
Bercerita tentang seorang pria bernama Batara yang berumur 27 tahun dan menerima perjodohannya dengan gadis berumur 19 tahun.
Sebenarnya dia tidak masalah dengan perjodohan itu, tapi istrinya lah yang awalnya menolak namun mereka tetap melakukannya karena hal tertentu.
Setelah menikah pun mereka setuju untuk tidur di kamar yang berbeda. Batara ini termasuk pria mapan, dan cukup tampan. Rumah sudah disediakan sebelum menikah dan mobil tentu saja sudah ada. Jadi, kehidupan ekonomi mereka memang baik.
Hari itu, setelah pernikahan dilaksanakan, mereka berdua memutuskan untuk pulang kerumah barunya dan membersihkannya.
"Kak, ini aku tidur dimana ya? Kita kan sepakat buat tidur pisah." Qyana mengatakan itu ketika baru saja masuk ke dalam rumahnya sambil membawa kopernya.
Batara yang ada di depannya kemudian menoleh ke belakang, "Kamu tidur di kamar atas, saya yang di kamar bawah," Batara menatap Qyana seperti kesusahan membawa koper besarnya.
"Sini saya yang bantu bawa ke kamar kamu," Batara langsung mengambil alih koper perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"Makasih, Kak," Qyana kemudian mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar atas, Batara segera turun ke bawah karena jujur mereka sangat kelelahan, walaupun pernikahan yang dilakukan tidak semeriah pernikahan-pernikahan yang lain. Mereka hanya mengundang keluarga tertentu saja.
Ketika dijodohkan, awalnya Qyana sangat benci melihat Batara yang mencuri bagian hidupnya, Qyana masih ingin bermain bersama teman-temannya dengan bebas, tanpa urus ini itu, masih ingin untuk menikmati hidupnya sendiri. Tapi semua itu seakan tidak akan pernah bisa terjadi karena dia harus dijodohkan dengan pria yang lebih tua darinya 8 tahun.
Sampai saat ini, masih ada rasa kesal di hati Qyana. Qyana tidak terlalu membenci lelaki itu tetapi dia benci kenapa lelaki itu harus ada di dalam hidupnya di masa ketika Qyana ingin menjadi nakal-nakalnya.
Dia punya tanggung jawab sebagai seorang istri sekarang, harus mengurus suaminya, dan tentu saja dia harus melakukan hal itu untuk kebutuhan suaminya. Tetapi entah kapan itu terjadi.
"Qyanaaa ... Qyanaaa ... Sini turun dulu." Batara berteriak dari bawah memanggil Qyana. Dia menyiapkan makan malam untuk mereka berdua sebelum tidur.
Qyana langsung turun kebawah dan melihat Batara duduk menunggunya di meja makan. Qyana tertegun melihat makanan yang terlihat cukup enak, apa dia yang memasak semua itu?
"Ini kamu yang masak?" Qyana melontarkan pertanyaan itu karena penasaran.
"Iya," jawab Batara singkat dan mulai memakan makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
Qyana yang melihatnya kemudian ikut mencoba masakan suaminya itu. Setelah satu suapan, Qyana mengangguk, jujur masakannya lumayan enak, tidak. Sangat enak.
Batara meliriknya sebentar, lalu melanjutnya makannya.
"Kak, kayaknya kita harus buat aturan-aturan yang harus dan tidak boleh dilakuin selama kita jadi suami istri," Qyana membuka suara ditengah acara makannya.
Batara kemudian menoleh, dia diam sebentar. "Oke, kamu buat saja, nanti saya yang koreksi kalau ada yang tidak masuk akal." Batara kemudian berdiri membereskan makanannya. "Kamu kalau selesai makan, langsung cuci piring. Saya tidak suka lihat piring kotor." ketusnya.
"Iya ... iya ..." Qyana memutar bola matanya malas.
Setelah makan, Qyana langsung beranjak dari meja makan untuk mencuci piringnya. "Enak juga tuh masakannya om om," Qyana berbicara sendiri sambil mencuci piringnya.
"Saya dengar, Qyana," Batara berencana kembali ke dapur untuk ambil air minum, tetapi ternyata dia mendengar ucapan Qyana. Qyana yang mendengarnya tersentak dan langsung berlari ke atas menuju kamarnya.
Batara yang melihatnya hanya tersenyum smirk sambil menatap Qyana yang lari ke atas karena terciduk. "Lucu juga," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1