Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 65. Pasukan Proscris Vampire


__ADS_3

TRV 65. Pasukan Proscris Vampire


“Dua hari lagi ayah mu sudah menyiapkan sebuah rencana makan malam dengan putri Chef Gustaff.”


Pria berkacamata yang sedang menyiapkan satu set pakaian kerja itu buka suara. Lawan bicaranya sendiri tengah asih duduk di atas sebuah sofa beludru dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri. Pandangannya tertuju pada sebuah tanschenur di tangan.


“Apa dia saudari gadis itu?” tanya pemilik rambut coklat tembaga itu dengan suara deep bass nya yang khas.


“Ya. Dia adalah saudara tiri titisan The Goddess.”


“Bagus lah.”


Pria yang duduk di atas sofa beludru berwarna biru itu angkat kaki, beranjak dari atas sofa empuk tersebut. Berjalan menuju tempat di mana pria berkacamata tadi berdiri, menyiapkan satu set pakaian kerja. “Apa Luccane de Khayat masih aktif bekerja sebagai anggota House of Lords?”


“Tentu saja, itu ada hubungannya dengan dia yang berasal dari afiliasi buruh dan merupakan bangsawan seumur hidup,” katanya kemudian. “Dia juga berada di bawah pemimpin bayangan dewan, seorang Baroness yang sama-sama dari afiliasi buruh.”

__ADS_1


“Dengan pesona luar biasa dari wajahnya yang seolah-olah dipahat langsung oleh The God, ia bisa dengan mudah menaklukkan seorang Baroness,” timpal pria pemilik rambut coklat tembaga. Ia meremehkan kemampuan Luccane de Khayat yang dapat duduk di kursi anggota House of Lords. Raja vampir itu pasti menggunakan pesona dari wajahnya sebagai daya pikat. “Jangankan seorang Baroness, seorang titisan The Goddess saja bisa dengan mudah jatuh ke pelukannya.”


“Maksud Anda …” pria berkacamata yang merupakan tangan kanan pria berambut coklat terbaga itu menggantungkan kalimat. Ia sedang menduga-duga apa maksud dari ucapan tuannya.


“Mereka telah melakukan proses Blood feeding secara sempurna,” kata sang tuan, meluruskan. “Penantian selama ratusan tahun telah berakhir.”


“Lalu … bagaimana dengan tujuan Anda, my Lord?”


“Don’t call me Lord!” seru si pemilik rambut perak, memperingati. Aura yang terpancar dari tubuhnya seketika menggelap. “Call me King vampire.”


Pria berkacamata itu langsung menunduk hormat saat menyadari kesalahannya. “Maafkan kelancangan saya, My King.” Ia melupakan fakta jika tuannya tidak suka dipanggil dengan embel-embel lain, selain “King”. Untung saja tuannya masih berbaik hati, jika tidak tindakan agresif mahluk berdarah dingin itu sudah pasti sudah ditunjukkan padanya.


“Baik, my King,” jawab pria berkacamata yang biasa dipanggil Eiser tersebut. Ia kemudian kembali menegakkan tubuh, menatap ke arah lawan bicaranya.


“Bagaimana soal pasukan ku? Apa mereka sudah siap diterjunkan ke hutan kegelapan?”

__ADS_1


Eiser mengangguk. “Saya sudah sempat menerjunkan beberapa pasukan ke hutan kegelapan.”


“Apa hasilnya?”


“Cukup memuaskan,” ujar Eiser. “Dari ratusan Proscris Vampire, masih tersisa beberapa Proscris Vampire yang berhasil sampai ke Luccane The Palace. Mereka bahkan berhasil membuat salah satu bagian yang dilindungi perisai tak kasat mata melemah.”


“Bagus,” jawab pemilik rambut coklat tembaga yang memiliki bola mata merah itu. Namun, ia bisa dengan mudah menyamarkan bola mata tersebut dengan kekuatan istimewa yang ia miliki. “Aku akan segera merebut titisan The Goddess, saat tiba waktu yang telah ditentukan. Pada saat waktu itu tiba, pasukan Proscris Vampire milikku akan menghancurkan pertahanan terakhir Luccane The Khayat,” katanya penuh keyakinan. Ada seringai evil yang kini muncul, menghiasi bibirnya. “Sebentar lagi, aku akan mewujudkan keinginan yang terpendam semenjak 2.000 tahun yang lalu.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗

__ADS_1



Tanggerang 01-03-23


__ADS_2