Tawanan Vampir

Tawanan Vampir
Lautan Darah 5


__ADS_3

"Kenapa Paman itu mengenalimu?" tanya Belliana heran.


"Sekarang bukan saatnya untuk bertanya, cepat sembunyi," suruh Vallen.


"Tapi bagaimana denganmu," ucap Belliana.


"Tidak usah pedulikan aku, cepat lari!" bentak Vallen.


Belliana pergi dengan ragu, masih menoleh ke belakang menatap Vallen.


"Lari Belliana!" teriak Vallen.


Dengan terpaksa Belliana lari meninggalkan Vallen disana.


"Kau berani menentang Ayah hanya demi gadis itu?!" bentak Raja Katharos dengan marah.


Vallen memohon hingga berlutut di depan kaki Ayahnya.


"Aku mencintainya Ayah, aku mohon biarkan dia tetap hidup," pinta Vallen.


"Apa kau gila! Mana mungkin aku membiarkannya!" bentak Raja Katharos.


Raja Katharos mengeluarkan pedangnya, bersiap mengejar Belliana. Tapi Vallen menghalangi, dengan menahan kaki Ayahnya.


"Aku tidak ingin berbuat kekerasan pada Anakku sendiri, jadi menyingkirlah!" bentak Raja Katharos menendang Vallen hingga tersungkur.


Vallen juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan, satu sisi ia tidak ingin melukai Ayahnya, tapi ia juga tidak ingin Ayahnya melukai Belliana. Pilihan yang sangat berat.


Dengan cepat Raja Katharos menemukan tempat Belliana bersembunyi, sementara Vallen masih menyusul di belakang.


Raja Katharos menjambak rambut Belliana dengan kejam, matanya menatap Belliana mengunci tubuh gadis itu hingga tidak bisa bergerak.


Kekuatan hipnotis dewa itu hanya dimiliki oleh Raja dan pewaris tahta Katharos. Belliana yang masih muda. Sama sekali bukan tandingannya.


"Aku akan membuatmu bertemu dengan kedua orang tuamu," ucap Raja Katharos.


Raja Katharos berjalan sambil menarik rambutnya, membuat tubuh Belliana terseret di tanah. Membuat Belliana meringis kesakitan.


"Hentikan!" teriak Vallen dari kejauhan.


Vallen bimbang, ia tidak bisa memilih antara keduanya. Hanya yang ia tahu pasti selama Ayahnya masih hidup, ia akan terus memburu Belliana sampai mati.


Tepat saat Raja mengayunkan pedangnya ke arah kepala Belliana, terpaksa Vallen melempar pedangnya sekuat tenaga, membuat pedang itu melayang dan menancap pas di jantung sang Ayah.


"Akh," mulut Raja Katharos mengeluarkan banyak darah.


Vallen terpaku di tempat, pikirannya kosong. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar atau salah.


Ia berjalan dengan lemas menghampiri Ayahnya, dengan gemetar tangannya membelai wajah sang Ayah.


Ingatan tentang masa kecil, kasih sayang Ayahnya padanya, kebahagiaannya, semua yang ia miliki saat ini adalah berkat dari sang Ayah.

__ADS_1


Karena lemahnya keadaan Raja, hipnotis dewa itu terputus dengan sendirinya. Membuat Belliana bisa bergerak dan mendekati Vallen.


"Terima kasih kau sudah menyelamatkanku," ucap Belliana.


"Tinggalkan aku sendiri," jawab Vallen.


Belliana tidak mengerti mengapa Vallen mengusirnya, namun yang pasti ia mengerti Vallen sedang tidak ingin diganggu


"Sekarang!" bentak Vallen.


Belliana hanya menurut dan berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Vallen yang masih terpaku di sana.


"Kenapa dia terlihat sangat sedih," batin Belliana.


Air matanya kini sudah tak terbendung, Vallen menangis sejadi-jadinya memeluk sang Ayah.


Raja Katharos menggerakan tangannya, membelai lembut kepala Vallen.


"Maafkan aku, Ayah," ucap Vallen terisak.


"Apapun yang kau lakukan, kau akan tetap menjadi anak kebanggaanku," jawab Raja Katharos.


Dan Raja pun menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Vallen.


"Tidaaaaakkk!!!" teriakannya menggema di hutan.


***


Di tengah hutan belantara, Vallen mengangkat jasad Ayahnya, kembali menuju Istana Noble The Castle.


Sesampainya di depan gerbang Istana, ternyata sudah banyak penduduk yang menunggu raja meresmikan acara panen tahunan.


Namun mereka disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menyayat hati. Semua mata tertuju ke arah Vallen.


Pakaian dan tubuh yang basah bersatu padu dengan darah, di dalam gendongan Vallen ada Raja yang sudah tidak bernyawa.


"Pangeran telah kembali!" teriak para prajurit membuka gerbang dengan hormat.


Vallen berjalan di depan ratusan mata, berjalan dengan tatapan kosong dan hampa menuju pintu utama Istana.


Ratu Katharos membuka pintu utama, bersiap menyambut Vallen, namun apa yang ia lihat saat itu benar-benar membuatnya syok, dan terduduk lemas di lantai.


"Ada apa Ibu!" teriak Saddam menghampiri Ibunya.


Vallen saat ini sudah ada tepat di depan mereka, membawa jasad Ayahnya yang sudah tidak bernyawa.


"Katakan apa yang terjadi!" bentak Saddam.


Vallen tak bergeming, ia hanya diam dan air matanya terus mengalir. Melihat dada Ayahnya yang masih tertancap pedang milik Vallen, Saddam pun mengerti.


"Kau membunuh Ayah?" tanya Saddam.

__ADS_1


"Katakan!" teriak Saddam.


Vallen hanya mengangguk, ia bersimpuh di depan Ibundanya.


"Maafkan aku, Ibu," ucap Vallen menangis.


"Bisa-bisanya kau melakukan itu kepada Ayahmu sendiri!" bentak Ratu Katharos menarik kerah baju Vallen.


"Aku tidak sengaja melakukannya, Bu," jawab Vallen terisak.


"Apa ini ada hubungannya dengan gadis hutan yang kau simpan itu?" tanya Saddam.


"Bagaimana kau tahu?" jawab Vallen.


"Sudah kuduga, Aku tahu karena akulah yang memberi tahu Ayah!" ucap Saddam.


"Brengsek!" ucap Vallen meninju wajah Saddam.


"Apa kau tau apa yang sudah kau lakukan!" bentak Vallen.


"Apa! Hanya karena Ayah mengetahui rahasiamu kau harus semarah itu! Hingga membunuhnya!" bentak Saddam tak kalah tinggi.


"Semua itu tidak sesederhana yang kau kira," ucap Vallen.


"Sudah! Sudah! Cukup!" Ratu Katharos berteriak jengah dengan perkelahian kedua anaknya.


"Apa kalian tidak melihat Ayahmu terkapar tidak bernyawa! Dimana Otak kalian," bentak Ratu.


Ratu Katharos memeluk suaminya yang sudah tidak bernyawa, menciumnya, menangis terisak.


Ia tidak menyangka, suaminya mati di tangan anaknya sendiri.


Vallen terus menunduk tidak mampu mengangkat wajahnya. Rasa bersalah, menyesal, kehilangan, kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya.


Kejadian itu disaksikan oleh semua orang. Para penduduk, prajurit, pelayan, dan semua orang yang ada disana.


Membuat penilaian mereka buruk terhadap Vallen, semua orang membenci Vallen. Tidak ada seorangpun gadis yang ingin mendekatinya. Semua kalimat pujian untuknya dulu, kini berubah menjadi tatapan sinis.


Meskipun begitu, Vallen hanya menyimpan kebenaran itu sendiri. Menyimpan cerita yang sebenarnya untuk dirinya sendiri. Karena semua itu baginya percuma, apa yang hilang tidak bisa kembali lagi. Sebagaimanapun ia ingin membersihkan namanya, tetap tidak bisa merubah fakta bahwa dialah yang membunuh Ayah kandungnya sendiri.


Sangat berat bagi Vallen, menanggung kebencian, dan stigma buruk masyarakat tentang dirinya. Mereka semua tetap menghormati Vallen sebagai penerus tahta, namun sebutan pembunuh akan terus melekat pada diri Vallen.


2 telah berlalu, luka kehilangan masih melekat kuat dalam hati Ratu Katharos. Ia sudah berusaha bertahan hidup sebisa mungkin, namun di tahun itu Ratu Katharos memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan meminta abunya di simpan tepat di samping mendiang suaminya.


Dan itu menambah pukulan berat bagi Vallen. Namun sebelum Ratu bunuh diri, ia berpesan kepada semua anak-anaknya agar terus patuh kepada Vallen, apapun yang terjadi.


Tidak pernah terpikirkan oleh Saddam, Justin, dan Owen. Pesan Ibunya adalah isyarat sebelum ia pergi.


~Bersambung~


Eitsss Like nya dulu dong😁

__ADS_1


Salam Sayang ❤️


__ADS_2