
Kami melacak ponsel Helen. Helen berhenti di Stasiun terbesar di wilayah ini. Butuh beberapa menit hingga kami berhasil menyusulnya.
Dengan cepat, aku dan Sinta berlari memasuki stasiun. Kami memutuskan untuk berpencar. Aku mencari di dekat rel sementara Sinta mencari di dekat loket dan menanyakan jadwal keberangkatan.
Aku melewati bagian tiket dengan menunjukkan identitas polisiku dan memintanya untuk membiarkan aku masuk.
Maaf karena aku memanfaatkan jabatanku untuk kepentingan pribadi.
Aku berhasil masuk dengan syarat identitasku ditinggal sebagai jaminan. Aku bergegas mencari Helen di sekitar sana. Aku tak tahu peron berapa dia akan berangkat, Sinta belum mengabariku.
Setelah lama berkeliling, aku menemukannya duduk di kursi sambil memegang ponselnya berhadapan. Syukurlah dia belum berangkat. Pelan-pelan aku berjalan mendekat.
"TUH KAN APA KU BILANG?!! KAMU PASTI GAK BAKAL BISA NIKAH SAMA ORANG LAIN SELAIN SAMA HADI!!" ucap pria tua di ponselnya.
Karena terkejut aku bersembunyi di dekatnya. Ternyata Helen sedang video call. Apa mereka orang tuanya?
Ku lihat ada pria dan wanita yang sudah berumur sekitar 50 tahunan. Mereka terlihat jauh lebih tua dibandingkan ayah angkatku. Sudah pastilah! Ayahku mengadopsiku saat masih berumur 27 tahun. Umurnya belum sampai 50 tahun.
"SUDAHLAH! CEPAT PULANG DARIPADA CUMA JADI GEMBEL DI KOTA!" Bentak ayahnya. Ibu Helen mencoba menenangkan suaminya sementara Helen tidak mengatakan apapun.
"Lalu bagaimana dengan orang yang janji akan kamu nikahi disana... Siapa namanya itu... Stevan..."
Helen terkejut mendengarnya, tapi aku lebih terkejut lagi. Bagaimana mereka bisa mengetahuinya? Padahal Helen sendiri terkejut.
"... Kami mendapat fotonya dari orang yang mengaku teman sekampusmu dulu. Apa itu benar?" tanya ibunya Helen
SINTA KURANG AJAR! TERNYATA DIA UDAH RENCANAIN INI JUGA!!!
"Apa dia memutus hubungan denganmu? Atau dia melakukan hal buruk padamu?" ucap Ibunya lagi. Helen terdiam sejenak menyiapkan jawabannya.
Apa yang ia pikirkan terhadapku?
"Bukan dia yang melakukan hal buruk..... Tapi aku...."
Aku terpaku mendengar jawaban sendunya.
"Saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku takut seperti biasanya. Tiba-tiba dia mengajakku bicara meskipun aku menutupi wajahku dengan jaket. Dia juga sempat ingin menangkapku awalnya tapi dia berakhir meminta maaf padaku, padahal sudah jelas-jelas aku yang salah karena bertingkah mencurigakan...."
Air matanya menetes sedikit demi sedikit di lengannya. Auranya menjadi biru bak lautan lepas di pagi hari yang bebas.
Dia menutup diri dari dunia tapi membuka diri di depan ibunya saja.
"...... Aku membuat surat itu karena keegoisanku sendiri sehingga menjadi senjata makan tuan. Jika saja aku memeriksanya lagi, dia tidak akan terpaksa menikahiku...." Helen berterus-terang dengan air mata yang semakin deras.
Terpaksa? Maksudmu aku terpaksa menikahimu?
".... Sinta sengaja mengubah isi perjanjiannya pasti demi aku. Karena ulang tahunku tinggal 3 hari lagi makanya dia menjebak Stevan untuk menikahiku sebelum tenggat waktu..."
HEEEHH!!! Ternyata begitu...
Itu sebabnya Sinta berusaha keras membuatku menikahinya secepat ini. Kenapa dia tidak mengatakan itu. Tapi kamu terlalu berpikir positif pada Sinta, Helen. Kalau saja kamu tahu Sinta seperti apa.
"... Sejak awal tidak ada apa-apa diantara kami, ibu. Dia adalah seorang polisi yang sedang bertugas, tapi aku membuatnya terlibat jauh. Padahal dia juga sedang mencari istri yang lebih cantik dari pilihan ayahnya, tapi dia malah terikat oleh perjanjian palsu yang ku buat itu."
Oh iya, saat itu Helen duduk di depan Ruangan Privat, dia pasti mendengar semuanya. Dia pasti juga terpengaruh saat ayahku mengabaikannya. Jadi itu sebabnya dia mundur dari pernikahan kita.
Semua yang dia lakukan hanya untukku....
Sementara sejak awal aku selalu meragukannya....
"Maaf.... Hiks.... Harusnya aku tidak melibatkannya.... Hiks." ucap Helen sambil menangis keras.
Maaf... Harusnya aku tidak meragukanmu...
Kedua tanganku menutup kedua mataku, menghentikan tangis yang mulai mengalir.
".... Aku tidak tahu dia menyukaimu atau tidak, tapi aku yakin dia tidak sepenuhnya membencimu..." ucapan Sinta teringat lagi.
Aku memang bodoh!
Aku merasa tahu segalanya tapi kenyataannya aku tidak tahu apa-apa.
Aku memang yang terburuk!
Aku membuatnya menangis lagi!
__ADS_1
"Aku tidak akan menemu-" Dia terhenti karena aku memeluknya dari belakang.
Ponselnya jatuh ke lantai dimana ibu dan ayahnya terkejut karena melihat perlakukanku pada putri mereka. Mereka berteriak dari dalam ponsel. Helen masih shock tapi tangisannya berhenti seketika.
"K-K-K-KENAPA KAU DISINI??!!" Aku mendekapnya kencang membuatnya berhenti bicara.
"Kamu... Jangan pernah bilang tidak akan menemuiku lagi. Setelah apa yang kamu lakukan demi aku."
"Dan lagi.... Aku tidak terpaksa menikahimu sedikitpun. Justru aku bersyukur jika bisa menikahi orang yang sepertimu. Tak ada yang lebih cantik atau imut selain kamu."
Kata-kataku menyentuhnya, aku merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba ia memeluk dekapan tanganku. Tangannya yang hangat menyentuh kulitku membuatku terasa nyaman. Diriku terasa dipenuhi dengan kehangatannya.
Tanpa sadar aku membenamkan wajahku di lehernya. Aroma tubuhnya sangat kuat dan harumnya ku sukai. Kepalaku merambat ke rambutannya yang dikepang.
Nafasnya menjadi lebih lambat, berirama dengan nafasku. Isak tangisnya juga mulai jarang-jarang karena terbawa oleh belaian lembut dariku. Kami bisa mendengar detak jantung kami satu sama lain.
Ku ciumi rambutnya berkali-kali, wangi shamponya seharum buah strawberry. Tangan kananku juga mulai nakal mengusap rambutnya yang halus dan mengusap air matanya.
Mata kami bertemu kembali. Aku teringat lagi di hari pertama aku bertemu dengannya. Mata yang membuatku jatuh cinta, Namun saat ini matanya jauh lebih berkilau dan cantik dari sebelumnya, membuatku ingin.....
"MAMA, MAMA!! ADA YANG PACARAN!" teriak anak kecil yang menunjuk ke arah kami berdua. Dengan cepat kami melepas satu sama lain. Tidak menghiraukannya, ibu anak itu membawa anaknya pergi.
Hampir saja novel ini menjadi Novel 21+
Selagi Helen menyembunyikan rasa malunya, aku mengambil ponsel yang terjatuh tadi. Ibu dan ayahnya masih menelpon video call. Aku duduk di samping Helen sambil memperlihatkan kebersamaan kami di video call.
"HEI COWOK KURANG AJAR! KAU APAKAH ANAKKU?" teriak ayahnya Helen dalam ponsel.
"Maaf Ayah. Aku tidak sengaja." Ucapku dengan nada mengejek. Dia kebingungan dengan caraku memanggilnya.
"SIAPA YANG KAMU BILANG AYAH? MEMANGNYA KAMU SIAPA?"
"Aku Stevan, calon suaminya anakmu, Ayah~" ucapku dengan manja.
Mereka terkejut mendengar ucapanku.
"Kurang lebih memang kejadiannya seperti yang Helen bilang tapi Helen sendiri salah persepsi. Dia mengira aku terpaksa menikahinya padahal aku bersedia."
Wah ini dia pertanyaan andalan para Calon Mertua. Perang Calon Mertua dan Calon Menantu dimulai....
"Bukankah tadi ayah sudah dengar, Stevan bekerja sebagai polisi. Tepatnya polisi yang menangani kasus kriminal. Jadi bisa dibilang pekerjaan saya tetap." jelasku.
"Pantas saja, berhadapan sama pelaku kriminal tapi kelakuannya kayak kriminal!"
SATU SERANGAN DARI PIHAK CALON MERTUA!
"Saya memang menangani kriminal tapi bukan berarti saya berteman langsung dengan kriminal. Tugas saya menangkap pelaku kejahatan terutama yang bersenjata berat. Jadi tidak ada ruang untuk negosiasi apalagi berteman, Ayah."
OOOHH!! PIHAK CALON MENANTU BERHASIL MENAHAN SERANGAN CALON MERTUA.
"Oke mungkin kamu tidak berteman dengan kriminal tapi wajah tampan seperti itu pasti disukai banyak wanita. Orang sepertimu bisa mengkhianati Helen kapan saja."
SATU SERANGAN LAGI DARI CALON MERTUA, APAKAH CALON MENANTU BISA MENAHANNYA JUGA KALI INI?
"Wah terima kasih banyak Ayah sudah memuji wajahku yang tampan tapi saya tidak dekat dengan banyak wanita karena saya memiliki kantor sendiri yang hanya beranggotakan saya dan asisten saya."
"Naaahh.. tadi kamu bilang hanya kamu dan asistenmu. Mungkin tidak banyak wanita tapi kamu sudah sangat dekat dengan asistenmu bukan?"
CALON MERTUA MENYERANG LAGI?
"Wah ayah sangat jeli sekali ternyata. Iya memang saya bekerja berdua saja, tapi asisten saya sudah menikah jadi tidak-"
"BISA SAJA KAN? APA YANG TIDAK BISA DI DUNIA INI? ORANG DULU BILANG SELAMA JANUR KUNING BELUM MELENGKUNG MAIN TEROBOS SAJA. TAPI SEKARANG, JANUR SUDAH SAMPAI COKLAT KERING JUGA MASIH BISA DITEROBOS! KAMU MUNGKIN BILANG GITU SEKARANG, TAPI NANTI BISA BERUBAH."
OI OI! INTEROGASI CALON MENANTU BOLEH-BOLEH AJA TAPI SAMPAI MENYUDUTKAN SEPERTI INI BUKANNYA UDAH KELEWATAN?
Dari tadi Helen cuma menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku bisa merasakan berat dan malunya Helen memiliki ayah seperti ini.
"Ayah boleh menuduh saya apa saja. Tapi kalau tidak ada bukti, ayah jangan main tuduh dulu. Asisten saya memang sudah menikah tapi saya tidak mungkin menyelingkuhinya, karena dia seperti ini!" Ucapku sambil menunjukkan foto lama Teddy yang sedang bekerja di mejanya. Aku memotretnya sudah lama sekali untuk mengetes kamera ponsel ini yang masih baru saat itu.
AKHIRNYA DARI CALON MENANTU MEMBERIKAN SERANGAN PADA CALON MERTUA.
__ADS_1
Ayah Helen sampai terkejut setengah mati melihat Teddy yang berbeda jauh dari bayangannya.
"Gimana ayah? Apa masih ada pertanyaan lain?"
PIHAK CALON MENANTU MULAI MENANTANG CALON MERTUA. SEPERTINYA PERTARUNGAN INI SUDAH MULAI SENGIT, SAUDARA-SAUDARA....
"Bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka polisi juga?" tanya ayah dengan nada menyindir.
"Sebenarnya, kedua orang tuaku sudah meninggal."
Ayah dan ibu Helen tersentak. Ekspresi mereka juga kompak meskipun tidak janjian sebelumnya.
"Saya sudah sendirian sejak kecil tapi tidak lama kemudian ayah angkat saya yang juga Kepala Polisi mengadopsi saya dan membesarkan saya hingga sekarang. Tapi saya akan jauh lebih senang kalau bisa menganggap Ayah dan Ibunya Helen sebagai orang tuaku sendiri." Ucapku sambil tersenyum lebar.
WOOOOOWWW!! CALON MENANTU MENGELUARKAN SERANGAN PAMUNGKASNYA!!! MENGGUNAKAN MASA LALU YANG PENUH DRAMA UNTUK MENARIK HATI CALON MERTUA! BENAR-BENAR TAK TERKALAHKAN!!!!
Harusnya sudah cukup itu. Aku tidak mungkin menjelaskan lebih lanjut tentang Ayah angkatku yang menikahi banyak wanita sampai gak jelas berapa yang dia punya.
"Aku memaafkanmu! Kau boleh menikahi Helen!" ucap Ayah Helen memalingkan badannya. Ibu Helen juga ikut menutupi wajahnya karena ceritaku yang menyentuh.
DAN PEMENANGNYA ADALAH CALON MENANTU!!!!!
"HEEEHH!!! BENARKAH, AYAH!!!" teriakku senang sekali sampai melompat kegirangan. Sampai aku terkejut Helen mengeluarkan air mata.
"HEH?! KENAPA KAU MENANGIS,HELEN?"
"TI-TIDAK... Aku hanya terkejut dengan kisahmu tadi.... Tidak ku sangka kamu melalui semua itu.... TOLONG JANGAN MELIHAT!" Helen menghapus air matanya sambil menutupi wajahnya yang tengah menangis. Padahal tidak masalah jika dia ingin menangis di depanku.
Aku memeluknya lagi membuat Helen terkejut.
"Tidak apa-apa, kamu boleh menangis di pelukanku mulai sekarang." godaku lagi.
Bukannya menangis, Helen merasa malu sampai menyembunyikan wajahnya. Helen yang malu-malu begini, BOLEH JUGA!
"Bisa-bisanya ya ingin menikah tanpa bilang-bilang padaku!!!" Bisik Sinta yang tiba-tiba muncul di belakang Helen.
Kami terkejut dan melepas pelukan kami. Mata Sinta mengintimidasi Helen sehingga Helen berlari kabur dari kami berdua meninggalkan barangnya.
"Ah... Dia kabur!" Ucapnya tanpa ekspresi seperti sudah pernah terjadi sebelumnya.
"Kau ini! Walaupun kamu masih kesal gara-gara itu tapi bukan berarti harus menakut-nakutinya seperti itu kan?"
Sinta memasang wajah cemberut.
"Habisnya, aku udah cari kalian kemana-mana. Aku juga udah nelpon kamu berkali-kali tapi kalian malah enak-enakan pacaran disini!" Protes Sinta.
"Aahh begitu ya, maaf, maaf. Oh iya, kau sendiri bagaimana bisa melewati penjaga tiket itu?"
Dia menyeringai. "Mau tahu?" godanya.
"Tidak terima kasih." Aku merasa tidak seharusnya mengetahui itu. Sinta menyeramkan!
"Ya sudahlah.. soal itu dibahas nanti saja. Dilihat dari gerak-gerik kalian, sepertinya masalah pernikahan sudah kelar ini." Sinta menduga-duga.
"Ya, bisa dibilang kami tidak bilang sepakat secara langsung. Tapi orang tua Helen sudah setuju dengan pernikahan ini. Jadi ku pikir Helen juga setuju." jawabku malu-malu.
"Tidak apa-apa, yang penting Helen udah gak berpikir untuk pergi lagi." Ucapannya membuatku curiga.
"Sinta, dari caramu bicara tadi, kamu sepertinya tidak hanya ingin Helen segera menikah tapi juga tidak ingin Helen pergi. Memang ada masalah kalau Helen pergi?"
Sinta sedikit terpukul dengan pertanyaanku tadi. Tidak salah lagi, bahkan auranya mengatakan ada yang ia sembunyikan. Entah itu sesuatu yang baik atau bisa juga yang buruk.
"Sebenarnya tidak bisa dibilang masalah juga, tapi kalau tahu temannya akan pergi tiba-tiba, sebagai teman itu bisa jadi masalah kan?" Dia menjawabnya dengan tersenyum lebar.
"Masalah seper-"
"AAHH!! Daripada itu! Helen sudah pergi terlalu lama! Kita harus menemukannya sebelum dia pergi terlalu jauh."
"Soal itu sebenarnya!... Dia tidak membawa ponselnya." Ujarku sambil menunjukkan ponsel Helen pada Sinta.
Wajah Sinta memucat hingga ponsel yang ia genggam tanpa sadar jatuh.
"HELEEEENNNN!!!! KAMU DIMANAAAA??? HELEEEEENNN!!! JAWAB AKU KAU DIMANAAAA???" teriak Sinta berlari meneriaki seisi stasiun.
Ya sudahlah... Apapun itu. Sinta masih teman yang baik.... Kurasa?
__ADS_1