
Karena kejadian semalam, Qyana memutuskan untuk tidak membuka pintu kamarnya sampai Batara keluar untuk pergi kerja dan hal itu diketahui oleh Batara sampai dia mempunyai ide untuk memberikan secarik kertas dan memasukkannya melalui bawah pintu kamar Qyana.
Saat mendengar suara pintu sudah tertutup, Qyana beranjak dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk membuka pintu tetapi saat di depan pintu dia menemukan secarik kertas bertuliskan
"Saya tahu kamu lagi malu untuk ketemu dengan saya, tidak apa-apa, Qyana. Saya hanya menggoda kamu kemarin, saya rasa hal itu juga tidak apa-apa karena kita sudah suami istri, saya harap kamu tidak marah terlalu lama. Saya minta maaf ya. Tolong maafin saya."
Qyana terdiam membaca tulisan itu, kenapa ... om om ini lucu juga ya? Ah tidak, nanti juga kembali nyebelinnya. Qyana menyimpan surat itu di meja kamarnya dan memutuskan keluar dari kamar untuk sarapan.
Saat sarapan sambil memainkan handphonenya, tiba-tiba "Miauw ... miauw" Itu adalah bunyi notifikasi Qyana. Setelah itu, Qyana membuka aplikasi berwarna hijau itu ...
"Halo Qyana. Apa kabar?"
"Boleh gak kita ketemuan?"
Qyana membulatkan matanya, tidak menyangka siapa yang mengirimkan pesan ini padanya. Dia adalah orang yang disuka Qyana waktu SMA dan orang itu pun sudah tahu tapi belum membalasnya.
__ADS_1
"Hi, aku baik, kamu?"
"boleh boleh, shareloc aja"
Jawab Qyana dalam pesan itu sambil tersenyum salah tingkah, sepertinya sekarang dia sedang lupa kalau dia sudah berstatus sebagai istri orang.
"Jangan, nanti aku yang jemput kamu."
Qyana buru-buru mandi dan berpakaian yang rapih seperti ingin kencan saja. Setelah semuanya beres, Qyana sesekali melihat di layar handphonenya apakah make up nya sudah sempurna atau belum. Qyana menunggu temannya itu selama 15 menit.
Setelah berjalan hampir setengah jalan menuju tempat makan. "Itu tadi rumah kamu sendiri ya?" Vino membuka suara menanyakan hal yang membuat Qyana sedikit terkejut.
"A-ah iya..." Qyana merasa tidak nyaman sekarang.
Vino yang melihat itu segera mengalihkan pertanyaannya, "Kamu udah ada pacar belum, Na?" Qyana ingin sekali rasanya menjawab Udah punya suami malahan. Tapi tidak mungkin dia berkata seperti itu.
__ADS_1
Karena sejujurnya pernikahan Qyana daan Batara tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya keluarga inti saja. Jadi banyak yang mengira kalau Qyana masih berstatus single.
Jujur Qyana bingung ingin menjawab apa, tiba-tiba terbesit dipikirkan nya, "Eum ... Iya." Toh, Qyana memang tidak mempunyai pacar kan, dia punya suami dan tentu saja Vino tidak akan menanyakan apakah dia punya suami atau tidak, bukan?
Mereka berbincang bincang cukup lama, tidak terasa mereka sudah sampai di restoran yang memang cukup mahal. Mereka berdua makan bersama dengan lancar.
Setelah itu, Vino mengantarnya kembali ke rumah Qyana, namun tepat di depan pagarnya, Vino melihat ada sosok pria yang berdiri depan rumahnya dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.
"Itu siapa, Qyana?" tanya nya reflek.
Qyana menoleh dan mendapati suaminya, Batara sudah menatapinya dengan tatapan yang tajam. Qyana lalu menoleh ke Vino "A-ah itu om aku, aku duluan ya, thanks Vino." Qyana langsung buru-buru turun dan menghampiri Batara yang kelihatan sudah seperti ingin meledak.
Qyana sudah berada di depan Batara seperti mati kutu. Harusnya dia bersikap biasa saja, kan cuman teman. Tetapi, Qyana malah bersikap seperti habis ketahuan selingkuh. Batara menatapinya dengan tatapan tajam dari atas sampai bawah.
"Jelasin di dalam." Ucapnya singkat membuat bulu kuduk Qyana berdiri, Batara langsung masuk ke dalam dan meninggalkan Qyana diluar yang sedang gemetar. Jujur saja, Qyana juga takut ketika Batara bersikap seperti itu. Sangat seram.
__ADS_1