Terjebak Mencintai Gadis Misterius

Terjebak Mencintai Gadis Misterius
BAB 2 - CINTA PERTAMA


__ADS_3

Aku langsung pulang ke kantor. Ingin rasanya menampar Teddy dengan komik vulgarnya. Aku pun sampai di rumah, Teddy membukakan pintu.


PLAK!


"Aduh bos! Kenapa bos menamparku dengan komik kesukaanku?" Teddy mengelus-elus bekas pukulanku sambil membawa komik itu. Aku langsung masuk dan membanting diriku di atas sofa kantor yang empuk ini.


"Kamu benar-benar asisten kurang ajar! Beraninya kamu menyuruh bosmu membeli komik vulgar seperti itu?"


"Ya ampun bos, dibandingkan komikku, bacaan bos lebih parah. Aku pernah membaca salah satu novelmu, tak ku sangka kamu sekotor itu, bos." Teddy meledekku lagi.


"Setidaknya novelku tidak sejelas adegan dewasa di komikmu, Teddy!"


"Bos tidak tahu pepatah ini ya? Semakin adegan panas tidak diperlihatkan, semakin liar pikirannya. Artinya bos lebih mesum daripada aku--" Aku melemparnya dengan bantal sofa tepat di wajahnya.


"BERHENTI MELEDEKKU! KEMBALI BEKERJA!!" Teddy berhenti meledek dan kembali meneruskan pekerjaannya.


"Teddy, kamu tahu tentang konspirasi komik itu?"


"Bos sudah tahu?" Ujarnya sambil meneruskan pekerjaannya.


"Kasir toko yang kasih tahu."


"Aahhh... Kasir itu emang tukang spoiler. Apalagi soal komik ini. Gara-gara dia aku selalu kehabisan beli komik terbaru beserta aksesoris komiknya."


"Itu artinya dia mengerjakan tugasnya dengan baik."


"Memangnya kenapa bos tanya soal konspirasi komik? Penasaran ya?"


"Sebetulnya karena spoilernya itu, aku jadi cukup tertarik untuk membacanya. Apa kamu membacanya karena itu juga?"


"Salah satunya sih bos, tapi karena ceritanya menarik dan juga penulisnya yang misterius makanya aku tertarik."


"Penulisnya misterius?"


"Iya. Bahkan sebelum komiknya viral, dia sudah misterius. Platform yang menerbitkan komik itu juga tidak memberitahu informasi tentang penulisnya jadi banyak orang yang mencari tahu dan membuat teorinya."


Sudah pastilah, komik yang kontroversial begini siapa yang gak penasaran sama penulisnya. Belum lagi kalau pembacanya membuat komentar pedas.


Aku mencari tahu tentang komik itu di internet, dan benar sekali banyak komentar baik dan kritis di platformnya. Aku juga menemukan teori bahwa penulisnya adalah seorang paranormal, tapi ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya adalah orang yang datang dari masa depan. Netizen memang pandai membuat teori gila seperti ini.


Penulisnya menggunakan nama pena yaitu Hidden, yang artinya "disembunyikan". Komiknya juga sudah berjalan selama hampir satu tahun sebanyak 529 chapter. Hebat juga dia bisa menjalankan komiknya dan tetap menjaga identitasnya selama 1 tahun. Aku semakin tertarik padanya. Tapi aku lebih tertarik pada gadis udik di Cafe tadi.


Aaahh.. wajahnya masih terbayang di ingatanku. Mataku terpejam membayangkannya. Rambut depannya begitu nakal mengganggu matanya indah. Tangannya berkali-kali mengibas rambut itu, memperlihatkan dahi putihnya seakan menarikku untuk meninggalkan satu dua kecupan disana. Hidungnya yang tak terlalu mancung membuatku ingin mencubitnya. Bibirnya yang tipis merah muda begitu menggoda. Ku tutup bibirku dengan punggung tanganku, ku ciumi punggung tangan ku berkali-kali. Rasanya tubuhku mulai memanas. Ingin sekali aku memainkan rambutnya di hadapannya, ingin melihat reaksinya, ingin membelai rambutnya, ingin memeluknya, ingin bertemu dengannya lagi.


"Bos!" Teddy memanggilku tiba-tiba.


"Ada apa, Teddy?"


"Ada berita baru, katanya di Cafe Ultimate ditemukan uang palsu dari salah satu pelanggan disana."


Wah Tuhan membalas doaku cepat sekali!


"Aku baru saja dari sana. Tahu begitu aku disana lebih lama. Pelakunya sudah tertangkap?"


"Belum bos, pegawai baru sadar setelah pelanggan itu pergi." Jawab Teddy.


"Ya ampun, pegawai itu! Itulah yang terjadi kalau kau lalai dalam bekerja, Teddy! Beritahu pusat, aku yang akan kesana." Aku mengetuk kepala Teddy. Teddy merasa sakit.


"Hah? Bos mau menanganinya? Tapi itu diluar tugas kita." Ucap Teddy tergesa-gesa.


"Mau diluar atau tidak, aku ada di tempat kejadian." Walau sebenarnya aku hanya ingin bertemu dengan gadis udik itu lagi.


Aku bersiap-siap pergi lagi ke Cafe Ultimate sambil membawa perlengkapanku.


Aku memasuki Cafe, pelanggan sudah mulai banyak yang berdatangan. Apakah memang saatnya ramai atau karena berita uang palsu? Sepertinya cewek udik itu sudah tidak ada, sayang sekali. Aku berjalan menuju kasir, ternyata bukan kasir yang melayaniku tadi.


"Mas, saya Stevan, saya baru saja mendapat panggilan dari Pak Roby. Apa saya bisa bertemu dengannya?" Kasir terdiam sejenak.


"Oh iya mas. Pak Roby ada di ruangannya." Ujar kasir itu sambil menunjukkan ruangannya. Aku langsung berjalan kesana. Baru sampai pintu, aku bisa mendengar suara pria dewasa yang memaki-maki seseorang.


Ku bukalah pintu itu, ku lihat seorang pria dengan perut buncit memaki-maki kasir yang melayaniku tadi. Dia menundukkan badannya saat di maki-maki.


"Pak Roby!" Aku memanggilnya. Pria dan kasir itu menoleh padaku.


"Oh mas Stevan, terima kasih karena mau mampir ke cafeku lagi." Ucap Pria itu sambil menyambut kedatangan ku dengan senyumnya yang dibalut kumis tebal menawan itu.


Pak Roby memintaku duduk di kursi selagi ia mengusir kasir itu ke luar ruangan. Aku bisa melihat wajah memohonnya ketika keluar dari ruangan. Padahal laki-laki itu baik dan ramah, sayang sekali kalau sampai dipecat.


"Maaf atas ketidaksopanannya. Dia pegawai yang bertemu dengan pelakunya, kalau saja dia tidak lalai mungkin pelakunya bisa tertangkap." Ucap Pak Roby.


"Tidak apa-apa. Yang namanya kejahatan memang tidak bisa ditebak kapan terjadinya. Pegawaimu hanya sedang tidak beruntung saja." Aku memuji kasir itu supaya tidak dipecat. Jika dia pergi sekarang, menemukan pelakunya bisa semakin sulit.


"Oh tenang saja, saya hanya memotong gajinya sesuai dengan besar uang palsunya. Dia adalah karyawan terbaik saya, Mas Stevan benar mungkin dia sedang tidak beruntung hari ini."


"Saya senang Bapak tetap berpikir logis walaupun sedang ada masalah. Saya hargai itu."

__ADS_1


"Hehe.. rasanya malu dipuji seperti itu apalagi oleh Mas Stevan yang ganteng ini." ucapnya sambil tersenyum malu membuatku ingin tertawa.


"Boleh saya lihat uang palsunya?" Pak Roby membolehkan. Ia beranjak dari tempatnya dan mengambil uang palsu dari sebuah laci.


Uang palsu sebesar 200 ribu rupiah diletakkannya di meja ini. Saat ku lihat sesaat, tidak terlihat perbedaannya. Lalu aku memegang salah satunya. Aku bisa merasakan kertas uangnya jauh lebih kaku dan tipis dibandingkan uang asli. Untuk memastikannya, aku menggunakan tips 3D cara mengecek uang palsu, diraba, dilihat, diterawang. Sudah dipastikan, ini uang palsu.


"Apakah bapak sempat lihat pelakunya?"


"Sayang sekali saya tidak melihatnya. Saat itu saya sedang di dalam ruangan. Saya menyadari uang itu palsu saat ada petugas pajak datang. Saya meminta kasir mengambil uang dan saat itulah saya menemukan uang itu. Tapi kata pegawai saya, dia tahu pelakunya." Pak Roby menjelaskan kesaksiannya. Aku pun memintanya memanggil Kasir barusan. Ia pun memanggilnya.


"Kamu masih ingat saya kan?"


"Iya mas, saya masih ingat." Jawabnya sambil merendah.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ingin bertanya, apa kamu ingat uang palsu itu didapat dari siapa?"


"Iya mas. Dia dari gadis yang waktu itu mas tanyakan pada saya." Aku tersentak.


"Sinta dan temannya?" Ucapku sedikit menanjak.


"Iya mas. Saat itu mereka kebingungan membayar minuman karena uangnya kurang. Lalu mbak yang pakai jaket itu bilang akan pergi ke ATM untuk mengambil uangnya. Lalu dia kembali dan membayar uang sebesar 200 ribu untuk menutupi kekurangannya."


Tidak salah lagi, si udik itu pelakunya. Dia pura-pura ke ATM tapi sebenarnya dia menggunakan uang palsu untuk membayar sisanya.


Tidak tunggu! Bisa jadi dia kena tipu! Muka polos begitu mana mungkin pengedar uang palsu. Tapi kalau memang dia pelakunya....? Hatiku gelisah memikirkannya. Rasanya sulit menerima jika gadis itu pelakunya.


Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat muram di saat seperti ini. Aku harus tetap profesional!


"Kalau begitu kita tinggal telfon Sinta untuk memintanya kemari."


"Masalahnya saya tidak punya kontak Mbak Sinta. Saya hanya tahu Mbak Sinta bekerja di Penerbitan Buku selama 2 tahun."


"Tahu penerbitan mana?"


"Saya lupa tempatnya tapi katanya yang menerbitkan Komik Mataku Mata Cintaimu."


Hah? Kebetulan apa ini? Baru saja mengenal komik itu hari ini, aku sudah menemukan jalan untuk mengetahui penulis misterius itu.


"Siapa namamu mas?" Kasir itu terkejut aku menanyakan namanya.


"Dede mas." Jawabnya sambil bingung.


"Oke akan saya ingat namamu. Untuk selanjutnya akan saya urus sendiri. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya permisi!" Aku beranjak pamit pada Pak Roby dan Dede. Aku keluar dari Cafe dan langsung kembali ke kantor. Aku membanting pintu sangat keras membuat Teddy terkejut bukan main hingga berkasnya terjatuh dari genggamannya.


"Bos, kamu mengejutkanku!" Ucapnya sambil mengambil berkas yang jatuh.


"Wah keren Bos, kita bisa jadi satu-satunya orang yang bisa mengetahui siapa penulis misterius itu!" Aku mengangguk.


"Tapi kenapa bos kelihatan tidak senang?" Pertanyaan Teddy membuatku terkejut.


"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja."


"Bos, aku sudah menjadi asistenmu selama 4 tahun. Aku bisa tahu perasaan bos walaupun bos gak bilang apapun padaku."


Teddy benar, kita sudah 4 tahun bersama melakukan pekerjaan ini. Lika liku pekerjaan kita hadapi bersama. Begitu ya, walaupun aku berusaha menyembunyikannya, dia tetap tahu aku sedang sedih. Aku pun memberitahunya tentang gadis udik itu.


"Begitu ya, aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Padahal itu cinta pertama bos." Aku tersentak mendengar ucapannya.


"Hah? Cinta pertama?"


"Iya bos, kamu tidak sadar? Kamu bilang kamu ingin bertemu dengannya lagi, hanya berkata seperti itu saja aku bisa melihat perasaan cintamu bos."


"Tapi dia mungkin akan jadi kriminal. Bagaimana mungkin aku mencintai seorang kriminal!"


"Cinta itu memang tidak bisa ditebak bos. Dalam kisah Mataku Mata Cintaimu, tokoh utama adalah polisi mencintai seorang pencuri yang ia tangkap sendiri. Ia mengalami konflik antara pekerjaan dan perasaan cintanya, sama seperti yang sedang kau alami saat ini." Ujar Teddy.


"Tapi bos, aku ingin bos tetap berpikir jernih. Bos bukanlah orang yang mudah terpengaruh oleh perasaan mengganggu seperti itu. Selain itu, belum tentu gadis itu pelaku sebenarnya. Kalau memang dia pelakunya, bos pasti bisa menanganinya." Teddy terus memyemangatiku. Berkat dia, aku merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Tenang saja, selera bos kan selalu aneh. Cewek aneh itu pasti bakal jadi milik bos deh." Tapi tetap saja dia asisten yang menyebalkan.


Setelah Teddy memberikan alamatnya padaku, aku bergegas pergi. Aku bisa mendengar Teddy mengucapkan semoga sukses padaku, dan menggodaku untuk segera membawa bos cantik padanya. Walaupun dia menyebalkan, dia tetap asisten yang baik.


10 menit perjalanan, aku sampai di tempat kerja Sinta. Aku menemui pegawai di lobby.


"Saya Stevan, saya ingin bertemu dengan Mbak Sinta untuk penyelidikan. Apakah dia ada?" Aku memberikan kartu identitasku padanya.


"Baik pak, mohon tunggu sebentar." tanya pegawai tersebut sambil menunjukkan kursi untuk menunggu. Aku mengikuti sarannya dan menunggu sampai wajah Sinta yang ku kenal terlihat. Hanya dalam 5 menit, Sinta datang, aku pun menemuinya. Dia terkejut.


"Oohh.. kakak yang di Cafe ya?" Ucapnya spontan sambil menunjuk padaku. Semua pandangan tertuju pada kami. Tiba-tiba kedua tangannya menutup mulutnya dengan cepat. Aku membalas dengan senyuman. Dia membawaku ke ruangan yang cukup privat bertuliskan Kepala Editor. Hanya ada 2 kursi dan 1 meja dalam ruangan berukuran 2x2 meter itu. Kami duduk berhadapan ditemani tumpukan berkas dan alat-alat kerja lainnya.


"Maaf ya kak saya keceplosan. Biasanya saya tidak bicara seperti itu disini. Tapi saat melihat kakak saya jadi terkejut." Jelasnya.


"Tidak apa-apa. Aku malah senang kalau kita bisa berbicara santai seperti ini."


"Betul tuh! Aku juga gak suka basa-basi semacam itu. Tapi saya sedikit terkejut kenapa kakak bisa tahu nama saya?"

__ADS_1


"Pegawai Cafe yang kasih tahu. Dia juga kasih tahu kalau kamu kerja disini."


"Oohh begitu, Jadi ada apa kakak kemari?"


"Sebelumnya kenalkan namaku Stevan. Kamu boleh memanggilku apa saja. Ini kartu pengenalku." Aku memberikan kartu pengenalku padanya. Dilihatnya kartu itu baik-baik.


"Heehh?? Kenapa orang sepenting kakak ada disini?" tanya Sinta terkejut.


"Begini, di Cafe saat kita bertemu ditemukan uang palsu sebesar 200 ribu rupiah. Kasir itu bilang uang itu dari temanmu. Jadi aku harap kamu bisa membantuku untuk bertemu dengannya."


"Hah? Uang palsu? Kok bisa?" Dia kelihatan kebingungan.


"Harusnya kamu tanyakan itu ke temanmu." Buru-buru dia menelpon seseorang, pasti temannya. Tak lama, temannya mengangkat teleponnya. Dia langsung berdiri di pojok ruangan dan menelpon dengan bisik-bisik.


"Sudah! Sekarang katakan semuanya disini! Kamu akan dapat masalah kalau kamu bohong padanya. Mengerti!" Sinta membesarkan volumenya dan mengubahnya menjadi loudspeaker.


"Anu.. Pak."


Aku tersentak oleh suara lembutnya. Gawat! Pikiranku melayang hanya mendengar suaranya. Tidak Stevan! Fokus! Kamu tidak boleh memperlihatkan perasaanmu saat ini! INGAT! DIA ADALAH CALON TERSANGKA! PROFESIONAL! HARUS PROFESIONAL!


"Oke, kepada siapa ini?"


"Saya Helen, temannya Sinta."


"Iya, tolong katakan sejujurnya!" Ujarku dengan suara gagah.


"Jadi begini, sebenarnya saya mendapat uang itu bukan dari ATM tapi dari seorang pembeli kemarin. Saat itu saya pergi ke motor saya untuk mengambil dompet tapi ternyata saya tidak membawa ATM, lalu saya ingat masih mempunyai uang 200 ribu, jadi saya berikan. Saya sendiri tidak menyangka kalau uang itu adalah uang palsu." Jawabnya. Saat dia bicara denganku sebelumnya, dia terbata-bata ternyata dia bisa bicara lancar juga.


"Oh... Apa yang kamu jual?"


"Iya, saya menjual casing costum smartphone."


"Apakah saat pembeli membayar kamu tidak curiga sedikitpun?"


"Maaf tidak sama sekali."


"Kalau begitu, kamu pasti masih ingat kan? Bagaimana kalau kita bertemu untuk mencari pembeli itu?" Dia tidak menjawab.


"Anu.. pak, bagaimana kalau saya berikan nomor pembelinya saja. Karena saya tidak bisa menemui bapak sekarang."


"Kalau begitu besok saja kita bertemu."


"Besok juga tidak bisa."


HAAAH? KENAPAAA? SEGITUNYA KAMU GAK MAU KETEMU AKU LAGI???!!!


"Apa ada kepentingan lain? Kalau begitu bagaimana kalau aku yang datang ke rumah--?"


"Kak Stevan!" Panggil Sinta membuatku terkejut.


"Sebenarnya, saat ini Helen sedang berada di luar kota dan saya juga harus segera kerja kembali. Jadi bagaimana kalau kakak pulang saja, saya akan mengirim kontak pembelinya dan juga ciri-ciri pembelinya dari Helen. Akan saya paksa Helen untuk segera." Ujar Sinta sambil tersenyum lebar. Ada yang tidak beres!


"Baiklah. Saya pamit dulu. Kalau boleh, saya ingin meminta kontak Helen supaya dia bisa mengirim nya langsung kepada saya."


"Baik kak." Jawab Sinta.


Sepertinya aku juga tidak bisa memintanya memberitahu penulis misterius itu. Aku pun keluar dari gedung dan masuk ke dalam mobil. Gerak gerik mereka sangat mencurigakan sejak mereka menelpon berbisik.


"UNTUNG SAJA AKU MENGAMBIL INIII!!!" Aku berteriak sambil memegang kertas. Saat Sinta sibuk menelpon, aku mencari-cari sesuatu yang berguna di mejanya. Aku melihat sebuah kertas paket yang bertuliskan alamat kantor ini dan alamat atas nama Helen. Ya walaupun aku tidak dapat petunjuk apapun soal Hidden, tapi aku beruntung bisa menemukan alamatnya Helen.


Aku menyalakan mobilku, beranjak mencari alamat Helen. Butuh waktu kurang lebih 10 menit hingga akhirnya aku menemukan alamatnya. Ternyata ia tinggal di sebuah apartemen yang minimalis. Aku memarkirkan mobilku dan masuk mencari kamar apartemennya nomor 9.


Apartemen ini memiliki kamar 10 dengan 2 lantai. Setiap lantai memiliki balkon kecil yang dipakai untuk menjemur dan sudah ada AC nya. Aku yakin jualan casing smartphone saja tidak mungkin bisa membuatnya menyewa apartemen ini.


Sampailah aku di kamarnya. Di pintu terdapat lubang untuk melihat tamu. Dia tidak boleh melihatku atau dia akan kabur. Aku harus memikirkan cara lain.


"PAKEETT!!" Aku berpura-pura menjadi petugas paket dan bersembunyi di bawah pintu dengan berlutut seperti hendak lari sprint. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaket.


CLACK! Aku bisa mendengar suara pintu yang hendak terbuka. Pintu kamar itu terbuka perlahan semakin melebar. Belum sepenuhnya terbuka lebar, aku melesat masuk. Pintu kamar menjegal kakiku sehingga aku terjatuh menimpa gadis yang dengan jelas adalah Helen.


Kami terjatuh dalam posisi Helen tergeletak dan aku duduk di antara kakinya yang ramping dan hanya memakai celana kain pendek. Dengan cepat, kedua tangan ku keluar dari saku dengan pistol pendek menodongkannya tepat di kening gadis yang ku cintai itu.


Aku bisa melihat tubuhnya gemetar, ia memakai singlet hitam dengan dada yang tak terlalu besar tapi juga tak terlalu kecil. Rambutnya tidak dikepang namun terurai panjang. Ia tidak memakai kacamatanya, sehingga aku bisa melihat matanya terbelalak melihat kedatanganku yang mendadak ini. Dengan berat hati, aku menggertaknya.


"ANGKAT TANGAN! INI POLISI!!"


Aku mungkin adalah laki-laki paling buruk sedunia. Ya Tuhan, mengapa ini terjadi padaku. Kenapa cinta pertamaku harus berakhir seperti ini?


Baru tadi pagi aku bertemu dengannya, baru siang tadi aku menyadari aku jatuh cinta padanya. Dan saat ini, aku harus menodongkan pistol di atas dahinya. Seharusnya ku daratkan kecupan yang lembut di dahinya, bukan benda sekeras dan sekejam pistol ini. Badannya saja bergetar hebat seperti itu, keringatnya mengucur di sebagian tubuhnya. Ia menutupi wajahnya, walaupun kecil aku bisa mendengarnya menangis ketakutan. Apa mungkin dia pelakunya? Ini pasti tidak benar.


Aku menurunkan pistolnya. Tapi itu sama sekali tidak membuat ku lega. Aku bisa membayangkan ketakutannya karena ditodong sebuah pistol sungguhan.


"Maaf Helen aku---" Salah satu kaki Helen menendang tubuhku dengan kencang. Pistolku terlempar jauh ke dinding apartemen. Helen berlari masuk, aku tertatih-tatih mengikutinya. Ia mengambil sapu dan memukuliku dengan sapu ijuk berwarna merah jambu itu.


"Tunggu Helen.. aku Stevan, aku polisi yang tadi bicara denganmu. Jika kau memukuliku terus, aku akan menindakmu atas kekerasan terhadap polisi!" Helen terkejut dan mulai berhenti, aku gunakan kesempatan itu untuk merebut sapunya tapi Helen ikut tertarik dan menabrakku hingga jatuh.

__ADS_1


Tubuh Helen yang ramping menimpa tubuhku. Tapi bukan itu masalahnya, entah bagaimana kami terjatuh dalam posisi bibir kami menyatu satu sama lain.


KITA BERCIUMAN!!!!!!!!!


__ADS_2