Terjebak Mencintai Gadis Misterius

Terjebak Mencintai Gadis Misterius
BAB 6 - DI MATA SINTA


__ADS_3

"Maaf tadi kamu bilang apa?" tanyaku tak percaya.


"Aku akan menikah." Tutur Helen


Tidak mungkin!


Aku tidak ingin percaya semudah itu!


"Kalau boleh tahu siapa yang akan kau nikahi itu?" tanyaku lagi


"Dia... tetanggaku. Keluarga kami sudah kenal sejak lama." ucapnya tenang.


Meski hanya sebentar, sempat tersemat senyum di bibirnya. Jadi dia bahagia?


"O-o-ohh......" jawabku spontan.


Mulutku kaku...


Aku tak bisa merangkai kata-kata yang bisa ku ucapkan padanya, sementara dadaku terasa semakin sakit.


Dari sejak pertama kali aku melihat Helen, aku merasakan auranya yang ditutupi oleh ketakutan, menyelimutinya seperti sudah menjadi bagian dari dirinya. Dan aura itu menutupi sebagian besar perasaannya bahkan di situasi sekarang ini.


Membaca dirinya seperti membaca buku yang kosong. Tiap ku buka halaman demi halaman, selembar demi selembar, tiada kata maupun gambar di dalamnya. Namun aku bisa merasakan permukaan tiap halamannya yang tidak rata.


Sama halnya dengan Helen. Walaupun dia ragu-ragu, aku bisa merasakan kejujurannya. Dia memang akan pulang ke rumahnya untuk menikah.


Membaca hatinya membuat lukaku kian terasa. Banyak pertanyaan yang ingin ku ketahui.


Siapa tetangga yang akan dia nikahi?


Seberapa dekat dia dengan keluarga Helen?


Apa Sinta tahu soal ini?


Semakin ku bertanya pada diriku sendiri, semakin dalam luka ini menusuk hatiku. Menyakitkan....


Beruntung saat ini aku sedang duduk si kursi, jika tidak kakiku terlalu lemah untuk berdiri tegak saat ini.


"K-k-kamu tak perlu mengkhawatirkan berkas yang sudah dikirim ke KUA. Walaupun diberi materai tidak ada denda atau sebagainya. Jadi saat aku menikah nanti, perjanjian itu tidak berlaku lagi."


Helen mengatakan banyak hal untuk meringankan bebanku tapi perkataannya itu hanya membuat lukaku semakin lebar.


Benar juga, kalau dipikir-pikir perjanjian itu sendiri hanyalah kesalahan dan kejahilan Sinta. Tidak ada yang khusus dari perjanjian itu sendiri.


Tapi aku...


Mengharapkan perjanjian itu adalah takdir...


Aku percaya bahwa pertemuan kita adalah takdir yang Tuhan tunjukkan padaku setelah sekian lama...


Untuk pertama kalinya...


Aku menemukan wanita yang mampu memenuhi hasratku....


Untuk pertama kalinya....


Aku jatuh cinta pada wanita....


Dan untuk pertama kalinya...


Aku ingin bersamanya...


"Helen... Aku..." ucapku terputus.


Kedua matanya menatap lurus ke arahku.


"Iya, ada apa?" tanya Helen menantikan jawabanku. Namun mulutku rasanya terkunci.


Bayang-bayang di hari aku mencium Helen menyeruak dalam pikiranku.


"Ah.. tidak. Semoga pernikahanmu nanti lancar." jawabku sambil memalingkan wajah.


"Iya.... Terima kasih." Helen menjawab dengan anggukan kecil.


AKU TAK BISA MENAHANNYA!


Aku telah melakukan tindakan asusila padanya. Jika aku melarangnya hanya membuatku semakin dibencinya. Bahkan dalam situasi ini, menyatakan cintaku padanya hanya akan mempersulit keadaannya.


Tak ada yang bisa ku lakukan...


"Baiklah, hanya itu yang ingin ku katakan. Aku permisi." Helen beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


Suara langkah kakinya menggema di telingaku. Punggungnya yang ramping semakin menjauh. Rambutnya terayun-ayun mengikuti hentak langkah kakinya.

__ADS_1


Ku abadikan momen terakhir ini dalam ingatanku. Caramu berjalan, caramu berbicara, caramu berpakaian, semuanya ku rekam dalam memori jangka panjang.


Helen mulai menutup pintunya. Kala itu mata kami bertemu diikuti daun pintu yang semakin melenyapkan Helen dari pandanganku.


Jauh dalam hatiku, aku ingin menanyakan ini padamu. Di hari itu,.. walau ku tahu tak mungkin, pernahkah kamu menyukaiku walaupun sedikit?


KLAK! Pintu telah tertutup kembali. Helen sudah sepenuhnya hilang dari pandanganku.


Meninggalkanku dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


Hanya aku bersama kesunyian ....


******


Dering ponsel berbunyi, Sinta menelpon di kala aku menatap Bulan di rumahku.


Bulan yang terlihat begitu terang namun sunyi....


Aku sedang tak ingin mengangkat teleponnya saat ini. Namun Sinta tidak berhenti menelponku. Dering ponsel itu mulai menggangguku, aku pun mengangkatnya.


"Halo Stevan! Sekarang sudah mulai sombong ya tidak menjawab telepon dariku!" Ledek Sinta.


"Apa begitu caramu menelpon orang di larut malam seperti ini?"


"Aah.. Lupakan! Daripada itu, baru saja Helen menghubungiku. Dia bilang mendadak ingin pulang ke rumahnya. Memangnya apa yang terjadi?" panik Sinta. Ternyata Sinta tak tahu soal pernikahan Helen.


"Helen akan menikah di rumahnya dan membatalkan pernikahannya dengan ku." Jawabku berterus terang.


"HAAAAAAHHHH!!!" Sinta berteriak seakan tak percaya.


"Dia bilang calon suaminya adalah tetangganya. Tampaknya keluarganya sudah cukup dekat dengannya."


Sinta tak menjawab sepatah katapun. Berita ini terlalu mengejutkan pastinya karena meski dia temannya, dia tidak mengetahuinya.


"Ini gak bisa dibiarin! STEVAN, JEMPUT AKU DI DEPAN KANTOR! SEKARANG!!!" Sinta menyuruhku dengan kasar. Tidak salah lagi, Sinta pasti marah besar.


"Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku sudah tidak ada kaitannya dengan Helen lagi."


"DASAR BODOOOHH!!!! KAMU LAKI ATAU BUKAN? SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK MENGELUH!! JEMPUT AKU ATAU KU BAWA TINDAKAN ASUSILAMU KE PERSIDANGAN!" ancamnya.


Sinta yang cantik dan ceria bagai lenyap dari muka bumi. Dan lahirlah Sinta yang sadis dengan amarah yang meluap-luap. Jika dia bertemu Helen, dia akan memakannya hidup-hidup.


Tanpa pikir panjang, aku menjemput Sinta di kantornya. Aku sudah sepenuhnya diperbudak oleh Helen dan Sinta. Sejak kapan harga diriku sebagai polisi bisa sejatuh ini?


"Aku tahu kita ingin menyusul Helen, tapi kita tidak tahu dimana dia sekarang kan?" Jelasku.


"Oh kalau itu tenang, dia belum jauh dari rumahnya." jawab Sinta singkat.


"Darimana kau tahu itu?"


"Aku melacak ponselnya, dia takkan bisa lari dariku. Hihihihiiihiii!!!"


TEMAN MACAM APA YANG MELACAK TEMANNYA SENDIRI. SERAM!! SINTA YANG SEKARANG SERAM!!!


"HAH? KENAPA MELIHAT KU BEGITU? ADA MASALAH?!" Tatapannya tajam menusuk kalbu.


"Tidak ada. Aku cuma terkejut saja."


Kami pun berangkat mengikuti Helen.


"Haha.. semua orang bilang begitu padaku. Tapi cuma satu yang tidak." ujar Sinta.


"Siapa?" tanyaku.


"Helen..."


".... Saat Helen melihat sisiku ini dia menangis keras di hadapanku seperti anak kecil."


"HAHAHA... YANG BENAR?"


"Dia bilang "Sinta kerasukan jin!" Lalu dia mencari nomor ahli psikis untukku."


HAHAHA!! AKU TAK BISA BERHENTI TERTAWA!


"Saat itu kami sedang melangsungkan acara Pentas Seni di kampus kami. Itu adalah acara perdana kami sebagai panitia. Karena bintang utama mendadak terlambat, semua panitia menyalahkanku dan Helen sehingga aku marah besar saat itu. Helen menambah panik panitia yang lain mengira aku kerasukan."


"Lalu bagaimana jadinya?" Aku tertarik mendengar kisahnya.


"Acaranya tetap berjalan, panitia lain dengan cepat meminta band sebelumnya memainkan lebih lama sampai bintang utama datang. Sementara aku di beri air minum satu kardus dan beberapa dari panitia menghujaniku dengan air mineral, bersama Helen memelukku sambil menangis."


Tak ku sangka, hanya mendengar kenangan Helen, semua rasa sakitku karena dirinya mendadak hilang. Lucu rasanya aku malah semakin mengharapkannya kembali.


"Stevan.. kamu tahu kenapa aku membuat perjanjian itu?"

__ADS_1


"Bukannya karena kau ingin membalas Helen." jawabku.


"Itu memang salah satunya, tapi alasan sebenarnya adalah supaya Helen bisa lebih terbuka."


"Lebih terbuka?"


"Sejak awal kita bertemu, Helen selalu ketakutan dekat dengan siapapun, untuk itulah aku mendekatinya. Awalnya aku merasa kasihan tapi setelah cukup dekat dengannya, aku jadi ingin melindunginya. Seperti memelihara kucing yang terlantar."


Walaupun itu benar, tapi menganggap temanmu Helen sebagai hewan, bukankah itu terlalu kejam?


"Tapi selama kami berteman, dia melakukan semua yang ku suruh, mendengarkan semua yang ku keluhkan, tertawa dengan cerita lucu yang ku ucapkan."


"Bukannya itu bagus? Dia teman yang baik kan? Lalu apa masalahnya?" tanyaku.


"Iya dia memang teman yang baik, tapi selama itu juga dia tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri. Dia tak pernah memberitahuku keluhannya, bahkan kehidupan pribadinya. Itu sebabnya ketika aku tahu dia menikah, aku merasa kesal." Sendunya.


Berbicara dengan Sinta membuat pikiranku tentang Helen terbuka. Helen adalah sosok yang misterius. Bahkan temannya sendiri tak tahu apa yang dipikirkannya.


"Stevan, kamu tahu kenapa aku membuat perjanjianmu kalian?" tanya Sinta.


"Itu yang ingin ku tanyakan padamu."


"Saat kamu mengecupnya dan Helen mengusirmu dari rumah. Untuk pertama kalinya dia mengamuk padaku."


"Oh karena dia mengira kamu memberitahu alamatnya?"


"Haha iya benar... Dia mengamuk tapi setelah ku beritahu kamu mengacak mejaku dia langsung diam."


"Semudah itu?" ucapku tak percaya.


"Iya kan? Sejak awal dia memang tidak pernah membentakku. Tapi bukan berarti dia tidak pernah memberontak. Jika ku suruh dia melakukan yang dia tidak mau, dia langsung kabur." Jelas Sinta.


"Beneran kayak kucing." Tanpa sadar aku mengaitkannya.


"Iya kan?" Sinta tertawa geli.


"Aku mengerti kamu ingin membuat Helen lebih terbuka tapi kenapa kamu libatkan aku? Ditambah lagi kamu membuat perjanjiannya menjadi legal. Apa kamu benar-benar ingin mendukungku?" Ujarku.


"Tentu saja aku mendukungmu. Berkatmu, aku bisa menemukan cara Helen untuk lebih terbuka."


"Itu kebetulan saja. Hanya karena aku pernah melakukannya sekali bukan berarti aku bisa seterusnya. Dia sendiri yang bilang akan membatalkan pernikahannya, dia pasti sudah sepenuhnya membenciku." senduku.


"Wajahmu tampan tapi semua itu sia-sia."


Sekarang dia meledekku.


"Setelah ku katakan semua ini, apa kamu masih belum mengerti?" tanyanya dengan nada membentak.


APA YANG MASIH BELUM MENGERTI? DARI TADI KAMU CUMA CERITA KEDEKATANMU DENGAN HELEN.


"Selama ini kamu mengira-ngira perasaan Helen tapi tidak pernah bertanya langsung padanya!" cetusnya.


Bukannya mengira-ngira, karena aku bisa membaca auranya sehingga aku bisa tahu sebagian besar perasaannya.


"Apa kamu tidak sadar, walaupun Helen mengusirmu dan membencimu tapi dia masih mau bertemu denganmu!"


Chiiitt!! Tanpa sengaja aku menginjak rem mobil. Kami terpental ke depan membentur kaca depan mobil.


"KENAPA KAU BERHENTI TIBA-TIBA? KALAU SAMPAI ADA YANG KECELAKAAN BAGAIMANA?" bentak Sinta sambil memegangi pusat rasa sakitnya.


"Tadi kau bilang apa?" Aku meminta kejelasan.


"Sudah ku bilang, Helen masih mau bertemu denganmu. Setelah kejadian itu, dia malah membuat perjanjian supaya kamu melindunginya selama dia keluar rumah. Biasanya Helen pasti akan kabur dari orang asing tapi dia tidak kabur darimu." jelas Sinta.


Helen tidak sepenuhnya membenciku?


"Aku tidak bilang dia menyukaimu tapi bisa ku bilang Helen tidak sepenuhnya membencimu! Keputusan Helen mungkin tak bisa dirubah tapi paling tidak beritahu dia yang kamu rasakan sebelum dia pergi!"


Hari ini Sinta banyak memberikan dukungan padaku. Dia benar-benar percaya aku bisa meluluhkan hati Helen yang misterius itu.


Padahal kamu diberi teman yang sebaik Sinta, kenapa kamu malah meninggalkannya semudah itu, Helen? AKU PASTI AKAN MENGHENTIKANMU!


Aku menancap gas dengan keras. Kami melaju lebih cepat dari sebelumnya.


"Padahal kemarin kau bilang membenci Helen, tapi sekarang kamu malah berusaha membuatnya kembali." Ledekku.


"Apa maksudmu? Aku memang membencinya, tapi...... Aku lebih menyayanginya." Ucap Sinta sambil menatap kaca samping mobil. Meskipun dia berusaha menutupi wajah malunya tapi aku masih bisa melihatnya dari pantulan kaca.


"Sudah jelas karena kamu sering menguntitnya." ledekku.


"AKU TIDAK MENGUNTITNYA!" bentaknya.


Sinta adalah teman yang paling baik.

__ADS_1


__ADS_2