Tentara Itu Cinta Monyetku

Tentara Itu Cinta Monyetku
chapter 14


__ADS_3

Aditya POV


"Assalamualaikum mah" Ucap Adit ketika ia sampai di rumah nya. Mamah nya yang mendengar suara salam dari anak sulung nya langsung menghampiri.


"Waalaikumsalam" Ucap mamah Adit kaget


"MasyaAllah nak akhirnya kamu pulang juga." Ucap mamah Adit.


"Alhamdulillah dapet cuti tahunan Mah." Jawab Adit lalu meletakkan ransel nya.


"Kenapa gak bilang nak, kalau tahu kamu mau pulang mamah bisa masakin makanan kesukaan kamu." Ucap mama nya.


"Besok aja mah bikinin makanan kesukaan aku" Jawab Adit "Kemana yang lain kok sepi" Lanjut Adit


"Bapak ada di belakang sama Adik mu. Lagi bikin kebun kecil-kecilan buat nanem nanem sayur." Ucap mamah adit. Adit pun bergegas masuk dan menemui bapak nya. Lalu ia mulai bercengkrama dengan keluarga nya hingga jam makan siang tiba.


"Mah Adit mau keluar dulu sebentar, motor Adit pake ya" Izin Adit.


"Mau kemana? kamu kan baru sampai?" Tanya mamah nya.


"Ada urusan sedikit mah, sore juga udah balik kok" Ucap nya. Setelah berpamitan ia bergegas menuju kampus Arin. Setelah puas mencari, Adit melihat Arin sedang bersama laki-laki yang ia yakini kekasih Arin. Adit terus memperhatikan keduanya dari kejauhan, memperhatikan bagaimana Angga memperlakukan Arin. Bibir Adit tersenyum getir saat Angga menyentuh tangan Arin dan dibalas senyuman oleh Arin. Adit juga melihat bagaimana Angga menggandeng tangan Arin menuju motor nya lalu memakaikan helm pada Arin, bibir Arin tak berhenti mengulas senyuman ketika menatap Angga. Ada rasa sesak yang tak bisa ia ungkapkan. Namun meski terasa sesak, Adit tetap bahagia. Setidak nya ia bahagia melihat orang yang ia cintai bahagia bersama dengan orang yang mampu memperlakukan nya dengan baik.


Adit akhirnya mengelilingi kota setelah menyaksikan sepasang kekasih itu pergi dari kampus nya. Adit menyusuri jalanan yang pernah ia lewati bersama Arin, ia kembali ke McD tempat favorit Arin, lalu ke mall tempat ia biasa nonton dengan Arin. Adit merasa sedang kembali ke masa itu dan itu membuat nya merasa sangat bahagia. setelah puas mendatangi semua tempat yang biasa ia datangi bersama Arin, Adit akhirnya memutuskan untuk pulang. Ketika di perjalanan entah mengapa ia terpikirkan untuk mengunjungi makam papah Arin. Berbekal petunjuk dari bibi Arin yang ia telpon, akhirnya Adit menemukan makam papa Arin.


"Assalamualaikum" ucap Adit pelan. Ia menatap makam yang kini ada dihadapan nya dengan perasaan sedih. akhirnya Adit memutuskan untuk berdoa.


"Maaf kan Adit pah.. Adit gak ada disisi Arin saat papa pergi, Adit tidak ada disaat Arin mungkin membutuhkan Adit." Ucap Adit pelan. "Tapi setelah melihat Arin tadi, Adit yakin sekarang Arin sudah bahagia dengan seseorang yang sekarang ada bersama nya."Jelas Adit. Ia kemudia menarik nafas lalu menghembuskan nya dengan kasar. Cukup lama ia berada disana, sampai akhirnya satu suara yang sangat ia rindukan terdengar di telinga nya.

__ADS_1


"Kak Adit ngapain disini?" Suara yang sangat Adit rindukan...


Kembali ke Arin...


Malam hari nya Arin tidak bisa memejamkan mata nya, bayangan Adit sore tadi tiba-tiba memenuhi kepala nya. Namun seketika ia teringat dengan Angga. Entah bagaimana keadan nya sekarang. Arin tiba-tiba merasa bersalah dan akhirnya ia menelpon Angga. Berkali-Berkali Arin menelpon namun tak juga diangkat. Hal itu membuat Arin menjadi semakin cemas. Akhirnya Arin menelpon erwin untuk menanyakan keadaan Angga.


Setelah cukup berbasa-basi dengan Erwin akhirnya Erwin memberikan telpon nya pada Angga.


"Angga..." Panggil Arin. Angga tidak menjawab. "Angga please ngomong, jangan bikin aku cemas kaya gini." Ucap Arin lirih.


"Kamu gak perlu cemas Angga baik-baik aja" Jawab nya dingin


"Angga gak papa kan?? luka tadi sore udah di obati?" Tanya Arin.


"Hhhmmm Angga gak papa, luka nya cuma luka luar kok gak akan terasa sakit." Jawab Angga. "Yang sakit itu hati aku Rin, melihat kamu lebih memilih pulang sama cowok itu. Kamu tahu rasa nya kaya apa perasaanku tadi?" Lanjut Angga. Arin hanya mampu teridam.


"Jawab Rin , aku cuma butuh jawaban kamu." Ucap Angga marah. Belum pernah Angga semarah ini pada Arin. Arin hanya mampu terisak. Angga terdengar menghembuskan nafas nya kasar.


"Oke kalau kamu gak bisa jawab, aku ubah pertanyaan nya. Apa kamu mencintai aku??" Tanya Angga. Lama Arin terdiam namun akhirnya Arin berani menjawab.


"Aku mencintai kamu Ngga, tapi setelah kejadian hari ini aku ragu."Ucapan Arin terhenti.


"Aku ragu apa kita masih bisa bersama sedangkan ibu mu begitu membenci ku."


"Jangan jadikan itu alasan Rin!!" Angga membentak. Cukup lama keduanya terdiam. "Please jangan jadikan itu alasan agar kamu bisa pergi dari aku Rin." Ucap Angga pelan dan memelas.


"Aku mencintai kamu dan aku akan memperjuangkan kamu Rin, percaya sama aku." Ucap Angga lagi. Arin hanya diam.

__ADS_1


"Ngga udah malem, kita istirahat dulu ya. Aku gak mau bahas ini lagi Ngga." Ucap Arin lalu mematikan telpon nya.


Setelah mematikan telpon dari Angga, Arin berusaha memejamkan mata nya. Ia tidak ingin lagi memikirkan hubungan nya dengan Angga. Apapun yang akan terjadi terjadi lah Arin sudah pasrah.


Keesokan pagi nya...


Arin begitu malas untuk ke kampus terlebih lagi memang di kampus sudah tidak ada perkuliahan karena hanya tinggal mempersiapkan kebutuhan kelompok untuk PKL. Arin dan teman-teman nya terpisah saat PKL nanti begitu juga dengan Angga. Yuli dan Diana berada dalam kelompok 1, Angga dan Rina berada dalam kelompok 2, Leni berada di kelompok 3, sedangkan Arin berada di kelompok 5. Lokasi PKL Arin adalah lokasi terjauh.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi Arin masih betah di bawah selimut nya, ia merasa tidak enak badan. Kepala nya terasa berat dan tubuh nya menggigil kedinginan. Arin mencoba untuk bangun dan mengambil obat yang ada di kotak obat di dekat ruang keluarga. Ketika sampai di depan pintu kamar nya. Arin sudah tidak kuat lagi hingga ia jatuh pingsan. Mama nya yang sedang berada di ruang tamu bersama Adit ketika terdengar suara seperti tubuh yang ambruk.


"Sebentar ya nak, mamah lihat dulu kedalam." Ucap mamah Arin lalu bergegas masuk.


"Astaghfirullah'azhiim Arin!!" Teriak mamah nya panik. Adit yang mendengar teriakan mamah Arin pun langsung menyusul kedalam rumah dan melihat Arin yang sudah terkulai lemah.


"Arin kenapa mah?" Adit tak kalah panik. Dengan sigap Adit mengangkat tubuh kurus Arin ke kamar nya dan meletakkan nya di atas kasur. Adit memegang dahi Arin dengan punggung tangan nya.


"Astaghfirullah Arin demam mah" Ucap Adit panik. "Mamah punya minyak angin" Pinta Adit. Mamah nya segera memghambur keluar dari kamar Arin dan berteriak memanggil asisten rumah tangga nya.


"Mbok...Mbok... tolong siapkan Air hangat buat ngompres Arin" Perintah mamah nya.


"Non Arin sakit Bu?" Tanya Mbok Nah. Mamah Arin hanya mengangguk dan berlalu setelah menemukan minyak angin. Mamah Arin kembali kekamar Arin dengan membawa minyak kayu putih ditangan nya.


"Ini nak Adit" Ucap mamah nya menyodorkan minyak Angin kepada Adit. Adit pun dengan segera mengoles kan minyak angin itu ke dahi Arin lalu ke telapak kaki Arin dan terakhir ia mengoleskan nya ke depan hidung Arin.


tak berapa lama Arin menggeliat dan membuka mata nya. Hal yang pertama Arin lihat adalah wajah cemas Adit.


"Apa ini mimpi? Kenapa Adit bisa ada di depan ku." Batin Arin.

__ADS_1


(Happy reading yaa... jangan lupa vote like coment n gift nya yaahhh... terima kasih😁😁😁)


__ADS_2