Tawanan Vampir

Tawanan Vampir
Terungkap


__ADS_3

*Flashback Off*


Vallen mendorong Saddam menjauh. Membuat kontak mata mereka terputus.


"Huek.." Vallen memuntahkan darah dari mulutnya, merasakan sakit yang amat sangat pada kepalanya.


Ia hanya mampu membagi ingatannya pada Saddam sampai disitu saja, karena ingatan itu menyerap energinya sangat banyak.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Justin menghampiri Vallen.


Vallen hanya mengangkat telapak tangannya, memberi isyarat pada Justin untuk tidak mendekat.


"Kalau seandainya waktu itu kau tidak memberi tahu Ayah, mungkin saat ini kedua orang tua kita masih hidup," ucap Vallen.


"Jadi kau tidak berhak menghakimi siapapun atas hal yang tidak kau pahami," imbuhnya.


Vallen menyeka darah yang masih tertinggal di sekitar mulutnya. Lalu Vallen bersiap meninggalkan Saddam.


"Aku harus segera menemukan Vladine," ucap Vallen.


"Bukannya dia sudah.." jawab Justin ragu.


"Dia masih hidup, aku masih bisa merasakannya," ucap Vallen.


Mereka berdua pergi meninggalkan Saddam yang masih dalam keadaan terikat disana.


***


Di Istana Demon Empire, Vladine sedang makan malam bersama Aiden, Edwin dan Celio.


Edwin menaikkan sebelah kakinya, menyendok dengan tangan, seolah olah seperti sedang makan di warteg.


Edwin melihat Vladine sedari tadi menatap dirinya dengan heran.


"Dulu saat kami menjadi manusia, kami semua orang susah, jadi kebiasaan kami terbawa-bawa sampai sekarang," ucap Edwin.


"Hei bodoh, bagaimana bisa kau beritahu tentang rahasia kita padanya!" protes Celio.


"Tidak bisakah kau sopan sedikit, bocah sialan," jawab Edwin.


"Kau sudah melanggar kode etis Clan!" bentak Celio.


"Edwin hanya memberi tahu asal usul, bukan identitas kita," ucap Aiden menengahi.


"Kenapa Celio sangat marah jika Edwin membahas tentang masa lalu mereka," batin Vladine.


"Aku hanya khawatir dia mencurigaiku, dan mengetahui identitasku yang sebenarnya," batin Celio.


"Kita sudah selesai makan malam, tugasmu sekarang siapkan kami makanan penutup," ucap Aiden menyuruh Vladine.


"Makanan penutup?" tanya Vladine bingung.


"Iya desert, untuk cuci mulut," jawab Aiden.


"Baiklah, aku akan membuat puding," ucap Vladine dengan polosnya.


Saat Vladine akan berdiri dari kursi, Aiden menarik tangannya, dan mendekatkan tubuhnya pada gadis itu.


"Darahmu saja," bisik Aiden.


Mendengar bisikan Aiden membuat Vladine merinding ngeri. Saat ia ingin kabur ia juga dicekal oleh Edwin dari samping. Kedua bersaudara itu menyeringai dengan licik.

__ADS_1


"Kau tahu kan, tinggal disini itu tidak gratis," ucap Edwin.


"Kau bisa membayarnya dengan ini," imbuh Aiden.


"To.. tolong jangan lakukan itu,"pinta Vladine.


Aiden meraih pinggang Vladine, dan langsung mengangkat gadis itu ke atas meja makan.


Bagi mereka, saat ini Vladine adalah sebuah hidangan yang sangat lezat. Aiden dan Edwin mengeluarkan taring mereka.


Tanpa sempat Vladine bereaksi, mereka berdua langsung menancapkan taring mereka ke tubuh gadis itu, dan menghisap darahnya.


"Akh.." rintih Vladine kesakitan.


"Tidak bisakah membawanya ke kamar kalian saja!" protes Celio.


"Jika kau mau, kau boleh bergabung," ajak Aiden.


"Tidak, terima kasih, melihatnya saja sudah membuatku mual," jawab Celio.


"Ayolah, ku pastikan kau akan ketagihan," ucap Edwin.


Celio sama sekali tidak tergiur bujukan para saudaranya, ia malah pergi meninggalkan mereka bertiga disana.


"Perkataannya seolah-olah jijik padaku, tapi sikapnya seperti menghargai ku," batin Vladine menatap kepergian Celio.


Celio melihat burung elang peliharaannya terbang di depan jendela kamar, pertanda dia sedang membawa informasi dari dunia manusia.


"Coba Ku lihat, informasi apa yang kau temukan," ucap Celio mengambil gulungan koran dari kaki burung itu.


Celio membaca artikel di koran mengenai perkelahian sengit antara 3 konglomerat bersaudara di depan umum, diduga karena seorang gadis.


"Vallen, Justin, dan Saddam?" batin Celio.


***


Kebetulan pagi itu yang ada di Istana hanyalah Justin dan Owen.


"Permisi, Tuan, ada seorang wanita serigala yang memaksa ingin masuk," ucap Elton.


"Wanita serigala.. jangan-jangan gadis itu," batin Justin.


Justin langsung menunjukkan wajah yang bersemangat. 


"Biarkan dia masuk," ucap Justin.


"Baik, Tuan," jawab Elton.


Justin merapikan rambutnya yang berantakan sebelum Meisya menemuinya.


"Terdengar narsis, tapi aku ingin selalu terlihat tampan di depannya," batin Justin.


Bak pucuk di cinta bulan pun tiba, Meisya kini sudah berada di depan matanya. Justin segera bersikap dingin dan elegan, berusaha memikat hati gadis itu.


"Ada apa?" tanya Justin.


"Kau yakin Vladine tidak ada disini?" tanya Meisya balik.


"Apa kau tidak percaya padaku?" ucap Justin.


"Iya, dan aku ingin memastikannya sendiri," jawab Meisya.

__ADS_1


"Tidak bisa, serigala tidak bisa masuk sembarangan dan mengobrak abrik Istana kami, kecuali.." ucap Justin terpotong.


"Kecuali apa?" tanya Meisya.


"Kau memiliki hubungan dengan salah satu di antara kami," jawab Justin mengode Meisya secara halus.


"Bicara apa kau ini, tidak mungkin serigala dan vampir bisa bersama," ucap Meisya.


"Jika aku bisa mewujudkannya bagaimana," goda Justin.


"Hentikan! Jangan mengalihkan topik, katakan dimana kalian menyembunyikannya!" ucap Meisya.


Gadis itu menodong pedang ke arah wajah Justin. Segera Justin membalik posisi mereka. Sekarang Justin mendekap Meisya dari belakang dan menodongkan pedang ke leher gadis itu.


Mata mereka saling bertatapan. Hati mereka berdesir, merasakan sesuatu yang berbeda.


"Aku benci berada di situasi ini," batin Meisya. Jantungnya berdegup kencang saat jaraknya dan Justin sangat dekat.


"Harus berapa kali kukatakan," bisik Justin.


"Aku tidak bisa pergi, sebelum menggeledah tempat ini," jawab Meisya.


Justin melepaskan Meisya, lalu merampas pedang gadis itu dan menyayat lengannya sendiri.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Meisya histeris.


Justin tersenyum melihat Meisya khawatir padanya. Tetesan darah segar mengalir ke pedang Meisya.


"Aku tahu kau tidak tega melukaiku, jadi aku melukai diriku sendiri," jawab Justin.


"Bawa pedang ini pulang, perlihatkan pada Eros, katakan kita berkelahi dan aku kalah," imbuhnya.


"Bagaimana bisa begitu!" protes Meisya.


"Aku berani bersumpah demi apapun, Vladine benar-benar tidak ada disini," ucap Justin.


"Kau hanya membuang waktumu, karena yang pasti aku tidak akan membiarkanmu menggeledah Istanaku," imbuhnya.


Lalu Justin pergi meninggalkan Meisya.


"Bawa gadis itu keluar," perintah Justin


"Siap, Tuan," jawab Elton, segera gadis itu diseret keluar olehnya.


"Hoi! Aku belum selesai bicara!" teriak Meisya.


"Dasar keras kepala," batin Justin.


Mendengar kegaduhan di luar, Owen keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Justin.


"Kenapa ribut sekali," tanya Owen 


Justin hanya melirik Owen sekilas lalu melewatinya menuju perpustakaan. Ia sangat penasaran, kemarin ia mengecek semua buku silsilah data dan penduduk serigala. Namun sama sekali tidak menemukan nama Meisya disana.


Lalu ia mencari buku sejarah dan semua data tentang vampir ruby(ras yang sudah punah) beserta para penduduknya.


Justin menyobek selembar kertas, identitas milik sepasang pasutri yang memiliki anak bernama Meisya. Lengkap dengan tahun dan tanggal lahirnya beserta lukisan wajah anak itu.


"Ketemu!" ucap Justin.


~Bersambung~

__ADS_1


Maaf ya Author Up nya selalu tengah malam, soalnya seharian sibuk banget. Happy reading guys and Nice Dream ❤️🤗


__ADS_2