masih memejamkan mata di sampingnya. Alina sangat berharap jika pertolongannya ini juga bisa membuat laki-laki itu menolongnya.


***


Tak terasa Alina, Gea dan Vino berada di rumah sakit cukup lama. Mereka bahkan tak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dan mereka masih saja setia berada di depan UGD menunggu dokter selesai melakukan operasi.


Saat dokter keluar, Alina langsung berdiri.


"Bagaimana dok?" tanya Alina.

__ADS_1


"Semuanya berjalan dengan baik. Operasinya lancar, tapi pasien masih dalam tahap pemulihan. Kemungkinan pasien akan sadar besok pagi!" ujar dokter.


"Terimakasih banyak dok!"


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi!"


"Semoga aja dia segera sadar!" gumam Alina senang.


Alina langsung mengintip kondisi laki-laki itu di sela kaca UGD. Sebentar lagi dokter akan memindahkannya ke ruang rawat. Jadi alian, gea dan Vino dapat memantau kondisinya.


"Seneng banget ya!" ujar vino.


"Iya, semoga aja dia bisa buat jadi bukti" balas Alina.


"Cuma untuk bukti?"


"Iya, apalagi?"


"Kamu gak tertarik sama dia? dia lumayan ganteng loh" balas Vino dengan nada jengkel.


"Gak lah, ada-ada aja kamu!" kekeh Alina.


"Ya gimana gak mikir gitu. Kamu aja rela donorin darah kamu buat dia"


"Itu cuma cara aku buat nyelamatin nyawa orang vino. Jangan berlebihan deh!"


***


Keesokan paginya, Alina, Gea dan Vino terbangun di sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang rawat. Alina langsung melirik ranjang pasien di mana laki-laki itu terbaring semalam.


Matanya langsung melotot kaget saat ia tak menemukan laki-laki itu disana. Hanya ada ranjang kosong dan bantal rumah sakit.


"Dia kemana?" tanya Alina.


Gea dan Vino yang juga baru bangun. Mereka juga kebingungan karena tidak melihat laki-laki itu terbaring.


Suara pintu kamar mandi terbuka. Membuat ketiganya langsung menoleh. Mereka langsung bernafas lega saat melihat laki-laki itu baru keluar dari kamar mandi.


"Ada apa? kenapa muka kalian panik?" tanya laki-laki itu sembari berjalan menuju ranjangnya. Ia terus memegangi perutnya yang masih terasa silu.


Jangan lupa like dan comen....

__ADS_1


__ADS_2