
digenggamnya tangan Arissa,
kepalanya tertunduk, matanya yang terpejam tak henti meneteskan cairan bening, ia diam membisu,
"Riz, jangan menangis, " ucap Arissa , dia tak mampu melihat Fariz menangis, hatinya benar benar terluka setiap kali melihat Fariz bersedih. dan jangan pernah tanya bagaimana perasaannya ketika dulu dia meninggalkan Fariz, hanya dia dan tuhan yang tahu betapa hancur nya dia,
Fariz menyeka air matanya, dia berusaha tersenyum, matanya memandang wajah ayu wanita yang pernah bertahta dihatinya ...
"maaf kan aku Fariz," kalimat itu keluar dari bibirnya..
Fariz tersenyum isyarat bahwa ia telah memaafkan wanita yang kini berada dihadapan nya
"kamu yakin dengan keputusan mu?, sudah kamu pikirkan perasaan istrimu?."
"dia akan hancur Fariz, apa kamu sanggup melukai nya, fariz dengar, kalau kamu lakukan rencana kamu, kamu tidak hanya akan melukai istri mu tapi juga putri mu, dia akan kecewa dia akan terluka.."
Fariz terdiam, keputusan yang diambilnya sudah ia pikirkan secara matang dan ia yakin dengan keputusan nya, tapi kenapa ucapan citra menggoyahkan nya??.
betulkah Shila akan terluka??,
ya, Shila memang selalu menjawab kata cinta yang diucapkan nya dengan kata cinta juga,
tapi betulkah Shila mencintai nya??,
memandang pernikahan mereka adalah paksaan dari dirinya bukan karena keinginan dari shila mungkin saja memang tak ada cinta di hati Shila untuknya... tapi bagaimana kalau Shila mencintai nya,, entahlah yang pasti dia telah berjanji pada Arissa yang dia akan menikahi Arissa, dan dia harus menepati nya
"aku akan tetap menikahi Arissa itu adalah janji ku padanya,"
__ADS_1
citra hanya bisa diam, dia sudah mencoba untuk mengingatkan Fariz , dia tak ingin hanya karena untuk kebahagiaan sahabatnya ada kebahagiaan lain yang hancur,
tapi mungkin ini memang jalannya, mungkin Fariz adalah lelaki yang Allah kirimkan untuk menjadi teman disisa hidup sahabatnya Arissa,
Fariz yang baru saja selesai melafazkan akad datang menghampiri Arissa, ditatapnya wajah pucat itu, ia tersenyum, keinginannya yang dulu besar untuk dapat mempersunting wanita pujaan hatinya kini telah terwujud
"sayang mulai dari hari ini, kamu adalah tanggung jawab ku, kamu akan menjadi istri ku yang akan ku cintai dan aku sayangi sampai mati ku" Fariz mengecup dahi Arissa matanya terpejam butir butir bening mengalir disudut matanya. sedetik mata terpejam bayangan wajah Shila dan adreena putrinya silih berganti tergambar jelas, dadanya sesak jantung nya berdegup kencang, air matanya semakin laju mengalir, dibukanya kedua matanya segera, sungguh begitu nyata wajah Shila dan putrinya, wajah yang tengah bersedih dan kecewa..
"maaf, aku ke toilet dulu..." Fariz berjalan keluar dari ruangan rawat .. citra memandang kearah pintu yang sudah kembali tertutup, dalam hatinya bertanya, kenapa Fariz keluar dari ruangan rawat Arissa bila hanya ingin ke toilet, bukankah ada toilet dalam ruangan itu, namun suara penghulu dan saksi yang pamit pulang membuyarkan semua tanda tanya dalam benaknya
"kenapa kamu citra?? dari tadi aku lihat tiada kebahagiaan diwajah mu untuk pernikahan ku dan Fariz. kenapa??"
"kamu tahu pasti jawabannya Arissa"
"tapi bukan aku yang minta ia menikahi ku, dia yang menginginkan nya, lagian Fariz milikku, aku yang terlebih dahulu dicintainya bukan istrinya,"
"tapi jangan kamu lupakan yang kamu pernah meninggalkan nya..."
"cukup citra.., aku tidak mau ada pembahasan ini lagi..." suara Arissa bergetar, ia mulai memangis terisak,, sejak penyakit itu menjangkiti tubuh Arissa, emosional Arissa tak terkendali
"maafkan aku Arissa" citra memeluk erat tubuh arissa
"aku janji, aku tidak akan membahas nya lagi"
Fariz menangis matanya memerah, dadanya sesak terasa penuh,
"apa yang sudah ku lakukan, ya Allah.." ia menangis ia tak peduli dengan tatapan orang yang memandang aneh dan penasaran kepadanya
ditatapnya langit yang mulai gelap
__ADS_1
"Shila maafkan aku sayang,.. reen maaf kan papa.."
dihapusnya air matanya, sudah cukup lama dia duduk ditaman rumah sakit, dia musti segera kembali keruang rawat Arissa dan pamit untuk pulang ke rumah nya,
"maafkan aku Arissa, aku harus pulang, aku takut nanti Shila khawatir kalau aku tidak pulang malam ini,,"
"tapi aku juga istri mu Riz, ini adalah malam pengantin kita Riz, aku ingin kamu disini menemani aku'
"apa karna kamu jijik dengan ku Riz? kalau kamu jijik kenapa kamu menikahi aku Riz " jerit arissa
"kamu bicara apa Arissa," ucap Fariz dengan sedikit penekanan
"tolong mengerti aku Arissa, beri aku waktu, aku harus bicarakan semuanya pada Shila, aku minta kamu paham ., citra tolong jagakan Arissa malam ini, aku harus pulang" Fariz mengecup dahi Arissa,, dan berjalan meninggalkan Arissa yang tengah menangis
Fariz memandang kearah Shila yang sibuk mengurus semua keperluannya pagi ini,
sungguh betapa beruntungnya ia dapat memperistri wanita seistimewa Shila,
'kamu bodoh Fariz, kenapa kamu menorehkan luka untuknya, wanita yang telah menolong mu dari keterpurukan' batin Fariz
"Abang... Abang .." Shila melambai lambaikan tangan nya
"ada apa?" tanya Shila kepada suaminya yang terlihat termenung
Fariz hanya menggelengkan kepalanya, rasanya ia tak sanggup bila harus mengatakan semuanya hari ini
"Shila, sepertinya mulai malam ini, Abang akan terlambat pulang, ada pekerjaan dikantor yang harus Abang kerjakan, jadi tidak perlu menunggu Abang pulang" Fariz tersenyum dan berjalan meninggalkan shila
Shila memandang suaminya yang berjalan masuk ke kamar mandi,, ia tahu ada sesuatu yang telah terjadi pada suaminya
__ADS_1
'ada apa bang, rahasia apa yang kau sembunyikan dari ku ' batin shila