Terjebak Gairah Cinta Abang Tiri

Terjebak Gairah Cinta Abang Tiri
awal rencana jahat


__ADS_3

Setelah beberapa minggu kemudian ...


Winona dan rosalie mereka merawat Arthur dengan baik, kadang kala Arthur selalu menyusahkan keduanya.


Tibalah waktunya hari ini Arthur ke rumah sakit untuk mengontrol kakinya yang sudah mulai membaik,


"Ayo Arthur kita ke rumah sakit, hari ini jadwal kamu kontrol ke dokter!" Edward duduk di sisi ranjang kamar Arthur.


"Iya Dad, ini Arthur sudah siap!" Sahutnya bahagia karena sebentar lagi ia akan kembali sembuh dan beraktifitas seperti biasa. Seorang Casanova begitu menyedihkan berbulan-bulan di kursi roda.


Kemudian Arthur ditemani rosalie dan juga Edward menuju rumah sakit, pagi itu Winona sudah berada di Haines city senior high school. Iya hari ini begitu sibuk dengan kegiatan sekolahnya.


"Hai Nona!" sapa Belinda dan Alice dari belakang.


ternyata Winona tiba lebih dulu dari kedua sahabatnya,


"Hai, kalian sudah sampai juga!" Winona menyunggingkan senyum manisnya.


Beberapa teman laki-laki di sekolah itu mereka melihat Winona yang melewatinya ternganga tak berkedip,


Mereka bertiga berjalan di koridor sekolah, melewati banyak siswa laki-laki yang sedang duduk di bangku sekolah itu.


"wah rajin banget ya pagi-pagi sekali sudah sampai di sekolah, takut dihukum ya!" goda Belinda mencubit lengan winona.


"Ya tidaklah masa takut dihukum sih, tetapi kan kita harus rajin tiba lebih awal!" Sanggah Nona menebarkan senyuman termanisnya.


Ketiga Gadis murid baru itu memasuki kelas, nona duduk di meja barisan paling depan. Ia meletakkan tasnya! Begitu juga Belinda dan jug Alice yang juga duduk di bangku barisan paling depan.


Ketiga Gadis cantik itu menjadi pengalih perhatian para siswa di kelas itu.


"Wah, ternyata banyak gadis cantik di kelas ini!" Pekik David yang tak menyangka satu kelas dengan wanita yang ia kagumi di tempat pelatihan atlet badminton beberapa Minggu lalu.


"Huh, bertemu dengan lelaki resek itu lagi!" Batin Nona menggebrak meja.


Brak!


"Astaga Nona, mengagetkan aku saja!" timpal Alice.


"Hai, kita bertemu lagi! Mungkin jodoh kali ya," sapa David duduk di kursi belakang Nona.


Nona yang terbilang cewek paling cuek dan paling sombong jika berhadapan dengan lelaki penggoda, ia tak menggubris David yang sejak tadi di belakangnya.


"Percuma kamu goda sahabat aku itu, mau sampai tahun monyet juga tak akan di jawab!" tukas Belinda pada David.


"Benarkah," ucap David beranjak dari kursi.


David malah mendekati Nona, dengan sengaja menoel hidung Nona yang mancung menggemaskan.


Bug!


"Aw," pekik David ketika hidungnya berdarah. Akibat Nona melayangkan satu tinju di wajahnya.


Dua teman David mendekati David dan memapahnya ke ruang UKS,


"Wah, kau memang gawat Nona," lirih Belinda ketakutan.


"Iya, bagaimana kalau sampai di hukum nanti sama kepala sekolah!" Imbuh Alice juga khawatir.

__ADS_1


"Sudah tenang saja, aku bisa atasi itu!" Sambung Nona meyakinkan dua temannya.


"Kamu sih vid, malah seenaknya saja goda wanita! Apa lagi dia tidak kita kenal," tegur Brandon pada sahabatnya itu.


"Aku tak menyangka dia bisa seperti itu, aku kira dia wanita lembut! Ternyata gadis bar-bar itu sangat menakutkan," dalih devid memegang hidungnya.


Jam mata pelajaran pun di mulai, kelas pertama adalah pelajaran IPA, Pak Reno mengisi mapel dengan begitu tegas dan penjelasannya sangat mudah di mengerti.


Nona menjadi murid yang paling di kagumi pak Reno karena nona mampu menjawab semua pertanyaan sulit dari pak Reno dengan baik.


"Kau gadis pintar," puji pak Reno mengacungkan jempolnya.


"gadis pintar sekaligus gadis bar-bar," sindir Brandon mencebik.


David setelah lukanya di obati ia langsung pulang.


"Kenapa kau malah menghinanya?" tanya pak Reno dengan tatapan tajam.


"Tentu, karena tadi gadis bar-bar itu malah meninju teman saya pak!" Ungkap Brandon lelaki tampan tetapi hanyalah seorang anak tukang parkir di kota haines city itu.


Nona mengepalkan tangannya, ia tak terima tetapi nona berusaha menahan emosinya.


"Awas kau nanti, kau hanyalah bodyguard dari lelaki cupu itu!" Gumam winona dalam hatinya.


setelah jam pulang tiba,


Winona kemudian keluar dari are sekolah, ia menunggu supirnya di depan pagar sekolah.


Winona berpapasan dengan Brandon di depan pagar,


Lalu winona melirik tas Brandon ia merebutnya dan membuang ke tempat sampah.


"Awas saja kau gadis bar-bar, aku akan membalasnya!" Brandon kesal, ia lalu mengambil tas yang nona buang.


Kalau tas itu tak di ambilnya, maka Brandon tak akan punya tas lagi.


Brandon lalu jalan kaki meninggalkan Winona seorang diri.


Winona menunggu sang supir ayah tirinya di depan pagar sekolah,


"loh, kamu belum juga pulang Winona?" tanya alice menepuk bahu sahabatnya itu.


"Belum, ini aaron belum juga datang!" kata Winona duduk di bangku panjang yang berada di pinggir jalan.


"Sorry ya, aku tidak bisa menunggu kamu di sini! itu supirku sudah menjemput," kata alice lalu melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.


Belinda sudah pulang dan dijemput supirnya, sedangkan Winona setengah jam menunggu kedatangan Aaron dengan mondar-mandir di depan pagar sekolah.


saat ini Aaron berada di tengah jalan, karena ban mobilnya kempes.


"wah gawat ini, bisa lama Nona menunggu Kalau begini! Tuan Edward pasti marah besar," lalu Aaron berinisiatif menelepon majikannya itu.


"Hallo, ada apa?" tanya Edward menerima panggilan telepon itu.


"begini tuan, ban mobilnya kempes di tengah jalan dan saya belum juga menjemput nona Winona! bagaimana ini Tuan?" tanya Aaron bingung.


"Ya sudah kamu cepat hubungi Winona agar ia tidak menunggumu katakan saja dia pulang naik taksi," tegas Edward memberi jalan keluar.

__ADS_1


"Oh, baiklah kalau begitu Tuan. biar saya telepon Nona dulu!" kata Aaron.


lalu sambungan telepon itu terputus.


Aaron lalu menghubungi Winona tak lama sambungan pun terhubung dengan winona.


"hallo Nona, Maaf saya tidak bisa menjemput Nona! karena mobil bannya kempes di tengah jalan. sebaiknya Nona naik taksi saja!"


"baiklah saya akan pulang naik taksi," kata winona lalu menutup sambungan teleponnya.


Winona menghentikan taksi yang lewat di depannya, lalu ia masuk ke dalam taksi.


Taksi itu melaju dengan pelan,


selang 20 menit, Winona tiba di depan pagar rumah mewah Ayah tirinya.


"Ini Pak." Winona menyodorkan uang pada supir taksi itu.


"Terima kasih nona," kata supir taksi itu tersenyum.


lalu Winona turun dari mobil taksi, ia masuk ke dalam rumah dengan wajah kesalnya.


Winona melempar tasnya di sofa,


Iya duduk di sofa ruang tamu menghela nafas lelah.


"Anak momy Kenapa kok mukanya ditekuk begitu?" tanya Rosalie duduk di samping anaknya.


"Tidak mom, Nona hanya lelah saja! tadi menunggu lama Aaron tetapi tak kunjung datang juga. malah dia telepon Kalau mobil bannya kempes!"


"Itu kan kejadian yang tak terduga Sayang, jangan salahkan Aaron akan hal itu! kamu harus bisa memahami keadaannya," nasehat Rosalie mengusap punggung putrinya. sedangkan di dalam kamar Arthur sangat kegirangan karena ia bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


"Winona, Momy ... Aku sudah bisa jalan lagi!" Pekik Arthur menuruni tangga.


Winona dan rosalie senang dengan kesembuhan Arthur, lalu mereka berpelukan bertiga saking bahagianya.


"Wah, akhirnya kakak sembuh juga! Hem kita bisa jalan-jalan nih!" tukas Nona melepaskan pelukannya.


Arthur malah menyayangkan pelukan nona yang terlepas, karena ia candu dengan bulat-bulat kenyal milik adik tirinya itu.


"Baiklah kalau begitu kakak akan bawa kamu ke tempat yang bagus! Ayo cepat sana mandi!" Ucap Arthur pada winona adik tirinya.


"Baiklah lagi pula nona kesal dan suntuk jika di rumah," timpal nona beranjak ke lantai atas.


Arthur menunggu lama winona di sofa, ia sambil menyeruput kopi buatan ibu tirinya.


"Nona mana sih kok lama banget," gerutu Arthur sambil memainkan ponselnya.


Tak lama pintu di buka dari luar, Edward masuk ke dalam rumah ia melonggarkan dasinya.


"Arthur," pekik Edward terkejut melihat kaki Arthur yang sudah sembuh total.


"Daddy, Aku sudah sembuh," ucapnya lalu memeluk Edward.


"Wah, ini sungguh luar biasa di luar dugaan kamu akhirnya bisa secepatnya sembuh," imbuh Edward tak menyangka.


"Iya," ini karena Arthur yang memang berusaha sembuh." Arthur kini melupakan jasa ibu sambungnya.

__ADS_1


"Ini juga berkat kegigihan Momymu dan juga adikmu yang telah telaten merawatmu," sambung Edward merasa sangat berterimakasih pada dua bidadarinya.


"Biarlah Daddy menganggap aku telah berubah, aku akan menghancurkan mereka secara pelan-pelan dari dalam! Jadi tak akan ada yang mencurigaiku!" Gumam Arthur dengan senyum seringainya.


__ADS_2