Terjebak Di Tubuh Gadis SMA

Terjebak Di Tubuh Gadis SMA
Hal Baru


__ADS_3

Pertama kali yang kurasakan saat membuka mata adalah rasa sakit yang teramat di kepala, sedikit meringis ketika aku berusaha bangun dari tidur, kulihat sekeliling ruangan, ah rumah sakit ternyata. Ya tentu karena seingatku kamarku tidak sekecil ini.


Aku melihat kedua tanganku, yang kiri terpasang infus yang kanan dililit perban, kurasakan juga kepalaku terpasang perban, sedikit agak kaku karena perbannya agak terlalu kencang.


Ruangan ini sepi, tidak kulihat bastian dimanapun, biasanya selama apapun aku tertidur dia selalu menunggu dengan sabar, mungkin dia sedang mengurus hal lain. Kulihat jam menunjukan pukul 02.35,


Aku terbangun dini hari


Tapi kenapa Bastian tidak menempatkanku di ruang VVIP, ruangan ini terlalu sempit untukku.


Setelah berhasil duduk dengan benar, aku mulai berpikir hal terakhir apa yang membuatku masuk rumah sakit. Aku menghela nafas ingatan tentang duduk ditaman, membantu mengambilkan balon seorang anak kecil, berjalan ketengah jalan, dan mobil putih yang menabrakku. Aku kecelakaan, klise sekali tapi ini sialan akan ku suruh bastian mencari siapa yang menabrakku.


Kalau ku ingat bagaimana tubuhku tertabrak kencang oleh mobil putih itu, tidak mungkin hanya luka ini saja yang kudapatkan, setidaknya patah tulang atau jaitan luka di sana sini atau mungkin koma dan aku masih sangat ingat sakit yang teramat sangat di bahu kiri dan kepalaku.


Kulihat lagi kedua tanganku,


sejak kapan aku mewarnai kuku ku


warna merah terang yang mencolok, tidak aku tidak pernah mewarnai kuku ku. Tanganku juga terlihat lebih kurus dan rasanya ini hanya tulang yang terbalut kulit. Tunggu memang selama apa aku tertidur, apa itu artinya aku koma di waktu yang lama ?


Dan itu membuat badanku kurus seperti ini, apa kutek kuku ini juga Bastian yang mewarnainya. Sejak kapan Bastian berani melakukan hal yang aku tidak suka.


Haah apa benar selama itu aku tertidur ?


Aku benci berkata ini, tapi rasanya hampa sekali


Aku rindu kalian


***


Hari sudah siang, tirai jendela terbuka lebar pemandangan kota tersuguhkan disana. Pagi tadi ada seorang suster yang sedang mengecek infusan, karena baru tidur jam setengah 5 pagi, Fiel menghiraukan sang suster lalu lanjut terpejam.


Sekarang dia sedang duduk bersender di kepala ranjang, makanan khas rumah sakit berada di nakas sebelah kiri tidak ia lirik sekalipun, dia benar - benar tidak berselera untuk makan.


Klek


Suara pintu mengalihkan atensinya, dia melihat seorang ibu tua dengan kedua tangan yang memegang kantong pelastik, matanya menunjukan keterkejutan, ibu tua itu diam beberapa saat sampai akhirnya dia sadar dan menghampiri sang pasien.


" nona sudah sadar ? Maaf bibi baru datang siang non "


Tangannya agak bergetar melihat raut wajah datar majikannya, dia mengeluarkan beberapa buah dari kantong plastik hitam dan mengeluarkan bubur ayam dari kantong plastik putih


" bibi tau non pasti belum makan karena non gak pernah suka makanan rumah sakit, jadi bibi bawain bubur ayam langganan non, ini kesukaan non, non makan yah bibi suapin"


Tangannya cekatan membuka kotak bubur, bi marni memang agak terkejut melihat nona mudanya sudah sadar, karena sudah 2 hari setelah kecelakaan nona mudanya dalam keadaan koma, hal yang di katakan dokter waktu itu. Ketika tangan keriput itu menyodorkan satu sendok bubur, nona mudanya bertanya hal yang mengejutkan


" anda siapa ?"


Wajah bi Marni menunjukkan keterkejutan yang nyata, sendok bubur yang dia pegang hampir saja terjatuh


" n-non tidak ingat bibi ? Non benar tidak ingat bibi ?" bi Marni merasakan matanya memerah, dia berusaha untuk menahan tangis, sendok buburnya ia taruh kembali, fokusnya ia alihkan pada mata sang nona

__ADS_1


Nona mudanya hanya menampilkan ekspresi datar, tidak ada raut manja seperti biasanya ataupun mata yang sering melihat angkuh. Hanya tatapan tidak berminat.


" non, ini bi Marni, bibi yang udah ngurus non sedari kecil, bibi udah ikut keluarga non 19 tahun. Bibi pengurus rumah tangga di keluarga sagara " jelasnya pelan


Fiel mengangkat sebelah alisnya


Sagara ?


Dia tidak tau siapa itu keluarga Sagara, dan kenapa ibu tua ini bilang kalau dia adalah keluarga Sagara, sesudah kecelakaan keluarganya dulu dia langsung di asuh oleh adik dari mama nya


" aku tidak tau ibu ini siapa, dan saya bukan bagian keluarga Sagara, anda mungkin salah ruangan " masih dengan raut datar, Fiel menjawabnya tanpa berminat


" n-nona i-ini pasti ada yang salah, bibi panggilkan dokter dulu ya " bi Marni berlalu dengan wajah ketakutan, dia tidak mau menyuarakan yang ada di pikirannya, salah ini pasti ada yang salah dengan nona mudanya


Fiel berdecak tak suka, dia benar - benar ingin sendiri sekarang, lagipula kemana Bastian kenapa asistennya tidak datang - datang, kalaupun sedang pergi harusnya dia menyuruh bodyguard menjaga di luar ruangan, sangat tidak suka orang asing yang sok kenal begitu


Tak berapa lama ibu tua yang menyebut dirinya bi Marni datang dengan seorang dokter dan dua suster di belakangnya


" d-dokter tolong periksa nona Alexa dok, dia tidak ingat siapa saya dan dirinya sendiri " bi Marni mengatakan itu sambil menangis, tanpa banyak kata dokter langsung memeriksanya


" apa yang kamu rasakan ? Apa pusingnya masih ada ?" dokter itu bertanya dengan tenang


" ya, pusingnya masih sangat terasa sesekali "


Dokter mengangguk, dia menyuruh suster untuk menggantikan perban di kepala dan tangannya, suster lainnya sedang menulis sesuatu


" luka di tangan mu sudah mengering, tapi masih harus di perban untuk hari ini jika besok benar - benar sudah kering perbannya boleh di lepas, untuk luka di kepala karena lukamu di jahit masih belum boleh di lepas, ganti perbannya hanya boleh sekali sehari sampai benar kering, saya akan resepkan obat baru dan vitamin agar lukanya cepat menutup " Fiel hanya mengangguk, dokter tersebut memeriksa infusan


" Alexa ? Siapa dia ? " Fiel merasa dokter tersebut salah memanggil namanya


" tentu anda nona, nama anda nona Alexa "


" saya Cassandra bukan Alexa " tangis bi Marni benar - benar pecah, pikiran buruknya sudah memenuhi kepalanya


" apa anda ingat orang tua anda ?"


" ya saya ingat, mereka sudah lama tiada " Fiel mengatakan itu dengan sorot mata dingin, dan itu tidak luput dari penglihatan sang dokter


" berapa umur anda ?"


" 24 tahun "


" dan tahun berapa sekarang ?"


Fiel mengerutkan kening " 2019" dia menjawab dengan pelan


Dokter itu hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada wanita tua yang memanggilnya tadi


" saya pikir karena syok dan benturan dikepalanya nona Alexa mengalami hilang ingatan sementara, ditambah beban pikiran yang menganggu sebelum kecelakaan terjadi. Itu membuat pikirannya membayangkan hal - hal yang tidak ia pikirkan sebelumnya, tapi ibu tenang saja ini hanya sementara setelah syoknya hilang ingatannya akan kembali lagi " bi Marni masih sesegukan setelah mendengar penjelasan dokter, dia masih merasa takut dengan semua ini, ada perasaan kasihan yang menelusup dalam hatinya, kenapa nonanya harus mendapat semua ini


" tapi dok semuanya akan baik - baik saja kan ?"

__ADS_1


" semuanya baik - baik saja bu, coba ibu ingatkan hal yang berkaitan dengan nona Alexa secara perlahan siapa tau ini bisa mengembalikan ingatannya " dokter tersebut pamit undur diri setelah dirasa cukup


Ruangan itu kembali menyisakan dua orang dengan perasaan yang berbeda, bi Marni menguatkan hatinya agar tidak terlalu larut dalam menangis, sedangkan Fiel kepalanya berdenyut sakit, dia bingung sekali kenapa dokter bilang dia lupa ingatan, dia sama sekali tidak lupa dia ingat semua kenangan ketika anak - anak sampai dewasa bahkan detik - detik dia kecelakaan


Ada yang tidak beres


Bi Marni menyentuh pelan tangan Alexa, dia lalu duduk di kursi sebelah ranjang pasien


" non bibi minta maaf karena sore itu bibi ngga bisa cegah non pergi, kalau bibi tau non akan kecelakaan bibi pasti paksa non buat di rumah aja, apalagi non waktu itu belum makan " ucap bi Marni pelan, sesekali air matanya turun


" tapi non tenang aja, sekarang bibi bakalan jagain non sampai non sembuh " tangannya dengan cepat menyeka air mata


Fiel melihat itu dalam diam, dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, dokter tadi pasti salah mendiagnosis keadaannya


" non makan dulu ya, bibi suapin " sambil sesekali sesegukan bi Marni membawa kotak bubur kepangkuannya, bubur sudah dingin karena dibiarkan lama


Fiel hanya diam, tapi dia menurut ketika di suruh untuk membuka mulut, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, hening sampai bi Marni menyuapi Fiel sampai buburnya habis


" apa non ingin di kupaskan apel ? Atau pier? "


Fiel yang sedang minum hanya menggeleng


" bisa ibu ambilkan saya cermin ? "


Dengan sigap bi Marni mencari cermin kecil, dia ingat menyimpannya di laci nakas kedua, setelah dapat dia menyerahkan pada nonanya


Fiel menatap cermin itu dengan mata melotot, siapa gadis yang dia lihat, ini bukan dia, dia tidak punya rambut coklat begini, rambutnya hitam legam, panjang dan lurus, tapi rambut ini sedikit curly di bawahnya, dia benar - benar baru sadar sekarang, matanya kecil dengan tatapan sayu, bulu mata yang lentik, bibirnya tipis merah muda dan agak kering, hidung mungil yang tidak terlalu macung, wajahnya agak bulat, porsi yang pas. Kulit wajahnya putih tanpa jerawat ataupun masalah kulit lainnya. Wajah remaja yang lucu.


Wajah siapa ini ? Ini bukan aku !!


Fiel kaget, sangat kaget, wajah ini asing, ini benar - benar bukan dia, mata, hidung, rambut, tangan, bahkan badannya bukan dia, ini badan milik orang lain. Siapa dan kenapa, bagaimana ini bisa terjadi, sebenarnya apa yang terjadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya


" i-ini wajah siapa ?"


Bi Marni hanya tersenyum, nonanya mungkin tidak menyangka kalau wajahnya sendiri sangat cantik, apa seseorang yang amnesia lupa wajah sendiri?


" itu wajahnya non, non Alexa tenang aja, luka gores di wajah non pasti sebentar lagi hilang, dan jaitan di pelipis non terhalang rambut "


Bi Marni menjelaskan dengan tenang, pasalnya nona mudanya ini sangat menjaga wajahnya, ada satu jerawat saja hebohnya seperti sedang terjadi kebakaran


Jaitan di pelipis Fiel berdenyut, dia meringis keras, bi Marni yang melihat itu panik, dia menyuruh Fiel untuk tidur, tidak tega melihat nonanya menahan sakit


" non tidur aja, bibi bakalan jagain non, sekalian bibi nebus resep obat yang baru ya "


Fiel hanya mengangguk, kepalanya ikut - ikutan sakit, perihal hal baru yang terjadi dia akan memikirkannya nanti


aku harus cepat mencari tau apa yang sebenarnya terjadi


Ahh sialan ini sakit sekali


***

__ADS_1


__ADS_2