
Ini juga berkat kegigihan Mommy dan juga adikmu yang telah telaten merawat mu," sambung Edward merasa sangat berterimakasih pada dua bidadarinya.
"Biarlah Daddy menganggap aku telah berubah, aku akan menghancurkan mereka secara pelan-pelan dari dalam! Jadi tak akan ada yang mencurigai ku!" Gumam Arthur dengan senyum seringainya.
"Winona mana ya Dad, Aku ingin beritahu kabar kesembuhanku ini!" Arthur gusar, ia celingak-celinguk mencari keberadaan Winona.
"Loh, ya pasti ada di kamarnya! Sana ke kamarnya malah cari di sini." Edward menglengakan kepalanya.
Arthur dengan gesitnya menaiki tangga, ia lalu masuk begitu saja ke kamar Winona.
"Adik tercinta, lihat kakak!" Arthur tanpa permisi membuka pintu.
"Aaaaa ... Kakak keluar dulu!" Winona menyilangkan tangannya di dada.
"Sorry, Kakak tidak tahu!" Arthur langsung menutup kembali pintu kamar Winona.
"Ada apa sih kok teriak begitu Nona?" tanya Rosalie mendongak ke lantai atas.
"Sudah pasti dia kaget karena Arthur masuk ke kamarnya!" cetus Edward menepuk sofa di dekatnya.
"Sini duduk!" Edward mengedipkan sebelah matanya.
"Huh genit banget sih, Kamu juga sudah Tua Edward jangan bertingkah seperti bocah!" tegur Rosalie membenahi rambutnya yang berantakan.
Rosalie duduk di sofa berdekatan dengan suaminya.
"Alah, Kamu saja yang bilang aku sudah Tua sedangkan kamu sudah tua tapi sering minta nafkah batin!" Edward malah balik mencibir pada Rosalie.
Rosalie malu-malu, ia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Idih malu-malu tapi mau." Edward menempelkan tubuhnya.
"Sana ah jangan dekat-dekat!" Rosalie sedikit mendorong.
"Baiklah, oh iya besok lusa kita ke Paris! Aku ada meeting dengan klien di sana selama seminggu. Kamu harus ikut," tukasnya menyesap kopi hitam yang baru saja di buatkan sang istri.
"Tapi bagaimana dengan winona?" Rosalie khawatir dengan putrinya.
"Jangan khawatir, biar Arthur yang menjaganya selama kita tidak di rumah." Edward memeluk sang istri ia berusaha merayu rosalie.
Sebenarnya bukan hanya pekerjaan yang di fikirkan Edward di Paris, melainkan rencana bulan madunya yang tertunda sejak menikah Dangan rosalie.
"Baiklah akan aku bicarakan dengan winona dan juga Arthur." Rosalie menghela nafas pasrah.
Arthur sedang menunggu winona selesai memakai bajunya.
Ceklek!
"Masuk!" Nona beersikap cuek.
"Hem ... Kamu tadi kok tidak memakai bajumu?" Arthur bertanya sekaligus duduk di sisi ranjang mengedarkan pandangannya menatap lekat kamar winona.
"Itu kan tadi Aku baru selesai mandi, kakak masuk tiba-tiba ya aku kaget dong!" Winona duduk di kursi meja belajarnya.
Nona menyalakan lampu belajarnya, ia lalu membuka sebuah buku mapel di sekolahnya.
__ADS_1
"Kamu mau belajar?" Arthur menghampiri winona.
"Iya," ucapnya tegas.
"Hem ... Kamu tidak senang ya dengan kesembuhan kakak?" tanyanya sedih.
"Kesembuhan, sembuh dalam hal apa?" Winona bertanya heran ia lalu memutar kursi menghadap kakak tirinya.
Arthur menghentakkan sepatunya, ia juga melirik ke bawah.
Nona mengikuti lirikan Arthur,
"Apah, kaki kakak sudah sembuh total?" tanyanya kaget.
"Iya, dan ini berkat doa kalian, dan juga kamu dan Momy yang telaten merawat kakak!" Arthur ada sedikit bahagia tetapi juga terselip rasa tak menerima.
"Syukurlah kak," rona bahagia di wajah winona.
Mereka lalu berpelukan, ada rasa sesak yang di rasakan Arthur.
"Kenyalnya," gumam Arthur dalam hatinya.
Tak lama suara rosalie nyaring memanggil keduanya.
"Arthur, winona cepat ke sini sebentar!" teriak Rosalie sambil berpelukan dengan sang suami.
Setelah ia melihat Arthur dan winona menuruni tangga keduanya bersikap seolah sedang duduk santai.
"Ada apa Momy?" tanya keduanya secara bersamaan.
Winona duduk di dekat Momy sedangkan Arthur sedikit menjauh.
"Begini, besok Daddy ada meeting dengan klien di Paris! Jadi kalian yang akur ya di rumah selama seminggu. Soalnya Daddy dan Momy ke Prancis!" terang Edward menatap tajam pada Arthur dan winona.
"Oke siap Dad, Aku akan menjaga winona dengan baik. Dan Momy jangan khawatir! Winona akan baik-baik saja." Arthur meyakinkan kedua orang tuanya.
Arthur telah menyusun rencana, ia tersenyum menyeringai.
"Ada kesempatan nih!" Katanya membatin.
"Iya Dad, Mom! nona bisa jaga diri itu meski tanpa pengawasan kak Arthur." Winona memeluk Momynya.
"Iya Momy paham, Momy percaya kamu bisa menjaga diri. Oh iya kalian jangan sampai bertengkar ya!" peringatnya menatap pada Arthur.
Kali ini Rosalie tegas, ia mau tak mau harus rela melepaskan pengawasannya.
Lama mereka berbicara di ruang tengah,
"Kalau gitu Arthur ke kamar dulu ya, masih mau mengerjakan tugas kuliah!" Ia lalu berdiri dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.
"Itu kenapa jadi rajin begitu," nona berfikir keras.
"Winona juga mau ke kamar Dad, Mom! Capek." Winona meregangkan ototnya.
"Iya sudah kamu istirahat saja." Edward melambaikan tangannya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar.
"Huh, kenapa badan terasa pegal semua ya!" Winona berusaha memijit sendiri lengan dan bahunya.
"Sini kakak pijit, pijitan kakak enak lho!" celetuk Arthur masuk ke dalam kamar.
"Kakak mengagetkan saja, oke sini pijit Nona!"
Winona duduk di ranjangnya, ia membelakangi arthur.
"Hem ... Dimana yang terasa sakit?" Arthur duduk di belakang winona ia sedikit lebih menempelkan duduknya. Satu kaki kanan selonjoran dan satu kaki kiri di tekuk.
"Ini kak di bahu pokoknya semuanya pegel."
Winona sedikit membungkukkan badannya.
"Baiklah kamu tahan ya, kalau ada yang sangat sakut katakan pada kakak!" Arthur seolah mengerti dengan ilmu dasar pijitan.
Mula-mula Arthur memijit kedua bahu winona, lama di bahu ia lalu turun ke punggung.
Arthur dengan sedikit menekan mengurut di bagian punggung ke pinggang.
"Wah enak banget itu kak, jadi lebih enteng tidak sakit lagi!" Winona memuji kehebatan pijitan Arthur.
Lalu Arthur memijit pinggang winona sedikit menyentuh bagian perut bawah.
"Kakak jangan terlalu ke bawah nanti malah terkena sesuatu lagi!" Nona memperingati Arthur.
"Eh iya kakak lupa! Maaf ya." Arthur hanya pura-pura meminta maaf.
Kemudian Arthur memijit punggung di dekat ketiak winona, ia kembali *******-***** bagian punggung itu.
Lalu sedikit menjalar ke bagian depan.
Winona tak menyadari ia hanya diam saja menerima pijitan itu.
Arthur sedikit mengambil kesempatan dengan mencuri satu pijitan tiba-tiba di buah melon kembar winona.
"Ah jangan di situ kak, sakit kak!" rintih winona melepaskan tangan Arthur dari buah melonnnya.
"Maaf, kalau itu di pijit nanti pernafasan kamu lancar. Kamu tidak akan merasa sesak lagi!" Arthur mencoba mencari alasan.
"Benarkah?" tanya winona polosnya.
"Iya benar," Arthur meyakinkan.
"Baiklah coba di pijit, Nona juga sering sesak nafas." pintanya lugu.
Arthur tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia dengan cepat memijit dua bagian itu. Dengan remasan yang sedikit menekan Arthur mencoba meresapi pijitan itu.
"Pelan kak sakit," rintih winona.
Ceklek!
Pintu di buka dari luar ...
__ADS_1