Tawanan Vampir

Tawanan Vampir
Rindu Yang Tumpah


__ADS_3

Malam ini Aiden mengajari Vladine cara bermain billiard. Salah satu hiburan yang ada di Istana Demon Empire.


"Kau hanya perlu menggosok ujungnya, lalu sodok!" ucap Aiden mendorong stik billiard.


Aiden berdiri di belakang Vladine, meraih tangan gadis itu. Ia mengajarkan cara memegang stik billiard yang benar.


"Nah, seperti ini," ucap Aiden.


"Aku tidak yakin bisa melakukannya," jawab Vladine.


Untuk pertama kalinya Vladine memegang benda semacam ini. Sejujurnya ia merasa sedikit tidak nyaman di perlakukan seperti ini oleh Aiden.


"Jarak kami terlalu dekat, dia bisa saja dengan mudah menancapkan taringnya di leherku lagi," batin Vladine.


Gadis itu berusaha untuk maju sedikit, memberi jarak di antara mereka, mendadak Aiden menarik pinggang Vladine sehingga membuat tubuh mereka rapat kembali.


"Jangan banyak gerak, atau tidak aku akan menghisapmu lagi," ucap Aiden.


Vladine hanya mengangguk pasrah. Dan kembali fokus dengan stik yang ada di tangannya.


"1.. 2.. 3.. dorong stiknya!" perintah Aiden.


Beberapa bola dengan angka yang berbeda masuk ke dalam lubang.


"Aku berhasil!" ucap Vladine antusias.


"Yang memasukan bola terbanyak adalah pemenangnya, tapi jika kau salah memasukan bola putih ini, kau akan kalah," jawab Aiden.


Tiba-tiba Celio masuk ke dalam ruangan billiard tanpa mengetuk pintu. Lalu ia melempar sebuah gulungan koran ke atas meja billiard.


"Apa ini?" tanya Aiden.


"Kau tidak buta huruf kan? baca!" jawab Celio ketus.


"Menyebalkan sekali, padahal kau tinggal mengatakannya," ucap Aiden kesal.


Aiden meraih kasar koran yang diberikan oleh Celio, raut wajahnya berubah.


"Kau dapat informasi ini dari mana?" tanya Aiden.


"Burung peliharaanku," jawab Celio.


"Ayo, kita harus segera menemui Haidar," ajak Aiden.


Mereka berdua meninggalkan Vladine sendirian di sana. Sebelum pergi Celio sempat melirik Vladine sekilas.


Vladine meraih gulungan koran yang ditinggalkan Aiden di atas meja Billiard.


"Aku penasaran, berita apa yang membuat mereka sepanik itu," batin Vladine.


Vladine membaca Judul koran itu "3 Konglomerat bersaudara bertengkar di depan umum"


"Astaga! ini kan manajer Justin, ini pelanggan aneh waktu itu, dan ini.. ini kan pria yang menjatuhkanku dari atas gedung!" ucap Belliana kaget.


"Mereka bersaudara? Bagaimana bisa," imbuhnya.

__ADS_1


"Jika salah satu di antara mereka bukan manusia, berarti..." batin Vladine menerka-nerka.


***


Aiden, Celio, dan Edwin bersama-sama menghampiri Haidar di ruangannya. Memberi tahu informasi bahwa Vallen bersaudara sedang mencari Vladine.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Aiden.


"Kita harus turun untuk mengecek keadaan, sudah seberapa jauh Vallen bertindak," jawab Haidar.


"Jadi kita semua akan pergi ke dunia manusia?" tanya Edwin.


"Benar, kecuali Celio," jawab Haidar.


"Kenapa aku tidak diberi kebebasan seperti mereka!" protes Celio.


"Kau harus tetap mengikuti kontrak, Celio," ucap Haidar.


"Jaga Istana, dan juga jaga Vladine. Jangan biarkan dia membuat masalah," imbuh Haidar.


Celio terpaksa menuruti Haidar. Mereka bertiga pergi meninggalkan Celio di istana bersama Vladine.


"Aku benci ini," ucap Celio.


Celio sedang memainkan Biola kesayangannya di balkon. Vladine menikmati alunan itu di lantai bawah.


"Siapa yang memainkan Biola ini," batin Vladine.


Gadis itu menyusuri sumber suara. Dan ia melihat Celio yang berpakaian rapi sedang memainkan Biolanya dengan sangat terampil.


"Dulu Adam bercita-cita menjadi pemain biola, eh tunggu, kenapa aku jadi ingat Adam," batin Vladine.


"Betul juga, dari pada penasaran, sebaiknya aku harus mencari kebenaran tentang Celio," gumam Vladine.


Setelah memastikan Aiden dan Edwin tidak ada disana. Vladine mulai mengingat saat pertama kali ia memasuki Istana ini, ia sempat tersasar ke satu lorong yang sangat gelap. Dipenuhi puluhan pintu hijau, dan hanya ada 1 pintu merah di ujung sana.


"Aku ingat betul, aku berlari dari kamar Celio lalu.. Ah ini dia lorong itu," gumam Vladine.


Usahanya reka ulang adegan kesasarnya membuahkan hasil, kini dia menemukan kembali lorong rahasia itu.


Dengan bermodalkan lilin yang ia ambil dari meja makan, gadis itu mulai menyusuri lorong yang gelap gulita. 



Sejenak Vladine ragu dan ingin kembali, tapi kepalang tanggung, mau tidak mau dia harus tetap meneruskan penyelidikan.


"Pintunya terbuka," batin Vladine.


Dengan mudah, gadis itu masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu tidak terlalu gelap. Ada beberapa lilin yang sebelumnya sudah di nyalakan di setiap sudutnya.


"Ini seperti perpustakaan," gumam Vladine.


Ia takjub melihat ribuan buku di rak dinding. Namun semua sampul buku itu ditulis dengan aksara yang tidak dimengerti oleh Vladine.


Jari-jemarinya menyentuh satu persatu buku yang ia lewati. Hingga matanya tertuju pada laci yang mencurigakan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ada laci di antara ribuan buku," batin Vladine.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Vladine menjinjitkan kaki, berusaha membuka laci yang tinggi itu.


"Argh.. gubrak!" Vladine berusaha menarik laci itu, namun lacinya terjatuh, untung tidak mengenai kepalanya.


"Hampir saja," batin Vladine mengelus kepalanya.


Dengan cepat, Vladine segera mengecek laci itu, di dalamnya ada 3 lembar kertas bertuliskan perjanjian hidup, beserta cap jempol merah, seperti darah.


"Alister, Alvin, Adam Volker.. Hah! Adam!" batin Vladine terkejut saat membaca kertas itu.


"Jadi dugaanku selama ini benar, jika Celio itu adalah Adam," gumam Vladine.


Saat ini Celio mendengar suara keributan, seperti benda terjatuh, karena pendengarannya sangat tajam.


"Gadis itu pasti sedang membuat masalah baru," batin Celio.


Pria itu mencari Vladine kesana kemari, namun dia tidak menemukannya. Hanya 1 ruangan yang belum di cek. Ruangan Haidar.


"Jangan-jangan dia.." ucap Celio.


Tanpa berpikir panjang Celio langsung menuju lorong ruangan Haidar. Tanpa membawa penerangan apapun. Karena semua vampir bisa melihat dalam gelap.


Benar saja, pintu ruangan Haidar saat ini sedang terbuka. Celio langsung melesat masuk ke dalam.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Celio.


Di depan matanya saat ini, Celio melihat Vladine sedang memegang laci milik Haidar. Dan menggenggam lembaran perjanjian hidup milik mereka.


"Kenapa kau sangat lancang! Kalau Haidar tahu pasti dia akan langsung membunuhmu!" teriak Celio.


"Jadi ini, alasan kau selalu menghindariku?" tanya Vladine. Air matanya mulai menetes.


Vladine mengingat saat mereka masih SMP, Adam hilang tanpa kabar. Mereka berjanji bertemu di taman pulang sekolah. Saat itu Adam berencana ingin mengutarakan perasaannya pada Vladine. Namun takdir berkehendak lain. Terjadi insiden yang tidak menyenangkan.


Saat di perjalanan menuju taman, Adam kecelakaan. Vladine sama sekali tidak mengetahui kabar itu. Batang hidung Adam sejak saat itu tidak pernah ditemukan. Bahkan keluarganya juga mencarinya.


Semua orang tidak ada yang tahu, setelah Adam meninggal karena kecelakaan. Jasadnya diambil oleh Haidar. Haidar membangkitkannya kembali dengan persyaratan dan perjanjian. Adam menyetujuinya, dan akhirnya ia merubah identitasnya menjadi vampir bernama Celio. Vampir termuda di antara anggota Clan Demon Empire.


"Karena sudah terbongkar, apa boleh buat," ucap Celio.


Celio mengeluarkan taring-taringnya. Perlahan maju mendekati Vladine. Gadis itu ketakutan. Semakin dia mundur, semakin Celio maju. Hingga Vladine terpojok di dinding.


Pria itu memeluk Vladine dengan erat. Tiba-tiba ia Menancapkan taringnya ke leher Vladine.


"Akh.. hentikan.." rintih Vladine.


Semakin Vladine merintih, semakin Celio menekan tengkuknya lebih dalam.


"Aku selalu merindukanmu, aku benci melihatmu ada disini, aku tidak suka melihat mereka menikmati tubuhmu," bisik Celio lirih.


Dinding pertahanan Celio runtuh, ia tidak bisa lagi menahan hasrat nya yang ia pendam selama ini pada Vladine.


~Bersambung~

__ADS_1


Eitsss... Jangan lupa like supaya Author tambah semangat 😘❤️


__ADS_2