
Mata yang saat ini terpejam itu saat terbuka sangat indah, dia akui jika dirinya terpesona dengan kecantikan mata tersebut. Hidupnya tidak terlalu mancung, Sangat pas di Wajahnya yang tirus.
Bibirnya merah alami, rasanya sangat manis hingga dirinya merasa candu pada bibir manis itu. Tangannya terulur untuk menyentuh bibir Wanitanya, iya dia wanitanya, karena dialah orang pertama yang menjamah tubuh indah itu.
Tatapan matanya yang tajam tidak bisa beralih ke objek lain, memandang wajah polos itu sungguh menjadi pemandangan yang indah ketikan terbangun.
Tatapan matanya masih tajam dan dingin, entah apa yang membuat dirinya seperti ini, hingga dia lupa jika di rumah dia memiliki istri yang satu bulan yang lalu dia nikahi.
Wajah kamu semakin mendekat dan beberapa detik kemudian, bibir manis itu berhasil dia rasakan kembali. Sungguh dia tidak bisa berhenti, hingga dia melalukan hal seperti kemarin Kepada wanita cantik yang berada dalam dekapannya.
***
Sedangkan di runah Nisa, Umi berada dalam dekapan Abi Fariz. Beliau menangis sesenggukan sedari kemarin saat mengetahui jika Nisa pergi untuk mencari Abangnya. Hingga saat ini putrinya belum pulang, entah berada dimana.
"Umi, sudah, jangan menangis terus. Para pegawainya restoran Sudah Abi minta untuk mencari Putri kita. Jadi Umi yang tenang ya. Insya Allah Nisa akan baik-baik saja."
Umi Menggeleng, firasatnya sebagai seorang ibu tidak dapat diabaikan. Dia merasa jika Nisa sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Umi khawatir dengan Nisa Abi. Umi takut, perasaan Umi mengatakan jika Nisa tidak dalam keadaan baik-baik saja... Hiks ... Hiks...."
Abi semakin mengeratkan pelukannya, dia mengelus punggung sang istri mencoba menenangkan. Dia pun merasakan hal yang sama, dia sangat khawatir dengan keadaan sang putri. Apalagi, Nisa tidak pernah keluar rumah jika tidak dengan dirinya, sungguh dia takut jika terjadi sesuatu dengan putrinya.
"Sudah Umi, insyaallah Nisa akan baik-baik saja. Umi makan dulu ya, Sedari kemarin Umi belum makan."
"Enggak, Umi enggak mau makan. Nisa pasti belum makan Abi. Nisa tidak membawa apa-apa keluar rumah, ponselnya pun ada di kamar, dan Abi pasti tahu, kalau Nisa tidak bisa makan makanan luar..... Hiks.... Hiks....."
Abi menghela nafas, dia mengelus punggung istrinya. Dia pun sama, sedari kemarin ayah Nisa hanya meminum susu, tidak ada asupan lain selain itu.
"Abi, Umi, ada apa?" Tanya Azzam yang baru pulang bekerja. Setelah pertengkaran Antara dirinya dan sang adik dua hari lalu, dia baru pulang sekarang, tidak tahu jika adiknya hilang karena mencari dirinya.
Umi dan Abi hanya diam. Mereka kecewa dengan anak laki-lakinya itu, seharusnya Azzam sebagai Kakak harus melindungi, menyayangi dan menjaga adiknya, tetapi yang dilakukan Azzam sungguh keterlaluan.
"Umi, Abi. Ada apa?"
"Nisa hilang," jawab Abi singkat.
Azzam yang tadinya ingin duduk di sebelah Umi mengurungkan niatnya, dia menatap Abinnya tidak percaya.
"Kenapa bisa?"
Umi melepaskan pelukannya dari sang suami, dia menatap anak laki-lakinya dengan mata sembab. Hal itu membuat ulu hati Azzam merasakan sakit yang teramat.
"Dia hilang karena mencari kamu. Kamu kenapa seperti ini, Nak? Apa salah adik kamu? Jika yang membuat kamu membencinya hanya karena dulu Umi dan Abi menitipkan kamu kepada nenek dan kakek yang ada di Arab. Umi minta maaf,"
"Seharusnya kamu tahu, adik kamu membutuhkan perhatian yang Ekstra dan kamu tahu hal itu Azzam, adik kamu lahir secara prematur, saat usia kandungan Umi baru tujuh bulan, seharusnya kamu ingat mengapa Umi bisa lahir seperti itu, seharusnya kamu tahu. Jadi kenapa kamu membenci adik kamu? Jawab Umi!"
Azzam hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca, dia menarik Umi dalam pelukannya. Umi membalas pelukan hangat sang anak, sudah lama dia tidak merasakan pelukan Azzam seperti ini.
"Nisa Sangat menyayangi kamu Azzam. Sangat menyayangi kamu. Umi mohon, belajarlah menyayangi dia."
"Azzam Sangat menyayangi Umi, sangat," Bisiknya dalam hati..
Umi melepaskan pelukannya dan merangkum Wajah putranya.
"Umi Sangat menyayangi kamu, tidak ada perbedaan antara kamu dan adik kamu. kalian sama-sama anak Umi, anak yang lahir dari rahim Umi. Umi sangat menyayangi kalian."
Azzam mengangguk, "cari adikmu, bawa dia pulang. Umi mohon jika dia kembali, perlakukan selayaknya adik, jangan kasar dan berusahalah menjadi kakak yang baik." Umi menarik Azzam untuk dia peluk.
Azzam menarik nafas panjang dan mengangguk di bahu Umi. dia menatap sang Abi Yang saat ini menatapnya. Mereka saling tatap, mencoba untuk menyalurkan sesuatu yang tidak dapat di Jabarkan dan tidak Boleh diketahui siapapun.
__ADS_1
****
Nisa meringkuk di ranjang besar milik Laki-laki biadab yang satu Minggu ini selalu menguasai dirinya. Dia Hanya diam, air matanya sudah tidak keluar, entahlah mungkin air matanya telah habis karena selalu menangis.
Dia selalu berontak saat Laki-laki itu Ingin menyentuhnya tetapi lelaki tersebut tetap lebih kuat dari Nisa.
"Makanlah!"
Nisa diam tidak merespon Laki-laki itu, hatinya terlalu sakit mengingat Laki-laki yang sudah merusak dirinya. Dirinya tidak kenal siapa Laki-laki itu, tetapi mengapa dia dengan tega selalu menidurinya setiap hari.
"Makanlah!" Perintah Laki-laki itu lagi.
"Biarkan saya pulang," ucapnya pelan.
"Tidak!"
Nisa bangkit dari tidurnya dan menatap Laki-laki itu dengan tajam.
"Apa maksudmu? Aku ingin pulang, sudah cukup kau meniduriku selama ini! Aku bukan siapa-siapamu. Lepaskan aku!" Teriak Nisa. Mata yang sempat mengering, kembali basah karena air matanya yang mengalir lagi.
Laki-laki itu diam dengan tatapan dingin yang membuat Nisa kesal.
"Lepaskan aku, aku mohon," isaknya. Dia menangkupkan kedua tangannya, memohon.
"Tidak akan!"
"Kenapa!" Bentak Nisa. Laki-laki itu mencengkeram dagu Nisa kasar hingga membuat Nisa meringis kesakitan.
"Karena tubuhmu terlalu Nikmat untuk aku buang!"
Nisa membelalakkan matanya, dia memukul dada Laki-laki itu dengan Amarah yang memuncak. Tangan Laki-laki itu terlepas dan Hanya diam saat tangan mungil itu memukul dadanya.
Laki-laki dengan rambut coklat itu tersenyum sinis. "Kau bilang apa? Bukan wanita jalang? Apakah aku tidak salah dengar? Mana ada wanita baik-baik yang berkeliaran malam-malam di depan club malam dengan menggunakan baju seksi?"
Nisa terdiam, pukulannya seketika terhenti. Dia menatap Laki-laki yang sudah merenggut sesuatu yang sangat berharga baginya. Dia Menggeleng, menyangkal apa yang laki-laki itu ucapkan.
"Sudahlah aku mau mandi. Makanlah makananmu sebelum aku selesai mandi. Jika makanan itu tidak habis, aku pastikan aku sendiri yang akan menyuapkan makanan itu dengan mulutku!"
Nisa diam, dia kembali menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tidak ada niat dia memakan makanan itu, lebih baik dia mati kelaparan daripada hidup seperti ini.
Nisa mengedarkan pandangannya, dia harus keluar dari apartemen ini. Dia sudah tidak sanggup jika harus menjalani hidup seperti ini, dijadikan Boneka pemuas nafsu dari Laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal.
Matanya tertuju pada ponsel mahal Milik pria itu, dia ingin menghubungi Umi dan Abinnya, lagi-lagi benda itu menggunakan sidik jari untuk membukanya membuat dia mendesah frustrasi.
****
Nisa terus berlari saat Laki-laki itu mengejarnya. Dia tadi sudah berhasil keluar dari apartemen itu, entah bagaimana caranya dia berhasil keluar dari apartemen dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi itu.
Dia bersembunyi di balik mobil yang terparkir di jalanan taman yang ramai. Hari sudah mulai gelap dan banyak orang yang menghabiskan waktunya di taman.
Nisa mengintip, dia bernafas lega saat tidak melihat laki-laki dengan setelan jas abu-abu yang tadi mengejarnya.
Dia keluar dari persembunyiannya, dia berjalan tidak tentu arah. Dia tidak tahu ada dimana sekarang, dia hanya mengikuti nalurinya untuk terus berjalan.
Air matanya lagi-lagi mengalir, dia Bingung harus pergi kemana. Dia tidak berani pulang, apa yang harus dia katakan jika dia pulang.
Banyak mata yang menatapnya aneh, bagaimana tidak, Nisa hanya menggunakan kemeja berwarna merah maroon yang sangat besar di tubuhnya. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya sembab.
Nisa tidak menghiraukan tatapan aneh yang tertuju padanya, dia terus berjalan dengan air mata yang terus-menerus mengalir dari matanya yang indah.
__ADS_1
Dia menghentikan langkahnya, kakinya sudah lemas dan tubuhnya terasa sangat sakit. Dia terduduk di trotoar, menatap lalu lalang kendaraan yang melaju.
Dia menghela nafas berkali-kali, dia beranjak berdiri, tidak ada pilihan lain dia harus pulang, pulang kerumah dan menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Jikalau nanti kedua orang tuanya marah dan akan mengusirnya, insyaallah dia siap.
Nisa tersenyum saat melihat jalanan yang sering dia dan Abinnya lewati saat berangkat dan pulang kuliah.
Jika dengan mengendarai mobil memerlukan waktu sekitar dua puluh menit, mungkin jika dia jalan kaki satu jam setengah dia akan sampai di rumah.
****
Nisa menatap sayu rumah yang selama dua puluh tahun ini dia huni. Jantungnya berdegup kencang saat langkah demi langkah terasa berat dia gerakkan.
Air matanya tidak berhenti mengalir, sungguh bayang-bayang itu seperti sengaja diputar terus dalam benaknya.
Saat sampai didepan pintu, tubuhnya luruh dilantai, dia menyadarkan pipinya di pintu.
Isakkanya sungguh menyesakkan siapapun yang mendengar. Hingga tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, menampakkan sosok yang selama satu Minggu ini dia rindukan.
Maryam tersentak kaget saat melihat sang anak yang satu Minggu ini hilang terduduk dilantai dengan tangisan menyayat jiwa.
"Nisa?"
Nisa Mendongakkan kepalanya, tangisannya semakin histeris, dia memeluk kaki uminya Seraya meminta ampun kepada sang Umi. Uminya terkejut saat Nisa mencium kakinya yang tidak menggunakan alas, Nisa menangis dikaki orang yang telah melahirkan dirinya.
"Maafkan Nisa, Umi. Maafkan Nisa...
Hiks.... Hiks...."
Umi menatap nanar putrinya, ada apa dengan putrinya ini, Mengapa seperti terjadi sesuatu hingga membuatnya merasa bersalah kepada sang Umi.
"Nisa, jangan seperti itu. Kamu kenapa?" Umi memegang bahu Nisa dan dia berjongkok kemudian menangkup wajah cantik Nisa yang berderai air mata.
Bisa memegang kedua tangan sang Umi yang menangkup Wajahnya. Sedu sedan Nisa membuat Maryam ikut menangis.
"Umi..... Hiks..... Hiks.... Ma--afin Nisa."
"Nak, kamu kenapa? Kenapa kamu baru pulang. Umi--" Maryam tidak melanjutkan ucapannya saat mata sembab Nisa tertutup dengan perlahan.
"ABIIIIIIIII!"
Abi yang tadi sibuk dengan ponselnya untuk mencair tahu tentang Nisa langsung berlari ke asal Suara.
"Astaghfirullah, Nisa kenapa, Umi?"
Umi Menggeleng, "gendong Nisa Abi....,"
Abi mengangguk dan segera membopong tubuh mungil anaknya. Umi mengikutinya dari belakang, dia segera membuka pintu kamar agar sang suami segera masuk ke dalam.
Abi membaringkan tubuh Nisa di ranjang, matanya menatap nanar wajah pucat sang putri. Dia mengelus wajah cantik anaknya, hatinya menjerit sakit saat melihat wajah putrinya yang seperti menahan kesakitan.
"Sayang, bangun, Nak." Fariz Menghela nafas dia menatap istrinya yang saat ini menangis di samping sang putri.
"Umi?"
Maryam mendongak menatap suaminya. "Ganti baju Nisa. Abi akan panggilkan dokter," perintahnya dengan menatap nanar baju Nisa yang sangat memprihatikan. Pikirannya berkecamuk, takut apa yang dia pikirkan benar adanya.
Melihat baju dan beberapa tanda ditubuh anaknya, membuat hatinya menangis Pilu. Dia Menggeleng, dia yakin apa yang dia pikirkan, tidak benar. Dia yakin itu.
***
__ADS_1