Tawanan Vampir

Tawanan Vampir
Kabur Dari Istana


__ADS_3

Merasa tubuh Vladine melemas, Celio melepas taringnya dari leher Vladine. Gadis itu terlihat sangat pucat. Lalu Celio menopang tubuh Vladine yang hampir merosot.


Ia hampir kehabisan darah dan kehabisan akal. Menghadapi takdir yang sedang mempermainkannya.


"Pasti semua ini hanya mimpi," gumam Vladine.


"Bertahun-tahun aku berusaha untuk melupakanmu, menahan diri untuk tidak menemuimu, lalu tiba-tiba kau ada disini, tahukah kau, aku hampir gila saat itu," jawab Celio Frustasi.


"Maaf, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ada disini," ucap Vladine.


"Bisa kah kau menjelaskan padaku? Aku benar-benar tidak bisa memahami semua ini," pinta Vladine. 


Tiba-tiba pengelihatan Vladine mulai kabur, kesadarannya perlahan mulai hilang. Dan dia pingsan dalam pelukan Celio.


"Mungkinkah aku menghisapnya terlalu kuat," batin Celio.


Pria itu merebahkan Vladine di sofa milik Haidar. Lalu merapikan kembali barang-barang yang berantakan karena gadis itu.


Setelah semuanya beres, Celio menggendong Vladine menuju kamar pribadinya. Dan merebahkannya di atas ranjang miliknya.


Dengan malu-malu, tangannya meraih kancing baju gadis itu, membukanya satu persatu.


Setelah Celio berhasil melepas baju Vladine, lalu ia menggantinya dengan piyama tidur. Dengan telaten mengompres bagian-bagian tubuh gadis itu yang membengkak karena di hisap darahnya.


"Diantara milyaran wanita di dunia ini, kenapa harus kau yang menjadi tumbal, Vladine?" batin Celio.


Celio menunggu Vladine sadar, hingga ketiduran di samping gadis itu.


Cukup lama Vladine tidak sadarkan diri, sampai akhirnya ia terbangun, dan mendapati tangannya sedang di genggam oleh Celio.


Tidak ada yang aneh, hingga sampai ia merasa ada sesuatu yang berbeda di tubuhnya.


"Aaaaaa!!" Vladine berteriak. Hingga membuat Celio terbangun.


"Ada apa?" tanya Celio panik.


Vladine melihat pakaiannya sudah ganti, dan ada beberapa kain kompres di beberapa titik tubuhnya. Leher, dada, dan paha.


"Kenapa kau mengganti pakaianku!" protes Vladine. Ia malu dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kami semua sudah pernah melihatnya," jawab Celio tanpa rasa bersalah.


Mata Vladine melotot, mulutnya membisu setelah mendengar jawaban dari Celio, Vladine merasa seperti sudah tidak ada harga diri lagi.


"Lupakan," ucap Vladine.


Gadis itu turun dari ranjang. Vladine merasa ia ingin keluar dari Istana itu sekarang juga.


"Sepertinya aku tidak bisa menjamin kesucianku disini," batin Vladine.


"Kau mau kemana?" tanya Celio.


Pria itu menahan tangan Vladine saat gadis itu ingin membuka kenop pintu.


"Pergi sejauh mungkin dari sini," jawab Vladine kesal.


Tiba-tiba Celio menarik Vladine dan memeluknya untuk kesekian kali.


"Jangan pergi, aku mohon," ucap Celio.

__ADS_1


Vladine hanya bisa menahan Saliva, merasakan deru nafas Celio mengenai lehernya.


Akhirnya Celio berhasil menemukan pawang yang bisa mencairkan hatinya yang membeku setelah sekian lama.


***


Eros melihat Meisya telah kembali ke Istana Imperial Stone, dengan wajah yang ambigu.


"Bagaimana, kau sudah menemukan Vladine?" tanya Eros.


Meisya menggeleng, dan memperlihatkan pedangnya yang berlumur darah segar.


"Vladine tidak ada disana, hanya ada Justin," jawab Meisya.


"Kau melukainya?" tanya Eros.


Meisya hanya mengangguk tipis.


Eros menyeringai penuh kemenangan.


"Bagus, memang itu tujuanku mengirimmu kesana. Agar kalian saling melukai, dan membuat dia sadar, bahwa kau hanya tunduk padaku," batin Eros.


"Istirahatlah, aku akan memikirkan langkah yang selanjutnya," ucap Eros.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar," jawab Meisya.


"Aku harus menemui Vallen segera, untuk memastikannya," batin Eros.


Meisya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Gadis itu menghela nafas panjang.


"Kenapa dia bodoh sekali, melukai dirinya sendiri," batin Meisya.


"Sial, memikirkannya membuatku tidak bisa tidur," keluh Meisya.


Meisya mengendap-endap keluar dari Istana agar tidak ketahuan oleh Eros. Gadis itu ingin mencari angin segar.


Jalan raya yang sepi. Lampu yang bersinar terang sepanjang jalan. Ya, Meisya saat ini sudah berada di dunia manusia.


Ia rindu masuk sekolah, bermain dengan ria bersama teman-temannya, terbebas dari aturan Eros meskipun hanya sementara.


"Menjadi manusia tidak buruk juga," batin Meisya.


Tanpa ia sadari ada beberapa preman yang sedang mengikutinya dari belakang. Para preman itu mabuk, dan memegang botol miras.


"Mmm!! Mmm!!" mulut Meisya dibungkam.


Meisya berusaha memberontak. Bagaimanapun dan apapun keadaannya, dia tidak bisa menggunakan kekuatannya di dunia manusia. Karena itu melanggar kode Etis Serigala. Bisa-bisa manusia menyadari adanya keberadaan serigala di sekitar mereka.


Tenaganya juga tidak cukup besar untuk melawan 6 pria berotot dan bertato itu. Hingga akhirnya ia di ikat dan di bopong beramai-ramai.


Meisya menangis, ia pasrah seakan-akan tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa ini adzab, karena aku pergi tanpa pamit ke Eros," batin Meisya.


Disaat yang tepat seorang pria melesat dan menghajar ke 6 pria itu hingga babak belur. Pria itu sangat cepat, hingga tidak terlihat jelas gerakannya.


Salah satu di antara preman itu memukulkan botol miras ke kepala pria itu, sampai botolnya pecah.


Pria itu langsung berbalik dan membalas. Menendang preman itu hingga terpental dan tubuhnya menancap di sebuah pagar besi. Dan membuat preman itu tewas di tempat.

__ADS_1


Pria itu segera melepas kain yang di ikatkan pada tangan serta mulut gadis itu.


"Justin," ucap Meisya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Justin.


Meisya segera memeluk Justin, dan menangis ketakutan.


"Aku sangat takut. Hiks.. Hiks.." ucap Meisya terisak.


Justin mengelus rambut gadis itu, dan mencium keningnya. Justin bersyukur ia menemukan Meisya tepat waktu.


"Kau tidak perlu khawatir, ada aku disini," jawab Justin.


Lutut Meisya gemetar, tubuhnya sangat lemas, ia masih syok atas apa yang terjadi padanya barusan.


Justin menggendong Meisya menuju restorannya. Darah mengalir dari kepala Justin, dan menetes ke baju Meisya.


Justin membaringkan gadis itu ke sofa, dan memberikan segelas air putih untuknya, agar Meisya sedikit tenang.


"Kepalamu berdarah," ucap Meisya.


"Ini semua karena mu! Coba kalau aku tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi padamu!" Justin mengomel.


"Maaf, tadinya aku hanya ingin menenangkan diri," ucap Meisya.


"Apa Eros menindasmu lagi?" tanya Justin.


"Tidak, aku hanya ingin minta maaf karena tidak mempercayaimu," jawab Meisya.


"Tidak masalah, lain kali jangan seperti ini lagi, kau membuatku khawatir," ucap Justin.


Setelah mendengar ucapan Justin, Meisya menatap Justin dengan tatapan penuh arti.


"Benarkah masih ada yang peduli padaku," batin Meisya.


Justin membungkuk di wastafel, mengguyur kepalanya dengan air es, dan pendarahan di kepalanya pun berhenti.


Ia melepas pakaiannya yang di penuhi dengan noda darah. Memperlihatkan otot-ototnya yang sixpack.


"Apa yang kau lihat?" tanya Justin mengagetkan Meisya yang dari tadi menatapnya.


"Apa, tidak ada," jawab Meisya mengalihkan pandangannya.


Justin hanya tersenyum puas melihat Meisya tersipu malu.


***


Eros menyuruh pelayan memanggil Meisya untuk mengajaknya makan malam, tapi tidak ada jawaban dari gadis itu.


Saat Eros masuk ke kamarnya, gadis itu tidak ada. Membuatnya kehilangan kesabaran.


"Dia pergi tanpa sepengetahuanku, gadis ini benar-benar.." ucap Eros.


Kali ini Eros sangat marah mengetahui Meisya keluar diam-diam dari Istana.


~Bersambung~


Like, komen, dan ikuti, untuk mendukung karya ini. Terima kasih 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2