Terjebak Di Hutan Kalimati

Terjebak Di Hutan Kalimati
Bab 21. Kerasukan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Semua orang yang berjalan di trotoar terkejut bukan main saat mereka melihat Rania memukul pria yang bernama Wildan itu. Reza juga terkejut melihatnya.


"A-apa apaan kamu? Kenapa kamu memukul suami saya? Benar-benar tidak sopan," istri Wildan marah-marah pada Rania yang sudah menampar suaminya itu.


Rania menatap istri Wildan dengan tatapan tajam, dia melihat perut istri Wildan membuncit. Dia juga menatap Wildan dengan tatapan penuh kebencian. "PFut....hahaha..."


"Kamu sudah gila ya??" Wildan menyentak Rania, menatap gadis yang sudah di


irasuki dengan marah, pipinya bahkan sampai merah karena di pukul oleh Rania.


"Masih mending kamu ku pukul mas, bukan aku bunuh!" Rania bicara dengan logat bahasa Jawa, sangat sarkas dan sinis.


Wildan pucat pasi, gemetar dan menelan ludah, begitu mendengar suara familiar dari Rania. "Suara ini, kenapa aku merasa tidak asing dengan suaranya?"


"Ran..." Reza menepuk bahu Rania, dia berusaha mengeluarkan roh yang ada didalam tubuh Rania dengan kekuatan yang dia miliki. Dia punya kekuatan untuk menolong orang yang kerasukan dengan menepuk tubuh orang yang dirasuki.


"Diam kamu, jangan ikut campur urusanku bocah tengil!" Rania menatap tajam pada Reza.


Reza tercengang, kenapa dia tidak bisa mengusir roh yang ada didalam tubuh Rania dengan sentuhannya. Apa karena roh itu terlalu kuat? Aura hitam di dalam tubuh Rania sangat besar.


"Kamu istrinya mas Wildan, kan?" Rania menatap wanita yang sedang hamil besar itu dengan sinis.


"Sa-saya..." istri Wildan merasakan tubuhnya bergidik ngeri dengan sosok Rania.


"Bilang pada suamimu, kuburkan aku dan serahkan dirinya ke pihak berwajib. Jika tidak, aku akan selalu berada di sekitarnya. Ku beri waktu dua hari," Rania menatap Wildan dengan tajam.

__ADS_1


Wildan tersentak kaget mendengar ucapan Rania. Dia yakin bahwa Rania adalah wanita simpanannya yang sudah dia bunuh beberapa hari yang lalu.


Nesha...apakah dia adalah Nesha? Tidak mungkin, Nesha sudah mati...anak ini pasti tau tentang yang aku lakukan padanya. Anak ini....awas saja.


"Kamu...omong kosong apa yang kamu katakan? Kuburkan apa?" Istri Wildan terheran-heran, bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rania.


Tak lama kemudian, Rania jatuh pingsan dan Reza yang menolongnya. "Ran, Rania!" Reza mencoba membangunkan Rania yang jatuh tidak sadarkan diri.


Apa mungkin seseorang si wanita baju merah itu memiliki masalah dengan pria ini?. Reza menatap wajah Wildan yang ketakutan itu.


Wildan pun buru-buru mengajak istrinya pergi dari sana. "Sayang, ayo kita pergi!"


"Mas, tapi anak itu." Istri Wildan masih punya hati, dia cemas melihat Rania yang jatuh pingsan.


"Kamu gak usah pedulikan anak itu, dia pasti sudah gila. Hey kamu! Urus temanmu dengan baik, awas kalau sampai saya dan istri saya bertemu kamu dan teman kamu ini!" Ujar Wildan pada Reza.


Melihat gerak-gerik Wildan yang aneh, membuat Reza yakin bahwa memang ada sesuatu antara pria itu dengan sosok wanita berbaju merah yang mengikuti Rania. Setelah suami istri itu pergi, Reza melihat roh wanita berbaju merah itu sedang menatap Wildan dengan penuh amarah sambil menangis, lalu dia menghilang entah ke mana.


Tak lama kemudian setelah Reza membawa Rania ke rumah kakeknya, beberapa setelah itu. Rania siuman, dia membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam kamar yang bukan kamarnya. "Apa ini? Dimana aku? Apa aku berada di dunia lain lagi?!" Pikirannya terkejut.


"Tenang saja cu, kamu masih berada di dunia manusia."


Terlihat seorang kakek tua memegang tongkat jalan, sedang berjalan ke arahnya bersama dengan Reza. Kakek itu mengenakan baju dengan motif batik berwarna coklat, celana coklat, tentu saja wajahnya juga keriput namanya juga kakek-kakek. Namun, dia melihat mata kakek itu berwarna biru. Apa mungkin kalau kakak itu adalah keturunan negara lain juga?


"Reza? Gue ada dimana, Za?" tanya Rania pada sosok Reza yang dikenal sebagai temannya.


"Lo tenang aja Ran, ini rumah opa gue. Lo tadi--" Reza agar ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Rania tadi. Jadi dia memutuskan untuk mengenalkan opanya lebih dulu. "Ran, kenalin ini opa gue. Opa, ini teman Reza...namanya Rania. Dia juga bisa lihat kayak Reza, tadi Reza udah jelasin sama opah secara garis besarnya." Ucap Reza sambil menoleh ke arah kakeknya.

__ADS_1


Pria tua itu mendekati Rania yang tengah duduk di ranjang, dia tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Rania membalas uluran tangan dari kakeknya Reza, "Saya Lukas, opanya Reza."


"Saya Rania, pak." Balas Rania memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah.


"Panggil saja Opa, gak apa-apa kok." Kata Lukas tidak keberatan dengan panggilan oppa.


"Iya opa,"


Sebelum berbincang dengan Rania, Reza menyediakan air putih untuk Rania agar dia bisa sedikit tenang. Ketika ditanya apa yang terjadi, Rania hanya ingat saat dia dan Reza berada di dalam taksi bersama wanita berbaju merah itu. Nah, setelahnya Rania tidak ingat apa-apa lagi.


"Opa, gimana ini?" Reza bertanya pada upaya tentang kondisi Rania.


"Jelas, Rania memiliki kemampuan yang berbahaya dan juga spesial." Pria tua itu mendongak dan menatap ke arah Rania.


"Berbahaya dan spesial?" Reza dan Rania melihat ke arah si kakek secara bersamaan.


"Kamu tidak hanya bisa melihat mereka, tapi kamu juga bisa berkomunikasi dengan mereka, itu spesialnya...tapi ada bahayanya--" si kakek menatap Rania dengan tatapan tajam.


"Bahayanya apa opa?"


"Tubuh kamu adalah wadah untuk mereka berkomunikasi dengan orang-orang di dunia. Kamu harus menjaga tubuh kamu agar kamu tidak tidak kerasukan lagi oleh mereka. Kalau kamu bertemu dengan mahluk yang masuk ke dalam tubuhmu, mahluk yang memiliki dendam membara dan mahluk ini tidak akan mau keluar dari tubuhmu sebelum mereka membalaskan dendamnya."


Rania dan Reza tercengang mendengar penjelasan dari opa Lukas. Rania bahkan sampai terdiam dan jantungnya berdebar. Dia kurang memahami apa yang opa Lukas ucapkan, tapi dia menangkap bahwa hal ini berbahaya untuk dirinya.


"Opa...lalu aku harus bagaimana? Aku..."


Pria tua itu terdiam sejenak lalu dia berkata, "Kamu harus coba membantunya, agar wanita itu tidak menganggu kamu lagi. Setelah kamu selesai membantunya, kamu harus pura-pura tidak melihat mereka lagi."

__ADS_1


"Opa...apa tidak bisa mata batin saya ditutup saja?" Rania tidak mau pusing dengan urusan mahluk halus, dia ingin mata batinnya di tutup saja.


...*****...


__ADS_2