
Perbincangan antara Olla dan Qyana kemarin diakhiri dengan sang Ibu mertua yang harus pergi karena ada panggilan yang entah dari siapa.
Qyana merasa lega karena kepergiannya. Qyana kira hubungan dia dengan Ibu mertuanya nanti akan sangat baik seperti Ibu dan anak pada umumnya, tetapi ternyata tidak seperti itu.
Qyana dirumah hanya memainkan handphonenya di ruang tamu dengan televisi yang menyala tetai tidak ditonton. Dia menyalakannya agar tidak terasaa sepi saja.
Pukul 09:00
Jujur saja, Qyana sebenarnya menunggu suaminya itu pulang ke rumah tetapi tidak kunjung datang juga. Jadi, Qyana beranjak ingin naik ke atas kamarnya.
Baru lima langkah dari sofa tempat dia berbaring tadi, pintu rumah terbuka. Batara, suaminya itu langsung masuk dan melepaskan sepatunya.
Batara menatap Qyana yang sepertinya baru saja ingin naik ke atas, tetapi tatapan Batara saat ini sangat lelah. Qyana menatapnya seperti ada emosi yang tersembunyi dari tatapannya.
"Kamu sini, saya mau ngomong," Batara langsung duduk di sofa menunggu Qyana duduk di sampingnya.
Qyana bingung. Ada apa ini? Sepertinya Qyana tidak melakukan kesalahan apapun hari ini. Dia hanya berdiam diri di rumah dan bertemu dengan mertuanya. Qyana kemudian duduk di depan Batara.
"Qyana, sifat kamu seharusnya jangan seperti itu," Apa maksud Batara? Memangnya sifat Qyana kenapa? Kenapa dia berkata seperti itu?
"Maksud kamu?" Tentu saja Qyana bingung karena kata-kata itu, jadi dia ingin meminta penjelasan yang detail.
__ADS_1
"Tadi Mama saya datang kesini, kan?"
"Iya."
"Kamu bentak Mama saya?"
Bentak? Tunggu, sejak kapan Qyana membentaknya? Qyana merasa dia tidak pernah melakukan hal itu pada Ibu mertuanya.
"Hah? Aku gak pernah sama sekali bentak Mama kamu, kak."
Qyana saat ini sangat bingung ...
"Apa sih, Kak? Memangnya Mama kamu bilang apa?" Qyana menegaskan nada bicaranya. Dia kesal karena dituduh seperti itu.
"Tadi Mama saya datang ... Kata dia, kamu bentak dia tadi padahal Mama saya cuman ngobrol baik-baik sama kamu," Batara meletakkan tangannya di depan dada dan menatap Qyana seakan ingin meminta penjelasan.
"Dan kamu langsung percaya gitu aja, Kak?"
"Dia Mama aku, Qyana!"
"Terus aku siapa kamu, Kak?" Nada suara Qyana meninggi
__ADS_1
"Jangan tinggikan suara kamu ketika bicara sama saya!" Batara ikut meninggikan suaranya.
"Coba kamu tanya Kak ke Mama kamu, apa yang dia bilang ke aku? Dan ingat kak ... Aku. Gak. Pernah. Bentak. Mama. Kamu!"
"Terus apa, Qyana? Apa yang Mama saya bilang ke kamu sampai sampai dia telepon saya dan mengatakan kalau kamu bentak dia. Apa Qyana!!!" Batara meluapkan emosinya.
Qyana menyeringai mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau suaminya itu akan langsung berkata seperti itu padanya. Qyana sudah tahu kalau Batara masih belum bisa memercayai dirinya sepenuhnya.
"Bener kata Mama kamu, Kak."
"Yang harusnya ada di rumah ini itu bukan aku, tapi Bella!"
Mendengar nama itu, Batara langsung membulatkan matanya. Dia langsung menjadi diam seperti bekuan es.
"Kenapa kak? Bener, kan? Tunggu aja kak, setelah satu tahun kita cerai," Qyana mengatakan itu, lalu pergi meninggalkan Batara yang masih membeku disana.
Qyana sangat penasaran sebenarnya siapa Bella Bella ini, ada hubungan apa Batara dengan dia? Apa sampai seserius itu? Ya sudahlah, dia tidak usah peduli. Toh, setelah satu tahun mereka berdua akan pisah. Jadi tidak peduli dia mau buat apa. Terserah.
Itu yang ada di pikirannya, tetapi saat ini Qyana sedang berbaring di kamarnya sambil memainkan handphonenya dan mencari satu username di pengikut akun Batara. Qyana ini sangat penasaran dengan wanita itu.
Tetapi setelah membuka akun suaminya ...
__ADS_1