
"Semoga dia tidak membuat masalah," batin Vallen.
Vallen sudah sampai di Istana Noble The Castle. Saat ia membuka pintu, ia langsung disambut oleh ratusan orang.
"Selamat datang, Pangeran Vallendra," ucap semua orang menunduk serentak.
"Ada apa ini?" tanya Vallen pada Elton, kepala pelayan.
"Paduka sedang merayakan kemenangan serta kelahiran Adikmu kemarin," jawab Elton.
"Ibuku sudah melahirkan?" tanya Vallen.
"Benar, pangeran," jawab Elton membungkuk.
Semua orang melanjutkan pesta, musik menambah riuhnya acara. Vallen segera menaiki tangga menuju kamar ibunya. Vallen menerobos pintu kamar tanpa mengetuk, ia tidak sabar melihat kondisi Ibunya, dan wajah adik barunya.
"Kau sudah kembali?" tanya Ratu Katharos tersenyum.
Vallen melihat ada 2 orang bayi laki-laki yang sangat mirip di samping Ibunya.
"Kembar?" ucap Vallen.
"Ya, mereka tampan sepertimu," jawab Ratu Katharos.
Raja Katharos yang mendengar bahwa Vallen telah kembali segera menyusulnya.
"Kenapa lama sekali baru kau muncul?" tanya Raja Katharos.
"Aku sempat tersesat, Ayah," jawab Vallen.
Vallen sedikit gugup menatap Ayahnya, untuk pertama kalinya ia berbohong.
"Turun dan nikmati pesta di bawah, semua orang sudah menunggumu," ucap Raja.
"Baiklah," jawab Vallen membungkuk.
Raja keluar meninggalkan mereka. Vallen celingak-celinguk melihat sekitar, ia merasa seperti ada yang kurang.
"Dimana Saddam?" tanya Vallen.
"Dia mengurung diri di kamar, ia meraju, mengira bahwa semua orang tidak menyayanginya lagi," jawab Ratu Katharos.
"Ibu rasa, hanya kau yang bisa membujuknya," Imbuhnya.
Vallen menuju kamar Saddam.
"Tok.. tok.. tok.." suara ketukan pintu.
"Pergi! Aku tahu kalian tidak membutuhkanku lagi! Sialan!" teriak Saddam dari dalam.
"Ini aku, Vallen," ucap Vallen.
Tidak ada jawaban lagi dari dalam.
"Baiklah, kalau kau tidak mau membukakan pintu, aku akan pergi," ancam Vallen.
Saat Vallen hendak pergi, ia menoleh kebelakang, benar saja Saddam membuka pintu sedikit untuk mengintip.
"Mau bermain?" tanya Vallen.
Saddam menghampiri Vallen lalu meminta gendong. Vallen dengan lembut menggendongnya.
"Saat kau tidak ada, mereka semua mengacuhkanku. Ayah dan Ibu sibuk dengan anak baru mereka," ucap Saddam.
__ADS_1
"Begitukah, jangan-jangan mereka juga lupa memberimu makan," ucap Vallen membujuk.
Saddam mengangguk sambil cemberut.
"Kalau begitu ayo, kita habiskan makanan di bawah," ucap Vallen.
Vallen menggendong Saddam dari belakang, turun ke lantai bawah, mengajak Saddam mengikuti pesta.
Ketika Vallen turun, semua mata memandang ke arahnya.
"Selain tampan, dia juga penyayang keluarga," para wanita memuji Vallen.
"Bukankah dia terlalu sempurna," ucap para gadis meleleh melihat Vallen.
"Kakak, gadis-gadis itu sedang membicarakanmu," bisik Saddam di telinga Vallen.
"Benarkah?" jawab Vallen.
"Jangan mudah terayu oleh mereka, mereka tidak cantik," bisik Saddam.
"Ya kau benar, yang cantik hanyalah ibu," jawab Vallen.
"Xixixixi," mereka berdua tertawa jahat.
Matahari telah terbit. Vallen membungkus daging yang ada di dapur Istana. Sisa daging pesta tadi malam sangatlah banyak, jadi ia membungkus sebagian untuk ia berikan ke Belliana.
Sialnya, saat ia mencuri pakaian wanita di jemuran, Saddam melihatnya. Anak itu sedang bermain pasir di halaman Istana.
"Kakak! Kenapa kau mencuri baju pelayan?" tanya Saddam mengagetkan Vallen.
"Sialan, sejak kapan dia ada disini," batin Vallen kaget.
"Aku bukan mencurinya! Aku meminjamnya!" bentak Vallen.
"Kau mau kemana, aku ikut!" teriak Saddam.
"Lain kali saja, aku sibuk," jawab Vallen.
Vallen langsung pergi meninggalkan Saddam yang sedang terheran-heran dengan tingkah laku Vallen.
Setibanya Vallen di tengah hutan, ia melihat Belliana sedang duduk di pinggir danau.
"Ini untukmu," ucap Vallen menyodorkan bungkusan besar.
"Apa ini?" tanya Belliana senang.
"Beberapa lembar pakaian yang bisa kau gunakan," jawab Vallen.
"Kau tidak membawakan ku selimut? Disini sangat dingin tahu!" keluh Belliana.
"Lalu kenapa dari pagi-pagi kau sudah di pinggir danau? padahal Angin disini sangat kencang," ucap Saddam.
"Danau ini membuatku merasa orang tuaku ada disini," jawab Belliana.
"Seandainya kau tahu," batin Vallen. Vallen tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati gadis kecil itu jika tau jasad kedua orang tuanya di buang di dasar danau ini.
"Masuklah, nanti kau masuk angin. Aku juga membawakanmu makanan," ucap Vallen.
"Baiklah, kebetulan aku sangat lapar sekali," jawab Belliana.
10 tahun telah berlalu…
Seorang gadis sedang mendayung perahu ke tengah danau, dia adalah Belliana. Kini gadis kecil itu telah menjelma menjadi vampir yang cantik jelita.
__ADS_1
"Apa kau suka?" teriak seorang pria dewasa dari pinggir danau.
Pria itu adalah Vallen, tidak banyak yang berubah darinya, wajahnya tetap tampan, serta kulitnya putih pucat, membuatnya terlihat sangat menawan.
"Ini sangat luar biasa!" jawab Belliana kegirangan.
Belliana sedang berulang tahun hari ini, Vallen memberikannya hadiah sebuah perahu yang selalu di idamkan olehnya.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengintip mereka dari kejauhan.
"Ternyata ini alasan, kenapa pakaian wanita di Istana selalu hilang," batin Saddam.
"Tapi kenapa Vallen menyembunyikan gadis itu selama bertahun-tahun lamanya," gumam Saddam.
Vallen tak menyadari saat ia meninggalkan istana, Saddam mengikutinya dari belakang. Menuntaskan rasa penasaran yang selama ini ia pendam karena gerak gerik aneh dari Vallen.
Saat Belliana tidak sengaja menyentuh air danau, kepalanya mendadak sangat pusing.
"Kau kenapa!" teriak Vallen panik.
Belliana tidak menjawab, tangannya fokus mencengkram kuat kepalanya yang sakit tidak tertahankan.
Vallen segera menghilang dan muncul tepat di depan Belliana, dan mendayung perahunya ke tepian. Merebahkannya dengan pelan ke tanah.
"Katakan kenapa!," Tanya Vallen panik.
"Aku menyentuh air danau, tiba-tiba aku melihat gambaran yang tidak jelas, gambaran yang acak, tapi aku juga melihat bayangan kedua orang tuaku, dan itu semua membuat kepalaku sangat sakit," jawab Belliana lirih.
"Sepertinya danau itu sudah menampung ingatan kedua orang tuanya," batin Vallen.
Vallen mengangkat tangan kanannya, tanpa menyentuh ia berhasil membakar perahu itu, dalam sekejap merubahnya menjadi abu.
"Kenapa kau membakarnya!" ucap Belliana kaget.
"Perahu itu sudah melukaimu," jawab Vallen.
"Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perahu it.." ucap Belliana terpotong.
Vallen membungkam mulut Belliana dari depan.
"Jauhi danau, jangan pernah menyentuh airnya, kau mengerti?" ucap Vallen.
Tiba-tiba Vallen mendekatkan wajahnya ke depan, membuat Belliana menutup matanya, dengan cepat Vallen mencium tangannya sendiri yang sedang menutupi bibir Belliana.
"Dia tidak pernah benar-benar menciumku!" batin Belliana kesal.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Vallen menggoda Belliana.
Melihat ekspresi malu Belliana membuat Vallen gemas. Selama ini Vallen tidak pernah memberinya ciuman sungguhan. Segera Vallen membalikkan badan dan meninggalkannya, kembali ke Istana.
"Kau selalu seperti itu!" teriak Belliana.
"Akan ada saatnya," batin Vallen tersenyum sembari pergi.
Saddam yang sudah melihat semuanya kini yakin, bahwa gadis itu adalah kekasih Vallen.
Gadis yang selalu membuat kakaknya pergi dan pulang mengendap-endap.
"Aku harus memberitahu Ayah," batin Saddam.
...Jangan lupa Like dan komen🤗...
...Supaya Author tambah semangat 🥰...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungan kalian semua ❤️...