Terjebak Di Tubuh Gadis SMA

Terjebak Di Tubuh Gadis SMA
Menerima


__ADS_3

Hari ini Fiel memutuskan untuk mencari tahu pelan - pelan tentang semua hal yang menyangkut tubuh ini, tentu saja dengan bertanya lebih dulu pada bi Marni


Jam menunjukkan pukul 11.30, siang ini terik sekali, bi Marni duduk di sebelahnya sedang mengupas apel merah dan pier


Kemarin bi Marni datang sore hari dengan pesanan yang salad buah nya, lalu bi Marni bilang ketika sedang membersihkan kamarnya dia melihat hpnya yang sudah hancur di dekat jendela, ya hp pemilik tubuh ini


" apa ibu tau kenapa saya menghancurkan hp ini ?" Fiel bertanya pelan


Bi Marni langsung melihat ke arah Fiel, " setau bibi, kalau non sedang marah memang biasanya non suka membanting barang, mungkin non sedang kesal jadi non banting hpnya " terangngya


" apa saya ini anak yang kasar ?" bi Marni menggeleng


" justru non ini baik, kalau di rumah itu cerewet, non juga suka jail sama pembantu yang lain " jelasnya sambil menyodorkan apel yang sudah di kupas


Fiel mengunyah cepat apel itu, " di rumah ada berapa orang selain orang tua dan kakak bu ?"


" ada enam non, bibi, pak parjo tukang kebun, pak ratno satpam rumah, pak ismail supir, bi acih sama bi ida tukang beres - beres rumah "


" apa saya punya peliharaan atau semacamnya ?"


Bi Marni tersenyum sambil menggeleng, " non itu alergi kucing, dan kurang suka dengan anjing, tapi biasanya non suka sekali kasih makan ikan koi yang ada di kolam belakang, biasanya sebelum tidur non suka sekali jalan - jalan ketaman belakang "


Fiel mengangguk dua kali, Fiel juga alergi kucing tapi dia masih suka anjing, persamaan lagi

__ADS_1


" menurut ibu, saya anak yang seperti apa, selain yang sudah di sebutkan tadi?"


Bi Marni mengerutkan kening ketika ingin menjawab, dia seperti sedang mencari jawaban yang tepat


" mmm kalau menurut bibi, non itu anak yang penurut, tapi terkadang non itu suka sekali menggampangkan sesuatu, non juga agak ceroboh apalagi ketika sedang melakukan sesuatu, pasti ada saja yang non rusak.." bi Marni menjeda sambil tertawa kecil, tangan kanannya menyodorkan buah pier


" setelah non duduk di bangku kelas 3 SMP sikap remaja non berubah, cenderung lebih angkuh dan manja, tapi jika dirumah malah berbeda ketika sedang di luar, non juga sering sekali berkelahi dengan sesama teman kelas atau siswi di sekolah non, itu karena non merasa nyonya dan tuan sudah tidak memperhatikan non, sejak itu kedua orang tua non suka sekali pulang larut malam berangkat kerja pagi sekali, dalam seminggu mungkin kalian berdua hanya bertemu nyonya dan tuan 2 kali itupun karena tidak sengaja, entah non yang tidur larut menunggu mereka atau bangun pagi sekali karena ingin sarapan bersama, emosi non suka sekali tidak stabil kalau manyangkut orang tua, dan teman - teman non menjadikan itu bahan candaan, sejak itu non bilang tidak mau berteman dengan siapapun karena non ga butuh itu semua " sedikitnya bi Marni menahan agar matanya tidak menangis


Fiel yang sedari tadi diam mengangguk, ada beberapa kesimpulan yang dia dapat mengenai anak ini, sifatnya ceroboh dan gegabah, angkuh, manja, tidak punya teman, emosian, boros


" apa pekerjaan orang tua saya ?"


" nyonya itu sekertaris tuan, dan tuan besar pemimpin perusahaan "


"  untuk kakak dia seperti apa ?" Fiel bertanya dengan raut penasaran yang jelas


" den Damian itu dari kecil anaknya pendiam, dia tidak terlalu suka dengan keramaian, sejak masuk perkuliahan den Damian tinggal sendiri di apartemennya, untuk kerumah hanya sesekali akan datang.." bi Marni mengigit bibir nya pelan, dia seolah ragu lagi dengan jawabannya


" sebenarnya sejak sikap non berubah den Damian juga agak berubah pada non, walaupun memang dari kecil kalian tidak seakrab adik kakak yang lain tapi setidaknya den Damian masih menanggapi apa yang non bicarakan, tapi kali ini den Damian bahkan tidak pernah melihat kearah non lagi, sejauh apapun non mengajaknya bicara den Damian seolah tidak peduli apapun, kalian seperti orang asing yang terjebak dalam ikatan keluarga " sejenak bi Marni menunduk, lalu dengan cepat mengusap air matanya, setelah itu dia tersenyum seperti tidak terjadi apa - apa


Ada perasaan tidak enak ketika bi Marni bilang tubuh ini dengan kakaknya seperti orang asing, Fiel mengerutkan keningnya,


Apa ini perasaan asli tubuh ini ?

__ADS_1


Raut wajahnya ia ubah menjadi datar, dia memejamkan matanya sejenak, sebenarnya Fiel bukan orang yang dingin terhadap sekitar malah dia pribadi yang cukup perasa dengan pembawaan yang tenang, Fiel memang belajar menjadi wanita anggun dan berkelas, walaupun sering sekali dia mengumpat atau berbicara kasar,tapi dia mempunyai hati yang hangat, berlatih menjadi pintar, pandai dalam semua bidang dan tentu saja pintar menjaga diri


Fiel melatih keras dirinya sendiri di usia muda, sempurna dalam segala hal, menjadi wanita karier yang sukses di usia muda, pekerjaannya ia rintis ketika selesai dengan pendidikan menengah atas, menargetkan pasar saham, membeli lahan kosong lalu menjualnya dengan harga untung, ia di bantu Bastian menargetkan jual beli tanah dan harga - harga rumah yang murah, dengan bermodal pendidikan di universitas ternama di kota di jurusan manajeman bisnis dia berhasil sedikit demi sedikit menjadi pengusaha real estate, tentu dengan segala halang rintang yang ada, ia tekuni itu dengan sabar dan juga percaya diri


Itu semua bukan semata - mata hanya untuk membuat semua orang kagum ataupun iri, tapi dia ingin menjadi kuat agar bisa mengetahui di balik kecelakaan orangtua dan kakaknya, karena dia percaya kalau itu semua adalah rencana pembunuhan yang dilakukan seseorang terhadap keluarganya


Lalu ketika dia dihadapkan kejadian seperti ini dia harus apa ? Apa rencananya bisa tetap berjalan walau di tubuh yang berbeda ? Haruskah dia undur sampai dirasa waktunya pas ?


Ya sepertinya memang harus begitu


Fiel membuka matanya lalu menatap bi Marni dengan senyum kecil


" saya mengerti bu, untuk sekarang tidak masalah kalaupun mereka bertiga tidak menjengukku atau tidak mau melihat keadaanku, saya tidak peduli bu " Bi Marni terpaku sejenak mendengar ucapan Fiel, lalu dia mengangguk dua kali


" untuk sekarang ibu Marni tidak usah terlalu heran jika sikap dan sifat saya berubah, tapi tolong jangan sungkan pada saya jika saya tidak seperti dulu " Fiel meraih tangan bi Marni dan menggenggamnya lembut


" dan mulai sekarang saya akan panggil anda terus dengan sebutan ibu, itu ucapan terima kasih saya pada ibu karena ibu selalu ada untuk saya " lanjutnya sambil tersenyum, bi Marni yang mendengar itu menangis keras dia memeluk tubuh nonanya dengan erat


" t-terima kasih non, non alexa sudah seperti anak saya sendiri, tolong jangan sampai sakit lagi ya non, bibi khawatir sekali non " ucapnya seraya melepas pelukan


Fiel tersenyum mengiyakan, lalu mereka tertawa kecil, hati bi Marni agak lega melihat nonanya baik - baik saja bahkan jauh lebih baik, wajahnya cerah sorot matanya lebih memancarkan aura dewasa dan pembawaannya tenang sekali


Selanjutnya Fiel harus menyusun rencana untuk kedepannya

__ADS_1


***


__ADS_2