Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 26. Menghadapi Raja Vampir


__ADS_3


“Ternyata kau sudah berhasil menemukanku.”


Sambutan itu diberikan pada Lynn yang baru saja berhasil melewati pintu sebuah rungan. Di dalam rungan yang didominasi oleh aura pekat itu duduk sang raja di atas singgasana. Tepat di bawah kaki sang raja, ada seonggok bulu fluffly berwarna kemerahan. Bahkan salah satu kaki sang raja tampak memainkan bulu hewan dari ras siluman tersebut.


“Lihat, tuanmu sudah datang,” ucap sang raja. Tanpa perasaan ia kemudian menggunakan kakinya untuk menggoyangkan tubuh mahluk yang mengambil wujud sebagai hewan menggemaskan tersebut.


“Jauhkan kakimu,” kata Lynn dengan langkah lebar. Maju, mendekat ke arah sang raja. Hewan berbulu fluffly itu sudah seperti saudaranya sendiri. Ia tentu saja tidak akan tinggal diam.


“Kenapa aku harus menuruti perintah penyusup sepertimu?”


Luccane de Khayat, sang Raja vampir yang malam ini tampil dengan pakaian serba hitam tampak berkata dengan nada datar. Sorot mata abu-abu kebiruannya tampak gelap, tidak seperti biasa.


“Jauhkan kakimu dari Lush!” Lynn mengeluarkan pedangnya yang masih berbaju. Mengarah tepat ke arah Luccane.


“Jadi mahluk lemah yang berani menjadi hewan kesayangan dari kepunyaanku ini punya nama,” komentar Luccane. “Karena dia yang merawat mahluk lemah ini, aku membiarkannya hidup.”


“Dia” yang Luccane maksud tentu saja Lynn ketahui siapa maksudnya. Namun, yang membuat Lynn cukup kaget adalah fakta jika Luccane meng-klaim gadis bersurai merah itu sebagai “kepunyaannya”. Apa ia datang terlambat? Apa gadis itu telah dijadikan milik sang raja vampir?


“Jika saja bukan dia yang menemukannya, sudah pasti mahluk lemah ini akan langsung binasa ketika menginjakkan kaki di Luccane The Palace.”


Raja vampir dan tabiatnya memang sudah Lynn hapal di luar kepala. Hari ini bukan lah pertemuan pertama mereka. Kendati demikian, mereka memang sudah lama tidak bertatap muka. Mengingat para Lord Vampir hidup nomaden atau berpindah-pindah.


“Aku datang dengan damai,” ucap Lynn dengan gerakan perlahan menurunkan pedangnya. “Lepaskan Lucciane. Setelah itu urusan kita selesai.”


Luccane terkekeh meremehkan mendengar permintaan Lord vampir tersebut. “Kau yang datang ke Luccane The Palace tanpa undangan, lalu baru saja mengatakan datang dengan damai?” seringai tipis kembali menghiasi bibir. “Soal gadis itu, tidak aka nada yang bisa membawanya keluar dari Luccane The Palace, kecuali diriku.”


“Kalau begitu keluarkan lah dia. Biarkan dia pergi bersamaku.”


“Hm. Kurasa itu ide yang sangat buruk,” sahut Luccane. “Gadis itu yang datang sendiri ke rumahku. Sekarang dia telah menjadi bagian dari Luccane The Palace.”

__ADS_1


“Lucciane tidak seharusnya tinggal di sisimu. Dia punya kehidupan layaknya manusia normal di luar sana.”


Luccane yang duduk gagah dengan satu tangan bertumpu pada pedang legendaris yang turun-temurun diwariskan pada ahli waris kerajaan vampir itu tersenyum miring. Jenis senyum mematikan yang dapat membuat lawan kebingungan untuk menebak maksudnya.


“Kau pikir aku bodoh?”


“…”


“Aku lebih dari tahu jika gadis itu adalah milikku.”


“Lucciane bukan milik mu. Dia adalah calon pengantin wanitaku,” timpal Lynn percaya diri. Sebuah fakta baru saja ia utarakan.


“Percaya diri sekali,” komentar Luccane. Kali ini ia mengambil posisi berdiri setelah beranjak dari singgasananya. Dengan pedang legendaris di tangan, ia bergerak dua langkah maju. “Gadis itu telah menjadi bagian dari Luccane The Palace. Itu berarti ia adalah milikku.”


“Sekalipun Lucciane adalah titisan The Goddess?”


“Kau sudah tahu rupanya.” Luccane tersenyum miring. “Tak apa jika dia memang titisan The Goddess. Posisi ratu yang kosong memang paling cocok diisi oleh pemilik darah suci.”


“Tidak akan aku biarkan itu terjadi,” kata Lynn cepat. “Para Elder vampir sudah sepakat jika Raja vampir dilarang mendekati titisan The Goddess.”


Hidup sebatang kara sejak kecil, telah berhasil menempa Luccane hingga menjadi pribadi yang keras dan sukar diatur. Toh, ia terlahir sebagai pewaris kerajaan vampir kuno. Para Elder vampir, maupun Lord vampir, hingga dhampir harus tunduk padanya selaku pemilik kekuasaan paling tinggi di bangsa vampir.


Sayangnya, justru para bawahan itu membelot. Membuat kerajaan vampir kuno akhirnya runtuh, kemudian para ras vampir yang tersisa hidup berpencar di berbagai Negara. Mereka yang tersisa sempat mengira jika pewaris kerajaan telah binasa bersama runtuhnya kerajaan vampir.


Padahal Luccane masih hidup hingga detik ini. Para vampir yang mengetahui keberadaannya, sebagian besar memang kembali mengabdi. Sedangan sisinya sudah merasa nyaman hidup sendiri. Bebas tanpa peraturan dan pemimpin, mereka lebih memilih untuk membelot. Mereka bahkan membuat sekutu guna melawan Raja vampir.


Di posisi lain, Elder vampir dan Lord vampir berada pada posisi netral. Namun, mereka sangat sensitif jika sudah menyangkut titisan The Goddess. Mengingat mereka mengemban tugas untuk menjaga pemilik darah suci tersebut. Supaya tidak kembali jatuh ke tangan Raja vampir yang berasal dari hasil perkawinan ras vampir, titisan The God atau Goddess, dan manusia.


“Ikuti saja perintah yang ditinggalkan para Elder vampir, sebelum peristiwa buruk di masa lalu terulang kembali.”


“Apa yang kau maksud?”

__ADS_1


“Kau tahu pasti apa yang aku maksud,” ucap Lynn seraya mengarahkan pedangnya pada posisi siap. “Raja vampir yang terlahir dari hasil perkawinan campuran sepertimu tidak pantas bersanding dengan titisan The Goddess.”


Luccane menatap Lynn dengan bola mata yang kian pekat warnanya. “Pantas atau tidak, bukan kau yang berhak memutuskan,” ucapnya.


“Aku akan tetap pada tujuan awal,” pungkas Lynn. “Dimana Lucciane? Aku akan membawanya pergi.”


“Tidak ada yang bisa keluar dari Luccane The Palace tanpa hidup-hidup.” Luccane bergerak. Menuruni satu per satu anak tangga. “Dan aku, pemilik Luccane The Palace tak berniat untuk membiarkan penyusup rendahan sepertimu lolos begitu saja.”


Setelah berkata demikian, Luccane menggunakan ujung pedangnya yang masih terlindungi untuk dihentikan pada permukaan lantai. Dalam sekejap, pedang legendaris yang memiliki ukiran naga pada bagian bawah pegangannya itu berhasil menjadi penghantar guna memindahkan Luccane dan Lynn pada dimensi yang lain. Tempat di mana mereka bisa leluasa melakukan pertarungan.


“Ku pikir tempat ini cocok untuk menjadi medan pertempuran karena sudah tidak berpenghuni,” ucap Luccane seraya menikmati perubahan raut wajah pada lawan bicaranya. “Di sini kita bebas untuk saling membunuh,” lanjutnya.


Luccane sengaja memindahkan mereka ke arena yang lebih cocok untuk menjadi medan pertempuran. Namun, bagi Lynn itu adalah ide buruk. Kenapa? Karena arena yang Luccane pilih adalah Castil Vamfield yang merupakan tempat kelahiran para Lord vampir.



Bangunan megah bergaya gothic yang didominasi oleh warna putih itu terlalu banyak menyimpan kenangan. Lynn tidak amu menghancurkan tempat tersebut. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara main Raja vampir.


“Tempat ini terlalu suci untuk dikotori oleh darahmu,” tukas Lynn sarkas.


Castil Vamfield dibuat dekat dengan sebuah katedral yang begitu megah dan indah. Katedral itu sangat popular pada masanya. Lynn dan saudara-saudaranya yang kebal akan benda-benda spiritual seperti seperti salib, Rosario, air suci, dan sebagainya, kerap kali hilir mudik di katedral tersebut. Bagi para ras vampir murni, Castil Vamfield dan Katedral tersebut adalah tempat suci yang harus dilindungi.


“Kalau begitu, lebih baik darah mu saja yang mengotori tempat ini.”


Luccane bergerak cepat setelah berkata demikian. Memulai pertarungan dengan Lynn, sang leader dari Lord vampir yang tersisa. Pertarungan baru akan dimulai, dan entah siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇

__ADS_1



Tanggerang 07-02-23


__ADS_2