
sudah seminggu Nadia mulai menjalani pengobatan dan di minggu ini dia akan menjalani terapi ditemani oleh suaminya kebetulan Hari ini aku tidak ke kantor karena aku izin cuti untuk menjaga Bibi Sinta Mama dan Papa sedang ada urusan Oma juga jadi akulah yang dimintai tolong untuk menjaga baby cinta aku pun tidak bisa menolak.
tinggallah aku yang sedang menjaga baby cinta,lah itu begitu manis dan lucu menggemaskan pula rasanya kalau sudah dewasa Aku ingin mencubit nya dia anteng ketika aku tidur Kanya Dira aku berkutat dengan laptopku meskipun aku cuti kerja tapi tetaplah pekerjaan harus aku selesaikan jadi selama Bibi Sinta bobo Aku menjaganya.
aku berkutat dan pekerjaanku hingga terdengar suara seorang baby nangis Yang aku Aku itu adalah Bibi Sinta aku langsung menghampirinya lalu meng hidungnya saat dia berada digendongan ku dia anteng kembali aku mengajaknya bermain aku memberinya susu aku merawatnya seperti aku merawat anak sendiri hingga tak terasa ternyata Nadia sudah pulang dari tadi jadi dia melihat semua yang aku lakukan dia hanya tersenyum.
"kak kalau yang pantas menjadi ibu cocok udah cocok jadi orang seorang ibu"ucap Nadia kepadaku di ambang pintu.
"kamu udah pulang nad ? aku kira kamu belum pulang, ah kamu bisa aja nggak juga umur aku masih terlalu muda untuk menikah"Elak aku atas perkataan Nadia karena jujur aku belum siap untuk menikah.
"kalian tunggu aku di bawah kalau aku udah nikah yang berarti kakak dia pas tahu jadi seorang ibu" bentah di atas ucapanku.
" udah nggak usah bahas itu aku capek kamu dia pulang kan aku ini harus ngerjain tugas aku jadi ini baby kamu bukan aku nggak ikhlas ya cuman aku bener-bener kayak kerjaan aku banyak banget jadi kamu bisa kan jaga anak kamu"ungkap gua pada Nadia karena jujur aku sangat kelelahan menjaga bibi dan menyelesaikan pekerjaan aku walau baby-nya daritadi ganteng ya tapi tetep aja aku hawatir meninggalkannya.
"oh maaf ya kalau aku jadi ngerepotin kakak kakak pasti capek banget ya itu kakak masih banyak banget kerjaannya maaf ya kalau salah lagi maaf maaf maaf banget gara-gara aku penyakitan jadi aku nggak bisa jaga Bibi aku sendiri maaf ya kak"ungkap Nadia begitu merasa bersalah padaku tapi bukan itu maksud aku Aku tidak keberatan menjaga baby Sinta cuman ya seperti yang dilihat pekerjaan aku menumpuk banget dan aku harus menyelesaikannya sebelum deadline-nya habis.
"nggak gitu maksudnya aku Nan aku nggak keberatan kok nggak ada dia cuman aku emang harusnya lainnya yang cepat karena sebelum deadline-nya habis jadi maafin bukan maksud aku keberatan buatnya menjaga baby cinta cuman ya kamu lihat apa kerjaan aku banyak kan dan daritadi baby cinta juga nggak rewel kok dia baik dia juga manis aku senang aku ngejaga dia cuman ya aku harus bagi-bagi waktu saat tadi aku baru nyelesaiin sedikit pas tadi baby Sinta tidur jadi maaf ya nanti setelah kerjaan aku beres Aku bakal bantuin kamu lagi kok cuman aku titip dulu"mengapa aku merasa bersalah kepada Nadia bukan aku merasa keberatan cuman pekerjaan aku mabuk banget.
"nggak papa kok kak kebetulan Rifki juga nggak ke kantor jadi aku bisa minta tolong sama dia"ungkap Nadia kepada aku
"oh syukurlah papanya udah pulang ya udah aku menyelesaikan pekerjaan aku ya oh ya tadi udah aku kasih susu cuman kayaknya dia mau ngasih deh kamu kasih ASI"enggak aku karena aku tadi memberikan Debby Shinta susu formula namun dia tidak mau sepertinya dia menginginkan ASI.
"baik makasih ya udah jagain anak aku aku semoga kerjanya suka selesai ya aku keluar dulu kakak mau aku bikin apa?"
"gak usah nanti kamu kan juga baru selesai demo jadi di Aku pikir kamu butuh istirahat jadi kamu istirahat aja enggak usah repot-repot karena aku bisa bikin sendiri kalau emang aku harus dan aku bisa membuat makanan aku sendiri itu jadi kakak mendingan lebih baik istirahat dan sepertinya bisa juga ngantuk"
"baiklah aku keluar dulu ya"Nadia meninggalkanku sendiri dia keluar dari kamarku bersama dengan Bibi Sinta.
2 hari setelah kemo kondisi Nadia bukan semakin membaik tapi kondisinya dia malah semakin memburuk dia sama sekali tidak bisa melakukan aktivitasnya ia hanya bisa terbaring di kasur tanpa melakukan apapun bahkan seringkali aku melihatnya menangis aku kasihan kepada dia cuman aku bisa apa aku hanya bisa mengucapkan kata sadar kepada dia karena kata-kata itu yang mungkin aku bisa ucapkan aku tidak bisa membantunya selain membantu dengan cara menjaga baby-nya hingga di hari ini Nadia meminta aku untuk ke kamarnya aku bingung Ada apa mungkin dia hanya ingin sekedar bertemu denganku tapi tanpa kusangka dia meminta sesuatu hal yang diluar kendali ku sendiri aku shock saat Nadia mengucapkan kalau aku harus menikah dengan suaminya dan menjaga anaknya aku berpikir dia gila atau dia mungkin sedang tertekan sama kondisi ini dan aku berusaha untuk Bu minta dia supaya dia jangan berkata seperti itu lagi karena aku yakin dia pasti sembuh.
__ADS_1
"kak ini kalah dengan suamiku dijaga putriku , kakak tahu kan kondisi aku sekarang semakin parah dan aku nggak bisa ngejaga Bibi Sinta deh Aku juga nggak bisa menjaga suamiku dan merawatnya bukan aku yang merawat dia temen aku yang selalu merepotkan dia dia yang selalu merawatku kak menikahlah Dengan suamiku kumohon anggap saja ini ada permintaan terakhirku"kata itu yang diucapkan pada saat bertemu denganku di kamarnya Yang terus terngiang-ngiang di benakku sungguh ini adalah di luar kendali sungguh ini adalah diluar dugaan dan dia memintaku untuk menikah dengan suaminya sendiri aku harus menikah dengan adik iparku sendiri tidak tidak tidak tidak.
"Nadia kamu ngomong apa sih kamu bakal sembuh kayak in dan untuk masalah baby Sinta kakak pasti bakal jagain dia tapi enggak dengan menikahi suami kamu kamu tahu Rifki sama sekali bukan selera kakak jadi Mana mungkin kamu menikah dengan Rifky dan lagian juga sudah tua kakak mau menikah dengannya"ucapku membantah ucapan Nadia.
"kak mohon berjanjilah untuk menikah dengan Ricky dan jaga putriku aku mohon kak aku hanya percaya kepadamu aku takut bila suatu nanti aku digantikan sama orang yang tidak mencintai anakku tapi hanya mencintai suamiku saja kumohon kak aku yakin cinta akan tumbuh seiring berjalan waktu dan masalah Rifki Aku yakin dia mau ke kak aku mohon juga aku aku hanya percaya kepada kakak aku udah tahu kakak dari kecil jadi aku nggak ngerti kau meninggalkan baby cinta sama kakak please mau ya menikah dengan suamiku"ucap Nadia kepada aku sambil memohon dan menangis kau sempat berpikir dan aku sempat membentak Nadia bilanglah Aku orang kejam tapi ya memang aku juga kaget sama pengennya diucapkan dia memintaku untuk menikahi suaminya.
"kamu gila hah? kamu nyuruh kakak buat nikah sama suami kamu sendiri?kakak tahu kamu emang sakit tapi kakak yakin kamu sembuh Dan kamu bisa ngejaga suami kamu juga anak kamu nggak boleh ngomong kayak gitu kamu nggak sembuh percaya sama kakak"cintaku kepada Nadia .
mungkin orang yang melihatku membentak orang sakit berpikir akulah yang gila namun aku begitu kaget saat mendengar dia mengucapkan kata itu dia benar-benar kehilangan kewarasan aku tahu dia sakit kanker otak dan itu udah bener-bener stadium akhir tapi mungkin aku orang jadi korban apa aku harus menikah dengan adik iparku sendiri memungkinkan jadi Aku membantah.
"kumohon "dia menangis kepadaku bahkan dia hendak bersujud di kakiku tapi aku segera menghindar dan berlari keluar aku tak mau mendengarkan kata-katanya lagi sudah cukup hatiku sakit saat mengetahui Nadia sakit kanker otak dan tidak ada yang memberitahuku sekarang apa dia memintaku untuk menikahi suaminya aku bisa saja menjaga putrinya tapi tidak untuk menikahi suaminya.
"'El kenapa kamu seperti orang kaget?"Tanya nenek ku saat aku berada di ruang tamu dan aku ikut duduk di samping ini aku kelihatan seperti orang gelisah mungkin nenek menyadari itu hingga dia menanyakan hal seperti itu.
"nggak papa kok " kilah ku .
"muka kamu tegang kayak ketakutan kamu kayak bingung kenapa ini yakin kamu nggak baik-baik aja"nenek terus memaksaku untuk bicara
"Nadia...."ucap ku ragu ingin mengucapkan kata kalau Nadia memintaku untuk menikah dengan suaminya.
"Nadia kenapa?" tanya Mama khawatir
aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakan itu.
"Nadia meminta aku untuk menikahi Rifki dan menjaga putrinya kalau masalah menjadi Putri aku tidak keberatan cuman untuk masalah menikah dengan Rifki yang tak lain adalah adik iparku sendiri itu suaminya dia aku tak bisa makan aku tidak menyukai sama sekali bahkan bisa dibilang aku membenci dia"ucapku mengatakan semuanya walau aku butuh keberanian besar untuk mengucapkan itu.
"Nadia pernah mengucapkan itu kepada oma-oma sudah menyetujuinya dan apa yang dibilang Nadia benar bila kau menikah dengan Rifky kau bisa menjaga baby Sinta,"ungkap Oma
"Nadia juga pernah meminta itu menikahkan menikahkanmu dan Rifki dan kami sudah menyetujuinya Rifki y juga bilang kalau dia tidak keberatan bila mungkin itu bisa memperbaiki keadaan kenapa tidak"ungkap papa aku
__ADS_1
"apa?"kakiku saat keluarga sudah menyetujui itu sedangkan aku baru dikasih tahu ini bener-bener gila.
"menikahlah dengan Rifki nak ,mungkin dengan kamu menikahi Rifki Nadia bisa akan cepat sembuh dan pulih dan kalau seandainya dia tidak selamat kamu bisa menjaga Debby Shinta Mama yakin kamu bisa"ucapan maaf kepada aku
"kalian semua gila kalian enggak mikir apa perasaan aku kalian nggak mikir gimana nasib aku nanti aku bisa menjadi ibu bagi Sinta namun tidak untuk menjadi seorang istri dari Rifki Aku tidak akan pernah mau kalian pikir aku mau menikah dengan orang sombong seperti dia orang yang bawel seperti tidak aku tidak akan pernah mau kalian saja yang menikah"ungkap kesel atas ucapan mereka mereka menganggap pernikahan ini hanya main-main dan aku tidak percaya itu mereka menganggap pernikahan itu main-main dan yang lebih parahnya mereka menyuruh aku menikah dengan adik ipar sendiri yang bahkan aku sangat membenci dia sifatnya bukan tipeku sama sekali.
"el ini untuk baby cinta sama Nadia Mama khawatir bila nanti Bibi Sinta punya ibu sambung dan dia tidak mencintai Debby Shinta sama seperti Nadia mencintai dia , Nadia mungkin takut bila ibu sambungnya baby Shinta hanya mencintai iki saja tidak mencintai Bibi Sinta,tapi kalau iki menikah sama kamu mungkin kamu bakal mencintai baby cinta dan....siapa mah terhenti karena ucapanku aku karena ucapannya aku potong
"dan aku tidak mencintai Rifki Aku mencintai baby Sinta tapi tidak dengan bapaknya Aku bakal menjadi seorang ibu untuk baby Sinta tapi tidak untuk menjadi istri dari Rifki"tugasku penuh penekanan
tiba-tiba pintu dibuka oleh Rifki Rifki masuk.
semua orang memandang dia.Rifki yang kebingungan dengan semua itu hanya bisa menampilkan ekspresi seperti orang kebingungan dan dari atasnya aku bisa menebak kalau dia sedang bertanya ada apa namun tak ada yang membuka suara.
"duduk sini"minta Papa menyuruh Rifki untuk duduk di sebelahnya
yang dituruti oleh Rifki sendiri dia duduk disebelah papa.
"Ada apa ini sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius?"tanya iki kepada semua orang di sana kalian tahu dong seperti apa seperti apa yang beresiko saat ini aku sama sekali tidak suka akan kehadiran dia di sini aku malas melihat wajahnya dan ditambah apa tadi permintaannya dia aku semakin muak dari disana.
"apa Nadia pernah meminta sesuatu kepadamu?"tanya umum memecahkan keheningan yang membuat aku semakin sebal menyebalkan.
"memangnya kenapa?"tanya seorang seperti orang bingung itu semakin membuat Aku sebal sama dia.
"Eliza bilang kau Nadia meminta kepada Eliza supaya menikah denganmu apa Nadia pernah berpisah itu?"tanya sama mama yang membuat aku hanya memutar bola mataku malas
"oh tentang itu yah Nadia pernah bicara tengah itu tapi aku selalu menyangkalnya aku yakin dia bakal sembuh dan aku bisa menjaga putriku tanpa bantuan dia"menunjuknya kepadaku dengan arogan yang membuat aku semakin kesal padanya.
"hah kamu mikir Aku mau menikah sama kamu jalani mimpi aku memang bersedia untuk menjadi ibu dari baby Sinta tapi tidak menjadi istrimu sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah denganmu ingat dan kecamatan itu"ucapku lalu pergi aku terlalu kesal mendengarnya seperti dia pria paling tampan di dunia ini.
__ADS_1
"baguslah jadi aku tidak perlu khawatir bila Nadia memintanya lagi karena kita sama-sama tidak mau kan"ucapnya dengan penuh keakraban .
"aku pergi meninggalkan mereka semua aku terlalu kesal yang mereka semua daripada pemikiran ini aku berkutat dengan laptop dan juga buku aku mau sampaikan pekerjaanku daripada aku memikirkan sesuatu hal yang bener itu tidak penting.