Terjebak Di Hutan Kalimati

Terjebak Di Hutan Kalimati
Bab 22. Bantuan balas dendam


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Lucas menatap Rania dengan tatapan tajam. Apa yang baru saja dia dengar sangatlah jelas bahwa Rania meminta mata batinnya ini ditutup saja? Lalu apakah jawaban dari Lukas?


"Ran---mata batin kamu bisa saja ditutup, kita bisa mencobanya. Tapi, tutup atau tidak itu urusan yang di atas. Jika yang diatas menakdirkan kamu untuk memiliki mata ini, maka mata kamu tidak bisa menutupnya. Ran, mari kita kesampingkan dulu masalah mata batin kamu. Sekarang kamu harus bantu dulu wanita berbaju merah itu, setelahnya...Opa dan Reza akan membantu kamu untuk menutupnya." Jelas opa Lukas pada Rania.


Rania hanya bisa menghela nafas, dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya memang bisa melihat dan mendengar mereka yang tak terlihat oleh manusia biasa.


"Baiklah opa, aku akan mencoba membantunya. Tapi setelah ini aku harap opa mau bantu aku buat nutup mata batin ini ya?"


"Ya, opa akan bantu." Opa Lukas tersenyum. Ia bersedia membantu Rania untuk menutup mata batinnya itu.


"Kamu tenang aja, aku juga akan bantu kamu kok!" Seru Reza sambil tersenyum.


Setelah perbincangannya dengan opa Lukas tentang mata batin dan kemampuan spesial yang dimilikinya. Opa Lukas berpesan agar Rania selalu berhati-hati pada makhluk halus yang memancarkan aura hitam panas karena mahluk itu bisa masuk ke tubuhnya dengan mudah kalau dia tak bisa jaga diri.


Sebisa mungkin dia harus pura-pura tidak melihat mahluk seperti itu. Seperti wanita berbaju merah ini, dia sudah terlanjur tau bahwa Rania bisa melihat dan menjadi medianya, jadi dia akan terus menganggu Rania sebelum dia mendapatkan keinginannya dan sudah jelas keinginannnya adalah untuk balas dendam. Jika keinginan belum terpenuhi, dia juga bisa menganggu orang-orang di sekitar Rania.

__ADS_1


Sepulang dari rumah opa Lukas dengan diantar oleh Reza, Rania langsung masuk ke dalam rumah dan dia disambut oleh neneknya. "Ran, kamu udah pulang? Gimana pelajaran kamu disekolah?"


Ya Allah aku takut Rania kenapa-napa lagi.


Melihat tatapan cemas dari neneknya, dia paham harus mengatakan apa. "Nek, nenek gak usah cemas. Aku udah baikan kok, aku gak perlu yang namanya ke dokter, psikolog atau apalah itu. Aku sehat dan aku normal." Rania memegang kedua tangan neneknya seraya menenangkan wanita tua itu.


Bu Wida menatap cucunya dengan ragu, masih saja dia mengerutkan keningnya. Kemudian Rania memeluk neneknya itu. "Maafin Rania ya nek, Rania udah buat nenek cemas sama Rania. Tapi Rania janji, selanjutnya Rania gak akan buat nenek cemas lagi."


Aku gak boleh bikin nenek cemas, aku harus bisa sebisa mungkin menahan diri kalau aku bisa lihat mereka.


Segeralah Rania melepaskan pelukannya, dia menelan saliva lalu pamit pergi ke kamarnya. "Nek, Rania pergi ke kamar dulu ya."


Mau dilihat darimana dan bagaimanapun juga...wanita ini masih terlihat seram.


"Kamu gak makan dulu, Ran?" Tanya Bu Wida menawarkan.


"Gak usah nek, belum lapar. Nanti Ran keluar kalau udah lapar, Rania capek mau istirahat dulu." Rania melihat ke arah hantu wanita itu, yang sedang menatap ke arahnya juga dengan tajam.

__ADS_1


"Oh ya udah, kalau kamu butuh apa-apa...panggil aja Oma ya?" Bu Wida tersenyum lebar.


"Oke, nek."


Rania berusaha setenang mungkin meski dia berhadapan dengan mahluk itu apalagi didepan neneknya, walau jantungnya kini berdebar kencang.


Gadis itu pergi ke kamarnya dan benar saja si hantu wanita masih mengikutinya seperti apa kata opa Lukas.


Rania tenang, tenanglah...kamu harus bisa berkomunikasi dengan mereka. Kamu pasti bisa.


"Ka-kamu mau minta tolong apa?" Tanya Rania sambil menundukkan kepalanya dengan gugup.


Kemudian angin berhembus ke arahnya sampai dia memejamkan mata. Saat membuka matanya kembali, Rania terkejut melihat ada darah di lantai bertuliskan sesuatu.


BANTU BALAS DENDAM.


*****

__ADS_1


__ADS_2