Tempat Singgah

Tempat Singgah
Chapter 1


__ADS_3

(Pertengahan Tahun 2019)


Namaku Adila, biasa dipanggil Dila. Umurku 15 tahun lebih 4 bulan. Aku duduk di bangku kelas X (kelas 1 SMK). Aku hanyalah seorang gadis biasa dengan wajah yang biasa-biasa saja.


Setelah lulus dari SMP, Aku mendaftar di salah satu SMK yang ada di daerahku. Alasanku memilih bersekolah di SMK karena Aku ingin bekerja dulu setelah lulus nanti. Aku mendaftar di sekolah itu tidak sendiri, melainkan bersama beberapa teman satu kelasku waktu SMP. Salah satunya namanya Nana. Dan hanya Nana yang mengambil satu jurusan yang sama denganku.


Beberapa hari setelah pendaftaran, akhirnya Aku dinyatakan diterima di sekolah itu.


Siswa-siswi yang diterima wajib melakukan pendaftaran ulang. Jika tidak akan dianggap mengundurkan diri dan artinya tidak jadi sekolah di sekolah itu.


Hari Ju'mat setelah hari pendaftaran ulang, semua peserta didik baru wajib hadir untuk kegiatan pembagian kelas dan pembekalan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) di hari Senin nya.


Informasi pembagian kelas di tempel di papan pengumuman yang telah disediakan.


Di jurusan yang Aku pilih, dibagi menjadi 2 kelas. Tak disangka Aku dan Nana masuk di kelas yang sama.


Nana langsung senang ketika tau kalau Aku dan dirinya satu kelas. Namun, berbeda halnya denganku yang malah bengong karena tidak menyangka bisa satu kelas dengan Nana. Nana pun sampai mengira kalau Aku ga suka satu kelas dengannya. Padahal sebenarnya Aku juga senang banget bisa satu kelas dengannya, tapi otakku masih loading seperti jaringan buruk dan ga ada sinyal karena saking ga nyangkanya.


Setelah melihat pembagian kelas semua siswa-siswi langsung menuju kelas masing-masing sesuai kelas yang telah ditentukan.


Semua mengisi buku absen sebelum memasuki ruang kelas.


Di situ lah Aku bertemu dengan teman-teman sekelasku.


Sebenarnya Aku ga terlalu peduli siapa yang menjadi teman sekelasku, karena Aku berpikir udah ada Nana yang sekelas denganku. Jadi ya kalau mereka mau berteman ya ayo kalau enggak yaudah gapapa.


Semua teman sekelasku sudah ada di dalam ruang kelas kecuali satu orang. Karena satu orang ini di tunggu-tunggu ga muncul-muncul, akhirnya kakak-kakak OSIS yang ada di situ mulai menjelaskan beberapa peraturan tata tertib dan perlengkapan yang harus di bawa saat MPLS di hari Senin nanti.


Selesai mencatat apa yang di jelaskan kakak-kakak OSIS tadi, kita maju ke depan secara bergantian untuk memperkenalkan diri masing-masing sambil sesekali bermain game bersama.


"tok tok tok"


Semua menoleh kearah pintu, termasuk Aku. Diambang pintu terlihat seorang cowo bertubuh tinggi, ganteng, kulit putih, rambut yang sedikit panjang berantakan, dan seragam yang sedikit berantakan.


Ya, dia adalah satu orang teman sekelasku yang di tunggu-tunggu tadi. Kesan pertamaku saat melihat dia, dia adalah cowo nakal. Meskipun Aku akui kalau dia memang ganteng sih tapi ya udah biasa aja.

__ADS_1


Dia di tanya-tanya sama kakak OSIS dan akhirnya diperbolehkan masuk dan duduk di kursi yang masih kosong. Ternyata alasan dia terlambat adalah karena salah masuk ruang kelas.


Karena semua sudah memperkenalkan diri dan cuma dia yang belum karena baru masuk kelas, kakak-kakak OSIS menyuruhnya maju ke depan untuk memperkenalkan diri.


"Perkenalkan nama saya Abi, dan bla bla bla... "


Ya, namanya Abi.


Dia cukup mencuri perhatian semua orang dikelas terutama anak-anak cewe.


"Ada yang mau di tanyain lagi ga nih ke Abi," kata salah satu kakak OSIS.


"Nomor hp nya dong," suara salah satu anak cewe yang duduk di belakang.


Abi pun menjawab dengan memberitahu beberapa digit nomor hp nya namun tidak sampai selesai. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya.


Dan ya, kesan burukku ke dia tambah satu lagi. Yang awalnya cuma cowo nakal aja menjadi cowo nakal dan playboy.


"Baru pertama kali ketemu aja udah mau kasih nomor hp," batinku.


Aku juga ga tau kenapa bisa memberikan kesan seperti itu ke dia.


......................


Kegiatan MPLS berlangsung selama 5 hari, dari hari Senin - Jum'at dan bagiku itu terasa sangatlah lama.


Di hari ketiga MPLS ada tugas dari kakak-kakak OSIS. Kita disuruh mengumpulkan tanda tangan semua kakak-kakak OSIS dan yang mendapatkan paling banyak tanda tangan akan mendapatkan hadiah.


Kelihatannya gampang, tapii ternyata saat ingin minta tanda tangan harus tau nama lengkap dari kakak-kakaknya dan ada juga yang memberikan beberapa pertanyaan dan jika tidak bisa menjawabnya, otomatis tidak akan mendapat tanda tangan.


Bayangin aja, anggota OSIS ada banyak dan baru bertemu tiga hariiii..... masa iya harus tau nama panjangnya. Nama pendeknya aja lupa dan ada yang ga tau apalagi nama panjangnya. Mereka emang perkenalan di hari pertama tapi tidak semuanya, hanya beberapa anggota inti aja yang perkenalan.


Awalnya anak-anak yang lain termasuk juga Aku berpikiran mending gausah minta aja sekalian karena males cari tau nama panjang mereka. Tapiii, kalau sama sekali tidak meminta tanda tangan bakal di hukum. Syarat agar tidak kena hukuman, masing-masing minimal harus dapat 10 tanda tangan dari kakak-kakak OSIS.


Sebel banget sih rasanya.

__ADS_1


Mau ga mau Aku harus ikut minta tanda tangan.


Aku dan Nana saling membantu untuk mendapatkan informasi nama lengkap kakak-kakaknya agar bisa dapat tanda tangan.


Saat itu Nana mengobrol dengan beberapa teman kenalannya. Sedangkan Aku mengobrol dan berkenalan dengan teman sekelasku untuk saling bertukar informasi. Sebenernya udah pernah perkenalan waktu dikelas hari itu sebelum MPLS, tapi lupa.


"Eh nama kamu siapa?" tanyaku ke salah satu teman sekelasku itu.


"Namaku Elin"


"Namamu?" lanjutnya bertanya.


"Aku Adila" jawabku tersenyum.


Dan Elin pun juga tersenyum.


"Kamu udah dapet berapa?" tanyaku.


"Aku baru ini" jawab Elin menunjukkan kertas yang dipegangnya.


"Wah, mau tukeran? Aku nyalin punyamu yang di aku belum ada. Dan kamu nyalin punyaku yang di kamu belum ada juga." tawarku ke Elin.


"Okee" jawab Elin setuju.


Dan kita saling menyalin nama-nama itu.


"Eh aku udah dapat delapan nih, tinggal dua lagi" kata Nana tiba-tiba menghampiriku.


Kemudian Nana juga berkenalan dengan Elin dan kita saling bertukar menyalin nama-nama itu.


Dan akhirnya Aku mendapatkan 10 tanda tangan. Ga berharap mendapatkan hadiah makanya hanya mencari sesuai batas minimal aja. Saat duduk menunggu yang lain yang masih meminta tanda tangan, Aku mengobrol dengan Nana, Elin dan Risa.


Risa, dia juga teman sekelasku. Dulu kita satu SMP hanya saja berbeda kelas dan bahkan Risa ini juga teman sekolahku saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak.


Sejak saat itu Aku yang awalnya kemana-mana hanya berdua sama Nana, sekarang menjadi berempat (Aku, Nana, Elin, Risa).

__ADS_1


Banyak kegiatan yang dilakukan selama 5 hari itu dan jujur saja rasanya cukup membosankan.


......................


__ADS_2