
Sinta hanya diam mendengar ucapanku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Selain itu, bagaimana dengan Helen? Apakah dia masih disana?
Aku berjalan mendekati jendela. Namun Helen tak lagi ada disana. Meskipun aku tahu kemana dirinya pergi, aku tidak yakin apakah aku masih sanggup menemuinya. Aku tak ingin membuatnya takut lagi.
"Kamu serius mengatakan itu?" Sinta mulai merespon ucapanku.
"Tentu saja. Kalau kamu dipaksa menikah dengan orang yang tidak kau sukai, apa kamu mau?"
"Kalau orangnya sepertimu, aku pasti mau." godanya.
"Jangan sampai tunanganmu mendengar ucapanmu tadi!"
Sinta memang suka bicara seenaknya.
"Hahaha... Adapun biar dia mendengarnya. Tunanganku bukanlah orang yang romantis sepertimu."
"Kamu kira aku orang yang romantis? Aku tidak lebih dari sekedar orang yang kelamaan membujang."
"Haha... Begitukah? Kalau begitu semoga pernikahanmu bisa mengakhiri masa bujangmu." ucap Sinta.
"Apakah kita memang harus meneruskan perjanjian menikah ini?"
"Itu terserah pada kalian. Karena aku sudah mengirim suratnya ke KUA dan kalian bisa melangsungkan pernikahannya 3 hari lagi."
"Walaupun begitu, Helen mungkin tidak akan mau melakukannya." senduku.
"Jadi kamu menyerah hanya karena Helen menghindarimu?" tanya Sinta membuatku tersentak.
"Tidak semua kisah cinta harus di awali dari jatuh cinta lalu menikah. Ada juga yang menikah dahulu lalu jatuh cinta. Yang terpenting sekarang adalah apakah kalian bisa membawa hubungan kalian menjadi cinta atau tidak. Entah itu keduanya atau salah satunya."
Setiap kata yang Sinta ucapkan membuatku menyadari bahwa aku selalu lemah jika berurusan dengan Helen. Padahal aku selalu bersikap tegas, berani dan percaya diri. Namun di hadapan Helen, semua itu hilang.
Helen bagaikan dinding yang paling tidak mudah untuk ditembus. Penuh dengan jebakan dan tipu muslihat namun di dalamnya ada harta yang paling berharga di dunia.
Sekarang aku mengerti...
Helen sendiri yang menutupi diri dari dunia sehingga tak ada satupun orang yang bisa mendekatinya. Kalaupun ada dia akan sangat bergantung padanya seperti Sinta.
Artinya jika aku bisa membuatnya jatuh cinta maka Helen bisa jadi milikku. Dan keinginanku untuk punya istri bisa jadi kenyataan.
"Akan ku lakukan."
"Apanya?" Sinta bingung.
"Aku akan membuatnya Helen jatuh cinta padaku!" ucapku penuh semangat.
"Kau bodoh ya?" Aku terkejut dengan respon Sinta. Kukira dia akan terkesan dengan keseriusanku.
"Kamu bisa melakukan itu nanti yang penting sekarang gimana caranya Helen mau menikah denganmu!" tegas Sinta.
"Oh iya benar juga. Aku harus bagaimana ya?"
"Kenapa tanya aku?"
"Tentu saja karena kamu sudah terlibat jauh dalam hubungan kami jadi kamu harus ikut memikirkannya."
Aku takkan biarkan kamu lepas begitu saja setelah menjebak kami.
"Padahal aku sudah membantumu sekarang kamu mau memerasku?"
"Kalau begitu aku akan beritahu tunanganmu kalau kamu diam-diam berkencan denganku. Mudah sekali mengetahui tunanganmu, asal kau tahu saja." desakku.
"AA! BAIKLAH! Aku akan membantumu meyakinkan Helen supaya mau menikah denganmu. Itu saja."
"Baiklah. Terima kasih karena sudah membantuku, Sinta. Helen pasti sangat bahagia memiliki teman sepertimu."
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba memujiku seperti itu? Apa kau jatuh cinta padaku? Apa kau mau aku menikahimu juga?" Ujar Sinta kepedean.
"Aku tarik kembali kata-kataku."
"JAHAT!!" bentak Sinta dalam teleponnya.
"Tapi aku benar-benar berterima kasih. Kalau bukan karena bantuanmu aku tidak bisa sedekat ini dengan Helen."
"Mau bagaimana lagi. Salahmu sendiri mencintai orang aneh seperti Helen padahal banyak gadis yang lebih cantik dan lebih mudah ditangani daripada dia."
"Justru karena aku juga aneh, makanya Helen adalah orang yang cocok bukan?"
"Kalau begitu, sebagai temannya aku serahkan tanggung jawabku padamu, Stevan~" kata Sinta dengan lembut.
__ADS_1
Aku baru menyadari akhir-akhir ini Sinta sudah tidak memanggilku dengan sebutan kakak. Dia sudah menganggapku seperti teman sebayanya.
Meskipun Sinta selalu menjelek-jelekkan Helen tetapi sejak awal Sinta selalu mendekatkan kami. Dia bilang membencinya tapi sebenarnya dia sangat menyayangi Helen. Aku bersyukur Sinta lah yang menjadi teman Helen.
*******
Keesokan harinya, aku menjemput Helen ke rumahnya untuk memberikan kesaksian. Tanpa butuh waktu lama, Helen keluar dari rumahnya masih dengan dress code yang sama juga hoodie andalannya walaupun bajunya berbeda dengan kemarin.
Walaupun banyak hal yang terjadi kemarin dan dia yang bersembunyi dariku, dia tetap mau bersaksi. Apakah itu karena Sinta yang berhasil membujuknya?
Helen memasuki mobil yang sudah ku buka pintunya. Dia duduk tepat di sampingku. Kita terlihat seperti suami istri.
TIDAK! KITA SEPERTI SUAMI ISTRI YANG SEDANG BERTENGKAR! Suasananya hening sekali. Tak satupun dari kita bicara kecuali dengungan mesin mobilku juga kendaraan yang melintas.
Kalaupun mau bicara aku tidak tahu harus bicara apa.
Bagaimana cara berbicara pada wanita yang lari dari calon suaminya?
Tunggu! Kenapa aku merasa seperti melakukan kesalahan 2 kali?
Walaupun kejadian ciuman itu memang murni kesalahanku tapi perjanjian itu bukan salahku kan? Itu salah Sinta karena dia yang mengganti isinya.
Tapi mau siapapun yang salah kedua kejadian ini sama-sama menguntungkan bagiku. Jadi otomatis AKU YANG SALAH!!
Ya Tuhan....
Harus bagaimana aku menanggapi kisah cinta yang Engkau buat ini?
Di sisi lain aku bahagia tapi di sisi lain aku tertekan. Tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk.
Ingat Stevan!
Tuhan menunjukkan Helen padaku, gadis yang paling ku inginkan di dunia telah Tuhan tunjukkan padaku. Helen yang cantik, imut, kalem, misterius, gak suka pamer, walaupun aku tidak yakin dia pintar masak atau tidak. Tapi sebuah keberuntungan aku bisa menemukan gadis yang sesuai denganku. AKU TIDAK BOLEH MENGELUH!
Tak lama kami pun sampai di kantor. Sepanjang perjalanan aku terbawa oleh semua fantasi di otakku. Jadi bisa dikatakan kami tidak berbicara sama sekali. Walau sekilas, aku lihat Helen hanya melihat ke luar jendela. Kami berjalan memasuki kantor, Teddy sudah menunggu kami di dalam.
"Selamat pagi bos! Bos sudah datang dengan nona Helen juga." sambut Teddy dari kursinya. Aku memang sudah memberitahu Teddy bahwa aku akan menjemput Helen di perjalanan.
Helen menunduk sedikit memberi hormat pada Teddy. Teddy juga membalasnya.
"Baiklah Teddy, Mbak Helen akan membantumu kali ini. Dia akan menunjukkanmu tempat kejadiannya jadi kamu bisa cari kemungkinan adanya CCTV yang merekam pelakunya."
"Helen, kali ini kamu akan mengikuti arahannya Teddy mulai dari sekarang."
Helen hanya mengangguk. Namun auranya ketakutan.
"Tenang saja, Teddy sudah menikah bahkan anaknya sudah 2 jadi tenang saja."
"Bos, dia bukan takut padaku tapi takut padamu." ledek Teddy.
"BERISIK, TEDDY!!" bentakku pada Teddy. Helen sempat terkejut melihat sisi galakku. Benar juga selama ini Helen belum pernah melihatku marah.
TING TUNG! Seseorang membunyikan bel kantor kami. Aku membuka pintunya. Tampak seorang pria yang tak muda tapi juga tak terlalu tua. Badannya buncit tapi tak sebuncit Teddy. Ia memakai jas besar yang menutupi sebagian besar bajunya tetapi bisa ku lihat seragam dibaliknya. Dan wajahnya yang sangat familiar bagiku, sebuah wajah yang selalu menemaniku 10 tahun terakhir.
"Halo Stevan anakku!" ucapnya.
"Siap, Bos Besar!" jawabku memberi salam hormat pada pria itu. Pria itu membalas hormatku. Setelah itu Bos Besar nyelonong masuk ke dalam kantor kami.
"Sudah lama sekali aku tidak datang ke kantor pribadimu. Seperti biasa cuma kalian berdua disi- eeehh ada cewek disini?" Bos besar terkejut melihat Helen disini. Teddy memberi hormat sepertiku dan Helen ikut memberi hormat dengan caranya.
"Dia siapa, Stevan?" tanyanya.
"Dia saksi untuk kasus uang palsu kemarin." jawabku.
"Oh begitu ya. Aku pikir dia adalah calon istri yang mau kau kenalkan padaku."
Kami terdiam mendengar ucapan Bos Besar sementara dia tertawa terbahak-bahak. Kalo saja Bos Besar tahu dia memang jadi calon istriku untuk 3 hari ke depan. Tapi memberitahunya sekarang tidak akan membantu. Orang tua itu payah kalau menilai gadis.
"Ada keperluan apa bapak kemari?" tanyaku.
"Oh iya ada yang ingin ku tanyakan padamu. Bisa kita bicara berdua saja?" tanyanya.
"Baiklah, kita bicara di ruang Privat sana." Aku membawa Bos Besar ke ruangan tersebut.
Di dalam ruangan, Bos langsung duduk dengan serius. Aku duduk di hadapannya dengan wajah yang serius pula. Apakah ini tentang kasus lagi?
"Jadi begini, Stevan. Ada yang ingin ku tanyakan padamu..." ucapnya. Aku menelan ludahku.
"... Seperti yang kau tahu, ada kasus yang sama sekali belum kita pecahkan. Jadi aku mengumpulkan informasi yang mungkin bisa membantumu menyelesaikannya." ujarnya sambil memberikan map cokelat padaku. Kenapa aku sering kali berhadapan dengan map cokelat?
__ADS_1
Aku menelan ludahku sendiri sembari menatap map yang Bos Besar berikan padaku. Apakah kasus yang sampai sekarang belum dipecahkan itu? Apakah sangat berbahaya?
Perlahan-lahan aku membuka map dan mengeluarkan isinya. Puluhan bahkan ratusan foto berisi wanita-wanita berjatuhan dari dalam map. Aku tercengang.
"Ini apa, Bos? Kasus apa yang Bos maksud?" tanyaku bingung.
"TENTU SAJA KASUS KAPAN KAU AKAN MENIKAH, ANAKKU!!!" Aku tersentak.
"DARI SEMUA POLISI SENIOR CUMA KAMU YANG BELUM MENIKAH. KALAU KAMU TERUS-MENERUS MENUNDANYA MEREKA AKAN MENANGKAPMU!" bentaknya sambil memukul-mukuli mejanya berkali-kali.
"BERITA TENTANG KAMU YANG MASIH MELAJANG SUDAH MENYEBAR DI KANTOR PUSAT. BAHKAN MEREKA SUDAH BERSIAP MENANGKAPMU DI HARI ULANG TAHUNMU NANTI. KALAU MEREKA TAHU ANAKKU DITANGKAP KARENA MELAJANG, MAU TARUH DIMANA WAJAHKU!!!"
"Tunggu.. Bos besar!" Aku berusaha menenangkannya.
"Stevan! disini aku berdiri sebagai ayahmu! Jadi mulai sekarang cepat pilih satu dari semua foto ini! Aku akan menjodohkanmu dengannya!" paksanya.
"Jika kau masih mau mengelak, aku akan memecatmu dari polisi!"
"TUNGGU!! DENGARKAN AKU DULU!" teriakku.
Akhirnya Bos besar alias ayah angkatku diam mendengarkan.
Setelah kepergian orang tuaku, aku hidup sebatang kara sampai Ayah mengadopsiku. Dia hidup sendirian setelah ditinggal cerai istrinya. Kehidupan cintanya menjadi sangat berantakan. Dia memakai gelar Kepala Polisinya untuk menikah dengan banyak wanita tapi tidak ada satupun yang ia perkenalkan padaku.
"Seperti yang ku bilang dari awal, aku akan mencari calon istriku sendiri. Ayah sudah banyak membantuku semasa kecil jadi kali ini aku akan melakukannya sendiri. Aku pasti akan membawakanmu gadis yang jauh lebih baik dari gadis yang kau pilih. Aku tidak akan mengecewakanmu!" Ucapku tegas.
Ayah terdiam mendengar kesungguhanku. Meskipun dia kesal, dia tetap menuruti keinginanku.
"Kamu yakin calonmu nanti bisa lebih baik dari calon yang ku pilih?"
"SIAP YAKIN!"
"LEBIH CANTIK DARI PILIHANKU?"
"SIAP! PASTINYA!"
"Baiklah. Ini kesempatan terakhirmu. Jika saat aku datang kemari, kamu belum menikah. Aku akan memecatmu dan menjodohkanmu! Mengerti!"
"Siap!" jawabku tegas.
Pembicaraan kami pun usai. Kami keluar dari ruangan. Aku terkejut melihat Helen duduk di luar ruangan yang aku dan ayah masuki. Apa jangan-jangan dia mendengar pembicaraan kami tadi?
"Oh ini mbak yang tadi. Sudah selesai?" tanya Ayah.
"Iya." jawab Helen pelan sambil mengangguk.
Ayah langsung pergi meninggalkan kami. Seperti biasa dia tidak tertarik dengan wanita yang terlihat biasa.
"Jadi.... Sudah selesai?" tanyaku basa basi.
Helen mengangguk.
"Apa kau mendengar percakapan di dalam tadi?" tanyaku lagi.
Helen menggangguk lagi. Percakapan selesai. Aku tidak tahu mau bicara apa lagi.
Tenang! Jangan menyerah! Aku hanya akan menikah dengannya. Jadi aku harus bisa menaklukkannya.
"Anu.." tanyaku ragu. Helen menatapku.
"Mumpung Teddy masih sibuk. Bisa aku bicara denganmu sebentar?" tanyaku.
"Iya." Jawabnya dengan berbisik.
Bagaikan kereta yang melaju cepat, ataupun nelayan yang berhasil menangkap ikan Tuna setelah mengeluarkan banyak tenaga dan keringat. Jantungku berdetak kencang, tubuhku langsung panas.
Padahal dia cuma berbisik tapi godaannya berat sekali. Terus juga kenapa kau harus berbisik? Rasanya jantungku mau keluar.
"K-k-kalau begitu, gimana kalau ngobrol di Cafe?"
Mungkin dia tidak nyaman jika ada Teddy disini. Lebih baik aku mengajaknya bicara di luar.
"Tidak perlu keluar. Kita bicara di dalam saja berdua." bisiknya lagi.
Seperti panah cinta melesat tepat di hatiku. Kata "berdua" yang dia ucapkan menggema di telingaku seperti alunan musik yang indah. Hatiku meleleh di hadapan Helen.
"Baiklah. Kita langsung masuk saja ke dalam." Aku mempersilahkannya masuk.
Kami pun duduk berhadapan. Aku perhatikan setiap baju dan atribut yang dipakainya. Padahal sebagian besar tubuhnya ditutupi hoodienya yang terlalu besar untuk dia pakai tapi dia malah jadi kelihatan seksi.
Jiwa jombloku menjerit...
"Ini mengenai perjanjian pernikahan yang kita tanda tangani. Sinta bilang bahwa kita akan menikah 3 hari lagi. Jadi aku ingin berunding denganmu bagaimana untuk ke depannya."
"Kebetulan aku juga ingin membicarakan itu..." Kata Helen.
Syukurlah, aku harap Sinta berhasil meyakinkannya.
"Sebenarnya aku sudah menanganinya." jawabnya singkat.
"Menanganinya bagaimana?" tanyaku bingung.
"Sebenarnya besok aku harus pulang ke kampung halamanku. Aku akan menikah disana."
__ADS_1