TERPAKSA

TERPAKSA
Surat


__ADS_3

Kalau ada yang bertanya, apa pekerjaan Batara? Saat ini dia sedang menjalankan perusahaan yang dia teruskan dari orang tuanya. Sudah 3 tahun dia bekerja di perusahaan itu. Jadi untuk masalah keuangan memang mereka tidak perlu memusingkannya. Semuanya sudah teratur dengan baik.


Batara adalah orang yang sangat teratur. Dia sudah mengatur semuanya untuk masa depannya. Asuransi pun sudah dia atur dengan baik tentunya, investasi dimana mana karena pasti itu akan sangat berpengaruh.


Qyana hanya seorang gadis yang menunda untuk kuliah selama yang dia mau karena masih ingin untuk menikmati masa mudanya dulu, lalu di umur 19 ini dia berencana untuk keliling dunia sendirian tetapi tidak bisa karena Batara Batara itu ada dalam hidupnya.


Qyana pun berasal dari keluarga yang sangat mapan, orang tuanya bahkan tidak masalah jika Qyana tidak ingin kuliah, kalau mau langsung kerja di perusahaan orang tuanya pun itu sangat didukung oleh mereka.


Orang tua Qyana tidak menekan apa yang diinginkan anaknya karena mereka sudah mempunyai banyak uang, jadi mereka akan membahagiakan anak satu-satunya itu. Tidak menekan disini maksudnya dalam hal apapun yang ingin dibeli oleh Qyana dibolehkan oleh orang tuanya. Tapi untuk perjodohan ini memang harus dilakukan karena menguntungkan perusahaan kedua belah pihak.

__ADS_1


Saat ini dia sedang menulis apa-apa saja yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh mereka berdua. Qyana sibuk menulis dikamarnya, dan "OKAY, INI DIA!"


Setelah selesai menulis di kertas selembar, Qyana ke bawah dan mendapati suaminya sedang duduk sambil menonton televisi. "Kak, ini surat penjanjiannya dibaca dulu," Qyana kemudian memberikan kertas itu kepada Batara untuk dibacanya.


"Oke," Batara sangat fokus membaca kertas itu, awalnya dia menganggukan kepalanya seakan setuju dengan perjanjian tersebut tetapi ketika tiba di nomor paling bawah, dia mengerutkan keningnya. "Saya tidak setuju dengan nomor enam," tegasnya. Qyana tentu saja terkejut, karena sebenarnya hal itulah yang sangat dia inginkan tidak terjadi.


"Tidak Qyana. Saya tidak yakin kalau saya tidak akan menyentuh kamu. Itu mustahil untuk kita yang sudah menjadi suami istri dan hidup dalam satu rumah," jelas Batara sambil menyoret nomor enam dan menanda tangani kertas tersebut.


Qyana tentu saja merasa kesal melihat Batara yang menyoret perjanjiannya yang di nomor enam. "Kenapa? Bisa kok! Kita kan beda kamar," Qyana masih saja mencoba mencari-cari alasan agar perjanjian yang dibuat itu disetujui semuanya.

__ADS_1


"Bisa saja saya naik ke kamar kamu untuk minta hak saya kan, sekarang saya lihat kamu saja rasanya saya mau minta hak saya," Kata Batara sambil melihat Qyana yang sebenarnya sedang menggunakan celana pendek.


Qyana menyadari Batara sedang menatap dirinya dari atas sampai bawah, kemudian dia langsung menutupi pahanya. "DASAR OM OM MESUM!!!" Teriaknya sambil mengambil kertas itu dan membawanya naik ke kamarnya.


Sedangkan Batara hanya terkekeh melihat tingkah istri gadisnya itu, dia merasa senang sekali ketika menggoda Qyana. Sangat lucu ketika Qyana lari karena ngambek, mungkin dia akan menunggu waktu dimana Qyana mulai cemburu padanya. Itu pasti akan sangat lucu bagi Batara.


Sesampainya di kamar, Qyana langsung menyelimuti dirinya. Dia merinding mendengar perkataan Batara, sangat geli. Ya intinya dia tidak akan pernah mau untuk melakukannya dengan Batara. Tidak akan. Dia berjanji.


"Sialan, om om mesuuuum!!!" Qyana menutupi wajahnya di bantal dan berteriak, dia sangat malu ketika dilihat seperti itu walaupun itu adalah suaminya jadi tidak apa apa justru mendapatkan pahala tapi tetap saja Qyana merinding dengan tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2