
Keluarga Katharos sedang melangsungkan makan malam di Istana. Kini si kembar Justin dan Owen sudah besar, mereka hanya berbeda 3 tahun dari Saddam.
"Vallen, apa kau tidak berkeinginan untuk berkeluarga?" tanya Raja Katharos.
Pertanyaan Raja Katharos membuat Vallen kaget hingga tersedak.
"Dari sekian banyaknya wanita di wilayah ini, kau tidak pernah dekat dengan siapapun," ucap Raja Katharos.
"Aku masih enggan untuk menikah, Ayah," jawab Vallen.
"Kenapa? Umurmu sudah cukup matang bukan," ucap Raja Katharos.
"Atau kau mau Ibu memilihkan seorang gadis untukmu?" ucap Ratu Katharos menimpali.
"Tidak, aku sudah bisa membuat dan memilih keputusan untuk diriku sendiri," jawab Vallen.
Tiba-tiba Vallen membalik sendoknya dan berdiri. Pergi dari meja makan.
Pembahasan yang seperti itu membuat nafsu makan Vallen menghilang. Digantikan dengan pikiran yang berat.
"Kau mau kemana?" tanya Ratu Katharos.
"Aku sudah kenyang," jawab Vallen.
Raja Katharos yang melihat anaknya enggan untuk menikah, membuatnya khawatir.
"Kalian tidak usah khawatir, sebenarnya Vallen sudah menyimpan seorang gadis," ucap Saddam mengagetkan Ayah dan Ibunya.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya Raja Katharos.
"Tunggu sampai matahari terbit, jika ayah mengikutinya, Ayah pasti akan mengetahuinya," jawab Saddam yakin.
Sejenak Raja Katharos berpikir, memang selama bertahun tahun setiap pagi, Vallen selalu menghilang, tidak pernah ada di Istana.
Namun raja selalu berpikir, bahwa putra mahkotanya itu sedang memperdalam kekuatannya, hingga harus menghabiskan waktu dengan berkelana.
"Sudah kuduga, suatu saat pertanyaan seperti itu akan muncul dari mulut mereka," batin Vallen.
Vallen memasuki kamarnya dan menjatuhkan diri ke atas ranjang big size miliknya.
"Celakanya, yang ku inginkan hanyalah Belliana, tapi itu semua tidak mungkin," batin Vallen.
Awalnya Vallen mengurus dan merawat Belliana hanya karena rasa kasihan, dan menganggap Belliana hanyalah gadis kecil sebatang kara yang butuh seorang kakak.
Tapi seiring berjalannya waktu, Vallen tidak lagi memandang Belliana sebagai adik, tetapi sebagai wanita. Wanita yang sangat ia cintai sepenuh hati, yang selalu ia jaga, dan tidak pernah dia rusak.
"Semua ini membuatku bingung, lambat laun pasti Ayah akan mengetahui kebenaran tentang keturunan Ruby yang masih hidup, tapi aku tidak ingin semua itu terjadi," Vallen terus membatin.
Ia memikirkan resiko terburuk dari semua kemungkinan. Dan membuat keputusan untuk membawa pergi Belliana sejauh mungkin. Sebelum keluarga mencurigainya. Jika harus menikah dengan orang lain akan ia lakukan, asal Belliana bisa selamat.
Vallen berusaha menutup mata, memaksakan diri untuk tidur, karena besok ia membutuhkan tenaga yang lebih. Untuk membawa Belliana pergi jauh, sejauh mungkin yang dia bisa.
__ADS_1
***
Tanpa Vallen sadari, Ayahnya sedang memantaunya dari atas. Rasa penasarannya membuat Raja Katharos tidak tidur setelah mendengar kesaksian dari Saddam.
"Itu dia," batin Raja Katharos.
Kali ini Vallen mengeluarkan kuda putih milik Ayahnya. Dan mengikatkan 2 karung besar di sisi kanan dan sisi kiri kuda. Karung-karung itu berisi bahan makanan dan pakaian yang akan dibutuhkan oleh Belliana.
Ia sengaja pergi dari pagi-pagi buta, sebelum matahari terbit, karena ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membawa pergi Belliana sejauh yang ia mampu.
Namun Vallen tidak tahu, usahanya kali ini akan sia-sia, karena Ayah dan saudaranya telah mengetahui apa yang ia sembunyikan selama ini.
Dengan cepat Vallen dan kuda milik Ayahnya melesat di tengah hutan. Semua itu sudah ada dalam perhitungan Vallen. Ia sangat tahu bahwa kuda Ayahnya adalah kuda tercepat dari semua kuda kerajaan.
"Khiii..khii..khii.." suara kuda menggema saat di pecut tali oleh Vallen. Hingga mereka sampai di depan rumah tua.
Dengan terengah-engah ia menarik Belliana untuk segera bangun dan menunggangi kuda.
"Ada apa? Kita mau kemana?" tanya Belliana bingung.
"Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu, ayo cepat naik!" jawab Vallen.
Saat melihat Vallen menarik seorang gadis dari dalam rumah tua, Raja Katharos terheran. Mengapa anaknya menyembunyikan semua ini darinya.
"Siapa sebenarnya gadis itu," batin Raja.
Tiba-tiba angin berhembus, rambut panjang Belliana tersibak, membuat seluruh wajahnya terlihat jelas.
Ia baru tau, selama ini anaknya menyembunyikan Putri Mahkota Amber darinya. Yang selama ini ia tahu Vallen telah membunuhnya.
"Sejak kapan dia berani mengkhianati bangsanya sendiri!" batin Raja tersulut emosi.
Vallen memposisikan Belliana di depan, sementara ia di belakang sambil memeluk Belliana dan melecut kudanya dengan brutal.
"Vaaaaaaalleennnn!!!" teriakan Raja Katharos menggema ke seluruh hutan. Membuat semua burung dan kelelawar ketakutan dan kocar-kacir di langit.
Bak disambar petir, Vallen kaget setengah mati mendengar suara Ayahnya. Kali ini Ayahnya benar-benar marah.
"Ayah," batin Vallen panik.
"Suara siapa itu yang memanggilmu?" tanya Belliana kaget.
"Diam, jangan banyak bergerak," jawab Vallen.
Vallen menunggangi kuda seperti di kejar hantu. Hingga kuda yang mereka tunggangi keluar dari jalan setapak dan masuk ke dalam semak belukar.
"Aaa!!" teriak Belliana histeris.
Vallen segera mendekap Belliana, melindunginya saat mereka terpental dari atas kuda dan terguling-guling di tanah.
Vallen menahan rasa sakit, Kepalanya terbentur batu. Darah segar mengalir dari dahi hingga wajahnya.
__ADS_1
"Wajahmu berdarah," ucap Belliana khawatir melihat keadaan Vallen.
Vallen segera berdiri dan menarik Belliana.
"Ayo! Cepat lari!" ajak Vallen.
Sepanjang hutan, Vallen berlari sambil menggandeng Belliana, ia takut jika gadis itu terpisah darinya dan tersesat lalu di temukan oleh Ayahnya.
"Ada apa sebenarnya! Aku tidak mengerti," ucap Belliana.
Vallen tidak menjawab, ia tetap fokus melesat dengan cepat, sangat waspada agar tidak menabrak pohon.
Vallen tambah panik saat mereka sampai di hamparan tanah lapang. Tanah itu sangat kering hingga tidak di tumbuhi apapun.
Membuat Ayahnya bisa saja melihat mereka dengan jelas tanpa terhalang apa-apa.
Vallen tidak tahu sudah berapa jauh mereka berlari, hingga Vallen tidak tahu arah, mereka telah sampai di tempat yang sama sekali Vallen tidak pernah lewati.
"Bagaimana ini," batin Vallen.
"Ada dimana kita?" tanya Belliana.
"Aku juga tidak tahu," jawab Vallen.
Tiba-tiba Raja Katharos muncul dari atas dan turun menginjakan kakinya di tanah.
"Bum..!!" mendarat tepat di seberang Vallen.
Tanah kini terbelah menjadi 2, Vallen menarik Belliana untuk bersembunyi di belakangnya.
"Paman itu.. orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku," batin Belliana masih mengingat dengan jelas.
Belliana ingin maju, menumpahkan semua rasa dendam, dan membalaskan kematian orang tuanya.
"Dasar pembunuh!" teriak Belliana.
"Mundur! Dia bukan tandinganmu," bentak Vallen menarik Belliana.
Raja Katharos hanya tersenyum kecut, melihat anak yang selalu ia banggakan mengkhianati bangsanya sendiri.
"Serahkan padaku sebelum aku membawanya secara paksa," ucap Raja Katharos.
"Aku tidak mau," jawab Vallen.
"Jangan menguras kesabaranku, Vallen," ucap Raja Katharos.
~bersambung~
Jangan lupa Like, Komen, dan ikuti 🤗
Terima kasih atas dukungannya 🙏🏻🥰
__ADS_1