Terjebak Mencintai Gadis Misterius

Terjebak Mencintai Gadis Misterius
BAB 4 - LEMAH TAPI MURNI


__ADS_3

Detik jam dinding terdengar lebih keras. Suara mesin kendaraan juga klakson yang bising tak mampu mengalahkan keheningan yang menyelimuti kami. Dengan memangku tangannya, Sinta menunggu jawaban setuju dariku. Dari matanya seperti meneriakkan aura "jangan menolakku!". Ia mengunci mulutnya rapat-rapat sehingga aku tak bisa menebak reaksinya.


"Mengapa kau ingin berkencan denganku?"


"Apa tidak boleh? Apa kamu sudah punya pacar?" Ucapnya dengan nada imut.


"Hehe.. kamu meremehkanku!" tanyaku sambil menyeruput kopi. Dia pasti bingung.


"Berarti belum kan?" Dia menyeringai.


Pfftt... Ahh! Aku menyembur kopiku lagi. Sedari tadi aku belum minum sama sekali tapi kopiku sudah habis setengah.


"Kau sendiri bagaimana?"


"Maksudnya?"


"Apa kau tidak punya pacar?" tanyaku sambil melihat kedua tangannya.


"Tentu saja aku tidak punya." Sinta menjawab dengan ceria. Tangan kanannya memangku kepalanya sambil tersenyum lebar.


Dia memakai postur andalan wanita yang bisa menaikkan level kecantikan hingga 95%. Hampir semua gadis yang pernah ku kencani selalu memakai trik ini. Dia benar-benar bersikeras.


"Baiklah. Kita berkencan tapi cuma satu kali saja. Bagaimana?" Aku memberinya tawaran.


Biasanya aku akan langsung menolak dan meninggalkan wanita yang tidak ingin ku kencani langsung di tempatnya. Tapi situasinya berbeda...


Meski tersenyum seperti itu, matanya sangat mengancam. Aku bisa merasakan aura yang menyeramkan meski dia sendiri tidak sekuat wanita yang ada di Kantor Pusat.


"HEH? BENARKAH? ASYIK!!" Ia berteriak kesenangan.


"Kalau gitu besok kencan kita -"


"Apa maksudmu besok?" Aku memotong ucapannya. Dia tampak kebingungan mendengar ucapanku.


"Bukankah sekarang kita sedang berkencan? Jadi tak ada kencan untuk besok." Ku sembunyikan mulutku dibalik tanganku yang saling bertautan. Ku turunkan pula pandanganku tapi sesekali ku melirik ke wajahnya.


Inilah strateginya...


Aku akan membuat dia terjebak dalam ucapannya sendiri sehingga dia tidak bisa menyalahkanku. Aku bukan menerimanya karena mengalah.


Dia memang wanita berbahaya tapi aku adalah laki-laki. Tetap saja aku yang superior disini. Aku hanya harus tenang dan membuatnya kehilangan ketenangannya.


INI ADALAH PERTARUNGAN PIKIRAN!


"HAH? APA ITU? TIDAK ADIL!" protesnya diikuti wajah cemberut. Dengan wajahnya yang awet muda dan imut seperti itu, dia cocok jadi artis tapi kenapa malah memilih jadi Editor.


"Tapi kamu sendiri juga berbohong kan?"


"Berbohong apa maksudmu?"


"Sebenarnya kau sudah punya bertunangan kan?"


Ia memasang wajah pura-pura tidak tahu. Sampai kapan kamu bisa bertahan?


"Di jari manis kirimu ada bekas cincin. Walaupun kamu mencopotnya bekasnya masih terlihat." Jawabku. Harusnya itu tadi cukup membuatnya keki.


"Hanya karena aku memakai cincin di jari manis kiri bukan berarti aku sudah bertunangan kan? Banyak gadis lain yang memakai cincin di jari manis kanannya meski mereka belum menikah." Ia membela diri.


"Kalau begitu kenapa disembunyikan? Jika itu bukan cincin tunangan, kenapa kamu sembunyikan?" Aku menyudutkannya lagi. Harusnya dia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku tidak menyembunyikannya. Tadi pagi aku kehilangannya karena buru-buru aku tidak memakainya." Jawabnya tenang.


Dia masih bisa mengelak. Jangankan panik, dia bahkan tidak gemetar sedikitpun. Aku kehabisan pertanyaan.


"Apa begini caramu memperlakukan gadis yang kamu kencani? Mengintrogasinya? Kamu pasti sangat mencintai pekerjaanmu." ledeknya. Dia mulai menyerangku.


"Aku hanya tidak bisa mengencani sembarang gadis. Itu saja."


"Jadi bagimu aku gadis sembarangan tapi Helen berbeda gitu?


"HELEN TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN INI KAN?"


GAWAT! AKU TERPANCING. Dasar wanita licik! Dia memanfaatkan Helen dalam pertarungan ini. Tanpa sadar aku membentaknya dengan tangan menggebrak meja Cafe. Gelas-gelas kami menumpahkan isinya. Hilang sudah kopi 56.000 -ku.


"HUWAAHAA!!!" Tiba-tiba dia menangis keras membuatku terkejut. Seisi Cafe jadi memperhatikan kami.


"PADAHAL AKU SUDAH MEMBERIKAN YANG KAMU MAU TAPI KAMU MALAH MENDEKATI WANITA LAIN!" teriaknya sambil menangis keras.


"OI! HENTIKAN! KAU MEMBUAT YANG ADA DISINI SALAH PAHAM!"

__ADS_1


Kurang ajar! Dia berani mempermalukan diri sendiri hanya untuk menyudutkanku. Wanita ini gila! Aku kalah telak.


"BAIKLAH... HIKS... MESKI KAMU MENYAKITIKU SEPERTI INI... HIKS... AKU AKAN MEMBANTUMU MENEMUI GADIS ITU... HIKS... AKU IKHLAS... HIKS."


IKHLAS GUNDULMU! KAMU JELAS-JELAS BALAS DENDAM PADAKU. Aahh!! Orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Mereka menunjukkan aura jijik padaku. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pertemuan neraka ini lalu pergi.


"Aku akan membayar semua bantuan yang kau berikan tapi pertemukan aku dengan Helen. Jika aku kehilangan kontak dengan pelaku pengedar uang palsu itu, aku bisa dipecat. Aku mohon!" Bisikku.


Dengan kedua telapak tangan bersatu, aku menunduk memohon Sinta membantuku. Pertemuanku dengan Helen adalah satu-satunya jalan menemukan pelaku. Aku tidak punya pilihan lain.


"Baiklah.. Besok datang ke ruanganku. Akan ku bawa Helen padamu." ujarnya.


"Tak bisakah aku temui dia hari ini? Kasus ini mendesak."


"Tidak bisa. Aku ada jadwal bertemu penulis jadi tidak punya waktu membujuk Helen."


"Baiklah kalau begitu. Kurasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku akan temui kamu besok dengan jam yang sama." Aku beranjak dari tempatku, siap untuk meninggalkan Sinta.


Aku berjalan menuju kasir di kala Sinta berteriak dari mejanya.


"SAMPAI BERTEMU BESOK! SEMOGA KITA BISA KENCAN LAGI SEPERTI INI!"


TIDAK AKAN! MAU BERKENCAN ATAU TIDAK, AKU TIDAK AKAN MENGAJAK SINTA BERTEMU DI CAFE LAGI.


*******


Keesokan harinya, aku datang ke kantor Sinta. Karena petugas Lobby masih mengingatku, mereka memperbolehkanku masuk. Mereka bahkan mengantarku ke ruangan Sinta meski aku tidak memintanya. Aku harap ini karena perintah Sinta bukan perlakuan khusus.


Aku memasuki ruangannya tapi tak ada siapapun di dalamnya. Lampunya dimatikan dan isi mejanya berserakan seperti biasa. Namun dibandingkan meja Teddy, Sinta lebih parah. Jangan salahkan aku jika aku mengacak-acak mejamu, Sinta.


Sudah 10 menit aku menunggu, tapi Sinta tak kunjung datang. Aku pun menghubunginya.


"Oh.. Aku sudah sampai parkiran kantor. Aku sedang bersama Helen. Tunggu sebentar ya." jawabnya lalu mengakhiri teleponnya. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menunggunya.


Tak lama kemudian, Sinta memasuki ruangan tetapi hanya dia seorang.


"Bukankah kamu bilang membawa Helen?" tanyaku.


Tiba-tiba dia mengeluarkan map coklat dari dalam tasnya dan memberikannya padaku.


"Apa ini?" tanyaku bingung.


Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam map tersebut. Ku baca tiap rangkaian kata yang tertulis di lembar putih itu.


"INI KAN-"


"Jika kau menandatanganinya, Helen akan bekerjasama penuh denganmu. Bukankah kamu bilang kasus ini mendesak?" tegasnya sambil tersenyum lebar.


Dari gerak-gerik nya aku sudah menyadari, dia merencanakan sesuatu. Namun aku tidak mengerti apakah dia berusaha membantuku atau menjebakku. Tangannya mencolek lenganku berkali-kali. Dia jelas-jelas memintaku segera menandatangani ini. Wanita Sadis!


Di samping tanda tangan Helen, aku menandatangani berkas ini, dan memotretnya atas izin Sinta. Setelah itu, Sinta keluar dari ruangan. Tak lama kemudian, Helen masuk ke dalam ruangan.


Kedatangannya membuatku terkejut karena kali ini dia jauh lebih cantik pertemuan kita sebelumnya. Meskipun hanya memakai celana panjang dan jaket bertudung menutupi kemeja putihnya serta rambutnya ia sampirkan di bahu kanannya.


Tenang Stevan, ingat dia tersangka! Dia tersangka! FOKUS!


Helen duduk di hadapanku. Tanpa sengaja jari kami bersentuhan. Dia langsung menarik jarinya tapi aku tak merespon sedikitpun. Tatapanku langsung tertarik pada bibirnya yang tampak familiar itu. Teringatlah diriku akan kejadian besar di rumahnya. Aaahh!! Aku bisa merasakan badanku mulai memanas.


FOKUS, STEVAN!!!


"Sebelumnya terima kasih karena mau meluangkan waktu-"


"Tolong, langsung ke intinya saja." Ia memotong ucapanku.


AAA!! DINGINNYA!! Dia masih marah soal kejadian itu? Itu sudah lebih dari 4 hari. Walaupun aku tahu kamu tak bisa melupakannya tapi setidaknya kemarahanmu harusnya berkurang.


"Anu.. aku mengerti kamu masih marah soal kejadian itu dan pastinya kamu tidak akan bisa memaafkanku, tetapi saat ini aku sedang menangani kasus yang penting dan aku ingin kamu bekerjasama penuh. Aku tidak memintamu untuk melupakan kejadian itu tapi aku mohon untuk saat ini kesampingkan dulu masalah itu dan fokus pada kasus ini. Aku mohon." ucapku dengan sikap memohon.


"Aku tidak mengerti kejadian apa yang kamu maksud. Kalaupun aku ingat aku pasti sudah menghapusnya dari ingatanku."


SAKIIITT!! WALAUPUN DIA BERHAK MELAKUKANNYA TAPI MENDENGAR LANGSUNG DARINYA RASANYA MENYAKITKAN.


"Baiklah, kalau begitu silahkan beri tahu apa yang kamu tahu."


"Sesuai dengan ucapanku, aku bertemu seorang pembeli secara langsung. Dia membeli casing seharga 200 ribu. Lebih detilnya ada di chat. Aku sudah mencetaknya." ucapnya sambil memberikan map coklat yang ringan.


"Sebenarnya alasan aku memaksamu bekerja sama adalah karena hanya kamu yang pernah melihat orangnya. Meskipun kamu berusaha mengatakan bukan kau pelakunya tapi jika kau tidak bisa bekerjasama penuh maka pelakunya tidak akan ketemu......"


"...... Ditambah lagi, karena transaksi tidak lewat platform jual beli online jadi sangat sulit melacaknya. Jadi mau tidak mau kamu harus terlibat penuh dengan kasus ini."

__ADS_1


Aku berusaha membuatnya menerima alasanku mendekatinya. Walaupun tidak terlihat di wajahnya, tapi rasanya ia sudah mulai melembut.


"Saat itu kami bertemu di tepi jalan, seharusnya ada kamera CCTV yang merekamnya."


"Kalau begitu, ikutlah ke kantor dan bicaralah pada asistenku. Dia akan mencari tahu-"


"Baiklah. Aku akan bekerjasama karena kamu sudah menandatangani perjanjiannya." Jawabnya.


Perjanjian yang tadi ya? Sepertinya dia cukup percaya diri tapi entah mengapa aku merasa ada yang janggal.


"Helen, soal perjanjian yang kita tanda tangani itu. Apakah kamu yakin?"


"Tentu saja. Aku yang membuat perjanjian itu."


Helen yang buat? Ini semakin tidak bisa dipercaya. Bukannya dia baru saja bersikap kasar padaku kenapa malah membuat perjanjian yang bertolak belakang begini.


"Ini memang sedikit pribadi tapi aku ingin meluruskan sesuatu. Bukankah kamu sendiri masih membenciku kan? Kenapa malah membuat perjanjian yang mengharuskan kita bersama untuk waktu yang lama?" tanyaku.


"Iya bisa dibilang begitu tapi selama kamu tidak melanggar apa yang dituliskan di perjanjian tidak masalah."


Melanggar? Yang ada bukan aku yang melanggar tapi kamu. Ada yang tidak beres. Tapi kalau dia sungguhan, aku pasti menjerit.


"Helen, kamu beneran yakin tidak masalah denganku?" Aku memastikannya lagi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Padahal hanya menjadi bodyguard sementara saja."


Ada yang hancur tapi aku tidak yakin apa itu. Apakah Helen yang hanya memanfaatkanku saja atau karena aku yang kecewa Helen tidak memandangku seperti ku memandangnya?


Namun sekarang aku tahu Helen yang salah paham disini. Dan aku tahu siapa pelakunya.


"Sebenarnya Helen, aku memang menandatangani berkasnya tapi aku rasa itu bukan berkas yang kamu buat." ucapku sambil membuka ponselku.


Aku menunjukkan foto berkas tersebut pada Helen. Reaksinya langsung berubah drastis. Pucat dan was-was bercampur aduk. Badannya gemetaran melihat berkas yang tertulis dengan jelas bahwa...


"Kita berdua bukan menandatangani perjanjian bodyguard tapi PERJANJIAN PERNIKAHAN. Ditambah adanya materai berkas ini LEGAL." Aku menegaskan situasi kita saat ini.


Dia meletakkan ponselku perlahan. Tiba-tiba dia berlari keluar dari ruangan, aku berusaha mengejarnya. Namun dia dengan cepat membelok diikuti olehku.


******


Sesampainya disana, tak ada siapapun kecuali lorong lobi yang kosong yang disinari oleh cahaya matahari yang menembus jendela-jendela besar.


Meski tampak kosong, tapi aku merasakan keberadaan seseorang dengan aura ketakutan yang kuat. Ketakutan yang tercium dari hidungku yang sensitif.


Di dunia ini ada beberapa manusia yang memiliki bakat alami dalam diri mereka tanpa mereka sadari. Aku menyadari kemampuan ini saat aku kecil dan sendirian. Kehilangan orang tua di usia yang masih belia menajamkan indra penciumanku untuk bisa melanjutkan hidup sendirian di tengah orang-orang yang mementingkan diri sendiri.


Dikelilingi oleh senyum palsu dan perhatian yang membuatku sesak dan muak. Hingga akhirnya aku menyembunyikan semua dari mereka. Memastikan tak ada siapapun yang berusaha mengambil apapun lagi dariku.


Namun senyaman apapun aku dalam kesendirianku, hatiku tetap merasakan kesepian yang mendalam.


Berkali-kali ku tatap isi rumahku yang gelap dan sunyi. Berharap ketika ku membuka pintu, seseorang berdiri menyambut kepulanganku. Hal sederhana yang entah kapan bisa ku dapatkan. Sampai akhirnya aku menemukanmu di Cafe itu.


Aura yang murni....


Dibalik hoodie yang biasa kau pakai tersembunyi wajah wanita yang lemah dan murni. Tanpa riasan juga topeng, menunjukkan bahwa kamu ingin tetap murni meski dunia memaksamu untuk berubah.


Berjalan melalui lorong lobi, ku temukan dirimu di luar jendela sedang memeluk dirinya sendiri. Kau membenamkan wajahmu di dalamnya dengan rasa takut yang menyeruak. Apakah aku semenakutkan itu bagimu?


"Sinta, bukankah yang kamu lakukan itu sudah keterlaluan?" tanyaku dalam telepon. Aku berdiri menjauh dari tempat Helen.


"Aku tahu. Tapi dia berhak mendapatkannya karena berusaha memperbudak polisi sepertimu."


"Walaupun begitu, kamu tidak perlu terlibat dalam permasalahan kami."


"Aku sudah terlibat di dalamnya! Di hari kamu memintaku mempertemukan Helen, dan Helen memintaku mempersiapkan berkasnya. Aku sudah terlibat jauh, kau tahu!" bentaknya.


Aku tak bisa membalas perkataannya.


"Asal kau tahu, Helen sangat bergantung padaku. Meski aku temannya, dia menggantungkan hidupnya padaku. Meski dia tahu aku sudah bertunangan dia masih menggantungkan hidupnya padaku.... Itulah kenapa, aku sangat membenci sisinya yang itu." Sinta mengutarakan kekesalannya. Meski aku tak tahu bagaimana auranya sekarang.


"Jika kau membencinya seharusnya kamu katakan langsung padanya."


"Mana mungkin aku melakukannya. Jika ku lakukan, itu seperti menjatuhkan orang yang sudah pincang kakinya." tegasnya.


"Itu sebabnya kamu melakukan ini untuk membalasnya?"


"Tidak masalah kan? Lagian kamu sendiri menyukainya bukan?" Aku terkejut mendengar ucapannya. Benar juga, setelah apa yang terjadi di Cafe tidak mungkin dia tidak tahu.


"Dengar Sinta, kita memang bisa mendapatkan apapun di dunia ini dengan kerja keras. Aku tahu kita memiliki kesamaan disitu, tapi tidak untuk urusan cinta. Cinta tidak bisa didapatkan dengan riasan dan kerja keras, tapi didapat dengan percaya dan kecocokan. Meski aku menyukainya, tapi jika Helen tidak maka pernikahan ini tidak akan terjadi...."

__ADS_1


".... Pernikahan bukanlah janji semata tetapi keputusan untuk selalu bersama menerima satu sama lain."


__ADS_2