
Karena kejadian kemarin, Qyana langsung disuruh untuk duduk di hadapannya. Qyana menurutinya, dan melihat tatapan Batara yang sangat tajam. Tapi ini Qyana, dia berusaha untuk menatap balik mata Batara seakan sedanga melawannya.
"Jelasin," Satu kata yang diucapkan Batara mampu membuyarkan tatapan Qyana padanya, gadis itu terdiam sebentar.
"Itu cuman temen aku."
"Kalau cuman temen, kenapa kamu gak ngabarin saya dulu? Kamu lupa kalau kamu sudah jadi istri saya?" Batara semakin membesarkan sedikit suaranya. Kelihatan dari raut wajahnya yang sudah sangat emosi.
"Ya terus kenapa? Kita kan cuman dijodohin!" Sebenarnya Qyana sangat takut mengucapkan kata ini, dia berusaha sebisa mungkin agar kata itu bisa keluar dari mulutnya. Dia juga kesal kenapa Batara harus semarah itu padanya, itu membuatnya tertekan walaupun tidak mengomel tapi tatapannya membuat Qyana merasa terintimidasi.
__ADS_1
Batara membulatkan matanya, terkejut mendengar perkataan Qyana. Memang benar kalau mereka dijodohkan tapi tidak seharusnya Qyana bersikap seperti itu. Batara juga tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti ini, tapi bukannya memang seharusnya seorang suami bersikap seperti ini ketika istrinya pergi tanpa izin, bukan?
"Oh ... Cuman dijodohin kata kamu?" Batara menatapnya tajam dan berjalan perlahan menghampiri Qyana yang duduk di depannya.
Qyana mulai merasakan aura yang mencekam dari Batara. Dia seketika menjadi takut, jantungnya mulai berdegup kencang. Ketika Batara sudah mulai mendekat ke arahnya, Qyana berdiri tetapi langsung ditahan oleh Batara dan menyentuh bahu Qyana seakan menyuruhnya untuk duduk kembali.
Qyana tidak bisa melakukan apapun, rasanya hari dia akan dimakan oleh suaminya sendiri. Batara menatapnya dari atas, dan Qyana yang sedang duduk mengangkat kepalanya menatap Batara.
"Open your mouth!" Kenapa disaat seperti ini suara Batara menjadi berubah? Suaranya menjadi candu bagi Qyana sekarang. Qyana hanya menurutinya, dia membuka mulutnya dan merasakan bahwa Batara meluapkan emosinya dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Napas mereka berdua sepertinya sudah mulai habis. Qyana akhirnya mendorong Batara seperti mengatakan bahwa Qyana membutuhkan oksigen, Batara mengerti hal itu lalu segera menjauhkan dirinya dan menatapnya tajam. "Kamu masih mau pergi sama dia? Masih mau pergi tanpa izin dari saya? Hah?"
"Iya kak, nggak lagi," Qyana menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat itu, Batara menaikkan kepala Qyana dengan telunjuknya, lalu melanjutkan kegiatannya sedangkan Qyana sudah mengalungkan tangannya pada leher Batara dan mulai memejamkan matanya.
Entah kenapa ada sensasi tertentu saat Qyana melakukan hal ini untuk pertama kalinya. Walaupun hal ini terjadi karena mereka berdua sedang berselisih tetapi mereka menikmatinya.
Semua emosi yang mereka rasakan berdua, sedih, marah, kesal sepertinya akan meledak saat ini. Awalnya yang hanya di sofa tapi entah mengapa mereka berdua sudah berada di kamar Batara. Tembok yang Qyana bangun tinggi tinggi agar tidak melakukan hal itu dengan pria yang ada di atasnya rasanya harus dia kubur dalam dalam.
Yang awalnya hanya ingin menanggalkan emosi mereka berdua secara baik baik tetapi sekarang mereka juga menanggalkan pakaian mereka berdua.
__ADS_1
Ternyata begini rasanya ketika berhubungan badan saat sedang dibaluti dengan emosi. Rasanya sangat luar biasa dan sensasi yang dirasakan sangat gila.