
"Arthur memperlakukan mereka seperti sampah, tetapi Mereka malah mengkhawatirkan anak itu!" gumam Edward merasa kesal dengan sikap buruk putranya.
15 menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit di kota itu, mobil berhenti di depan rumah sakit. Rosalie dan juga Winona segera keluar dari mobil lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit.
"Hem ... Mereka tetap saja perduli dengan anak brandal itu, meskipun nanti mereka akan mendapat hinaan tetap saja tak merasa marah dengan Arthur." Edward menatap kasihan dengan keduanya wanita yang saat ini tengah mengkhawatirkan putranya.
"Menurut Saya, Nyonya dan juga Non Winona Mereka berdua baik Tuan. Saya rasa mereka tidak mengejar harta Tuan!" pikir Aaron sang supir sekaligus orang kepercayaannya.
"Saya sependapat denganmu Aaron!" timpal Edward yang lalu keluar dari mobil. Rosalie yang kesal dengan suaminya yang begitu lelet,ia kembali ke depan hendak mencari Edward suaminya.
"Eh, baby mau kemana?" tanya Edward Pada sang istri yang berpapasan dengannya hampir tertabrak.
" Kamu kemana saja sih Edward, Kenapa lama sekali kami tidak tahu kamar Arthur ada di kamar apa!" Omel Rosalie menatap kesal.
"Maaf itu tadi ada masalah sedikit," elaknya mencari alasan yang meyakinkan istrinya. Setelah kemarahan Rosalie mereda, Edward menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah sakit. Edward lalu menghampiri petugas administrasi untuk menanyakan perihal pasien korban kecelakaan malam ini.
"Maaf sus, korban kecelakaan malam ini yang baru masuk kira-kira berada di kamar apa ya?" tanya Edward mencari keberadaan Arthur putranya.
"Sebentar ya pak, saya cek dulu!" kata petugas yang lalu mengecek nama-nama pasien di rumah sakit itu. "Oh, maaf pak mungkin maksud anda pasien atas nama Arthur Peterson yang saat ini berada di kamar mawar VIP." Petugas itu menjelaskan dengan detail.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya!" ujar Edward yang lalu di ikuti oleh Rosalie dan juga Winona. Mereka bertiga langsung saja mencari kamar mawar VIP, selang beberapa waktu Winona melihat keberadaan Adrian dan Daren di bangku tunggu di depan kamar pasien.
"Daddy, itu teman Kak Arthur!" tunjuknya pada dua pemuda di depan sana.
"Eh, iya ayo kesana," ujar Edward menggandeng dua bidadarinya. Mereka bertiga melebarkan langkahnya dengan cepat mendekat ke arah Daren dan Adrian, Adrian terkejut dengan kedatangan tiba-tiba keluarga sahabatnya yang terbaring tak berdaya.
"Maaf paman, karena tadi tidak ada keluarga Arthur maka dokter urung menyampaikan tentang apa yang di alami Arthur. Paman segera ke ruang dokter dulu!" jelasnya yang membuat Edward gegas ke ruang dokter Burhan.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
"Permisi," ucap Edward dari depan pintu ruang dokter burhan.
"Iya masuk," sahut dari dalam ruangan itu.
Ceklek!
"Maaf Dok, Saya ayah dari pasien yang bernama Arthur!" ungkap Edward berkata sesopan mungkin.
"Iya Pak silahkan duduk." Dokter mempersilahkan Edward duduk di kursi meja kerjanya.
"Begini pak Edward, putra anda mengalami luka yang cukup serius di bagian kakinya. Kalau luka luar di kepala dan juga tangan masih ringan, yang lebih parah itu di bagian lututnya yang mengalami pergeseran di sendinya sehingga Arthur harus istirahat total selama beberapa bulan ke depan dan ia tidak bisa jalan seperti orang normal pada umumnya, selama itu dia harus memakai kursi roda!" Pungkas dokter Burhan menjelaskan secara detail.
"Hem ... Baiklah kalau begitu dokter, Saya minta perawatan yang terbaik untuk anak saya. Soal baya berapapun akan saya bayar!" tutur Edward merasa terenyuh hatinya merasakan kesakitan sang putra.
Dokter menanggapinya dengan anggukan kepala, lalu Edward keluar dari ruang dokter Burhan dengan raut wajah yang kecewa. Rosalie dan juga Winona masih tetap setia menunggu Edward di depan pintu kamar rawat Arthur, ia tak berani masuk takut di usir Arthur yang memang sering tempramental.
Terdengar sesuatu pecah di dalam kamar itu, Rosalie memberanikan diri masuk ke dalam kamar arthur, Winona mengekor di belakang sang ibu dengan dalih takut akan amarah sang kakak tiri.
Ceklek!
"Arthur kamu kenapa?" tanya rosalie mendekat ke arah arthur yang terbaring lemah.
"Mau apa kalian datang kesini, mau mentertawakan Aku ya. Hahaha ... Tidak akan mempan karena Aku tak selemah itu!" makinya lebih kasar dari sebelumnya.
"Tidak Arthur, kami datang kesini karena kami perduli dengan keadaan yang menimpamu. Maaf Saya tak bisa jadi orang Tua yang baik untukmu," ujar Rosalie berusaha meyakinkan Arthur.
__ADS_1
"Cuih ..." Arthur meludah, dua sahabatnya sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Sedangkan Adrian begitu panas dengan perlakuan arthur yang kelewat batas baginya.
"Apakah Ibu dan adikku di perlakukan begitu juga oleh keluarga ayah tiriku dulu!" gumam Adrian gelisah seorang diri.
"Momy, jangan lagi kau paksa dia untuk menerima kita. Meski Momy mau bersujud di kakinya dia tak akan perduli, kita cukup dengarkan apa yang dia katakan entah hinaan buat Kita. Nanti kalau lelah dia akan berhenti sendiri!" kata Winona yang tersulut emosinya ketika sang ibu di perlakukan begitu rendah.
"Sayang, dia adalah kakakmu meski Kalian lahir di rahim yang berbeda. Momy tetap anggap Kalian berdua seperti anak kandung sendiri!" terangnya berusaha menenangkan Winona yang mulai emosi.
Sedangkan di luar ruangan rawat itu Edward mendengarkan percakapan mereka serta penghinaan arthur yang ia layangkan untuk kedua wanita yang ia anggap sampah itu.
"Cukup, jangan lagi kau hina mereka!" Seru Edward merasa terhina dengan perlakuan putranya.
"Sudah ku duga kau akan lebih membela Mereka Dad, Aku yang jadi terbuang dari hidupmu," lirih Arthur memasang mimik wajah kecewanya. "Daddy tak pernah membuangmu putraku, tetapi kau sendiri yang memilih meninggalkan Daddy! Ingat Arthur Rosalie tetaplah ibu sambungmu jangan kau perlakukan ia seperti wanita jalanan." nasehat Edward yang membuat Arthur sedikit melunak.
"Maaf," ucap Arthur memalingkan wajahnya ke samping. "Sudah duduk saja sayang, jangan dengarkan perkataan dia!" tampik Edward menarik tangan Rosalie dan juga Winona yang sejak tadi berdiri mematung seperti seorang rendahan.
Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruangan itu, tak lama Daren dan juga Adrian mereka masuk ke dalam ruangan.
"Maaf paman, bibi, Winona dan Arthur. Kami mau pamit pulang dulu takut di cari orang rumah!" ucap Adrian.
"Iya, terimakasih ya kalian sudah mau bantu sahabat kalian yang tempramental itu." Sindirnya yang membuat Arthur memutar bola mata jengah. Kemudian Adrian dan Daren mendekat ke arah sahabatnya, mereka lalu pamit pulang padanya. Setelah dua sahabatnya pergi, Arthur begitu bosan melihat kebersamaan ayahnya dengan wanita lain. Ia lalu mencari cara mengerjai si ibu tirinya,
"Hem ... Tolong belikan Saya martabak manis!" pintanya yang membuat Rosalie tersenyum Kegirangan.
"Baiklah kalau begitu aku belikan martabak untuk kakak," timpal winona bersemangat.
"Jangan biar Rosalie saja yang membelinya!" Cela Arthur yang Tan ingin orang lain lagi.
__ADS_1
"Arthur yang sopan jika memanggil nama Ibu sambungmu, panggil dia Momy!" tegurnya tegas.
"Iya, Momy tolong belikan Aku martabak manis jangan lupa di kasih cabe 1," pinta Arthur yang begitu aneh.