
"Kapan nikah?"
Adalah pertanyaan yang paling dihindari oleh umat jomblo, tak hanya Indonesia tapi juga Dunia. Pertanyaan ini membuat reaksi yang bermacam-macam, pura-pura tertawa, baper, pura-pura mati, dan banyak lainnya untuk mengalihkan perhatian.
PERNIKAHAN, siapa yang tidak menginginkannya? Kesempatan untuk diperhatikan seumur hidup, dicintai dan memasuki dunia dewasa tanpa harus mencari hotel atau takut digrebek warga. Semua orang menginginkannya. TAPI!
Pernikahan bagaikan sebuah mimpi yang tak tahu kapan terwujudnya. Orang yang berjuang keras mengejar gadis yang dicintainya, pada akhirnya tidak bisa menikahinya. Pasangan yang sudah berjanji akan bersama sehidup semati, berakhir oleh perceraian. Kenyataan menghancurkan pernikahan sehingga banyak yang memilih menundanya sampai yakin bahwa dirinya siap untuk menikah. Tak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan menikah, begitulah pernikahan berjalan sejak dulu. Tapi sekarang......
"Pak Stevan, kapan nikah? Kalo gak di penjara lho!" Teddy menanyakan itu lagi di tempat duduk yang biasa, meja kantor yang biasa, suasana pagi ruang kantor yang tidak terang maupun gelap dipenuhi kertas tempel dan berkas-berkas berdebu seperti biasa, serta berdua saja seperti biasa.
Namaku Stevan, 24 tahun. Pria tinggi 185 cm, berat ideal dengan rambut hitam dan kulit kuning langsat yang bersih. Walaupun tidak besar, aku punya otot yang kuat dan punggung yang bidang, karena tuntutan pekerjaan aku harus selalu sehat dengan makan teratur dan olahraga yang cukup.
Dan Teddy adalah asisten terpercayaku. Umurnya 30 tahun, dengan tinggi 160 cm dan berat 90 kg. Tak sepertiku, tubuhnya gendut, rambutnya ikal dan matanya minus 2. Dia jarang menjaga makan walaupun sudah sering ku peringatkan. Pekerjaannya yang selalu menghadap ke komputer itu membuatnya malas untuk menjaga kesehatannya sendiri.
Bersama kami bekerja untuk Kepolisian, kami adalah Polisi Intelegensi yang bekerja sebagai pengumpul informasi kejahatan seperti *******, narkoba, dan sebagainya. Walau kelihatannya kami sering bertengkar seperti anak kecil, kami adalah partner kerja terbaik dibandingkan semua informan. Namun keberadaan kami cukup terkenal di kalangan polisi dan penjahat, oleh karena itu kami bekerja dari balik layar dan membangun kantor pribadi atas izin atasan kami.
"Teedddyyy?!!!" Bentakku dengan mata melotot tajam padanya.
"EITS!! Sekarang kamu gak bisa marah sama aku, Stevan! Kamu harus cepat-cepat nikah sebelum hari Ultahmu datang. Atau kamu mau ikut program Nikah Acak aja?"
"GIMANA MAU CEPET NIKAH KALO KAMU YANG NYARI CALON AJA GAK BENER, TEDDYYYY!!??" Dengan gemas, aku memijat punggungnya dengan sangat keras sampai ia kesakitan meminta tolong.
2 Minggu sebelumnya, Pemerintah membuat pengumuman Peraturan baru yang cukup membuat warga Indonesia tercengang, yang berbunyi "Setiap warga diwajibkan untuk menikah dalam rentang kurun waktu17 tahun sampai 25 tahun terhitung dari tanggal kelahirannya. Bagi yang tidak menikah tepat dalam kurun waktu yang diberikan akan mengikuti Pernikahan Acak. Bagi yang melanggar dan tidak mengikuti Pernikahan Acak akan dikenal hukuman penjara 1 bulan dan denda 10 juta rupiah" .
Keputusan ini diturunkan mengingat banyak terjadinya kasus Married By Accident (Hamil di luar nikah) oleh anak-anak perempuan dibawah 17 tahun, kasus aborsi yang meningkat tajam dan anak remaja yang meninggal karena keguguran membuat angka kematian meningkat.
Selain itu Pemerintah berbaik hati memberikan jasa pada siapa saja yang tidak memiliki calon untuk menikah sehingga bisa mengikuti program Pernikahan Acak. Siapa pun yang mengikuti program itu akan dipertemukan dengan berbagai lawan jenis yang terdaftar status belum kawin. Dari 10 lawan jenis pilihannya, harus ada satu yang setuju menikah dengannya sehingga akad dan resepsi bisa dilangsungkan sebelum jatuh tempo. Tapi apakah pernikahan dengan cara seperti itu bisa terus dipertahankan?
Aku tak ingin terlibat dengan pernikahan terpaksa seperti itu. Aku akan menikah dengan gadis yang benar-benar ku cintai, begitulah pikirku. Namun tak semudah yang dibayangkan.
"ITU BUKAN SALAHKU, STEVAN!! KAMU AJA YANG TERLALU PILIH-PILIH." Teddy membela diri.
"PILIH-PILIH GIMANA? SEMUA CALON YANG KAMU CARIKAN SELALU CEWEK YANG TUKANG PAMER!! BARU KETEMU UDAH MINTA FOTO SAMPAI 20 KALI TERUS DIPOSTING KE SOSMED! BAHKAN ADA YANG SUKA NEMPEL-NEMPEL DADA MEREKA SENDIRI!" Mengingat itu semua aku jadi kesal. Teddy mengenalkanku pada banyak gadis pilihannya tapi semuanya adalah gadis yang aneh-aneh.
Dari 92 gadis yang ku dekati, 59 yang bisa ku kencani tapi semuanya gagal membuatku jatuh cinta dan malah membuatku ilfil. Teddy juga harus kerepotan menghapus fotoku di sosmed, biarlah itu salahnya!
"Kalau gitu, kurangi pilihan tipemu!"
"GAK! PILIHANKU MASIH SAMA! GAK SUKA PAMER, KALEM, PINTAR MASAK, MANDIRI, MISTERIUS, SUKA MAKANAN SEHAT, DAN YANG PALING PENTING, CANTIIIK DAN IMUT!!!"
"SUDAH KU BILANG CEWEK PERFECT KAYAK GITU SUSAH NYARINYA!! Begini ya, Stevan! Kalau kamu terlalu pilih-pilih begitu aku jamin kamu gak bakal bisa nikah. Lagian apaan lagi cewek misterius? Cewek misterius gak mungkin nunjukin diri mereka di sosmed, akunnya pasti fake. Susah nyari tahunya! Belum lagi kalo dia burik!"
Teddy, kamu harus minta maaf sama seluruh cewek burik misterius di dunia ini.
"Habisnya karena pekerjaan kita, aku harus selalu tersembunyi. Jadi cewek misterius cocok buat nyembunyiiin identitasku."
Teddy mengambil nafas panjang. Tatapan matanya menjadi sendu seperti orang tua yang menyerah dengan kelakukan nakal anaknya.
"Ya aku paham, Stevan. Tapi gak harus dengan cewek misterius juga. Istriku saja bukan cewek misterius tapi masih bisa jaga rahasia pekerjaanku. Kamu cuma perlu nyari cewek yang siap jaga rahasia kamu aja."
Aku menurunkan pandanganku. Cemas dan putus asa begitu melekat di hatiku saat Teddy menasehatiku seperti itu. Walaupun Teddy kadang suka bikin masalah tapi dia lebih berpengalaman dariku. Aku menatap jendela kantor kami, cuacanya sangat cerah dan banyak kendaraan lalu lalang.
"Kamu pikir gampang? Tak peduli apapun yang aku lakukan aku selalu menarik perhatian banyak orang. Ya sih seperti yang kamu dan orang-orang bilang aku terlalu tampan tapi justru itu malah membuatku sulit cari pasangan yang cocok."
"Stevan, kalau kamu di depan cowok burik jangan pernah ngomong itu tadi! Tapi karena kamu partner kerjaku dan bosku aku maafkan kamu!" Ujar Teddy sayangnya aku tidak tahu dia serius atau bercanda.
Aku melamunkan diriku yang kesulitan cari jodoh sampai tak bisa menanggapi ucapan Teddy. Waktuku mencari jodoh hanya tinggal 2 bulan dari sekarang, begitu dekat pula bayangan jeruji besi yang nanti akan jadi teman tidurku.
Kenapa Polisi harus di penjara? Ditambah lagi cuma gara-gara jomblo. Bukannya hukuman itu terlalu kejam? Apa karena banyak kasus tindakan asusila kalian harus menyiksa jomblo pencari cinta sejati sampai seperti ini?, Begitulah yang ku pikirkan.
"Stevan, jangan berpikiran yang mendramatisir!" Ucapan Teddy menghancurkan lamunanku. Hmmfftt.. aku benci Teddy yang selalu membaca pikiranku.
"Berhenti meledekku! Beri tahu ada apa hari ini! Dan juga ini adalah jam kerja jadi panggil aku Bos!!" Aku memukul-mukul pelan pundak Teddy yang besar seporos dengan badannya yang berisi.
"Iya bos, tapi memangnya bos tidak membaca pesanku hari ini?" tanya Teddy bingung sambil memiringkan badannya. Tanganku berhenti memukulinya.
"Aku sengaja tidak membukanya, karena kamu pasti mengejekku seperti tadi pagi."
"Ya ampun bos, aku tidak mungkin mengirim pesan spam setiap hari kan? Karena bos baru saja pulang kemarin, bos besar meminta bos untuk istirahat sampai pemberitahuan selanjutnya." kata Teddy.
"Istirahat ya? Hmmm.. kalau gitu Teddy temani aku!"
__ADS_1
"Wah tidak bisa bos, aku masih harus menyelesaikan beberapa berkas." Teddy menunjukkan tumpukan berkas di sudut mejanya.
"Lalu bagaimana? Aku terlalu lelah untuk ke gym hari ini. Aku bingung harus ngapain?"
"Bagaimana kalau belikan aku komik Mataku Mata Cintaimu ?"
"Kenapa malah menyuruhku?! Kamu menantang bosmu ya, hah?" Kataku dengan mata mengancam dan memijat keras pundak Teddy. Ia meronta-ronta kegelian.
"Bukannya bos bilang bingung mau ngapain?" Ucapnya sambil menghentikan pijatan tanganku.
"Bukan berarti kamu bisa seenaknya nyuruh bosmu beliin sesuatu, Teddy gendut!!!" Aku mencubit lengan atas Teddy yang penuh dengan lemak itu. Teddy berusaha menyingkirkan tanganku.
"Sorry bos! Bos boleh baca komiknya sambil ngopi di Cafe. Kebetulan kopi kesukaan bos lagi promo. "
Mendengar kata promo aku langsung berhenti mengerjai Teddy. Ingatan akan Kopi Capuccino Special dengan Brownis Coklat membekas di lidahku. Perutku juga mulai bergemuruh. Kali ini tak apalah aku memanjakan lidahku sebentar.
"Okelah!" Aku mengambil jaket coklat yang biasa ku pakai dan mulai pergi ke toko buku yang ditunjuk Teddy. Aku keluar dari rumah berlantai 2 yang kami sebut kantor itu dan mulai menyalakan mobil silver kapasitas 4 orang andalanku.
Tak sampai 5 menit, aku sampai di Toko buku. Aku tak melihat banyak kendaraan di parkiran, sepertinya aku bisa cepat langsung ke Cafe. Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke toko buku walaupun aku kadang suka membaca buku. Jika ada buku yang ingin ku baca aku lebih memilih memesan daripada membeli sendiri. Aku juga hanya pergi keluar kalau Teddy menyarankan sesuatu, selain itu yang ku lakukan hanya membaca buku dan pergi ke gym.
Aku telah sampai di bagian Komik. Satu persatu sampul buku ku baca. Dulu aku pernah membaca komik, tapi saat dewasa aku memilih membaca buku biasa.
Teddy sudah menikah pun dia masih suka membaca komik, memangnya seberapa menariknya komik itu. Akhirnya buku yang diminta Teddy ketemu. Mataku Mata Cintaimu, sepertinya komik romantis. Aku membuka komik yang tidak tersegel plastik. Baru ku buka halaman pertama, SHUT! Cepat-cepat ku tutup.
Teddy kurang ajar, bisa-bisanya dia menyuruhku membaca buku laknat begini!!! Awas ya kalo pulang nanti. Aku membawa buku komik yang tersegel dan langsung membayarnya di kasir. Pegawai kasir mulai menscan barcode buku itu.
"Mau di plastik atau---"
"PLASTIK! DISEGEL!" Ucapku terdengar ngegas.
"Baik mas, mohon ditunggu ya." Aku hanya mengangguk. Baru kali ini ada yang memanggilku mas, biasanya dipanggil pak atau bos oleh Teddy. Selagi ia mengemas bukunya, ia selalu melirikku diam-diam. Perasanku tidak enak.
"Sudah baca buku Mataku Mata Cintaimu sampai mana, mas?"
Mbak kasir itu mengira aku yang membaca buku itu. Untung saja tidak ada yang antri di belakangku, bisa-bisa aku mati karena malu.
"Oh ini bukan buatku, temanku yang memintaku membelinya."
"Tidak apa-apa, mbak." Jawabku nyengir.
"Saya sangat suka dengan komik ini, jadi tadinya saya ingin jadi teman sesama pecinta komik." Katanya dengan gembira.
Mbak apa kamu ngumumin komik vulgar kesukaanmu ke semua pengunjung? Kamu punya malu gak sih mbak?
"Komik ini sangat bagus. Walaupun ceritanya agak vulgar tapi ceritanya menarik...." Lanjutnya.
Baru saja bilang vulgar kan? Walaupun menarik tapi kamu bilang vulgar kan? Jadi kamu gak masalah dibilang baca komik dewasa ke pelangganmu? Apa karena kamu berusaha cari perhatian denganku? Percayalah mbak, itu tidak membantu sama sekali.
"..... Dan juga orang-orang banyak membacanya karena dianggap konspirasi."
"Konspirasi?" tanyaku menjadi tertarik mendengarnya.
"Iya, banyak yang bilang komik ini bisa meramalkan masa depan. Yang paling populer saat ini adalah peraturan menikah 25 tahun ini, walaupun di komiknya tidak menyebutkan rentang umurnya." Aku semakin tertarik mendengar kelanjutannya.
"Ada banyak adegan komik ini yang menjadi kenyataan makanya fansnya berusaha membuat banyak teori mana yang akan jadi kenyataan."
"Tapi bisa saja kan kalau itu kebetulan saja? Pemerintah sudah membuat rencana peraturan menikah sejak lama, bisa jadi dia menggunakan itu untuk ide ceritanya dan tidak menyangka akan benar-benar diterapkan." tanyaku ikut serta dalam pembicaraan ini. Mbak itu menyipitkan matanya, memiringkan wajahnya sambil menyeringai. Apa-apaan muka sombong itu.
"Itulah yang dikatakan oleh netizen sekarang. TAPI!!..." Ia tiba-tiba menaikkan suaranya, membuatku terkejut.
".... Bukan kebetulan jika dari semua bab yang rilis 60% terjadi di dunia nyata. Sayangnya saya tidak bisa spoiler satu-satu karena spoiler bukan jalanku."
"Tapi kamu baru saja spoiler tentang peraturan menikah 25 tahun. Anu.... Apa bukunya sudah selesai?" Aku tidak mau dia berkoar-koar menyebar spoiler seperti itu dan juga aku tak peduli. Tapi walaupun seperti itu, dia tidak berniat menggodaku dan benar-benar ingin berteman denganku. Coba aja kalau dia kalem, mungkin aku bisa suka padanya.
Tak ingin berlama-lama, aku melesat menuju Cafe langganan kami, Ultimate Cafe. Walaupun langganan, karena pekerjaan aku jarang sekali minum di Cafe, apalagi sendirian. Cafe ini memang tidak terlalu besar tapi kopinya diracik sendiri dan dibuat dengan baik.
Biasanya aku selalu duduk di luar tapi entah mengapa hari ini aku ingin duduk di dalam saja. Aku memesan seperti biasa dan duduk di kursi tengah yang bersebelahan dengan jalan menuju Restroom. Khusus kursi ini terdapat bilik setinggi 1 meter yang dibuat dari kayu anyam yang elegan dan artistik. Minum sendirian rasanya sunyi sekali. Tahu begini harusnya ku bawa buku novelku sendiri daripada harus membaca komik vulgarnya Teddy.
Aku terus terngiang-ngiang oleh kata-kata kasir tadi. Komik yang bisa meramalkan masa depan, untuk sesaat seperti kebohongan belaka. Tapi entah mengapa aku malah semakin penasaran. Adegan vulgar yang ku lihat tadi seakan menghilang dari ingatanku setelah ku tahu makna sebenarnya dari buku komik ini. Apakah Teddy tahu konspirasi buku ini? Apa karena dia tahu makanya dia membaca komik ini?
Cafe ini sepi sekali, mungkin karena masih pagi. Yang bisa ku lihat cuma pelayan Cafe cowok dan dua pelanggan kakek dan nenek sedang asyik mengobrol. Aku bisa melihat mereka tertawa bahagia satu sama lain, membuatku iri.
__ADS_1
Tapi sejujurnya aku sendiri tak peduli memiliki pasangan atau tidak. Selama aku bisa melakukan apa saja sendiri aku tidak butuh pasangan. Tapi saat ini, seolah-olah aku dipaksa oleh takdir. "Menikah atau Hancur!" Seperti itulah mungkin pilihan yang takdir tunjukkan padaku. Tanpa sadar punggungku telah bersandar di kursi sambil memandangi pejalan kaki yang tampak bahagia bersama pasangan di sampingnya.
Saat aku menyeruput, seorang gadis memakai hoodie bertudung menutupi sebagian besar kepalanya serta memakai kacamata bulat besar memasuki Cafe, namun ia tidak langsung memesan tetapi berjalan masuk dengan wajah menunduk. Ia menghampiri tempat ku, dan semakin terkejut saat melihatku.
"A..a..anu.. apa..a..ada yang menempati kursi ini?" tanyanya terbata-bata.
"Hanya aku yang menempati tempat ini."
"K..k..kalau begitu bolehkah saya duduk disini, hanya sampai teman ku datang." ucapnya dengan suara sedikit gemetar. Aku membiarkannya duduk di depanku. Wajahnya tertutupi oleh kacamatanya yang besar dan hoodienya juga.
Kenapa aku bisa ditemani oleh cewek udik ini?? Apakah jiwa kesepianku menyebar sampai mengundang gadis ini untuk duduk disini? Hmm... Sudahlah.. setidaknya dia bisa menemaniku walau sebentar....
... Atau tidak. Sudah 5 menit berlalu, tapi temannya tidak datang juga. Gak cuma itu, selama 5 menit, dia tidak memesan apapun. Dia bilang ke pelayan yang lewat untuk menunggu pesanan sampai temannya datang. Dia juga gak ngomong apa-apa sama aku, bahkan melihatku pun juga tidak. Dia menunduk terus sepanjang waktu. Ini bukan kalem tapi lebih ke penakut.
Apa sih yang kamu lihat? Celanamu bolong? Apa kamu lupa sikat gigi sampai gak bisa ngomong apa-apa? Tapi barusan dia bisa ngomong, terus kenapa diam-diam saja? Apa kamu gak merasa ingin menghindari kecanggungan ini?
"Anu--" Dia terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka aku bakal bicara sama dia.
"Apa teman mu belum sampai?" Dia menggelengkan kepala. Suasana menjadi canggung lagi.
"Kamu tinggal dekat sini?" Dia mengangguk. Dia mengingatkanku dengan mainan anjing kepala pegas yang bisa mengangguk dan menggeleng. Entah kenapa aku malah jadi semakin menjahilinya.
"Kamu anak SMA?" Dia menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu sudah kerja?" Dia mengangguk. Imutnya... Tidak masalah dia udik, aku ingin membawanya pulang untuk pajangan kantor.
"Maaf aku--" Seorang gadis sepantaran dengannya dengan postur tinggi dan baju cukup fashionable menghampiri meja kami. Kelihatannya dia terkejut karena kehadiranku.
"Oh maaf, kakak siapa ya?" Tanya gadis itu.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya salah satu pelanggan disini." Jawabku. Gadis udik itu membisiki temannya.
"Ooh.. kalau begitu kenapa tidak mengusirnya dari tadi?" Ujar temannya.
HAAAH?? MENGUSIR? MAKSUDNYA AKU?!! Si udik itu panik ketika melihatku. Sepertinya dia tahu aku tersinggung. Jadi dia sedari tadi menunggu disini karena gak berani mengusirku lalu menunggu temannya yang mengusirku. Muka polos begitu ternyata pikirannya ngeri juga.
"Anu.. maaf kak, apakah kakak masih disini? Karena kursi ini mau dipakai." Ucap temannya.
"Kenapa tidak pakai kursi lain? Banyak kursi kosong disini."
"Kami selalu disini setiap hari, dan bisa dibilang kursi ini sudah jadi tempat tetap kami."
"Tapi ini kan Cafe umum, bukan Cafe milik kalian kan? Jadi aku berhak duduk disini kan?"
Gadis udik itu terus-menerus menarik-narik baju temannya, untuk menghentikannya. Tapi temannya tetap berusaha memintaku pindah.
"Ya sudah, kalian boleh pakai kursinya. Aku sudah cukup lama disini. Jadi silahkan pakai saja." Aku beranjak dari kursi. Wajah mereka kelihatan merasa bersalah.
"Anu.. kak. Kami tidak bermaksud mengusir. Maafkan kami." ujar temannya membantu meminta maaf.
"Iya aku tahu. Aku tidak marah kok. Kalian pakai saja kursinya." Aku berjalan menuju kasir di saat mereka terus-menerus berterima kasih padaku.
Dari meja kasir, aku melihat mereka di kursinya. Aku mengintip dari lubang bilik di kursi itu. Gadis udik mengangkat wajahnya dan melepas tudungnya saat berbicara dengan temannya. Mataku terbelalak melihat wajahnya. Sekilas dia hanya cewek udik yang gak tau fashion sama sekali, tapi saat aku melihat wajahnya, pandanganku berubah total.
Ini mengingatkanku pada buku Komik Mataku Mata Cintaimu yang diceritakan pegawai toko buku itu. Seperti buku itu, kita tidak bisa menilai buku dari sampul depannya atau sebagian halamannya. Dia bagaikan alur menarik yang membuatku penasaran dibalik sampulnya yang udik. Rasanya ingin membaca dirinya lebih banyak lagi.
Tiba-tiba gadis udik itu melihatku, aku langsung cepat menoleh ke kasir dan mengajak ngobrol kasirnya.
"Mas, mereka sering kesini ya?" Kasir itu melirik sesaat ke kursi gadis itu sambil tersenyum. Sepertinya dia melihatku memandangi gadis itu tadi.
"Oh mbak yang itu. Iya mas, kadang seminggu 2 sampai 3 kali kesini." Jawab kasir sambil menghitung uang kembalianku.
"Kenal mas sama mereka?"
"Kalau yang pakai jaket saya kurang kenal. Tapi kalo yang temannya itu namanya Mbak Sinta."
"Ooh begitu ya, terima kasih." ucapku sambil menerima kembalian dari kasir itu. Aku kembali melihat ke gadis itu, mengejutkan.
Gadis udik itu juga masih melihatku. Mata kami bertemu satu sama lain. Tiba-tiba dia menurunkan pandangannya dan menaikkan tudung hoodienya ke kepalanya lagi. Reaksinya membuatku menahan senyum. Tanpa sadar lenganku menutupi mulutku yang tak bisa berhenti tersenyum. Aku beranjak keluar dari Cafe dengan cepat. Entah kenapa Cafe ini menjadi lebih panas dari biasanya.
Bersambung
__ADS_1