Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 84. Kecerobohan


__ADS_3

TRV 84. Kecerobohan


“Gwen.”


Langkah Lucciane semakin dekat dengan gerbang ketika memanggil nama tersebut. Namun, belum sempat ia mencapai gerbang utama Luccane The Palace, tiba-tiba Lucy melolong. Mengeluarkan suara yang cukup mengerikan di telinga Lucciane. Hewan berbulu fluffy itu juga menjadi sangat waspada pada sekitar. Entah apa alasannya, yang pasti Lucciane sempat menghentikan langkah karena mamalia tersebut.


“Lady, Anda dilarang mendekati gerbang utama,” ujar La’ti yang kini menghadang jalan Lucciane. “My Lord akan marah besar jika tahu Anda keluar rumah begitu saja.”


“Tapi, aku masih ada di sekitar Luccane The Palace. Lagipula kamu bersama ku, La’ti.”


“Anda tidak mengerti, my Lady,” gumam La’ti. Gadis bersurai merah keemasan itu tidak tahu jika sekarang aroma darahnya tercium sangat pekat.


Semenjak muncul mark di leher, berikut terjadinya proses blood feeding walaupun belum sempurna, sampai pada akhirnya muncul simbol Moon Goddess, aroma darah Lucciane sudah tercium sangat pekat dan kuat. Aroma itu tentu menarik perhatian mahluk penghisap darah lain di luar sana. Jika saja Lucciane sudah mendapatkan kemampuan Ilahi yang diberkati oleh The God dan The Goddess, ia bisa dengan mudah melindungi dirinya sendiri serta menekan aroma darah suci yang ia miliki.


Sayangnya, sekarang Lucciane belum mendapatkan kemampuan tersebut. Sepertinya masih butuh penyempurnaan proses blood feeding, baru Lucciane bisa meng-klaim kekuatan spesial miliknya.


“Sebaiknya kita segera kembali, Lady.”


“Tunggu sebentar,” pinta Lucciane. “Aku hanya ingin memastikan bahwa itu saudari tiri ku atau bukan.”


La’ti terdiam mendengarnya. Ia bisa melihat dengan mata dan kepalanya sendiri jika Lucciane peduli pada saudari tirinya yang kerap berperilaku kejam. Karena pada dasarnya Lucciane itu baik hati dan mudah memaafkan orang lain.


“Kenapa kalian tidak membiarkan dia masuk?”


Para penjaga pintu tampak saling berpandangan untuk beberapa saat. “Maaf, Lady. Kami tidak bisa sembarangan membuka gerbang tanpa izin my Lord.”


Lucciane melupakan fakta jika Luccane telah memperketat keamanan. Pria itu telah mewanti-wanti agar ia tidak sembarangan berkeliaran. Apalagi sampai dekat-dekat dengan gerbang utama.


“Lagipula dia bukan manusia seperti yang Lady pikirkan,” kata salah satu penjaga pintu.


Kalimat itu berhasil membuat Lucciane terpaku. “Dia … bukan manusia? Jadi, siapa dia?”

__ADS_1


“Mustahil ada manusia yang berhasil mencapai Luccane The Palace, my Lady.” La’ti memastikan jawaban dengan pernyataan tersebut.


“Aku … juga seorang manusia biasa, La’ti.”


“Benar sekali, namun kelahiran Anda lahir diberkati The God dan The Goddess,” koreksi La’ti. “Kedatangan Anda ke Luccane The Palace memang sudah ditakdirkan.”


Mungkin Lucciane lupa tentang identitas aslinya sebagai titisan The Goddess yang terikat benag takdir dengan raja vampir. Oleh karena itu, ia membantu Lucciane untuk mengingatnya kembali. Sekarang Lucciane adalah bagian dari Luccane The Palace, soulmate alias belahan jiwa tuan mereka. Maka tak heran jika mereka sangat protektif menjaganya. Jika tidak, mereka yang akan kehilangan nyawa.


“Jika dia bukan saudara tiri ku, lalu siapa?” tanya Lucciane dengan dekapan yang semakin erat pada Lucy. “Kenapa tiba-tiba muncul mahluk yang mirip sekali dengannya?”


“Ini bisa jadi umpan atau jebakan,” kata Marry yang tiba-tiba muncul di belakang Lucciane. “Seharusnya Anda tidak bertindak gegabah,” lanjutnya. “Nyawa Anda sangat berharga. Kita semua dipekerjakan untuk melindungi Anda selagi my Lord dan Sebastian tidak berada di tempat.”


“Maaf,” lirih Lucciane. “Aku memang ceroboh.” Wajahnya tertunduk lesu, sadar jika sekali lagi ia telah merepotkan banyak orang. “Aku hanya merasa … terkejut melihat wajahnya.”


“Dia bukan manusia,” ujar La’ti seraya mendekati sang Lady. Mencoba memahami perasaan belahan jiwa tuannya itu. “Biar saya panggil Golden Pheasant untuk memastikannya.”


“Golden Pheasant?” bingung Lucciane.


Lucciane kembali mengalihkan tatapan pada La’ti yang kini tampak memejamkan mata. Dalam hitungan detik, muncul segel kepemilikan Luccane The Palace di lehernya. Lucciane baru pertama kali melihat segel kepemilikan Luccane The Palace muncul pada tubuh para penghuninya. Tak berselang lama, riuh angin datang menyapu area di luar gerbang Luccane The Palace. Diikuti dengan suara kepakan sayap yang terdengar tegas dan jelas, sekalipun bentuk dari mahluk bersayap itu terlihat.


Dari rimbunnya pohon di hutan kegelapan, tiba-tiba muncul mahluk bersayap putih dengan kilau keemasan. Apa itu yang dinamakan Golden Pheasant? Unggas cantik dengan sayap yang elok berkilau keemasan yang menyelimuti seluruh permukaan tubuhnya itu terbang dengan gesit, arah terbangnya yang lurus kemudian menukik ke sosok yang mengambil wujud sebagai Gwen.


Unggas dengan nama ilmiah Lophura Nycthemera itu sebenarnya adalah jenis Silver Pheasant atau burung pengar perak yang biasa ditemukan di hutan, terutama pegunungan, daratan Asia Tenggara, Cina Timur dan Selatan dengan populasi yang dikenalkan di pulau Victoria di danau Nahuel Huapi, Neuquen, Argentina. Hanya saja dari segi fisik, kecantikan Golden Pheasant hutan kegelapan tentu saja lebih unggul.


Golden Pheasant itu ternyata tidak hanya cantik, melainkan agresif. Sampai-sampai mahluk mirip Gwen yang ia ganggu mengeluarkan suara teriakan keras yang menggelegar di antara keheningan malam. Siapa sangka jika pada akhirnya mahluk itu out of control, kemudian menjadi bom waktu yang tiba-tiba meledak di depan gerbang utama Luccane The Palace.


“Lindungi titisan The Goddess!”


Ketika Lucciane dibuat terkejut oleh ledakan dari mahluk yang mengambil wujud Gwen, ia tak sempat berlari untuk mencari perlindungan. Namun, ia mendengar sebuah intrupsi bersamaan dengan hadirnya empat sosok yang memasang badan guna melindunginya. Jangan lupakan juga La’ti yang langsung sigap memeluk, serta Marry yang menjaga dari arah belakang.


“Beautiful lady.”

__ADS_1


Suara familiar Sebastian terdengar setelah beberapa menit berlalu pasca ledakan. Lucciane masih mencoba mengumpulkan jiwanya yang sempat tercerai-berai ketika suara itu terdengar.


“Anda baik-baik saja?” suara Sebastian kembali terdengar. Kali ini ada nada risau terselip dalam kalimatnya. “Bagaimana bisa Anda keluar begitu saja? bukan kah my Lord sudah mengatakan jika Anda dilarang keluar sembarangan?!”


Teguran datang bertubi-tubi dari Sebastian yang biasa terlihat tenang ketika menghadapi segala situasi. Namun, kali ini ia terlihat lepas kendali.


“Lebih baik kita bawa Lucciane masuk terlebih dahulu.”


Itu suara Lynn. Suara yang masih terdengar lembut di telinga Lucciane.


“Lynn,” panggilnya kemudian.


Pemilik nama itu bergerak, mengambil langkah mendekat. Lalu menyamakan tinggi tubuh mereka ketika sudah berada di depan Lucciane. “Kenapa kamu ceroboh sekali?” tanya Lynn dengan tangan mengelus pucuk kepala Lucciane. “Semua orang sangat mengkhawatirkan keselamatan mu, Lucciane. Luccane juga akan marah besar jika mengetahui masalah ini.”


“Maafkan aku.” Lucciane benar-benar merasa bersalah sekarang. Ia memang terlampau ceroboh, sampai-sampai merepotkan semua orang. “Maafkan aku, maafkan aku,” lirihnya dengan suara serak akibat menahan desakan Kristal bening yang menumpuk di pelupuk mata.


“Berhenti menangis,” lerai Lynn seraya menepuk pucuk kepala Lucciane dua kali. “Jadikan ini sebagai pelajaran. Ingat bahwa di luar sana banyak mahluk berbahaya yang menginginkan nyawa mu, Lucciane.”


Lucciane mengangguk kecil dengan desakan Kristal bening yang tidak bisa ditahan lagi. “Sebastian,” panggilnya ketika menolehkan kepala, beralih dari Lynn ke tangan kanan Luccane. “Aku … benar-benar minta maaf.”


Pemilik nama itu mengangguk singkat, kemudian mengulurkan tangannya yang memegang sapu tangan. “Sekarang Anda sudah aman. Hapuslah air mata itu, beautiful lady. My Lord akan marah besar jika melihat belahan jiwanya menitihkan air mata.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗


__ADS_1


Tanggerang 26-03-23


__ADS_2