Terjebak Gairah Cinta Abang Tiri

Terjebak Gairah Cinta Abang Tiri
pendekatan


__ADS_3

"Jangan biar Rosalie saja yang membelinya!" Cela Arthur yang Tak ingin orang lain lagi.


"Arthur yang sopan jika memanggil nama Ibu sambungmu, panggil dia Momy!" tegurnya tegas.


"Iya, Momy tolong belikan Aku martabak manis jangan lupa di kasih cabe 1," pinta Arthur yang begitu aneh.


"Yang benar saja kau Arthur, masak martabak manis di kasih cabe!" potong Edward memutar bola mata malas.


"Sudah jangan ribut lagi, biar aku beli apa yang dia inginkan,"


"Mungkin setelah dia kecelakaan itu, otaknya juga ikut geser Dad!" ejek winona yang merasa kesal ibunya di suruh bagai pembantu.


"Apah kamu bilang." Arthur melotot pada winona. Rosalie hanya menggelengkan kepalanya, ia melihat keluarganya saat ini lebih menyenangkan dengan interaksi di antara mereka.


Lalu dengan cepat Rosalie keluar dari ruangan itu mencari penjual martabak manis.


Saat Rosalie menginjakkan kakinya di halaman rumah sakit, tanpa di sengaja di depan pagar rumah sakit ada penjual martabak keliling. Rosalie mempercepat langkahnya ketika penjual itu hampir saja pergi dari tempat itu.


"Hei tunggu, Saya mau beli martabaknya!" teriak Rosalie sambil berlari mengejar penjual martabak keliling. Penjual martabak menoleh ke belakang, ia lalu membuatkan martabak pesanan Rosalie martabak manis di berikan cabe 1 buah.


"Ini Bu pesanannya," penjual itu memberikan dua kotak martabak. Rosalie setelah memberikan uang martabak itu, ia lalu dengan begitu senang kembali ke rumah sakit.


Rosalie dengan setengah berlari segera membawa pesanan putra sambungnya.


Ceklek!


"Ini martabaknya," ucap Rosalie memberikan satu kotak martabak manis pesanan Arthur dan juga memberikan satu kotak martabak telor kesukaan suaminya.


"Hem ... Terimakasih," ucap Arthur yang merasa di perhatikan. Awalnya ia hanya ingin menguji Rosalie apakah ia akan menerima meski di perlakukan layaknya pembantu.


Tetapi malah keinginannya memakan martabak manis dengan satu cabe terkabul oleh bantuan sang ibu sambung. Edward yang melihat raut wajah putranya yang terasa tak di buat-buat, ia sedikit tersenyum samar.

__ADS_1


"Semoga saja kedepannya Arthur akan semakin dekat dengan mereka," gumam Edward penuh harap.


Winona yang melihat Arthur tak bisa leluasa memakan martabaknya, ia mendekati Arthur lalu merebut kotak martabaknya dan mengambil sepotong martabak untuk ia suapkan pada sang kakak tiri.


"Mana mulutnya A ..." pinta Winona mendekatkan martabak ke mulut Arthur. Arthur menatap heran dengan tingkah gadis kecil yang beda usia 4 tahun itu, ia tahu bahwa winona juga keras kepala tetapi ia juga perhatian di balik sikap kerasnya itu.


"Ayo buka mulutnya," sentak Winona yang membuat Arthur terhenyak kaget.


"Maaf," ucap Arthur dan lalu membuka mulutnya lebar-lebar.


"Tidak usah selebar itu juga dong!" sindir Winona yang membuat Arthur kesal.


"Cepat niat bantu tidak sih!" Cela arthur cemberut.


"Iya ini," kata Winona menyuapi arthur dengan martabak.


"Hem ... Begitu dong kalau makan gitu kan jadinya lebih terlihat tampan," sela Winona yang lalu menutup mulutnya keceplosan.


"Apa kamu bilang, sekali lagi ayo ucap lagi!" pinta Arthur menggoda adik tirinya. Edward tersenyum menoleh pada sang istri, keduanya melihat anak-anak mereka yang mulai dekat malah membuat mereka begitu bahagia.


"Apa sih hanya cium kening doang!" protes Edward cemberut. Setelah 3 hari di rumah sakit itu, Arthur hari ini di perbolehkan pulang oleh dokter yang sudah memeriksanya. Meski kakinya belum bisa di gerakkan Arthur harus istirahat total di rumah Dangan memakai kursi roda.


"Ayo sayang," ucap Rosalie membantu Arthur duduk di kursi roda. Lalu dengan kuat Rosalie mendorong kursi roda keluar dari rumah sakit, saat ini winona tak dapat ikut ke rumah sakit menjemput kepulangan arthur sebab ia sedang mengikuti ujian akhir semester serta kelulusan Winona di sekolah menengah pertama itu.


"Mana gadis culun itu?" tanya Arthur mendongak menatap Rosalie.


"Oh winona sedang ada ujian akhir semester kelulusannya," sahutnya lembut. Aaron tersenyum melihat kedekatan arthur dan ibu tirinya. Aaron mengekor di belakang majikanya dengan menenteng tas berisi pakaian ganti Arthur.


"Jadi dia tahun ini lulus SMP!" tanyanya penasaran.


"Iya sayang, adikmu itu malah tidak mau ketika Momy menawarkan sekolah menengah atas di dekat kantor Daddymu. Ia lebih memilih fokus di bidang olah raga. Dan dia ingin menjadi atlet," ungkapnya.

__ADS_1


Arthur sedang berusaha mencerna keinginan Winona yang tak masuk akal itu, lalu Arthur mengirim pesan pada sang Daddy untuk mencegah Winona tak melanjutkan pendidikannya.


***


Tin ... Tin ...


Ponsel Edward berbunyi ada notif pesan masuk, lalu Edward mencoba membaca isi pesan dari putranya itu.


Lalu Edward manggut-manggut mengerti dengan kekhawatiran putranya itu pada sang adik tiri. Edward lalu membalas pesan Arthur dengan kata yang menyuruh Arthur untuk menasehati sendiri adik tirinya itu.


"Ah, Daddy memang tidak pernah bisa di andalkan!" gerutu Arthur meletakan kembali ponselnya.


"Memangnya kenapa dengan Daddymu?"


"Tidak ada apa-apa kok," elak Arthur yang tak ingin di ketahui sang ibu. Saat ini mereka tengah berada di perjalanan pulang, Aaron menawarkan Meraka untuk sekedar berhenti membeli minum di jalan.


"Nyonya, Tuan muda, apa sebaiknya kita berhenti minum dulu karena perjalanan Kita yang sedikit jauh," tukas Aaron kehausan.


"Hem ...sebaiknya Kamu tahan saja kehausanmu itu hingga di rumah, Saya tidak ingin membuat Arthur terlalu lama di perjalanan, nanti agar ia bisa segera istirahat." Rosalie tegas dengan kesehatan Arthur.


Selang beberapa waktu mobil sampai di depan pagar rumah mewah keluarga Peterson, Aaron mengklason penghuni rumah itu yang terlihat sepi, dari dalam mobil Rosalie berusaha memapah Arthur duduk di kursi roda.


Kondisi rumah saat ini sedang sepi, hanya ada bibi Jane yang sedang beres-beres rumahnya. Lalu setelah sampai di ruang tengah.


"Bi, bibi Jane cepat kesini?" teriaknya memanggil pembantu di rumah itu.


"Ada apa Nya!" Sahut Jane.


"Bantu Arthur masuk ke dalam kamarnya, mungkin dia ingin beristirahat." ungkapan Rosalie membuat Arthur sedikit melunak.


Lalu dengan lelahnya Rosalie mengusap wajahnya pasrah. lalu ia kembali terbayang dengan saat dirinya awal menikah dengan suaminya yang sekarang.

__ADS_1


"Edward memang laki-laki terbaik!" pujinya tersenyum geli. Setelah sampai di dalam kamar, Arthur memeriksa notif di ponselnya Dimana ada wanita yang rela di tidurinya hingga menunggu giliran dua bulan lamanya.


"Huft, pemainnya sedang K.O!" Desah gelisah arthur dengan kebiasaan buruk yang semakin membuatnya candu. Arthur yang tak terbiasa tiada hari tanpa bermain di ranjang, ia gelisah menahan nafsunya Yang memang selalu tinggi.


__ADS_2