Temaram

Temaram
part 8


__ADS_3



@Deniz dan Shila saat kuliah


begitu sampai di ruang rapat wajah pertama kali ku lihat adalah wajah lelaki itu


aku memandang lelaki itu dengan rasa terkejut tak percaya


kini dia kembali, setelah lama menghilang entah kemana, dia hadir disaat aku sangkakan aku tidak akan pernah lagi dapat bertemu dengan nya


jantung ku berdegup kencang, bergemuruh


kuatur nafas ku yang turun naik tak karuan


namanya Deniz Alvarendra omar,


dia adalah seorang lelaki yang dulu pernah hadir dalam hidupku


mengisi kisah indah dalam memori kisah hidupku


dia adalah lelaki yang menghapus air mata ku disaat aku bersedih


dia adalah lelaki yang memelukku disaat aku merasa lemah


dia adalah lelaki yang menopang ku disaat aku terjatuh


tapi dia hanya sahabat bagi ku,

__ADS_1


aku tahu dia salah artikan sikap ku padanya.


aku pernah berpikir mungkin rasa yang ada untuk ku dihatinya hanya rasa yang sesaat,


sebab itu aku tidak pernah mengubah sikap ku padanya, tapi nyatanya aku salah, aku malah semakin memberikan dia harapan


dia benar benar mencintai ku meskipun aku sudah katakan padanya tiada cinta untuknya


ya, aku tak dapat pungkiri aku pernah merasakan bahagia bersamanya, dia selalu hadirkan tawa dalam hidup ku,


tapi mencoba untuk mencintai nya tak pernah terlintas dalam benak ku,


hatiku telah menyimpan nama lelaki lain ,dan bodoh nya, lelaki itu tak pernah sekalipun memandang ku....


sesekali aku mencuri curi memandang nya,,


dia sudah banyak berubah,


sorot matanya masih seperti dulu, tajam, seperti mata elang, tiada yang berubah dari mata bening nya itu


aku masih ingat jelas wajahnya yang selalu tersenyum, wajah yang dulu pernah membuat aku tenang ketika menatap nya tapi kini wajah itu tampak serius, tampak ketat, seperti banyak beban dalam benaknya, tiada keramahan,


...aku tak tahu apakah ini dia yang baru atau mungkin ia memang sengaja agar aku tahu ia masih begitu kecewa padaku.....


...'maafkan aku Deniz'...


sungguh tiap kali ia terlintas dalam benak ku tiap kali itu pula aku berharap dia dapat memaafkan ku yang begitu kejam padanya,


tiba tiba tubuh ku terasa panas dingin, aku gugup, gelisah, aku seperti terdakwa yang tengah menanti keputusan hukuman saat kudapati mata bening itu merenungkuh dalam, entah apa yang ada dalam hatinya saat ini,

__ADS_1


cepat cepat ku larikan pandangan ku, kearah bang Fariz yang tengah berbicara menjelaskan tentang rumah sakit kami ini, dan tanpa ku sadari bulir bening menghias sudut mataku, nasib baik aku masih bisa kawal diriku, kalau tidak aku tidak dapat bayangkan apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dipikirkan bang fariz nanti


dia tidak seperti diriku, dari pertama kali aku memasuki ruangan dan saat bang Fariz memperkenalkan ku padanya dia tampak tenang, lebih santai..


seperti tidak pernah mengenal ku sebelumnya, bahkan farisha pun ia tak sapa, padahal farisha adalah orang yang memperkenalkan ku dengannya, farisha adalah temannya saat dulu mereka sama sama belajar di bimbel yang sama ..


dia berubah, tak seramah dulu


tapi apakah dia memang berubah atau hanya dengan ku saja dia bersikap seperti ini, entahlah


ku arah pandangan ku kearah bang fariz yang berada disebelah ku, ku genggam erat tangannya, dan dia menatap ku tersenyum tanpa tahu apa yang sebenarnya tengah kurasakan


.


.


.


.


"dokter Deniz.." bang Fariz memanggil Deniz yang akan pergi meninggalkan ruang rapat


"ada pak?"


"bagaimana saya traktir lunch hari ini, anggap saja sebagai hadiah perkenalan kita, gimana sayang, farisha?" aku batuk tersedak mendengar ucapan bang Fariz, farisha yang kin berada disampngku mengosok gosok punggungku


"ya ampun kenapa sayang?" tanya bang Fariz padaku,


"ngg papa bang cuma tersedak saja.." ku lihat kearahnya, ia tak melihat kearah ku, ia cuek,

__ADS_1


padahal dulu dia yang paling khawatir kalau aku sedang batuk tersedak, begitu bencinya lah kamu padaku Deniz?


"bersikap lah biasa, nanti takut nya bang Fariz berpikir yang bukan bukan!" bisik farisha di telinga ku


__ADS_2