Tercipta Dari Tulang Rusukmu

Tercipta Dari Tulang Rusukmu
Dibalik canda tawa


__ADS_3

Dibalik senyum dan tawa, seseorang insan mungkin dilanda kepahitan dan kekecewaan yang tidak diketahui orang lain.


~Denura


*****


Hari ini, Nisa pulang lebih lambat dari hari sebelumnya. Nisa harus menemui teman lamanya yang bernama Laila. Semenjak mereka lulus, baru hari ini mereka bisa bertatap muka untuk melepas rindu mereka. Laila yang melanjutkan study S2 nya di Mesir. Menyulitkan Nisa untuk bertemu setiap hari dengan Laila. Bagi Nisa, Laila bukan hanya sekedar teman. Tapi juga sahabat. Hanya Laila lah yang menjadi teman terdekatnya semasa kuliah.


Langit mulai gelap. Selepas solat magrib di Mesjid yang Nisa lewati. Nisa kembali melajukan motornya. Ia tak risau karena sang ibu telah mengabari bahwa ia sudah pulang di antar oleh salah satu karyawannya yang rumahnya masih satu komplek dengan Nisa. Nisa masih santai mengemudikan motornya. Matanya menangkap sosok pria yang ia kenali. Pria itu sedang menghisap rokoknya di sebuah jembatan. Pria itu adalah Gio. Sang remaja yang selalu mengganggui hidupnya.


Nisa menghentikan motornya tepat di belakang motor milik Gio. Gio belum sadar jika Nisa sudah berdiri di belakangnya. Seperti biasa setelah rokonya tinggal setengan Gio Membuangnya. Kali ini dia melemparnya ke sungai. Setelah itu ia berbalik.


"Astaga.. Setan." ucap Gio.


Nisa melipatkan kedua tangannya di dada. "Kamu pikir saya hantu."


"Maaf bu, saya rerleks. Bu Nisa, ibu ngagetin saya tahu. Kenapa ibu ada disini?" Gio nyengir kuda.


"Saya barusan lewat terus liat murid saya sedang merokok."


Gio tersenyum. "Salah ya kalo saya merokok?"


"Jelas salah. Merokok itu membunuhmu."


Gio tertawa. "Ibu pasti baca di bungkusnya."


"Gio jangan ketawa. Saya sedang serius."


"Maaf bu. Lagian ya bu. Kalo emang merokok itu bisa membunuh. Sekarang saya sudah mati dong bu."


"Ya gak akan langsung mati dong. Taoi, suatu saat nanti."

__ADS_1


"Semua orang pasti mati bu, kapan pun tanpa tahu waktunya." Gio membalikan tubuhnya melihat aliran sungai yang ada di bawah.


"Justru saya berharap bisa mati secepatnya."


Deg, ada hal yang tidak biasa yang di tunjukan Gio. Gio yang biasanya oenub canda tawa, kini seolah ia sedang merasakan perih. Nisa menangkap dari cara bicaranya. Nisa masih menyimak.


"Ibu gak tahukan alasan saya merokok apa? Saya kesepian bu." Lirihnya. "Saya hidup dikalangan berada. Hanya ditemani harta bukan perhatian. Saya anak bungsu loh bu. Kadang saya ingin jadi orang lain, yang hidup sederhana tapi penuh dengan kasih sayang. Orang tua saya itu sibuk ngurusin bisnis. Di kepala mereka itu cuma uang. Setiap saya tanya. 'Mi, pi, bisa gak kalian luangin waktu untuk aku? Mereka hanya menjawab, Gio kamu harus ngerti semua ini kami lakukan untuk kebahagiaanmu.' Saya bingung kebahagiaan seperti apa itu? Sejak smp saya sudah tidak perduli lagi dengan apapun kesibukan orangtua saya."


Ya Allah.. Jadi, begini perasaan Gio sesungguhnya. Dia adalah anak yang kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Aku jadi kagum, di sekolah dia tidak pernah murung. Justru dia seolah anak yang paling bahagia.


"Gio?" panggil Nisa pelan. Gio menoleh, dia menampilkan senyum manisnya.


"Maafkan saya. Saya tidak tahu kalo di lubuk hati kamu yang paling dalam kamu merindukan kasih sayang orangtuamu."


"Gak papa bu. Jangan dibahas. Maaf saya lancang bercerita pada ibu."


"Gio, saya siap kalo kamu ingin bercerita tentang hidupmu."


"Mana mungkin kamu berbuat kurang ajar pada saya."


Benar bu, karena aku mencintaimu. Aku ingin menjagamu. Gio


"Saya antar pulang ya?"


"Gak perlu. Saya bawa motor sendiri." ucap Nisa.


"Saya ikutin ibu dari belakang. Sampai rumah. Biar aman bu. Ini udah malam. Ibu gak tahu kan kalo jalanan ini rawan."


Nisa merasa sedikit ketakutan. "Yaudah kalo gitu. Boleh."


Dan malam ini, dengan ditemani cahaya bulan dan cahaya lampu jalanan. Nisa dan Gio mengendarai motor masing-masing. Gio tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya Gio hanya menakut-nakuti Nisa supaya dia bisa tahu rumah Nisa. Dengan terpaksa ia mecari kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


20 menit, Nisa sudah sampai di depan rumahnya. Rumah yang sederhana bahkan kalau di banding rumah Gio sangat jauh bedanya. Tapi, di tempat ini Nisa dilahirkan. Gio juga ikut menghentikan motornya.


Sang ibu yang tengah menunggunya tampak sumringah saat melihat anak gadisnya datang.


"Sa, Alhamdulillah kamu sudah pulang." ibu menghampiri Nisa.


"Assalamualaikum bu? Ibu kenapa sih?"


"Waalaikumsalam. Ibu itu takut kamu kenapa-napa, jam segini belum pulang."


"Maaf ya bu bikin ibu khawatir."


Ibu Nisa menatap ke arah Gio. "Ini siapa?"


"Saya Gio bu. Siswa kesayangan bu Nisa." Nisa melotot. Ibunya Nisa tertawa.


"Wah baru kali ini loh Nisa bawa pria ke rumah? Ya walau pun kamu cuma muridnya."


"Tadi Nisa ketemu dia dijalan, dan dia mengantar Nisa karena jalanan rawan preman bu."


"Aduh, terimakasih nak. Kalo begitu kita masuk. Ibu udah siapin makan malam. Ayo nak Gio."


"Bu." Ibunya memberikan senyum misterius.


"Aduh bu, maaf bikin repot."


"Nggak kok. Ayo."


Mereka pun masuk ke dalam rumah Nisa. Dan duduk di meja makan. Makanan memang sudah siap tersaji disana.


Untuk pertama kalinya Gio ngobrol banyak di barengi canda tawa. Ibu Nisa memang klop dengan Gio. Sama-sama humoris. Gio pun tidak merasa kesulitan untuk masuk ke dalam keluarga Nisa. Walau pun belum bisa menyentuh hati Nisa. Setidaknya dia bisa mendekati Nisa lewat ibunya juga.

__ADS_1


__ADS_2