
Perjuanganmu belum berhenti. Carilah tempat, dimana kamu di hargai dan juga di butuhkan.
~Ayah
*****
Seorang wanita cantik berhijab tengah siap untuk mengabdikan dirinya. Tahun pertama menyandang gelar sebagai Sarjana pendidikan dengan jurusan Matematika. Nazwa Khoerunisa, atau yang akrab di sapa Nisa ini memutuskan untuk menjadi seorang guru di salah satu sekolah Swasta. Salah satu dosennya merekomendasikan untuk ia mengajar disana. Dengan senang hati Nisa menerima tawaran itu. Karena bagi Nisa, untuk zaman sekarang pekerjaan itu sangat sulit di cari. Makanya ia tak henti bersyukur Tuhan memberikan pekerjaan dengan mudah.
"Sepertinya sudah pas." ucap Nisa sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Nisa memang sudah cantik sejak lahir. Makanya tidak perlu make up tebal ia sudah terlihat cantik. Mukanya yang bulat membuatnya menjadi awet muda, dengan lesung pipit. Juga bibirnya yang sudah merah muda ia hanya membutuhkan sedikit polesan lipbalm.
Nisa keluar dari kamarnya untuk sarapan. Di meja makan memang sudah tersedia nasi goreng spesial telor ceplok karya chef Afifah, begitu kata sang ibu. Nisa duduk di kursi hendak memakan sarapannya.
"Baca doa dulu Nisa." suara bunda mengehentikan suapan pertamanya.
"Astagfirullah.. Lupa, saking girangnya mau mengajar. Hehe."
"Umur aja sudah kepala dua, baca doa masih harus di ingetin." sang ibu geleng-geleng kepala.
"Ya kan gak selalu lupa bun, hari ini aja." Nisa membela diri.
"Terus yang kemaren apa? Disengaja?" Mati kutu kalau sudah adu argumen dengan sang ibu. Nisa malah cengengesan. "Oh iya. Tadi pak Arman telpon ke nomor rumah. Katanya Nisa langsung temui pak Bagja kepala sekolahnya. Soalnya pak Arman gak bisa antar Nisa." pak Arman adalah dosen yang memasukannya ke sekolah SMA yang ia akan mengajar.
"Yah.. Nisa sendiri kesana? Duh jadi degdegan bu." ucap Nisa sambil mengunyah sarapannya.
"Yaiyalah degdegan, orang kamu masih hidup." Canda ibu Afifah sambil tertawa.
Nisa memasang wajah sebal. Ia memanyunkan bibirnya. "Ibu serius bisa gak sih? Bukannya nenangin anak malah dibecandain."
"Terkadang hidup itu butuh candaan. Biar gak lurus aja kaya pak Tono." pak Tono adalah ketua Rt di tempat Nisa tinggal. Orangnya memang serem. Jarang senyum. Jarang bicara. Sekali bicara bikin orang tegang.
Aku tertawa kalau sudah ada kata pak Tono. Pria tua dengan wajah datar dan kumis yang tebal. "Katanya gak boleh becanda, ketawa juga kan?" ledek sang ibu.
"Siapa yang ketawa." elak Nisa. "Nisa selesai bu. Mau berangkat ya?"
"Habiskan sarapannya. Dosa loh. Inget di luaran sana...." belum selesai ibu Afifah berbicara sudah di teruskan oleh Nisa.
"Masih banyak orang yang kelaparan. Jadi, kamu harus bersyukur dengan cara menghabiskan makanan yang sudah ada di hadapanmu." ucap Nisa memperagakan ibunya.
"Anak pintar." Dua jempol sekali gus bu Afifah acungkan.
"Sudah habis bu. Tinggal piring sama sendok. Kalau di makan terlalu keras." Ibu hanya menanggapi dengan ketawa.
__ADS_1
Nisa keluar dari kursi. Dia berdiri dan menyalami ibunya. "Nisa berangkat. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan."
"Iya bu."
Nisa menyalakan motornya. Dan langsung menjalankannya. Tak lupa ia melambaikan tangan ke arah sang ibu, begitupun sebaliknya.
******
Masih dalam perjalanan. Nisa mengambil jalan pintas supaya tidak terkena macet. Menurutnya, ia hanya membutuhkan waktu 25 menit memakai kendaraan roda dua dengan jalan pintas. Sedangkan dengan jalanan umum ia bisa menghabiskan waktu 40 menit. Sungguh, akan membuat waktu yang terbuang cukup banyak.
Nisa masih menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Dia tidak pernah mengendarai motor dengan cepat. Dia tahu bahaya apa yang akan terjadi.
Nisa memang hati-hati dalam mengendarai motor. Namun, pengguna yang lain yang ntah siapa tiba-tiba saja menyenggolnya sampai motor yang dikendarai Nisa jatuh ke pinggir.
"Astagfirullahaladziim.. Dasar, kalau berkendara itu hati-hati dong." Teriak Nisa. Nisa meringis kesakitan. Namun segera ia bangun dan mengecek motornya.
"Yaampun.. Princess, kamu gak apa-apa kan? Duh ini lecet." ucap Nisa sambil mengusap motor kesayangannya itu yang berwarna merah muda. Motor hadiah ulangtahun ke 17 tahun dari Almarhum ayahnya.
Pengendara itu menghentikan motornya dan menghampiri Nisa. "Mbak gak apa-apa?"
"Hahaha.. Dasar aneh, orang kalo celaka yang di periksa diri sendiri. Lah ini malah motornya." Pria berseragam SMA itu masih dengan tawanya.
Nisa menoleh. Dengan wajah yang sudah memerah dan tanduk yang sudah keluar. Nisa membanting remaja itu dengan tasnya. Sontak membuat remaja itu menghentikan tawanya. "Aw." ia meringis.
"Ketawamu gak lucu. Lagian terserah saya dong mau berbuat apa juga. Motor juga motor saya. Makanya kalo berkendara itu lihat jalan. Untung saja saya orang baik. Kalo saya jahat, kamu sudah saya laporkan. Minta maaf kek, malah ketawa."
"Iya. Iya maaf. Lagian saya gak sengaja, tuh ada jalan berlubang. Makanya saya jadi oleng." ucap remaja itu.
"Saya sudah tidak menerima maaf." Nisa membawa tas yang tadi ia lempar. Dan menaiki motornya. Tanpa menoleh remaja itu lagi Nisa menjalankan motornya.
Remaja itu menatap aneh ke arah Nisa. Kok ada orang kaya dia. Unik banget.
*****
Nisa sudah sampai di sekolah yang dimana dia akan mengajar. Nisa bertanya pada satpam disana. Dengan suka rela satpam itu mengantarkan Nisa sampai ruang kepala sekolah.
"Assalamualaikum?" ucap Nisa dari luar ruangan.
"Waalaikumsalam. Masuk."
__ADS_1
Nisa masuk. Mengatupkan kedua telapak tangannya. "Silahkan duduk." ucap kepala sekolah itu.
"Terimakasih pak."
"Jadi, ini Nisa yang dikatakan pak Arman?"
"Betul pak." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Saya sudah mendengar banyak cerita dari pak Arman tentang bu Nisa. Semoga betah disini ya? Bu Nisa menggantikan bu Arini disini. Karena beliau akan menikah dan di bawa ke luar kota oleh suaminya. Baiklah, kita ke ruang guru sekarang. Sekalian perkenalan." Nisa hanya mengangguk lalu mengikuti langkah kaki kepala Sekolah.
Sesampainya di ruang guru. Riuh suara para guru terdengar di telinga Nisa. Begitu ramai.
Aku pasti betah disini. Semoga. Ucap Nisa dalam hati.
"Perhatian.. Perhatian.." ucap pak kepala sekolah sambil menepukan kedua tangannya. Mencari perhatian seluruh guru yang ada.
"Assalamualaikum wr. wb."
"Waalaikumsalam wr. wb." serempak seluruh guru.
"Saya ingin memperkenalkan guru baru untuk pengganti bu Arini. Silahkan bu Nisa perkenalkan diri anda."
"Baik pak. Terimakasih. Assalamualaikum semuanya. Perkenalkan nama saya Nazwa Khoerunisa. Saya biasa di panggil Nisa. Saya disini menggantikan bu Arini menjadi guru Matematika. Mohon bimbingannya dari semuanya. Terimakasih. Wassalamualaikum."
"Waalaikumsalam.." serempak guru.
"Wah cantik ya? Masih muda lagi. Anak-anak biasanya betah kalo gurunya muda begini." ucap salah satu guru.
"Semoga betah ya disini?" ucap guru lainnya.
"Wah ramah sekali. Murah senyum." Ucap guru yang satunya lagi.
Dan masih banyak lagi pujian untuk Nisa.
"Itu meja kamu. Silahkan rapikan barang-barangmu." Nisa mengangguk.
Nisa mendudukan dirinya di tempat yang sudah di sediakan. Seorang laki-laki mendekatinya dan mengulurkan tangannya. "Bu Nisa, perkenalkan nama saya Septian Maulana. Saya guru olahraga disini." Nisa membalasnya dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Salam kenal, pak Septian." Pak Septian tersenyum lalu kembali ke mejanya.
MasyaAllah.. Tempat baru, aku bukan lagi menerima pelajaran. Tapi mengajari. Memberikan ilmu yang selama ini aku dapatkan. Terimakasih atas nikmatmu ya Allah. Aku di berikan kesempatan untuk mengabdi. Aku berharap bisa betah disini. Sedikit demi sedikit aku ingin membalas semua yang sudah ibu korbankan untukku. Ini cita-citaku. Ayah, semoga kau tenang disana. Lihat, anakmu sudah menjadi apa yang engkau ingin.
__ADS_1