
Mereka berdua saling bertumpu di dalam bathtup basah dan Arthur malah posisinya sangat menguntungkan ketika winona tanpa sengaja memegang pusaka miliknya.
"Aduh aku basah kan!" lirih Nona bangun dari bathtup
Winona yang tak menyadari telah menyentuh pusaka sang Abang tiri ia hanya diam saja berdiri dari bathtup menatap kesal sang akak yang telah menarik lengannya.
"Maaf kakak tidak sengaja, ini bagaimana Nona!" Arthur berpura-pura kesakitan padahal ia hanya ingin selalu di dekat Sang adik tiri.
"Hem ... Ya bagaimana kakak mau bangun apa tetap disitu!" ujar nona dengan suara meninggi.
"Jangan malah ngegas gitu dong suaranya, kakak kan lagi sakit kalau kakak Sehat juga tidak akan meminta bantuanmu!" Omel arthur tersulut emosinya.
"Iya-iya aku bantu kakak bangun," tukas nona mengalah.
Nona lalu menarik lengan Arthur, ia membantu Arthur duduk di kursi roda.
"Bagaimana apa kakak sudah bisa mandi sendiri?" tanya Winona sambil mencebik.
"Bisa, sudah sana pergi!" usir Arthur kesal.
Winona segera keluar dari kamar Arthur, ia langsung masuk ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Arthur.
"Huh, jadi basah kuyup kan!" Gerutu Nona masuk ke dalam kamar mandi. Ia lalu masuk ke walk in closetnya mengambil pakaian ganti. Setelah selesai memilah-milah Nona keluar lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Ini gara-gara abang ngeselin itu malah membuat aku basah begini," gerutu Nona sambil menghidupkan showernya.
Nona di guyur air shower ia menutup mata membayangkan kejadian yang baru saja di alaminya.
"Itu tadi apa yang aku pegang seperti kenyal-kenyal begitu," gumam Nona penasaran.
Padahal yang ia pegang adalah pusaka milik Arthur, yang tanpa sengaja di sentuhnya.
Nona menyelesaikan mandinya, ia lalu meraih kimononya dan kembali ke dalam kamarnya.
Saat Nona duduk di meja riasnya, ia sedang mengeringkan rambutnya tak lama ponsel yang ada di tempat tidur sedang berdering.
"Siapa sih berisik banget!" Ucap Nona beranjak meraih ponselnya.
"Hem, Belinda ada apa sih!"
Lalu nona menerima panggilan itu.
"Hallo Nona, Kamu kemana aja sih! dari tadi aku telfon tidak di angkat!" tukas Belinda nada suaranya sedikit mengeras.
"Woy, aku ini sedang sibuklah mengurusi bayi kecilku itu. Kalau bukan aku yang merawatnya siapa lagi!" uahr Nona suaranya sedikit lantang.
__ADS_1
Arthur yang mendengar ocehan bocah kecil itu di telfon ia tersulut emosinya,
"Awas saja nanti aku kerjain dia." Arthur menyusun rencana.
Nona selesai menelepon ia akan segera pergi mencari kesenangannya sendiri, kebetulan Winona sangat suka dengan olah raga badminton ia ingin ikut daftar di pelatihan atlet badminton.
Winona menuruni tangga tetapi langkahnya terhenti ketika ia di panggil secara tiba-tiba.
"Nona, ambilkan aku air putih!" pinta Arthur memelas.
"Iya," jawabnya lesu.
Winona menuruni tangga dengan langkah gontai, ia merasa lelah harus mengurus kakaknya yang saat ini tak bisa berjalan.
"Sayang, Kok sudah rapi-rapi begitu mau kemana?" tanya Rosalie sambil memasak makan malam.
Rosalie melihat Winona yang tak begitu bersemangat.
"Itu bang Arthur minta di ambilkan air putih," ucapnya lemas.
"Sudah biarkan ibu yang ambilkan sayang, nanti kamu malah di tunggu teman-temanmu." Rosalie mengerti akan keinginan Winona.
"Memangnya kamu ada janji dimana dengan teman-temanmu sayang!" tanya Edward mencium pipi istrinya. Edward sudah siap ingin olah raga sore.
"Nona janjian di Jacksonville badminton club' Daddy," sahutnya.
"Hem ... Jangan terlalu sering kau manja anak itu Edward nanti dia malah menyusahkan kita," tegur Rosalie yang tak ingin winona menjadi manja.
"Jangan begitu, mana ada winona manja selama aku mengenalnya dia adalah anak yang mandiri." Edward membela winona.
"Mana air minumnya," teriak Arthur di dalam kamar.
"Sudah biar Momy yang bawakan!" Ucap Rosalie membawa gelas air putih.
Winona dan Edward keluar dari rumah, Mereke segera masuk ke dalam mobil hendak ke tempat pelatihan atlet badminton.
"Kok lama sih hanya air putih doang lamanya bisa sampai ke jalan tol," gerutu Arthur pada Rosalie.
Rosalie hanya membalas ucapan sinis arthur dengan senyuman hangat, senyuman itu membuat Arthur melunak. Sebab sudah lama ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Maaf nak, Winona sedang ke tempat pelatihan badminton katanya. Jadi Momy yang bawakan air minumnya," jawab Rosalie dengan nada lembut penuh pengertian.
"Hem ... Dia sama siapa Bibi?" tanya Arthur entengnya. Tetapi panggilannya itu membuat Rosalie sedikit kecewa.
"Dia sama Daddynya, sebab ada janji dengan temannya!" Jelas rosalie meletakkan air itu di nakas dekat Arthur.
__ADS_1
"Teman, temannya laki-laki atau perempuan?" tanya Arthur mengangkat sebelah alisnya.
"Sayang jangan khawatir Nona tak akan bersama anak laki-laki, sebab dia tahu menjaga batasannya. Dia tidak pernah mengajak atau berdua dengan teman laki-laki. Pernah kemarin ada yang datang kerumah menanyakan winona tetapi winona menolak dan menyuruh Momy yang menemui pemuda itu." Rosalie menceritakan sikap sang anak pada putra sambungnya.
"Siapa laki-laki yang datang kesini itu bibi,"
Arthur semakin penasaran dengan lelaki yang mendekati adik tirinya.
"Hem, kata Winona itu seniornya di tempat sekolah yang baru dia kan baru saja daftar di
Chain of Lakes Collegiate high school." Rosalie duduk di sisi ranjang mencoba lebih akrab dengan anak sambungnya.
"Hem ... Jangan sembarangan mmberi ijin nona dengan pria, Momy juga belum paham dengan sikap pemuda jaman sekarang!" Ucap Arthur keceplosan.
"Kau bilang apa tadi, apa Momy tidak salah dengar?" tanya Rosalie meminta Arthur mengulang ucapannya.
"Hem, apa Momy tidak ingin aku menghormati dan menganggap sebagai ibu kandungku sendiri," ucap Arthur yang memang sudah menerima rosalie sebagai ibunya.
Entah apa yang ada di fikiran Arthur saat ini, sejak ia lebih dekat dengan winona sikapnya berubah 180°.
"Momy tentu senang sayang jika kamu sudah mau menerima Momy dan Winona sebagai bagian dari keluarga ini, semoga keluarga kita bahagia kedepannya. Momy serahkan adikmu denganmu jika kau sudah sembuh nanti kau harus jaga adikmu agar tak terjerumus ke pergaulan bebas. Karena Momy ingin masa depan adikmu nantinya lebih baik dari Momy yang tak bisa apa-apa, Momy menaruh harapan besar pada winona," harap Rosalie menunduk.
"Momy tenang saja, Arthur akan menjaga winona setelah Arthur sembuh," janji Arthur membuat Rosalie begitu senang dengan perubahan sikap anak sambungnya itu.
Sedangkan sore ini winona sedang belajar teknik menjadi seorang atlet badminton, ia bersama Belinda dan Alice bertiga di tempat pelatihan itu dengan sikap sriusnya winona bahkan tak memperdulikan sapaan siapapun.
Dari belakang winona seorang anak remaja seumuran dengannya sejak tadi menyala Winona tetapi ia tak di hiraukan oleh winona.
Belinda yang melihat anak remaja sejak tadi memanggil winona ia menebri kode pada lelaki untuk tetap diam. Lelaki itu mengerti dan berhenti menyapa winona.
Pelatihan secara singkat seleksi karena ini masih tahap awal pengenalan tentang badminton.
"Hai, boleh kenalan!" Sapa anak remaja yang bernama David.
"Boleh, tapi jangan suka dekat-dekat cukup kita kenal saja!" Kata Winona tegas.
Belinda dan Alice menggelengkan kepalanya sudah hafal dengan sikap sahabatnya itu.
"Baiklah, tak masalah namaku David!" Ucap David mengulurkan tangannya.
Winona menerima uluran tangan David,
"Winona," kata Nona yang langsung melepas tangannya.
Plak!
__ADS_1
tamparan keras mendarat di pipi Devid,