
YA BENAR! KITA BERCIUMAN! Bibirku mendarat di bibirnya yang tipis itu. Mata kami bertemu begitu dekat. Kami menatap satu sama lain. Hampir tak ada jarak di antara kami. Dadanya menempel di dadaku. Kakinya berada di antara kakiku. Pikiranku menjadi buyar.
Situasi begini aku harus gimana?
Walaupun di Kantor Pusat dikenal sebagai pria yang berkencan dengan banyak gadis tapi belum pernah dicium atau lebih tepatnya menolak dicium.
Tapi situasinya berubah. Apakah ini bisa disebut ciuman? Apa tidak apa-apa aku cium dia? Padahal kita baru kenal!
Eh tunggu!
KITA BAHKAN BELUM KESITU!!!
AKU MENODONGKAN PISTOL LALU MENCIUMNYA! TAPI AKU BELUM BERKENALAN DENGANNYA!!
Tiba-tiba Helen mengerutkan dahinya. Matanya melotot memekakkan hatiku. Dengan cepat ia menjauh dariku lalu melesatkan tamparan di wajahku. Kejadiannya begitu cepat, telapak tangannya sampai membekas di pipiku.
"KENAPA KAU LAKUKAN ITU??!!" Katanya dengan nada sangat marah.
"Aku-" Dia memukulku dengan sapu berkali-kali. Dengan mahirnya, ia memukul di sekujur tubuhku. Semua pukulannya sebagian besar mendarat di tubuh dan wajahku.
"POLISI MACAM APA YANG MENCIUM ORANG ASING ??!!!" Dia benar-benar melampiaskan semua amarahnya padaku. Ini pertama kalinya aku dimarahi perempuan seumur hidupku.
"CEPAT PERGI!!!"
BRAK! Ia membanting pintu di depan wajahku. Tanpa sadar aku sudah keluar dari rumahnya.
"JANGAN KEMBALI LAGI! ATAU KU LAPORKAN KAU! POLISI CABUL!" Dia mengancamku. Sudah jelas dia membenciku.
Meskipun pukulannya menyakitkan tapi ucapannya lebih menyakitiku. Untuk pertama kalinya ada yang menghinaku sebagai orang cabul ditambah lagi dia orang yang ku sukai.
Hatiku seperti teriris....
Apa yang harus ku lakukan di situasi seperti ini?
Dilema melanda pikiranku. Jika aku memaksanya dia benar-benar akan melaporkanku. Ini bisa membahayakan identitasku dan AKU BISA DIPECAT!
Jika ku biarkan, dia bisa saja kabur kalau dia memang terbukti pelakunya. Kalau Bos besar tahu aku gagal dalam misi kecil ini, AKU BISA DIPECAT!
AAAA!!!! Yang manapun itu semuanya menuju bendera kematianku. Apa yang harus ku lakukan?
*******
Dengan putus asa aku kembali ke kantor.
"Selamat datang, Bo-" ucapnya terhenti begitu melihatku. Dia begitu terkejut sampai terbangun dari kursinya dan mendekatiku.
"BOS! KENAPA WAJAH KAYAK HABIS BERTARUNG HEBAT GITU?! Apa pelakunya sehebat itu?" cemas Teddy.
"Iya Teddy. Sangat hebat sampai hatiku juga merasakan sakitnya." Jawabku dengan segenap tenaga yang ada. Aku melempar tubuhku sendiri ke sofa. Ku benamkan wajahku ke dalam sofa.
Sepanjang perjalanan aku mencari cara bagaimana membuat Helen bekerjasama tapi ucapan terakhirnya menghantuiku setiap kali ku mengingatnya. Kata-kata itu menggerogoti kepercayaan diriku sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku hilang semangat.
AAAHHH!!! AKU INGIN MATI SAJA!
"AAAAA!!! GAWAAATT!! STEVAN JADI ORANG NEGATIF!! TUNGGU, STEVAAANN!!! JANGAN MENYERAH! INI BUKAN AKHIR DUNIA! INI TIDAK SEPERTI KAMU YANG BIASANYA!" Teriak Teddy tiba-tiba.
Kenapa dia sampai sepanik itu? Apakah dia mendengar teriakan hatiku tadi?
"JANGAN HADAPI SEMUANYA SENDIRI! AKU ADALAH ASISTENMU. KAMU BOLEH MENYURUHKU APA SAJA. JADI KUATKAN HATIMU!!!" Teddy berusaha membangkitkan semangatku lagi. Aku bisa membayangkan wajahnya yang panik setengah mati.
Benar katanya! Ini bukan aku yang biasanya. Tidak seharusnya urusan pribadi mengganggu rutinitas pekerjaanku. Aku adalah laki-laki sejati!
SATU DUA CIUMAN SAJA BUKAN MASALAH!
"Ciuman?" Ucapan Teddy membuyarkan imajinasiku.
__ADS_1
GAWAT! APA AKU MENGUCAPKAN ISI HATIKU LAGI?
Wajah Teddy yang awalnya panik berubah jadi sinis. Tanpa mengucap sepatah katapun, Teddy kembali ke kursinya dan melanjutkan kesibukannya. Sikap dinginnya itu, tidak salah lagi dia marah.
"Teddy, kamu salah paham! Sebenarnya bukan itu yang terjadi."
"Jadi bagaimana kejadiannya?" tanya Teddy sambil melanjutkan pekerjaannya. Dia jadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Dia berusaha melarikan diri dan aku mengejarnya tapi kita malah terjatuh dan ciuman itu terjadi." Aku menjawabnya dengan hati-hati.
Walaupun Teddy selalu menjengkelkan dan konyol tapi kalau dia marah lebih menyeramkan dariku.
"Siapa yang di atas?" tanya Teddy.
"........ A-a-aku...." AKU MENGATAKANNYA!!
Tidak ada jalan lain! Kamu harus mengakui kesalahanmu, Stevan. Aku merekrut Teddy atas dasar sama-sama memegang kejujuran. Berbohong pada Teddy hanya akan menghancurkan hubungan partner kerja kami yang sudah terjalin 4 tahun. Kehilangan Teddy maka aku juga akan kehilangan pekerjaanku.
Berbohong hanya akan menunda hukuman bukan menghilangkannya. Semakin lama sebuah kebohongan semakin besar hukuman yang akan ditimpakan nantinya.
"Jadi kamu di atas gadis itu, Stevan?" Teddy memperjelas. Aku hanya mengangguk saja.
Tiba-tiba Teddy mengambil ponselnya.
"Jadi begitu ya?.... Kira-kira aku harus melapor bagaimana ke Bos Besar?" ujarnya sambil mencari kontak Bos Besar.
Dengan cepat, aku melompat dari sofa ke belakang kursi Teddy.
"TIDAAAK!!! TEDDDY!!! JANGAN LAPORKAN AKU! KALAU SAMPAI BOS BESAR TAHU AKU BISA DIPECAT!"
Aku menggoyang-goyangkan bahu Teddy, tapi Teddy tidak terganggu sedikitpun. Berbeda saat ia tidak marah padaku, dia mudah kegelian.
"Oh iya aku juga harus bilang kalau Bos Stevan gagal dalam kasus ini karena menggoda seorang gadis." sindirnya.
"TUNGGGU!! BERI AKU KESEMPATAN! AKAN KU JELASKAN SITUASINYA TAPI TOLONG JANGAN LAPORKAN AKU !" Aku memeluk salah satu tangan Teddy dengan erat.
"Jadi begitu kejadiannya. Yang namanya apes itu memang tak tahu kapan terjadinya." Ujar Teddy merespon ceritaku. Syukurlah sepertinya Teddy sudah tidak marah lagi.
"Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan, BOS CABUL?" tanya Teddy dengan gaya menyindir.
Teddy kurang ajar! Dia menambah daftar ledekannya.
"Untuk saat ini, aku ingin mengawasinya dari dekat. Bisa kau carikan aku kamar untuk mengawasinya?"
"Ya Ampun Bos, Meskipun sudah ditolak seperti itu kau masih ingin menguntitnya? Ternyata kau memang BOS CABUL!"
HENTIKAN! KAU MEMBUATKU TERDENGAR SEPERTI PEMERAN UTAMA YANG BURUK!
DAN JUGA AKU TIDAK DITOLAK OLEHNYA, TEDDY GENDUT!
"Aku hanya ingin mengetahui apakah dia terlibat dengan pengedaran uang palsu atau tidak!" tegasku.
"Baiklah, akan ku carikan kamar untukmu malam ini juga. Akan ku beritahu jika sudah siap." ujarnya.
"Terima kasih karena sudah pengertian, Teddy."
"Itulah tugas ku sebagai asistenmu. Jangan lupa bawa tisumu ya, BOS CABUL~" sindirnya lagi.
"SUDAH HENTIKAN! LUPAKAN SEMUA ITU!!"
"Tidak akan~" ledeknya lagi. Geram aku dibuatnya. Tanganku menggoyang-goyangkan bahunya lagi.
TOLONG JANGAN BUAT AKU LEBIH MALU LAGIIIIII!!!!!
*******
__ADS_1
Malamnya aku menempati kamar hotel yang dipesan Teddy. Hotel ini berada 2 meter dari rumah Helen.
Kenapa dia malah menyewa kamar yang kejauhan untuk mengawasinya?
Tapi syukurlah aku membawa teropong kecil yang ku punya. Aku masih bisa mengawasinya.
Aku membuka jendela kamar dan menyorotkan teropongku ke jendela rumah Helen. Tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
AKU SUDAH BENAR-BENAR TERLIHAT SEPERTI PENGUNTIT PROFESIONAAAL!
DASAR TEDDY GENDUT! BAHKAN DI SAAT SERIUS SEPERTI INI DIA MASIH BISA BERCANDA DENGANKU!
DIA SENGAJA MEMESAN HOTEL AGAK JAUH SUPAYA AKU PAKAI TEROPONG JARAK JAUH. AWAS KAU TEDDY! KU BUAT KAU MENYESAL SETELAH KASUS INI BERAKHIR!
Aku mengalihkan kejahilan Teddy sejenak dan melanjutkan penyelidikanku.
Helen tidak pernah membuka jendelanya. Namun ia selalu membuka gordennya saat pagi sampai sore. Dan malamnya, aku cuma bisa melihat bayangannya lewat jendela.
Selama 3 hari, dia sama sekali tidak keluar rumah. Betapa langkanya dia karena bisa betah di dalam rumah sendirian. Aku jadi penasaran apa yang dilakukannya. Namun aku lebih cemas dengan kasusnya. Jika dia tidak mau bekerjasama, takkan ada perkembangan.
Aku harus melakukan sesuatu!
"Halo, Sinta. Ini Stevan." ucapku dalam telepon.
"Oh Kak Stevan ya! Apakah Helen mengusirmu?" ledek Sinta. Jadi dia tahu aku mengambil alamat Helen.
"Yah.. seperti itulah. Aku butuh bantuanmu. Helen sama sekali tidak mau bekerjasama."
"Hmmmm.... Kalau gitu, besok kita bertemu di Cafe kemarin. Ceritakan semua disana, Oke!" ajak Sinta dengan gaya centilnya. Aku mengiyakan saja. Dan keesokannya kami bertemu.
*****
Kami bertemu lagi di Cafe yang mempertemukan kita. Setelah pesanan sampai, aku menceritakan yang terjadi di rumah Helen.
"Oh jadi begitu.... terus ciumannya?" tanya Sinta membuatku sampai tersedak kopi yang ku minum.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Helen menceritakan semuanya."
"Kalau Helen menceritakan semua, kenapa kau minta aku menceritakannya lagi?" Aku dibuat kebingungan.
"Itu karena, sudut pandang orang dalam menceritakan kejadian itu berbeda. Jadi aku ingin tahu kejadian yang sebenarnya." jelasnya. Meskipun ucapannya logis tapi wajahnya suka melihatku tersiksa.
"I-iiiya... Memang itu sempat terjadi. Tapi itu tidak sengaja." Jawabku di kala mata melirik kesana kemari.
Di saat aku malu-malu mengutarakannya. Sinta malah senyam-senyum sambil menahan tawa. Berkali-kali ia juga meminum jusnya sambil menatapku geli. Tatapannya begitu mengganggu. Wajahnya juga benar-benar menjengkelkan.
"Jadi bagaimana? Kau mau membantuku kan?" tanyaku berusaha mengalihkannya.
"Hmmm... Sulit juga. Mengingat kamu melakukan tindakan asusila pada Helen." Sinta mengungkitnya lagi. Sekarang aku punya dua orang yang sama-sama suka menyindirku.
"Dengar Sinta! Aku sudah yakin kalau kau bukan pelakunya. Jadi aku tidak akan menangkapmu. Tapi aku tidak bisa memastikan Helen bukan pelakunya. Bantu aku membuat Helen bekerjasama supaya kasus ini cepat selesai." Aku memaksanya.
"Hmmm... Baiklah! Aku akan membantumu dengan satu syarat." Katanya dengan nada sombong.
"Apa syaratnya?" tanyaku sambil menyeruput kopi.
"Berkencanlah denganku."
Pffft.. Uhuk uhuk... aku menyembur kopiku lagi.
"KAU BERCANDA?!" Tanpa sadar aku meneriakinya.
"Aku serius!" jawabnya singkat.
__ADS_1
Matanya menatap lurus padaku tanpa berkedip sedikitpun. Ucapannya dan tatapannya sanggup membuatku terpaku seperti ini.