
Hari kematian Ratu Katharos. Semua orang berkumpul di luar Istana memakai pakaian hitam, dan membawa rangkaian bunga di tangannya.
Vallen memegang obor, bersiap untuk mengkremasi sang Ibu di depan semua orang. Justin dan Owen berdiri di samping Vallen. Ketiga bersaudara itu memakai kacamata hitam untuk menutupi kesedihan mereka.
Hanya Saddam yang tidak terlihat disana. Saat ini Saddam hanya berdiri di kamarnya, menatap jendela. Melihat proses kremasi Ibunya dari jauh. Ia tak kuasa menahan tangis.
Proses kremasi sudah selesai. Vallen meletakkan sebuah guci berwarna ungu berisi abu Ibunya di samping guci abu milik mendiang Ayahnya.
Vallen melepas kacamata hitam miliknya, air matanya meluruh deras menatap dua guci abu milik kedua orang tuanya.
"Dan pada akhirnya aku harus mengemban beban seberat ini sendiri tanpa kalian," ucap Vallen mengusap air matanya.
Kerajaan, tahta, dunia vampir, hidup ketiga Adik-adiknya, dan kehidupan Belliana. Sekarang semua ada di pundak Vallen.
Dia harus menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, walaupun dia dibenci oleh seluruh rakyatnya. Dia harus bisa menjadi figur seorang kakak, Ibu, dan Ayah. Serta melindungi dan menjamin kehidupan Belliana.
"Dimana Saddam?" tanya Vallen pada pelayan.
"Tuan Saddam mengurung diri di kamarnya, Pangeran," jawab Pelayan.
Vallen masuk melihat Saddam yang sedang mengemasi pakaian dan barang-barangnya. Ia juga memasukkan beberapa keping emas ke dalam saku celananya.
"Kau mau kemana?" tanya Vallen.
"Tidak ada lagi alasanku untuk tinggal disini," jawab Saddam.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi," ucap Vallen.
"Aku tidak tahan disini! Istana ini banyak menyimpan kenangan pahit dalam ingatanku! Apa kau tidak mengerti!" bentak Saddam.
"Lalu kau akan tinggal dimana?" tanya Vallen.
"Dimanapun, asal aku tidak melihat wajahmu," jawab Saddam. Menenteng barang-barangnya dan bersiap keluar.
"Jangan membuatku memohon, hanya kalian yang aku miliki saat ini," Vallen memelas.
"Benarkah, tapi kenapa aku merasa sudah tidak memiliki siapapun lagi," jawab Saddam keluar dari kamarnya.
Saddam kini telah sampai di luar gerbang Istana, menatap kebelakang sekilas. Tempat dimana ia lahir dan tumbuh, juga tempat dimana ia kehilangan semua orang yang dia sayangi.
"Aku tidak ingin melihat kematian yang lain lagi disini," batin Saddam melangkah pergi.
__ADS_1
Vallen menatapnya dari jauh, kali ini ia tidak bisa menahan keputusan Saddam. Namun meskipun begitu ia tetap mengerahkan beberapa prajurit terbaiknya untuk melindungi Adiknya itu.
"Elton!" panggil Vallen.
"Iya, Pangeran," jawab Elton, kepala pelayan.
"Kerahkan sebagian prajurit untuk menjaganya," perintah Saddam.
"Siap, Pangeran," jawab Elton.
Dan sejak saat itu, Saddam tidak pernah kembali ke Istana Noble The Castle.
***
Vallen mengumpulkan keberaniannya untuk masuk ke hutan, tempat dimana ia menyembunyikan Belliana, dan tempat dimana ia membunuh Ayahnya.
Semenjak kematian Ayahnya 2 tahun silam, ia tidak pernah lagi datang mengunjungi Belliana. Setelah Raja tiada, Vallen terlalu sibuk mengurus kerajaan. Hanya menyuruh Elton 3 bulan sekali untuk mengirimkan kebutuhan hidup gadis itu. Padahal yang dibutuhkan Belliana hanyalah kehadiran Vallen.
Dan semua itu, membuat jarak di antara mereka berdua semakin merenggang. Belliana yang sudah terbiasa sendiri sebatang kara di tengah hutan tanpa seorangpun yang memperdulikannya. Hanya ditemani kegelapan dan kesepian yang menyelimutinya.
1.440 kali ia menggores pisau di dinding, menghitung matahari terbit dan tenggelam. Namun Vallen tidak kunjung datang.
Kini dia berubah menjadi gadis yang muram, dingin, dan acuh. Tidak ada lagi senyum dan tawa cerianya seperti dulu. Baginya Vallen menghilang tanpa kejelasan. Membuat cintanya terkikis begitu saja.
Belliana menoleh saat mendengar suara yang selalu dinantikannya. Namun Belliana hanya diam tanpa ekspresi.
Vallen melihat bola mata Belliana kali ini berbeda. Kini bola mata gadis itu sudah berwarna hijau tua pekat, sedangkan dulu saat terakhir kalinya ia menemui gadis itu matanya masih berwarna hijau muda bening.
"Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Vallen.
Belliana hanya menggeleng dan memalingkan wajahnya. Bagi Belliana Vallen sejak lama sudah mati dari hatinya. Vallen sudah tidak peduli lagi dengannya. Tanpa sebab menghilang begitu saja.
Vallen memeluk Belliana, mencurahkan rasa sedihnya kehilangan Ibunya. tapi Belliana hanya diam dan tidak meresponnya.
Belum sempat Vallen bercerita tentang kematian Ibunya, Belliana mendorong Vallen dan melepaskan pelukannya.
"Aku ingin pulang," kalimat pertama yang diucapkan Belliana setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Pulang? Maksudmu?" tanya Vallen tidak mengerti.
"Aku ingin kembali ke Istana Amber," jawab Belliana.
__ADS_1
Vallen terdiam, ia berpikir sejenak. Benar juga, tidak mungkin selamanya Belliana hidup sendirian di tengah hutan seperti ini, membawanya pulang ke Istana Noble yang masih berduka juga tidak mungkin. Yang ada kerajaan tambah ricuh karena kemunculannya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," ucap Vallen.
Kini mereka sudah sampai di perbatasan wilayah antara Vampir Ruby dan Vampir Katharos.
"Apa kau yakin?" tanya Vallen.
Belliana menatap kerajaan yang sunyi dan mati didepannya itu, lalu ia mengangguk. Kesepian bukanlah momok yang menakutkan lagi baginya.
Belliana dan Vallen memasuki Istana Amber yang kotor karena tidak terurus, dan sangat berbau anyir. Walaupun 12 tahun telah berlalu setelah pembantaian itu. Darah di seluruh lantai istana masih ada walaupun sudah mengering.
Kini mereka telah sampai di kamar orang tua Belliana. Ranjang dan sprei itu masih lengkap berlumur darah.
Hanya dengan menatap ranjang itu, Belliana sudah membakarnya.
Vallen hanya diam melihat Belliana.
"Kemampuannya sudah meningkat pesat," batin Vallen.
Di atas balkon, Belliana menunjuk air laut yang tenang di ujung sana. Tiba-tiba air laut itu berubah memunculkan ombak yang berbuih.
Dengan sekali mengangkat tangan, air laut itu sudah meninggi 20 meter. Belliana menghempas kasar tangannya. Dan air laut itu menghancurkan seluruh pemukiman warga yang sudah kosong. Menyapu bersih seluruh bangunan yang ada di depan istana Amber.
Kemudian gadis itu menghentakkan kaki kanannya. Tanah bergetar. Ratusan prajurit batu muncul ke permukaan. Semuanya bergerak, dan membungkuk pada Ratu baru mereka.
Adegan di depan matanya, membuat Vallen tercengang. Ia tidak menyangka, hanya dalam waktu yang singkat kekuatan Belliana sudah setara dengannya, bahkan hampir melampauinya.
"Selamat datang di Istana Amber," ucap Belliana.
Vallen tersenyum getir, melihat perubahan sikap Belliana padanya yang sekarang ketus dan dingin. Gadis itu sama sekali tidak menatapnya dari tadi.
"Baguslah, kau sudah sekuat ini, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi," jawab Vallen.
Vallen berbalik dan bersiap akan pergi dari sana. Karena masih dalam keadaan berduka, suasana hatinya masih belum membaik.
Belliana hanya menatap kepergian Vallen dari atas.
..."Semua orang hanya peduli dengan rasa sakitnya sendiri, tanpa mereka tahu apa yang sudah kualami selama ini."...
...~Valendra Quotes~...
__ADS_1
_Bersambung_