
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di luar sana?” gumam Lucciane.
Sudah setengah jam berlalu semenjak La’ti pergi dan belum kembali. Pintu kamar juga terkunci dari luar, sehingga ia tidak bisa keluar. Jendela pun entah kenapa sulit dibuka. Tak berbeda dengan Lucciane yang tampak gelisah, Lucy juga tidak mau diam sejak tadi. Hewan berbulu fluffy warna merah itu sejak tadi mondar-mandir kesana-kemari, layaknya manusia yang sedang gelisah.
“Ada apa, Luc? Apa kamu juga gelisah karena merasakan sesuatu telah terjadi?”
Lucciane berjalan meninggalkan pintu, mendekat pada Lucciane. Ia mengambil posisi jongkok di depan hewan mamalia tersebut. “Apa kamu juga berpikir jika apa yang sedang terjadi ada hubungannya dengan Lynn?”
Lucy mengeluarkan suara. Mamalia yang Lucciane ketahui jarang sekali bersuara semenjak diurus olehnya itu, kali ini mengeluarkan suaranya yang khas dan otentik karena rentang vocal yang luas. Itu kenapa mereka bisa mengeluarkan berbagai macam tipe suara berbeda untuk berkomunikasi dengan kawan-kawannya.
“Apa mungkin terjadi kekacauan karena kedatangan Lynn dan saudara-saudaranya?” gumam Lucciane.
Walaupun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia dapat merasakan ada yang sedang terjadi di luar sana. Entah pertarungan atau apa. Namun, ia bisa merasakan energi yang berbeda. Kendati sejak awal Luccane The Palace memang kental akan aura suram dan mencekam, belakangan aura di Luccane The Palace terasa lebih hangat dan bersahabat. Sedangkan malam ini kembali terasa begitu mencekam. Bahkan lebih menyeramkan.
“Kita harus mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi, Luc,” putus Lucciane. “Aku tidak bisa berdiam diri saja di sini. Sementara di luar sana Lynn dan yang lain sedang berusaha untuk mengeluarkan aku.”
Lucciane bergerak meraih Lucy. Membawa hewan berbulu itu ke dalam pelukan. Ia sudah memutuskan untuk mencari jalan keluar, bagaimana pun caranya. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
“Jendela ini sudah aku buka dari dalam, tetapi kenapa seperti terkunci dari luar?” ucap Lucciane saat berusaha membuka jendela yang malam ini tertutup rapat.
Pintu sudah pasti terkunci rapat dari luar. Satu-satunya jalan keluar yang bisa ia harapkan adalah jendela dan … ventilasi udara. Namun, untuk opsi kedua ia tidak menemukannya dimana pun. Alhasil Lucciane semakin putus asa dengan harapan yang ia dambakan.
“Kau mau pergi kemana, little lady?”
Tubuh Lucciane langsung mematung saat mendengar suara berat itu mengalun.
Tunggu, dari mana datangnya pemilik suara berat itu? disaat Lucciane sendiri tidak mendengar suara pintu yang terbuka, atau pun suara langkah kaki. Sepersekian detik berikutnya, Lucciane baru ingat fakta bahwa … Luccane adalah vampir. Pria rupawan itu bahkan pernah melakukan teleportasi, sehingga Lucciane dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap mata.
“Aku mau keluar!” Lucciane berucap seraya membalikkan badan. Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan pemilik iris abu-abu kebiruan itu.
“Sebaiknya kau segera istirahat, little lady. Waktu mu untuk bermain-main di luar sana sudah selesai.”
__ADS_1
Luccane bertanya seraya bersandar pada tiang kanopi yang memayungi tempat tidur Lucciane.
“Apa yang terjadi di luar sana?” tanya Lucciane, alih-alih meng-iyakan keinginan Luccane.
“None of your business, Little Lady.”
“Kenapa tidak boleh menjadi urusanku?” Lucciane meringsek maju. Masih dengan Lucy dalam dekapan. “Di luar sana ada yang datang bukan? mereka teman-teman ku.”
Luccane menyeringai tipis mendengarnya. “Teman?” ada nada tak percaya terselip dalam kata singkatnya. “Di luar sana hanya ada penyusup.”
“Mereka teman-temanku,” ulang Lucciane dengan penuh penekanan. Walaupun ia belum kama mengenal Lynn, maupun Luke, setidaknya sejauh ini mereka bisa dipercaya.
Lynn, Luke, serta dua saudara mereka yang lain juga baik dan mau menolong Lucciane untuk keluar dari Luccane The Palace. Benar kata Lynn, Lucciane tidak mungkin tertawan selamanya. Ia juga tidak mau jadi tawanan raja vampir terus-menerus, sekalipun ia diperlakukan like a princess. Tetap saja, hidupnya tidak bebas. Ia juga jadi terisolir dari dunia luar. Ruang geraknya juga terbatas.
“Mereka hanya sekumpulan penyusup,” ucap Luccane seraya beranjak. Mendekat ke arah Lucciane. “Lebih baik kau menjadi gadis penurut, dan segera lah istirahat.”
Lucciane menolak mentah-mentah ide tersebut. Sebagai bentuk penolakan, ia memberikan gelengan kepala. Serta langkah tak gentar.
Mendengar kata-kata Luccane yang terbilang absurd, seketika Lucciane berucap. “Aku tidak mau tidur!”
Luccane tersenyum miring. Senyum tipis, namun kali ia membiarkan sang lawan bicara melihat. Ketika hendak mengambil satu langkah untuk mendekat lagi, tiba-tiba Lucy melompat dari pelukan Lucciane. Mamalia itu mengincar Luccane, seolah-olah predator mengincar mangsanya.
“Luc!” panggil Lucciane histeris, saat tubuh Lucy terlempar jauh ke samping. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang melemparnya sebelum berhasil menggapai Luccane.
“Mahluk lemah yang merepotkan,” komentar Luccane. Hanya dengan menggerakkan jarinya, ia bisa membuat Lucy jatuh tak sadarkan diri. Kekuatan ras siluman itu tak sebanding dengan kekuatannya.
“Apa yang kau lakukan!” Lucciane menatap Luccane dengan amarah yang berkobar di matanya.
“Tinggalkan mahluk lemah itu, sebaiknya kau segera pergi tidur.”
Wajah Lucciane memerah. Ia marah. Luccane seenaknya saja menyakiti Lucy yang selam ini menjadi teman setianya selama tinggal di Luccane The Palace.
“Berdiri,” perintah Luccane.
__ADS_1
“Tidak mau.”
“Berdiri, little lady.”
Lucciane mendongkrak, menatap Luccane dengan mata berkaca-kaca. Ia tentu saja sedih melihat Lucy diperlakukan semena-mena di depan matanya. Sekarang hewan itu bahkan tak sadarkan diri. Luccane benar-benar tak berperasaan.
Dengan tak sabaran, Luccane kemudian menyambar pergelangan tangan kanan Lucciane. Membuat gadis cantik bersuai merah itu berdiri dengan paksa.
“Sakit,” cicit Lucciane.
“Maka jadilah gadis penurut.” Cengkraman Luccane memelan. Seolah sadar jika ia baru saja berbuat terlalu kasar. “Aku tidak suka gadis nakal.”
Lucciane pernah mendengar jika Luccane tidak suka gadis keras kepala dan pembangkang dari Sebastian. Namun, sekarang kenapa ia disebut gadis nakal? apa salahnya? ia hanya ingin keluar. Itu saja.
Lagipula Lucciane tidak ada niatan untuk menjadi gadis yang “disukai” oleh Luccane. Baru saja hendak menyuarakan protes, Lucciane yang sempat menutup mata—guna meredam emosi—langsung terdiam begitu matanya terbuka.
“Kau terkejut, little lady?”
“Dimana ini?” bingung Lucciane. Kedua bola matanya bergerak kesana-kemari, menatap sekeliling. Tidak ad lagi Lucy yang tergeletak di lantai, karena bukan lagi berada di dalam kamar yang merupakan bagian dari Luccane The Palace. Melainkan berada di ruang terbuka yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Sebuah tempat yang dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. Ada sebuah sungai yang mengalir dari kaki gunung. Air yang mengalir sangat jernih dan bersih. Sehingga biota dan abiota yang ada di dalamnya bisa terlihat dengan jelas, seperti bebatuan, ikan-ikan, serta tumbuhan air yang tumbuh subur.
“Untuk kedepannya kau harus terbiasa ketika berpindah ke suatu tempat,” ujar Luccane penuh penekanan. Tangan yang tadi menggenggam begitu erat, perlahan-lahan mulai terlepas. “Karena aku akan sering melakukannya.”
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 04-02-23
__ADS_1