Tentara Itu Cinta Monyetku

Tentara Itu Cinta Monyetku
Chapter 15


__ADS_3

"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar juga." Ucap Adit lega. Arin kembali memejamkan matanya karena ia merasa pusing yang sangat hebat ketika mata nya terbuka.


"Kenapa Rin, ada yang sakit? apa yang sakit" Ucap Adit cemas.


"Iya nak, apa yang sakit? bilang sama mamah." Mamah nya tak kalah cemas.


"Pusing " Jawab Arin lemah. Tak lama mbok Nah pun datang membawa air hangat dan juga handuk kompres. Dengan sigap Adit menerima mangkok air dan handuk kompres dari mbok Nah.


"Rin.. di kompres ya, kamu demam" Ucap Adit lalu meletakkan haduk kompres hangat itu di dahi Arin. Mamah Arin dan mbok Nah hanya bisa menatap sedih kearah Arin. Mamah nya sedih karena sejak papah nya meninggal Arin menjadi lebih kurus, ia menjadi lebih pendiam dan selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Adit yang melihat raut kesedihan diwajah mamah Arin hanya bisa menatap mamah Arin.


"Jangan khawatir mah Arin cuma demam kok." Ucap Adit menenangkan. Mamah Arin hanya mengangguk lalu meneteskan air matanya dalam diam.


"Adit panggilkan dokter ya mah buat meriksa Arin" Ucap Adit.


"Gak usah nak, nanti mamah telpon dokter Afdi saja." Ucap mamah nya lalu berdiri.


"Titip Arin sebentar ya, mamah mau telpon dokter Afdi dulu." Ucap mamah nya lalu keluar dari kamar Arin. Setelah mamah Arin keluar Adit memperhatikan kamar Arin, ini kali pertama nya ia masuk ke kamar Arin. di atas meja belajar nya terdapat laptop dan juga foto nya bersama teman-temannya, mata Adit tertuju pada foto dengan pigura berbentuk love, disana ada foto Arin dan Angga yang duduk saling membelakangi, saling bersandar dan tersenyum lebar.


"Sebahagia itu kah kamu bersama nya Rin?" Adit bergumam. Ia kembali menatap wajah pucat Arin, membasahi kembali handuk kompres Arin dan meletakkan nya kembali. Terdengar dengkuran dengkuran halus dari Arin. Adit tersenyum, tak pernah ia bayangkan, ia bisa begitu dekat dengan Arin seperti saat ini. Tanpa sadar tangan nya mengelus lembut pipi tirus Arin. Arin sedikit menggeliat dan matanya mengeluarkan air mata. Dengan cepat Adit menghapus air mata Arin. Adit menatap sedih orang terkasih dihadapan nya.


"Kenapa kamu bisa sekurus ini Rin? Apa yang kamu sedih kan? kenapa dalam tidur pun kamu menangis??" Ucap Adit sedih. Adit terus memperhatikan Arin yang mulai sedikit menggigil, Adit segera menyelimuti tubuh Arin dengan penuh rasa sayang. Dengan perlahan Adit mengambil lagi handuk kompres dari dahi Arin, entah apa yang mendorong Adit untuk begitu berani mengecup pelan dahi Arin yang hangat. Setelah itu Adit meletakkan kembali handuk kompres di dahi Arin. Adit meraih tangan Arin dan menggenggam nya erat.

__ADS_1


"Jangan seperti ini Rin, kamu harus sehat, kamu harus kuat. Mamah sangat sedih melihat mu seperti ini." Ucap Adit pelan. Tak lama kemudian dokter Afdi dan mamah Arin masuk kekaamar Arin.


"Eehhh ada nak Adit. Apa kabar? lagi cuti ya?" Ucap dokter Afdi lalu menjabat tangan Adit. Dokter Afdi adalah dokter keluarga Arin yang juga sahabat papah Arin. Dokter Afdi juga mengenal baik Adit karena sudah beberapa kali bertemu dan berbincang dengan Adit.


"Alhamdulillah sehat dok. ia Alhamdulillah lagi dapat cuti tahunan makanya bisa pulang." Ucap Adit.


"Okeh kita lihat dulu princess satu ini kenapa?" Ucap dokter afdi lalu mengeluarkan stetoskop juga alat tensi nya. Adit pun permisi keluar dari kamar Arin ketika dokter Afdi sedang memeriksa Arin.


sementara itu Angga yang masih terlelap terpaksa harus terbangun karena dering ponsel nya. Dilihatnya nama ibu nya tertera di layar posel nya. Dengan malas ia menjawab telpon ibu nya.


"Iya Bu..."


"Angga sibuk Bu, besok-besok aja ya"


"Kalau kamu ndak mau kesini berarti ibu yang akan kesana." Ancam ibu nya. "Kamu itu sejak pacaran sama perempuan gak jelas itu kok yo jadi ngeyel, ngebantah wae omongan ne ibu mu" Lanjut nya lagi dengan nada kesal. Angga ya sudah malas mendengar kan ocehan ibu nya pun akhirnya meng'iya'kan saja permintaan ibu nya. Dengan malas ia segera mandi dan bersiap-siap ke rumah bude nya. Angga menatap layar handphone nya berharap Arin mengirim kan pesan atau menelpon nya. Ia sangat ingin menelpon Arin tapi ia takut Arin akan mengatakan hal yang tidak ingin dia dengar. Maka dari itu angga mengurungkan niat nya untuk menelpon Arin. Angga pun melajukan motor nya ke rumah bude nya. sesampainya Angga ternyata keluarga besar nya sudah menunggu nya. Bapak nya yang biasa nya sangat malas untuk ke kota P pun terlihat ada duduk di samping ibu nya. Angga segera mendekat dan mencium punggung tangan orang tua nya juga budenya.


"Duduk lah Ngga, kita harus bicara serius." Ucap bapak Angga serius. Angga pun duduk di hadapan kedua orang tua nya.


"Ada apa pak ?" tanya Angga


"Bapak sudah memutuskan kamu akan bapak jodoh kan dengan anak teman bapak." Ucap bapak Angga to the point. Angga tersentak kaget. Ia tahu ini pasti ulah ibu nya yang menceritakan kejadian kemarin pada bapak nya.

__ADS_1


"Angga ndak mau pak, Angga sudah punya pilihan sendiri" Jawab angga ketus.


"Pilihan opo? Cah wedok mbengi mau kui? Turunan e kota S?"


(Pilihan apa? anak perempuan yang kemarin itu? keturunan kota S?) Ucap ibu nya sinis.


"Bu dia punya nama, nama nya Arin" Ucap Angga tegas, Ibu nya hanya mendengus kesal.


"Anak temen bapak mu ini lebih cantik. lebih jelas bibit, bebet dan bobot nya." Jelas ibu nya lagi.


"Bapak sudah atur semua nya Le.. nanti selesai kuliah kamu bisa pegang usaha walet, perkebunan sawit dan kelapa kita." Ucap bapak Angga. "Dan calon mertua mu nanti akan ikut investasi besar-besaran di perkebunan kita" Ucap bapak nya menjelaskan. Angga memeras rambut nya kuat.


"Lagian kamu itu anak laki-laki bapak satu-satu nya. Bapak juga gak nyuruh kamu kuliah jadi perawat. Bapak nyuruh kamu ambil kuliah bisnis tapi kamu ngeyel mau kuliah kesehatan. Cuma gara-gara perempuan yang kamu cintai meninggal karena penyakit." Lanjut bapak Angga dengan senyum meremehkan.


"Jangan bodoh kamu Le... hirup iku yo ora iso nek modale cuma tresno (hidup itu ya tidak bisa kalau modal nya cuma cinta)" Lanjut bapak nya. Angga seketika berdiri dari duduk nya, ia tidak ingin kisah Vira kekasih nya dulu di ungkit - ungkit kembali. Angga banar benar marah sekarang.


"Terserah bapak sama ibu, yang jelas Angga ndak mau di jodoh-jodoh kan. Yang Angga cintai dan sayangi saat ini cuma Arin, besok dan seterusnya juga tetap Arin." Ucap Angga kemudian pergi dari rumah bude nya dengan perasaan marah.


(Waaaahhh kira-kira Angga bakalan di jodohkan dengan siapa ya...?? Penasaran khaann?? Baca terus kelanjutan nya yaa...


Don't forget like coment vote n gift nya yaa😘😘😘 Happy reading)

__ADS_1


__ADS_2