Terjebak Di Hutan Kalimati

Terjebak Di Hutan Kalimati
Bab 23. Rumah kosong Nesha


__ADS_3

...😈😈😈...


Melihat tulisan bantu balas dendam di lantai kamarnya, membuat Rania tercengang. Sementara si wanita itu masih berdiri dihadapannya, hawa dingin juga masih terasa begitu menusuk.


Rania menggeleng-geleng, tidak setuju dengan permintaan hantu itu. "Tidak, balas dendam itu tidak baik. Aku akan membantumu yang lain, tapi tidak dengan balas dendam."


Wush~~


Gadis berusia hampir 17 tahun itu tercengang melihat sosok wanita menyeramkan berbaju merah tepat didepan matanya. Rania melihat jelas begitu banyak darah di wajahnya, matanya satu bolong. Tak tega Rania melihatnya, sampai memalingkan wajah. "A-aku...gak bisa...bantu balas DENDAM. Gak bisa! Maaf, aku menolak!"


"To...long..."


Suara wanita itu terdengar parau, membuat Rania semakin bergidik ngeri. Lalu dia teringat perkataan opa Lukas, agar tubuhnya aman dari wanita itu dia harus mengiyakan permintaannya lebih dulu. "Ba-baiklah...aku akan bantu kamu. Tapi kamu jangan ganggu aku? Bisa?" Pinta Rania sambil memalingkan wajahnya dari wanita itu. "A-aku janji...aku akan bantu, tapi kamu harus membiarkanku tidur! Kumohon!"


Tak lama kemudian, setelah Rania membuka matanya. Sosok wanita itu sudah menghilang dan hawa dinginnya juga tak terasa lagi. Rania menghela nafas lega, dia ternyata bisa berkomunikasi dengan mereka.


"Haaahh.... haaahhh...ya Allah, hampir saja jantungku copot. Apa dia akan balik lagi besok ya?" Rania masih mengelus dadanya.

__ADS_1


Malam itu dia bisa tidur nyenyak tanpa gangguan, namun saat membuka mata di pagi hari. Rania terkejut bukan main saat mendapati sosok wanita itu berbaring disebelahnya dengan air mata berlumuran darah.


"A-aku kan udah bilang jangan ganggu aku!" Rania beranjak dari ranjangnya.


Sosok wanita itu tak mau hilang, akhirnya Rania mengatakan lagi pada wanita itu untuk jangan takut karena dia pasti akan membantunya.


Sudah dikatakan begitu pun, si wanita baju merah masih mengikuti Rania bahkan sampai ke sekolah. Namun, saat dia berada di dekat Reza. Wanita baju merah itu tak berani mendekat pada Rania dan hanya memperhatikan Rania dari jauh.


"Tuh kan Za, Lo lihat sendiri? Dia masih ngikutin gue?" Rania kesal sambil menyeruput minuman yang ada di dalam gelasnya.


"Dia minta bantuan buat balas dendam."


"Apa? JANGAN!" Reza langsung melarang Rania membantu arwah penasaran itu untuk balas dendam. "Opa kan udah bilang kalau kita bantu balas dendam, konteksnya beda Ran. Mereka makin gak tenang nanti di alamnya." Ucap Reza lagi.


"Ya gue gak mau lah! Terus gue harus gimana?"


"Supaya masalahnya beres, kita harus temuin mayatnya dan nguburin dia dengan layak. Lo bilang dia dibunuh sama cowok itu, kan?" Tanya Reza berbisik pada Rania.

__ADS_1


Rania menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka mengatur rencana setelah pulang sekolah, untuk menyelidiki tentang wanita itu dan dimana mayatnya disembunyikan.


Dengan petunjuk yang diberikan oleh wanita baju merah, Rania dan Reza tiba disebuah rumah kosong berlantai dua. Rumah itu tampak tak terawat, milik seorang wanita single bernama Nesha. Orang-orang disana mengatakan bahwa Nesha menghilang 3 bulan yang lalu dan rumahnya tidak ada yang mengurus.


"Bener, ini rumahnya Ran?" Reza melihat ke sekelilingnya.


"Iya Za, ini rumah sama persis kayak yang ada di mimpi gue. Gue lihat bapak-bapak itu dorong dia dari sini, nih!" Tunjuk Rania pada tangga yang pernah dia lihat di mimpinya.


Rania merasa ngeri lagi saat teringat adegan Nesha yang berdarah-darah terguling di tangan. Kepalanya bocor dan perutnya juga hancur.


"Ran, coba Lo inget inget lagi dimana cowok itu nyembunyiin mayatnya?" Reza berbalik dan dia tak melihat temannya ada disana. "Ran? Ran Lo dimana? Lo kok ngilang sih?"


BUK!


Tiba-tiba saja sebuah benda tumpul memukul kepala Reza, hingga Reza jatuh tak sadarkan diri dan ambruk di lantai.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2