
Setelah kejadian yang tidak terduga kemarin, Qyana saat ini sedang tidur di lengan Batara sambil memeluknya. Mereka berdua tidur tanpa menggunakan sehelai kain satupun, mereka hanya menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Batara terbangun dan melihat istrinya yang masih tertidur lelap di lengannya, mungkin dia sangat lelah karena aktivitas yang kemarin mereka laakukan.
Batara menatapnya dalam dan menyingkirkan rambutnya perlahan ke belakang telinganya, menatap dengan jelas wajah istrinya yang berumur 19 tahun itu.
Perbedaan umur antara mereka berdua, membuat emosi mereka menjadi bertabrakan, ada yang yang meletus, sabar, dan kadang emosi mereka tak bisa diatur. Oleh karena itu, Batara sekarang paham apa yang harus dia lakukan, dia harus bersikap lembut dan tegas pada istrinya yang masih muda itu.
Batara masih saja menatapnya lama dan tanpa sadar Qyana mulai membuka matanya perlahan. Melihat lelaki itu berada di depannya dan tanpa sehelai kain satupun, Qyana langsung mundur dan menarik selimutnya, gadis itu ingin menghindar dari pria di depannya untuk saat ini.
Tetapi ketika Qyana berusaha untuk mundur dan menarik selimutnya, Batara menarik gadis itu kembali ke dalaam pelukannya. Dia memeluknya dan mencium pucuk kepala gadisnya itu yang sekarang bukan seorang gadis lagi.
__ADS_1
"Maafin saya ya semalam," ucap Batara mencium kepala istrinya lagi. "Maaf kalau saya terlalu kasar kemarin," Batara memeluknya dengan erat sambil menyembunyikan kepalanya di leher Qyana.
Jantung Qyana saat ini berdetak sangat hebat, tidak tahu lagi pokoknya, Qyana kesal tapi entah kenapa dia merasa nyaman di pelukan suaminya itu.
"Kamu mandi dulu sana," pinta Batara sambil mengusap kepala Qyana dengan lembut. Saat sedang ingin beranjak dari tempat tidur, Qyana merasakan sakit yang luar biasa dari bawah sana. Dia meringis kesakitan.
"Kak ... Sakit ..." Qyana meneteskan air matanya, Batara yang melihat itu langsung bergerak cepat menatapnya dengan khawatir.
"Kak! Ih! Perbuatan kamu nih!" pasalnya apa yang dirasakan Qyana untuk pertama kalinya memang sangat luar biasa...
"Iya maaf ... Sini saya gendong ke kamar mandi," Qyana tentu saja ingin menolak itu tapi dia ingin jalan saja saat ini sangat mustahil.
__ADS_1
"Gak usah! Aku bisa sendiri!" sepertinya Qyana sangat percaya diri sekarang.
Perempuan memang seperti itu ya, sangat tidak ingin dianggap lemah, dia harus menunjukkan bahwa dirinya itu bisa padahal sebenarnya dia juga membutuhkan bantuan dan perhatian yang lebih.
"Oh ya sudah, coba saya lihat kalau kamu bisa," Batara menyembunyikan senyumannya dan berusaha untuk menggoda istrinya saat ini.
Qyana melihatnya dengan tatapan tajam dan berdecak sebal. Qyana menarik handuknya lalu berusaha untuk berdiri tetapi sakitnya luar biasa. Dia sangat ingin mengeluarkan air mata saat ini. Tapi tidak boleh! Dia harus bisa sampai ke kamar mandi, jaraknya dekat kok. Kamu pasti bisa, Qyana!
Setelah berdiri, Qyana akhirnya bisa untuk mencoba berjalan tetapi dengan cara jalannya yang sangat aneh seperti orang hamil saja, Batara yang menatap itu hanya tersenyum menatap tingkah istrinya, dia sampai menunjukkan gigi nya karena tidak tahan melihatnya.
Qyana tidak peduli. Sekarang dia hanya harus berusaha terus masuk sampai ke kamar mandi, kemudian menutupnya dengan keras. Dan sekarang dia menikmati waktunya untuk membersihkan dirinya setelah kejadian semalam.
__ADS_1