TANGISAN

TANGISAN
Sosok Itu Lagi!


__ADS_3

Alina kembali ke kos di antar vino dan Gea ia masih berada di rumah sakit untuk menemani kakak nya. Sebelum pulang alina menawarkan diri untuk menemani Gea di sana. Namun, Gea menolaknya karena takut Alina tidak nyaman nantinya dengan hantu-hantu yang ada di rumah sakit.


Sekarang di sinilah Alina dan Vino. Di depan kos Alina yang setiap harinya terasa sangat sepi.


"Aku masuk ya!" ujar Alina.


"Iya, aku juga pamit"


Alina memasuki kos dan vino pergi dengan mobilnya. Saat memasuki kos Alina tidak sengaja mendengar suara seseorang tengah menelfon. Dan suaranya berasal dari kamar mbak Tika. Alina langsung mengendap dan menguping di dekat jendela kamar mbak Tika.


"Mau apa lagi kamu?" bentak mbak Tika. Ia terlihat sangat marah pada orang di seberang telfon.


"...."


"Saya kan sudah memberikan semua yang kamu mau? apa lagi?"


"..."


"Uang segitu banyak masih gak cukup?!"


Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepala Alina. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam percakapan mbak Tika.


"...."


"Dasar serakah!"


"....."


"Terserah kamu! Kalau kamu mau bongkar semuanya! sama aja kamu bunun diri!" kekeh mbak Tika.


"...."


"Dasar gila!!"


"...."


"Kamu ngancam saya?"


"....." wajah mbak Tika terlihat panik saat penelfon itu bicara.


"Oke! saya akan kasih uangnya! tapi bukti kematian citra harus kamu musnahkan!" sentak mbak Tika.


"...."


Mbak Tika langsung membanting hp nya ke atas kasur. Alina langsung berjongkok agar tak ketahuan oleh mbak Tika. Namun, kepalanya malah terbentur oleh kaca jendela. Hingga menimbulkan suara.


"Aduhhh" gumam Alina.


"Siapa di sana?" teriak mbak Tika. Suara kakinya terdengar semakin dekat ke arah jendela.


"Aneh kenapa gak ada apa-apa" gumam mbak Tika melihat sekitaran jendela kamarnya.


Disisi lain, Alina bernafas lega karena akhirnya ia tidak ketahuan oleh mbak tika. Beruntung ia cepat pergi dan bersembunyi.


"Untung gak ketahuan!" ujar Alina.


***


Sampai di kamar Alina langsung memeriksa rekaman di ponselnya.


"Kenapa mati?" Alina lansung mengambil charger dan mengisi daya ponselnya.


"Buruan dong!" ujar Alina, ia sungguh tak sabar menunggu ponselnya menyala kembali.

__ADS_1


"Ah nyala" gumam alina. Ia langsung memeriksa geleri di ponselnya.


"Ada" ujarnya senang karena rekaman Vidio itu tersimpan di ponselnya.


"Ini bisa jadi bukti buat citra!"


Alina kembali menaruh ponselnya. Ia membiarkan ponselnya mengisi daya terlebih dahulu. Ia mengambil handuk dan membersihkan diri.


Selepas mandi Alina langsung merebahkan diri di atas kasur.


"Ah kenapa pundak aku terasa berat lagi?" gumam Alina.


"Apa karna kecapean seharian ini ya?"


Alina mencoba memejamkan matanya. Tapi berulang kali ia mencoba berbagai posisi tidur alina tetap saja tidak merasa nyaman. Pundaknya terasa sangat sakit saat ia merebahkan diri.


Alina!


Citra muncul tepat di depan Alina. Tapi sepersekian detiknya raut wajah citra berubah kaget.


"Kenapa citra?" tanya Alina.


Di pundak kamu Alina! sosok itu lagi!


"Sosok?" tanya Alina tak mengerti.


Sosok yang ingin menghisap aku dan Damian!


"Gimana mungkin? bukannya dia udah pergi?" tanya Alina. Ia langsung bangkit dari kasurnya. Dan pundaknya terasa sangat berat hingga tubuh Alina sedikit membungkuk.


Alina berdiri tepat di depan cermin. Dan benar saja sosok itu datang lagi. Ia kembali bertengger di pundak Alina.


"Mau apa kamu?" tanya Alina.


Suara seraknya terdengar sangat jelas di telinga Alina.


Hey kamu! pergi dari pundak Alina!


Citra mencoba mengusir sosok itu. Tapi sosok menyeramkan itu malah menatap remeh pada citra.


Arwah lemah seperti kamu bisa apa? balasnya pada citra.


Aku gak lemah! sentak citra.


Diam! sosok itu menatap tajam pada citra. Dan bersamaan dengan itu citra terpental ke dinding.


Ughhh


Citra meringis kesakitan, Alina ingin membantunya. Tapi tubuhnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Entah kenapa setiap kali sosok itu bertengger di pundaknya Alina merasa tenaganya terkuras begitu saja.


"Kenapa tubuh aku terasa sangat lemah!" batin Alina.


"Dia seperti menguras tenaga ku!"


"Aku harus apa sekarang?"


Alina teringat dengan mimpinya. Di dalam mimpinya suara yang mengaku sebagai leluhurnya itu bilang kalau gelang di tangan Alina berguna untuk melindungi dirinya.


"Tapi gimana gunainnya?" gumam Alina. Alina mencoba meraba gelangnya dan memejamkan matanya.


AHHHHHH PANASSSS!!!!


Suara sosok itu terdengar kesakitan saat Alina meraba gelangnya dan berusaha fokus. Alina tetap menutup matanya bersamaan dengan suara erangan sosok itu.

__ADS_1


Tak lama suara itu menghilang dan suasana di kamarnya kembali menjadi hening.


Alina, kamu gak papa?


Citra menyentuh bahu Alina memastikan jika Alina baik-baik saja setelah sosok menyeramkan itu bertengger di pundaknya.


"Aku gak papa? Kamu gimana?" tanya Alina, citra yang masih meringis kesakitan membuat Alina sedikit khawatir.


Gak papa kok


Citra masih tersenyum dengan begitu tulusnya pada Alina.


"Ayo duduk dulu!" pinta Alina.


Alina kembali merabah gelangnya. Ia mencoba menyalurkan tenaganya pada citra. Sepertinya perlahan alina sudah mulai mengerti bagaimana menggunakan gelangnya itu.


"Gimana?" tanya Alina.


Oh wow, Alina kamu hebat! badan aku terasa lebih enakan sekarang!


Citra sangat senang. Hingga ia meloncat-loncat di depan Alina. Sungguh badannya terasa sangat ringan saat Alina menyalurkan tenaganya pada citra.


"Bagus deh" gumam Alina.


Tapi kenapa kamu bisa ngelakuin hal itu?


"Katanya sih gelang ini bakalan selalu ngelindungin aku!" balas Alina menatap gelang hitam di tangannya.


"Citra!" ujar Alina lirih. Alina enggan untuk memberitahu citra. Tapi cepat atau lambat citra tetap harus mengetahuinya.


"Ada yang mau aku tunjukan!"


Apa?


Citra kembali mendekat dan duduk di samping Alina.


"Ini!" Alina mengambil ponselnya. Ia menunjukkan rekaman video yang ia dapatkan pada citra.


Jadi Tika terlibat dalam kematian aku?


Raut wajah citra sudah dapat menjelaskan bagaimana sedihnya ia mengetahui hal tersebut.


Alina! Aku mau Tika mempertanggung jawabkan perbuatannya!


"Mbak Tika pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya citra! aku janji sama kamu!" balas Alina.


***


Terik matahari terasa sangat panas hari ini. Citra dan Gea yang baru saja pulang kuliah. Mereka beristirahat sejenak di sebuah kedai untuk membeli minuman. Kerongkongan mereka terasa sangat serak.


"Panas banget" keluh Gea menatap sinar matahari yang begitu terik.


"Mau masuk musim kemarau kayaknya" balas Alina sembari meneguk minuman botol yang baru saja ia beli.


Baru saja Alina selesai minum. Mata nya tiba-tiba saja menangkap basah seseorang yang tengah mengobrol.


"Gea, itu mbak Tika kan?" tanya Alina. Mbak Tika sedang berbicara dengan seseorang pria. Ia mengenakan jaket jeans, topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya.


Terlihat mbak Tika memberikan sebuah amplop coklat pada pria itu. Dengan cepat ia menerimanya.


"Iya bener itu mbak Tika, tapi dia sama siapa?" pikir gea.


"Apa itu orang yang sama yang pernah ketemu mbak Tika" gumam Alina. Mengingat kejadian saat ia membututi mbak Tika seorang diri.

__ADS_1


Jangan lupa like, comen dan Vote...


__ADS_2