
Bebas, bukan berarti tidak ingin diperhatikan. Artian bebas, hanya ingin memilih apa yang kita suka.
~Giovani AB
*****
Senja menghiasi langit biru, warna jingga itu memberi kesan keindahan menjemput kegelapan. Menggantikan siang dengan malam.
Setelah berpamitan dengan anak-anak itu, Gio kembali melajukan motornya. Berhenti di sebuah jembatan. Dia paling suka melihat senja dari sana. Sambil menyalakan sebatang rokok. Gio tampak tenang bersandar pada pinggiran jembatan. Inilah Gio, bukan remaja yang selalu pulang tepat waktu, atau meluangkan waktu untuk belajar. No, Gio bukan kutu buku. Bahkan dia sangat tidak suka belajar. Alasannya, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Gio punya cara sendiri untuk menikmati hidupnya.
Gio membuang puntung rokoknya dan langsung menginjaknya untuk mematikannya. Gio bergegas untuk pulang. Hari sudah mulai gelap, satu jam cukup untuk ia merenung. Kembali ia melajukan motornya untuk menuju rumah. Rumah yang menurutnya sangat tidak nyaman. Padahal, untuk ukuran Gio harusnya dia bisa menikmati segala fasilitas yang ada.
Tidak butuh waktu banyak, ia sudah sampai di rumah mewah dan besar serta gerbang yang menjulang tinggi. Ia memarkirkan motornya di halaman rumahnya yang sangat luas. Ia masuk ke dalam rumah.
Tampak ada pria sekitar 40 tahunan lebih sedang berdiri bersidekap. "Dari mana saja kamu?" Itu adalah sang papa.
Gio menghentikan langkahnya. "Latihan basket." jawabnya begitu santai dan dingin.
"Mau jadi apa kamu hah?"
"Aku mau jadi apapun, semua sudah di atur sama papi kan? Jadi untuk apa papi bertanya." Jawaban yang membuat papinya semakin murka.
"Gio, kamu sebentar lagi lulus SMA. Harusnya kamu belajar yang rajin mempersiapkan diri untuk masuk universitas."
"Pi, uang papi bisa membeli semuanya. Jadi untuk apa Gio belajar. Toh, Gio akan masuk dimana saja kan?"
"Lancang sekali kamu bicara. Papi tidak pernah mengajarimu berkata tidak sopan kepada orangtua." Suara papi menggema di ruang tamu. Naik satu oktaf.
"Papi memang tidak pernah mengajari apapun. Papi kan sibuk dengan bisnis papi. Semua orang dirumah ini hanya bisa mengatur, tanpa mengerti keadaanku." Gio melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Harusnya kamu mencontoh kakakmu. Giooo." Teriak sang papi. Dia tidak menghiraukan papinya yang sedari tadi memanggil namanya.
Gio memasuki kamarnya. Dia membanting pintu dengan keras. Dia marah, bukan membenci.
*****
Sementara di rumah sederhana milik Nisa. Nisa sedang melafalkan ayat suci Alquran. Sebisa mungkin ia akan menyisihkan waktunya untuk mengingat sang Maha pemberi Rezeki. Setiap waktunya ia akan delalu bersyukur dengan nikmat yang ia terima. Terutama nikmat masih diberikan nafas. Sepanjang perjalanan hidupnya ia tidak sering mengeluh. Setiap masalah ia hadapi dan ia serahkan pada yang Maha Kuasa. Sepeninggalan sang ayah, Nisa bukan lagi anak yang cengeng. Bukan pula menjadi anak yang manja. Ia akan memerlihatkan sisi ketegarannya, terutama pada sang ibu.
"Shadaqollahuladziim.." Nisa sudah selesai melafalkan ayat suci Alquran. Dia membereskan alat solatnya. Menyimpan rapi di tempat biasanya.
Nisa keluar dari kamar menghampiri sang ibu yang sedang asyik di dapur. "Ibu?" panggilnya. Ibunya tidak menyahut. "Ibu lagi apa sih? Asyik bener."
"Eh Nisa, ibu lagi goreng ikan. Kamu bikin sambel gih."
__ADS_1
"Oke." Karena Nisa jarang di dapur, ia sampai tidak tahu ibunya menyimpan bahan-bahan dimana.
Dia kembali mendekati ibunya sambil nyengir. "Kenapa?" tanya ibu.
"Hehe anu, cabenya dimana?"
"Ya ampun, gitu aja gak tahu."
"Maklum udah lama kan gak masuk dapur." ucap Nisa memberi alasan.
"Cari di kulkas." jawab ibu sambil membalikan ikan gorengnya.
"Bu, ulekannya dimana?"
"Di dekat wastafel."
"Bu, garam dimana?"
"Itu diatas. Ada namanya."
"Mecinnya?"
"Duuuuh, Nisa.." Ibunya geram. "Niat bantu ibu gak sih?"
"Abisnya kamu nanya terus. Wanita itu harus tahu perlengkapan dapur. Pantas saja jomblo terus. Masak aja masih nanya-nanya." Omel sang ibu.
"Ish ibu apaan sih. Kok nyangkut pautin sama status." Nisa memanyunkan bibirnya.
"Ibu serius Sa. Kamu harus segera cari pengganti Galib. Sejak dia menghilang, kamu tidak pernah menceritakan seorang laki-laki pada ibu."
"Dari sambel kok nyambung kesana sih. Jadi badmood kan? Nisa ke kamar dulu." ucap Nisa sambil berbalik. Sang ibu hanya melihat kepergiannya dengan geleng-geleng kepala.
"Anak itu, kalau menyangkut pasangan kabur deh tuh. Susah amat ya Allah punya anak perempuan satu-satunya. Cantik, soleh lagi." sang ibu berbicara sendiri.
Nisa sudah berada di kamar, Dia mengambil satu jilbab pemberian dari mantan kekasihnya yang menghilang begitu saja.
"Ibu kenapa ngingetin aku sama kak Galib sih. Dan kamu juga kak, sebenarnya kemana sih? Mana janji-janjimu dulu. Sungguh palsu." Air mata Nisa menetes tanpa bisa di cegah. Ia mengingat sang mantan.
Suara ponsel membuyarkan pemikirannya tentang kenangan masalalu. Ia melihat layar ponsel, masih nomor yang sama. Tidak dikenali. Ia memencet tombol berwarna hijau.
"Assalamualaikum. Dengan Nisa disini?"
"Waalaikumsalam. Ibu, belum tidur ya?" suara pria di sebrang sana.
__ADS_1
"Siapa nih?" tanya Nisa.
"Saya bingung, bagaimana caranya agar ibu bisa ingat terus sama saya. Ibu pikun tahu gak?"
"Astagfirullahaladziim. Gak sopan banget sih. Siapa sebenarnya? Gak usah iseng. Orang lagi bete juga."
"Ibu bisa bete juga ternyata. Saya kira cuma saya doang yang bisa ngerasain bete. Tapi beruntung, ibu menjadi obat bete buat saya." Nisa tidak merespon ucapan pria tersebut. Karena Nisa ada feeling itu adalah Gio.
"Bu?"
"Hmmm."
"Hallo, hay, spada, bu, bu, bukannya aku takut akan kehilangan dirimu. Tapi aku takut kehilangan cintamu. Tuhkan jadi nyanyi." Sontak membuat lengkungan bibir Nisa terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Gio, kamu ngapain telpon saya?"
"100 bua ibu. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya bu Nazwa mengingat nama orang tertampan di jagat raya."
"Lebay deh."
"Serius saya bahagia dunia akherat kalo begini. Saya tadi sedih pas ibu gak ngenalin saya gitu."
"Oke. Jadi, kamu mau apa? Dan tahu nomor saya dari siapa?"
"Ya cuma nomor doang mah kecil dong bu. Tinggal minta sama jin botol di kasih."
"Ngomong sama kamu bikin kepala saya pusing."
"Ibu sakit, saya belikan obat ya?"
"Gioooooo."
Gio menjauhkan ponsel dari telinganya. "Bu, kalo kuping saya rusak. Ibu tanggung jawab ya?"
"Gio, sebenarnya kamu mau apa? Ada yang ingin di tanyakan?"
"Iya bu. Saya mau nanyain soal."
"Soal apa?"
"Soal cinta bu." Nisa mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Percuma ngobrol sama remaja labil.
Oh, jadi ini nomor anak itu. Ya Ampun untung anak yang kaya Gio cuma satu. Kalau ada dua atau tiga tamat deh riwayat aku.
__ADS_1