Tercipta Dari Tulang Rusukmu

Tercipta Dari Tulang Rusukmu
Ketemu Lagi


__ADS_3

Pertemuan selalu menghadirkan rasa yang tak biasa. Dan aku selalu ingin bertemu denganmu.


~Giovani Al Barak


*****


Sepulang sekolah, Nisa melajukan motornya dan berhenti di sebuah kedai bakso ngenes. Yang artinya bakso dengan kuah yang pedas. Wanita memang sangat menyukai makanan pedas. Seperti Nisa, dari dulu memang ia selalu memakan makanan pedas. Tanpa makanan pedas, dunia terasa hambar. Itu menurut Nisa.


Nisa tidak hidup dari kalangan berada. Ayahnya dulu seorang guru, dan itu di turunkan kepada Nisa. Hidup sederhana bagi Nisa sudah biasa. Nisa juga bukan seperti wanita pada umumnya yang suka nongkrong atau sekedar makan di sebuah caffe. Nisa lebih menyukai makan di sebuah warteg. Karena lebih murah tentunya. Kantong Nisa tidak bisa mengeluarkan banyak uang, karena Nisa tidak punya kantong Doraemon.


Sekarang, Nisa duduk manis menunggu bakso yang ia pesan. Cukup membayar 20 ribu, baginya sudah bisa makan dan juga minum. Perutnya akan terisi penuh. Ponsel di genggamannya, dia membuka aplikasi sosial media bernama instagram. Tidak ada yang istimewa karena dia hanya memfollow para artis dan juga teman terdekat semasa sekolah dan kuliah. Dia menyukai aktor Korea bernama Gong Yo. Nisa menyukai lelaki yang sudah matang. Kerap kali ia melihat postingan berupa foto Gong Yoo dari khusus penggemar. Karena Gong Yoo memang tidak memiliki sosial media. Awalnya ia memang tidak menyukai aktor Korea. Namun setelah Melihat film Train to Busan, yang rilis di tahun 2016. Ia menjadi menyukai sosok Gong Yoo. Itupun karena teman satu kelasnya yang mengajaknya untuk menonton.


Bakso pun datang. Ia menaruh ponselnya di tas. Dan berterimakasih pada pedagang bakso.


Nisa mengaduk bakso yang ia pesan. Sebelum menyantapnya tak lupa ia membaca doa terlebih dahulu. Dan barulah ia menyantap baksonya.


"Ibu, doyan apa laper sih? Makan bakso segitunya." Nisa menghentikan makannya. Dia menyimpan sendok dan garfu yang ia pakai. Dan mengelap ujung bibirnya yang sudah memerah karena pedas.


"Kamu lagi. Kamu pasti nguntitin saya. Ngaku kamu?"


"Dih ibu geer, orang saya mau beli bakso." ucap Gio dengan santai.


"Terserah deh." Nisa melanjutkan memakan baksonya yang tersisa setengahnya.


"Bu, cantik deh kalo lagi makan."


"Jangankan lagi makan, lagi tidur sekali pun saya cantik." balas Nisa dengan datar.


"Iya betul banget bu. Ibu memang cantik di segala sisi. Kecuali lagi ngupil."


"Giooo... Saya lagi makan. Jorok banget sih kamu."


"Hehe.. Maaf bu." Gio mengatupkan kedua tangannya. "Bu, ketiga kalinya kita bertemu. Dan ibu jodoh saya."

__ADS_1


"Huh.. Maunya kamu itu. Saya tidak suka anak di bawah umur."


"Walau masih 18 tahun, punya saya gede loh bu." bisiknya pada Nisa. Wajah Nisa memerah.


Nisa memelototi Gio. "Kamu vulgar banget sih."


"Vurgar apaan? Emang saya bilang apa?"


"Ya tadi kamu bilang punya kamu ge.. de" Diakhiri dengan suara pelan. Dan Nisa menutup mulutnya.


Gio tertawa. "Maksud saya, otot-otot saya bu. Karena saya rajin olahraga."


Nisa tidak menanggapi ocehan Gio. Dia masih fokus menyantap baksonya. Tanpa melihat Gio, yang sedari tadi menatapnya.


"Bu, kalo ngajar jangan senyum-senyum sama yang lain. Senyumnya sama saya aja." ucap Gio kembali.


"Saya itu guru. Harus ramah kepada setiap orang. Emangnya orang kamu doang. Sekarang saya jadi malas senyum sama kamu."


"Kamu menyebalkan Gio."


"Yang penting saya ganteng. Kalo ibu gak mau senyum sama saya. Saya mogok sekolah loh bu."


"Ancamanmu gak akan mempan."


"Saya serius, bu."


"Baiklah Gio. Saya sudah selesai. Kalau kamu mau makan bakso silahkan." Nisa bangun dari duduknya dan menghampiri pedagang bakso untuk membayar baksonya.


Tanpa melihat lagi ke arah Gio, Nisa keluar dari kedai bakso itu. Nisa membawa motornya menjauh dari kedai bakso.


Dasar anak kecil. Labil, bisa-bisanya dia bilang tentang jodoh. Huh, baru pertama masuk udah di hadapkan dengan manusia macam itu. Gak kebayang besok-besoknya bakal kaya gimana? Sabarkan Nisa yaAllah..


Nisa mengusap dadanya beberapa kali. Selama 24 tahun hidup. Ia tidak pernah di hadapkan dengan pria di bawah umur seperti Gio.

__ADS_1


*****


Hari semakin sore, Nisa tidak langsung pulang ke rumah. Ia harus menjemput sang ibu yang sedang berada di toko kue. Ini memang kebiasaan Nisa sejak sekolah. Kepergian sang ayah, membuat sang ibu harus membanting tulang mencari nafkah. Karena sang ibu mahir membuat kue. Akhirnya ibunya Nisa mencoba membuka toko kue. Sampai sekarang tokonya sudah lumayan ramai pembeli. Tak jarang ada pesanan banyak yang Ibu Nisa terima. Sekarang, sudah memiliki 2 karyawan. Toko kue yang dinamakan 'DOA IBU BAKERRY' ini diharapkan agar doa-doa ibu Nisa terkabulkan. Itulah kata ibunya Nisa setiap ditanya tentang nama unik untuk toko kuenya.


Nisa memarkirkan motornya di tempat biasa. Ia langsung memasuki toko kuenya.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam." Nisa menyalami sang ibu.


"Hari ini ramai bu?" Nisa mencium pipi sang ibu.


"Lumayanlah, sedikit atau banyak jangan lupa bersyukur." Ibu Nisa mencolek hidung anaknya.


"Yayaya.. Mau tutup jam berapa?"


"Bentar lagi deh. Jam 5an. Kamu istirahat dulu aja."


"Oke bu. Nisa ke atas dulu." Toko ini memang memiliki dua lantai. Di atas adalah tempat istirahat untuk Ibu atau Nisa. Jika lelah dan tidak bisa membantu ibunya, Nisa akan bersantai disana.


Nisa melihat ponsel yang berada di dalam tas. Ada satu pesan whatsapp yang ia terima dari nomor yang tidak di kenal.


+6288132112354


Sayur pare dimakan itik. Selamat sore ibu cantik? 😍


Bu sudah ampe rumah belum?


Nisa mengscroll ke atas. Melihat foto profil pemilik nomor baru itu. Fotonya hanya bola basket.


"Gak jelas banget sih ini orang. Pake pantun segala. Dia kira lenong."


Bisa menyimpan ponselnya kembali. Dia mengabaikan pesan dari orang iseng itu. Dan tidak terasa matanya terpejam.

__ADS_1


__ADS_2