Terjebak Di Hutan Kalimati

Terjebak Di Hutan Kalimati
Bab 24. Akibat ikut campur


__ADS_3

Pov Rania


...🍁🍁🍁...


Kudapati diriku terbangun dalam keadaan terduduk, bisa kurasakan tali mengikat erat tubuhku. Tangan dan kakiku terikat kuat, siapa yang melakukan ini?


Kemudian aku melihat Reza di seberangku, dia juga tidak sadarkan diri dan dalam kondisi sama sepertiku. Kulihat juga kening Reza yang terluka. Kami berdua terikat oleh tali yang sangat erat.


Ya Tuhan! Siapa yang sudah melakukan ini?


Aku pun teringat beberapa saat yang lalu, ada sesuatu yang memukul bagian belakang tubuhku dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Lalu beginilah keadaanku sekarang.


"Hmph---"


Sial! Mulutku tersumpal oleh lakban hitam, hingga aku tak bisa bicara. Tali yang mengikat ku juga sangat erat. Aku mencoba bergerak sebisaku menghampiri Reza di seberang sana. Namun saya kudengar suara seseorang membuka gagang pintu, aku langsung kembali dengan posisiku semula. Aku pura-pura tidak sadarkan diri untuk melihat siapa yang datang. Siapa yang melakukan ini pada kami dan apa maksudnya?


CEKLET!


Dari suaranya aku yakin, bahwa kini pintu itu sudah terbuka. Kudengar lagi suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Masih ku pertahankan posisiku saat ini, pura-pura pingsan.


"Hah! Sudah kuduga kalian akan ikut campur urusanku, beraninya kalian menganggukku!" Ujar pria itu padaku dan pada Reza, mungkin.

__ADS_1


Tapi...tunggu!


Kenapa suaranya terdengar tidak asing ya? Ah ya...dia seperti suara pria yang waktu itu berjalan dengan wanita hamil. Ucapku dalam hati.


Dia pria yang sudah membunuh Nesha, si wanita berbaju merah itu. Aku yakin ini adalah suaranya! Dia yang melakukan ini padaku dan Reza.


Entah apa yang dilakukan pria itu, dia seperti menyeret sesuatu yang berat. Sayang, aku tak bisa melihatnya karena aku masih berpura-pura tertidur.


Aku berusaha mengintip intip kecil, sangat penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu. Sebelum aku berhasil mengintip, bisa kurasakan ada sesuatu di sampingku seperti di karungi, sesuatu yang keras dan dingin. Hah? Apa ini? Kenapa terasa dingin seperti es dan juga kucium ada bau bangkai bercampur bau anyir darah.


Pikiranku mulai kemana-mana, apa yang dilakukan pria ini? Sumpah! Saat itu hatiku berdebar, jantungku berdegup begitu kencang. Perasaanku tidak enak.


Dreett..


Kudengar ada suara vibrasi, sepertinya dari ponsel pria itu karena aku tak tahu dimana ponselku sekarang. Aku dengar dia berbicara dengan seseorang ditelepon.


"Halo sayang?....Ya, aku akan segera pulang.... Baik nanti aku belikan arumanis untuk kamu....kamu jaga baik-baik anak kita ya sayang dan tunggu aku pulang."


Sumpah! Aku jijik mendengar pria itu berkata manis pada istrinya, mengingat aku sempat melihat adegan dimana dia membunuh Nesha yang sedang hamil besar dengan kejamnya. Aku pun bertekad dalam hati, aku akan melaporkan pria ini ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Nesha.


Aku paham mengapa Nesha begitu dendam dan menjadi arwah penasaran. Sudah pasti karena pria yang membunuhnya hidup bahagia sedangkan dirinya menderita. Ya, aku akan membantu Nesha...tapi bukan untuk balas dendam. Aku melakukan semua ini agar pria bejat itu bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

__ADS_1


Bisa kudengar pria itu beranjak pergi darisana, lalu tak lama kemudian aku dikagetkan dengan air yang di tumpahkan pada tubuhku.


Tunggu! Ini bukan air, tapi baunya seperti bensin. Sontak aku membuka mata dan akhirnya permainanku berpura-pura tak sadarkan diri, terbongkar!


Kulihat Reza juga sudah siuman. Dia menatap ke arahku dengan panik, sepertinya dia bicara sesuatu. Tapi yang terdengar hanya kata hmmm...hmmm.. saja, sebab mulut kami masih tersumpal oleh lakban hitam. Kini sekujur tubuh kami basah oleh bensin. Kenapa pria itu menyiram bensin pada kami? Pikiranku mulai negatif dan semakin tidak enak hati saja.


"Hah! Ternyata kalian sudah bangun? Baguslah, kalian bisa membuka mata untuk yang terakhir kalinya dan ini juga terakhir kalinya kalian melihat diriku!"


Aku dan Reza menatap pria itu dengan panik. Takut terjadi sesuatu pada kami, apalagi ketika kulihat dia menyalakan korek api gas yang dibawanya.


Mataku membulat melihat itu semua. Ya Tuhan! Apa dia mau membakar kami disini hidup-hidup?


Kulihat Reza mencoba melepaskan dirinya, dia menggesek-gesekkan tali yang mengikat tangannya ke serpihan kaca dibelakang tubuhnya. Tangan Reza sudah berdarah, tapi Reza terus berusaha melepaskan dirinya.


"Selamat tinggal!" Pria itu menjatuhkan korek api gasnya.


Wush~~ Api menyambar dengan cepat, baru saja sampai lantai dan sebentar lagi akan mencapai ke tubuhku dan Reza.


Oh tuhan! Aku tak mau mati sekarang!


Samar-samar di balik api membara itu, kulihat sosok wanita berbaju merah dibelakangnya, dia menatap penuh kebencian pada pria itu. Kemudian dia melesat menghampiriku, setelahnya aku tak ingat apapun lagi.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2