
Memanglah pria tampan selalu tidak asing bagi mereka yang melihatnya.
~Giovani AB 😎
*****
Hari pertama memasuki tempat baru. Hari pertama pula Nisa mengajar sebagai guru yang sesungguhnya. 4 tahun menimba ilmu di Universitas sampai ia lulus S1 dengan nilai terbaik. Kini, ia mulai mengamalkan ilmu yang sudah ia dapat.
Kebetulan sekali Nisa mengajari kelas XII MIPA 1. Nisa berpikir tidak akan sulit mengajari anak SMA, karena ia tahu mereka sudah besar dan bisa di atur. Apalagi MIPA 1, biasanya adalah kelas andalan. Kebanyakan muridnya pintar-pintar.
"Assalamualaikum?" Ucap Nisa seraya tersenyum.
"Waalaikumsalam." Serempak para murid semua.
"Wikwiw.. Ibunya masih muda."
"Bu, cantik deh.. Jadi suka."
"Diam semuanya. Ada itik dimakan hiu." suara murid pria.
"Cakep." Serempak siswa lainnya.
"Ibu cantik, I love you." Sorak sorai pun menggema di kelas MIPA 1. Semuanya bertepuk tangan. Nisa hanya geleng-geleng kepala.
Apa begini anak MIPA 1. Perasaan zaman aku gak gini amat. Kesannya rapi dan banyak diam gitu. Memang aneh dengan keadaan sekarang.
"Oke. Tenang semuanya. Mau perkenalan dulu gak?" tanya Nisa dengan nada yang membuat para murid pria jatuh Cinta.
"Mau bu.."
"Mau banget."
"Baiklah. Perkenalkan, nama ibu Nazwa Khoerunisa. Kalian bisa panggil saya bu Nisa. Saya disini adalah guru baru pengganti bu Arini. Cukup perkenalannya kan?"
Tok.. Tok.. Tok..
Nisa dan semua murid menoleh. Salah satu murid laki-laki baru saja datang. Nisa berpikir anak itu kesiangan. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah telat 15 menit untuk waktu masuk.
"Siapa?"
"Gio bu, anak kelas ini juga." ucap salah satu murid wanita.
Kok kaya gak asing sama mukanya. Pernah ketemu dimana ya?
Nisa menyudahi pemikirannya.
__ADS_1
"Oke masuk. Karena saya guru baru disini. Jadi saya bebaskan dari hukuman. Tapi, besok-besok gak ada kata terlambat lagi."
"Siap bu." Anak bernama Gio itu memberi hormat dan tersenyum aneh. Gio mendudukan dirinya di bangkunya yang paling belakang.
"Karena ibu belum kenal sama kalian. Jadi, ibu absen satu persatu ya? Biar tahu nama-namanya."
"Siap bu.."
Nisa mengabsen seluruh siswa sambil mengingat-ngingat nama dan juga wajahnya. Karena bagaimana pun juga anak-anak itu akan menjadi anak didiknya untuk batas waktu yang tidak bisa di tentukan.
Setelah selesai Nisa melanjutkan dengan pembelajaran. Melanjutkan bu Arini mengajar. Nisa sangat pandai, kata-katanya mudah di pahami oleh murid-murid. Nisa juga ramah membuat para murid tak henti bertanya. Terutama yang bernama Giovani Al Barak.
Saat bel istirahat berbunyi. Semua anak langsung berhambur keluar kelas. Tinggalah bu Nisa, dan Gio yang masih duduk manis di belakang.
Gio menghampiri bu Nisa. "Bu, ingat saya?"
Nisa menoleh dan menatap Gio. "Memangnya kamu siapa harus di ingat segala." jawab Nisa dingin.
"Sudah tua ya bu? Pantas pelupa. Tadi pagi ibu ketemu sama saya di jalan."
Pantas saja tidak asing dengan wajahnya.
"Oh jadi kamu, pemuda yang suka ugal-ugalan di jalan." ucap Nisa.
"Terserah. Ngapain kamu masih disini?" tanya Nisa jutek.
"Ini pertemuan kedua kita. Kalau ketiga kalinya. Dipastikan ibu jodoh saya."
Nisa menghembuskan nafas kasar. "Tiap hari juga bakal ketemu. Apa bisa jadi jodoh? Kamu tidak usah menggoda saya. Saya tidak tertarik." Nisa bangun dari duduknya dan keluar dari kelas.
Ini nih yang gue suka. Jinak jinak merpati. Seringai Gio muncul.
*****
Bel istirahat sudah berbunyi. Gio beserta dua temannya Arka dan Juna sedang mengisi perut mereka di kantin. Bukan hal yang aneh lagi jika banyak wanita yang menggandrungi mereka bertiga. Secara, mereka bertiga adalah tim basket dan anak band sekolah. Terutama Gio. Karena ketampanan yang di atas rata-rata membuatnya sangat di kagumi para wanita, bukan hanya di sekolahnya tapi juga sekolah lainnya.
"Guys, bu Nisa cantik ya? Baru kali ini ada guru termuda di sekolah kita." ucap Arka sambil makan gorengan yang tersedia di kantin.
"Iya mana ramah lagi. Gue tuh suka cara dia ngajar. Wiiih, paham gue." ucap Juna.
"Paham pelajarannya?"
Juna menggeleng. "Bukan, paham kalo bu Nisa baik. Haha."
"Pe'a lo." ucap Arka sambil menoyor kepala Juna.
__ADS_1
"Bro.. Bro.." Arka menepuk lengan Juna.
"Apaan?"
Arka menunjuk ke arah Gio. "Kesambet apa tu orang? Senyam senyum sendiri."
"Wah bahaya bro.. Jangan.. Jangan.."
"Apa lo? Kalian pikir gue gak denger ocehan kalian berdua." ucap Gio sambil membalikkan badannya.
"Gue pikir lo lagi mikirin sesuatu yang membahagiakan gitu!" ucap Arka cengengesan.
"Mikirin apanih? Pasti mikirin aku yakan Gio?" tanya Reva yang baru saja datang. Reva adalah jajaran mantan yang tidak bisa move on dari Gio. Menurut Gio menggombali Reva adalah kesalahan.
"Langsung nyamber aja lo." ucap Arka.
"Tau tuh.. Lagian gak penting banget mikirin lo." tambah Juna. Gio hanya diam.
"Yang, pulang anterin ya? Gak ada yang jemput." Rengek Reva pada Gio.
"Idih yang. Yang yang pala lo peang. Gak usah sok manis lo."
Gio melepaskan tangan Reva yang ada di pundaknya. "Lo gak usah pegang-pegang gue. Pulang aja tuh bareng Si Jono." Gio berdiri dan membayar makanannya. Ia kembali ke kelas sendirian.
"Jono siapa Ka?" tanya Reva.
"Itu tukang kebon di rumah Gio. Haha."
"Sialan." Reva menepuk bahu Juna.
"Ka cabut yuk?"
"Bu, dibayarin sama Reva." ucap Arka sambil berdiri dan langsung berlari keluar dari kantin.
"Eh rese banget sih? Masa lo pada yang makan gue yang bayar." Teriak Reva.
"Mana neng reva bayarannya?" ucap Ibu kantin. Sambil mengadahkan satu tangannya.
"Berapa bu?"
"20ribu saja."
Reva mengeluarkan uang dari saku bajunya. "Nih bu. Kembaliannya buat ibu aja."
Ibu kantin bernama bu Ecin itu melebarkan uang yang ia terima bernilai 20 ribu. "Kembalian darimananya? Emang pas segini kali." Bu Ecin menggaruk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1