TANGISAN

TANGISAN
Orang tua Damian


__ADS_3

Alina tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Gea mengetahui kakaknya mengidap penyakit kanker stadium 3. Selama ini lestari selalu menyembunyikan penyakitnya dari Gea.


Hingga beberapa hari lalu. Seseorang mengabari jika lestari masuk rumah sakit. Dan Gea tau jika kakak nya mengidap kanker stadium 3 dari dokter yang menanganinya.


Jika bukan karena itu, mungkin saja Gea tidak akan pernah tau sampai sekarang. Yang membuat gea semakin sedih adalah lestari yang tidak mau melakukan perawatan.


Lestari selalu bilang pada Gea. Lebih baik jika uangnya di gunakan untuk biaya kuliah Gea. Dari pada untuk pengobatannya yang hanya akan berujung sia-sia.


Melihat Gea yang menangis tersedu-sedu. Alina langsung mendekati Gea. Ia mengusap bahu Gea lembut.


"Sabar Gea" hanya kata itu yang dapat alina lontarkan dari mulutnya.


"Alina, aku gak mau kak lestari pergi!" ujarnya. Air matanya sudah membasahi seluruh pipinya.


"Aku yakin kakak kamu gak papa! dia pasti gak mau bikin adiknya yang cantik ini sedih!" ujar alina.


Gea langsung memeluk Alina erat. Ia ingin menumpahkan semua kesediannya di pelukan Alina.


***


Lestari sedang di periksa oleh dokter. Alina dan Vino menunggu di luar. Karena dokter hanya mengizinkan satu orang saja untuk menemani pasien.


Alina dan Vino menunggu di kursi yang terletak di luar ruang rawat. Tiba-tiba saja mata Alina tertarik dengan sebuah ruang rawat lain di rumah sakit itu. Alina mencoba melihat pasien yang di pasangkan berbagai selang itu.


"Anak kita pasti bangun Bu! Ibu berdoa ya!" terdengar suara seorang bapak-bapak yang sedang berusaha menenangkan istrinya.


"Ibu gak rela kalau sampai Damian ninggalin kita pak! ibu gak rela!" lirih sang ibu.


"Damian! kebetulan banget namanya sama!" ujar Alina.


Alina penasaran dengan sosok Damian anak dari ibu dan bapak itu. Alina mencoba mengintip di jendela rumah sakit. Namun ia tidak bisa melihat wajah pasien itu dengan jelas. Yang dapat di lihat Alina hanya banyaknya selang yang menempel di tubuhnya.


"Kasihan banget! semoga kamu cepat pulih ya!" guma Alina.


Alina yang merasa iba pada ibu dan bapak itu. Ia langsung menghampiri mereka.


"Ibu, bapak" sapa Alina lembut, ia tersenyum begitu tulus pada kedua orang tua di depannya.


"Ada apa ya nak?" tanya sang ibu, ia langsung menghapus air matanya.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Bu, tadi saya gak sengaja denger ibu ngobrol sama bapak. Anak ibu lagi sakit ya?"


"Iya nak" balasnya kembali sedih. Terlihat jelas jika keduanya sangat takut kehilangan anaknya.


"Kalau boleh saya tau, anak ibu sakit apa?"


"Koma" lirih ibunya.


"Dia udah koma selama 2 bulan. Sampai sekarang belum bangun. Dokter bahkan bilang kalau anak ibu udah gak ada harapan lagi!" tangisan ibunya kembali pecah saat kata tidak ada harapan keluar dari mulutnya.


Alina sedikit berjongkok agar bisa bicara sejajar dengan ibu itu.


"Maaf Bu jika pertanyaan saya bikin ibu tambah sedih!"


"Gak papa nak" balas ibunya masih dengan suara serak.


"Apa boleh saya jenguk anak ibu?" tanya Alina.


"Boleh nak! ayo ibu antar!" ujar ibunya. Ia langsung bangkit dan menarik Alina untuk masuk. Sebagai awal pertemuan. Ibu nya sangatlah murah hati. Ia bahkan bisa percaya pada orang asing yang baru saja ia kenali untuk menjenguk anaknya.


Alina berdiri di samping ranjang rumah sakit. Alina terdiam menyaksikan wajah pucat yang berbalut berbagai selang itu adalah Damian yang ia kenal.


Alina langsung menatap lurus ke depan. Di mana di sana ada Damian yang juga sedang menatap dirinya yang berbaring di ranjang rumah sakit.


"Kamu kenal anak ibu?" tanya ibu Damian.


"Eh, Damian teman saya di kampus Bu" balas Alina agak kikuk. Ia tidak mungkin memberitahu ibu Damian jika ia kenal Damian saat ia sudah menjadi hantu.


"Damian! lihat ternyata dia teman kamu" lirih ibu Damian menatap nanar putranya.


"Maaf Bu, kalau gitu saya permisi!" pamit Alina.


"Iya nak, makasih udah jenguk anak ibu. Mohon bantu doanya ya agar Damian bangun dari komanya!"


"Pasti Bu"


Alina menutup pintu ruang rawat Damian. Ia tak menyangka ternyata damian masih dalam keadaan koma. Jadi arwahnya masih ada harapan untuk hidup kembali.


Alina!

__ADS_1


Alina langsung menoleh saat Damian memanggilnya.


"Aku pikir kamu udah meninggal?" ujar Alina.


Sama aja Alina, udah gak ada harapan lagi!


"Kamu harus berusaha Damian! Kamu gak kasihan sama orang tua kamu! mereka selalu berdoa buat kesembuhan kamu!"


Aku gak mau biarin citra sendiri Alina!


"Citra mau kamu lanjutin hidup kamu Damian. Citra pasti sedih banget lihat kamu kayak gini, di saat kamu masih punya harapan untuk hidup kamu milih buat pergi selama-lamanya dan ninggalin orang tua yang udah ngerawat dan nyayangin kamu dari kecil!"


Aku mohon kamu jangan kasih tau citra!


"Aku gak bisa janji Damian. Tapi coba kamu pikirin baik-baik gimana sedihnya orang tua kamu kalau kamu meninggal. Dan disisi lain ada citra yang masih pengen hidup lagi buat nemenin ibunya di masa tua! tapi kesempatannya udah habis. Dan kamu masih punya kesempatan itu Damian!"


Alina langsung pergi setelah mengatakan itu. Ia kembali menghampiri Vino yang masih menunggunya di depan ruang rawat kak lestari.


"Kamu dari mana?" tanya vino.


"Kamu ingat gak kalau aku pernah cerita soal arwah yang aku temuin di kampus?"


"Iya, kenapa sama dia?"


"Ternyata dia belum benar-benar meninggal!"


"Maksud kamu?"


"Ternyata dia itu koma di rumah sakit ini. Dan tadi aku dari ruang rawatnya, kasihan banget orang tuanya sedih waktu bilang Damian udah gak ada harapan hidup lagi. Dan kamu tau apa? di sana ada arwahnya Damian. Damian malah diam aja dan gak ada usaha sama sekali buat balik ke tubuhnya. Dia malah milih pergi selama-lamanya demi bisa nemenin citra! kasihan banget orang tuanya!"


"Mau gimana lagi? itu udah jadi keputusannya Damian! Kamu gak bisa maksa dia kan?"


"Aku tau, tapi citra aja mau Damian tetap lanjutin hidupnya. Dan kamu tau apa? citra masih berharap kalau dia itu masih hidup buat bisa nemenin ibunya di masa tua. Tapi Damian dia malah milih pergi selama-lamanya dan ninggalin orang tuanya!"


"Semua keputusan ada di tangan Damian Alina! dia yang mutusin jalan hidupnya sendiri. Kalau dia mau gitu? kita cuma bisa kasih saran yang terbaik aja" balas Vino. Sebenarnya vino tidak suka jika alina terlalu mengurusi hidup orang lain. Tapi Vino mengerti jika kepedulian Alina pada temannya sangatlah tinggi.


"Ya, kamu ada benarnya" balas Alina.


Jangan lupa like dan comen...

__ADS_1


__ADS_2